<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491</id><updated>2011-07-07T20:55:48.282-07:00</updated><category term='dalihan'/><category term='Artikel'/><category term='sport'/><category term='batak'/><category term='Buku'/><category term='adat'/><category term='hukum'/><category term='budaya'/><category term='Berita'/><category term='tokoh'/><category term='tani'/><title type='text'>BAKKARA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bakkara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>64</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-957894638824716855</id><published>2010-05-16T20:30:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T20:33:20.172-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Buku ’Agama Malim di Tanah Batak’ Dibedah</title><content type='html'>&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 100px;" src ="http://4.bp.blogspot.com/_B1uespBW8yo/S5Yw4Cgz-dI/AAAAAAAAGVI/SgoL4KhiOKU/s200/agama+malim+di+tanah+batak.jpg"&gt;Buku berjudul Agama Malim di Tanah Batak yang ditulis Prof Dr Ibrahim Gultom, Guru Besar Antropologi Sosial Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Medan (Unimed) akan dibedah tim pakar dalam acara Bedah Buku dan Diskusi Ilmiah yang digelar di di VIP Room Gedung Serbaguna Unimed, Selasa (18/5) pukul 14.30 WIB.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini diungkapkan Kepala Pussis Unimed Ichwan Azhari, kepada wartawan, kemarin (15/5). Ichwan juga mengatakan, pada awalnya buku tersebut merupakan sebuah disertasi yang ditulis dalam rangka memperoleh gelar Doktor (S3) di UKM Malaysia. “Kemudian dicetak dalam edisi buku popular oleh penerbit Bumi Aksara Jakarta,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ichwan, isi buku tersebut secara detail mengemukakan dan menjelaskan tentang Agama Malim yang masih dianut orang Batak Toba, khususnya di Huta Tinggi Laguboti. “Demikian pula mencakup historis berdirinya Agama Malim di Tanah Batak serta hubunganya dengan Sisingamangaraja,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebioh lanjut Ichwan mengatakan, menariknya buku tersebut yakni ditulis berdasarkan pengamatan partisipasi sehingga merangkai setiap kronologi upacara-upacara keagamaan, maupun berbagai problem yang dihadapi oleh komunitas Agama Malim di Tanah Batak. “Apalagi buku tersebut ditulis oleh Putra Batak, sehingga mencerminkan pergulatan hidup Agama Malim dari dalam. Namun demikian, ulasan demi ulasan yang dihadirkan penulisnya adalah berdasarkan perspektif antropologis,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ichwan juga mengatakan, dengan terbitnya buku tersebut telah menambah jumlah referensi tentang Agama Malim di Tanah Batak. “Khususnya bagi penikmat literatur antropologi dan sejarah,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Erond Damanik Peneliti Pussis Unimed mengatakan, adapun tujuan penyelenggaraan kegiatan ini yakni untuk menelaah secara thick analysis tentang Agama Malim yang ada pada Komunitas Batak Toba. “Sejalan dengan tujuan tersebut, panitia penyelenggara yakni Pussis Unimed telah mengundang pakar sebagai narasumber utama. Seperti, Prof Usman Pelly (Guru Besar Antropologi Sosial Unimed), Prof Ibrahim Gultom, Prof Amroeni Drajat (Guru Besar IAIN Sumut), Apeliften Ch B Sihombing (STT HKBP Pematang Siantar) dan M Naipospos (Tokoh Agama Malim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kegiatan tersebut akan dihadiri oleh 150 orang peserta terdiri dari mahasiswa, akademisi, guru, anggota masyarakat, kalangan peneliti, penikmat sejarah, antropologi dan undangan lainnya. Direncanakan, acara ini akan dibuka secara resmi oleh Rektor Unimed Prof Syawal Gultom.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-957894638824716855?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/957894638824716855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/957894638824716855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2010/05/buku-agama-malim-di-tanah-batak-dibedah.html' title='Buku ’Agama Malim di Tanah Batak’ Dibedah'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_B1uespBW8yo/S5Yw4Cgz-dI/AAAAAAAAGVI/SgoL4KhiOKU/s72-c/agama+malim+di+tanah+batak.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-1249068422472575837</id><published>2009-10-28T09:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T10:20:18.928-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tani'/><title type='text'>Saktinya Bawang Merah</title><content type='html'>&lt;img src ="http://erander.files.wordpress.com/2007/05/bawang.jpg" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;Siapa sangka bawang yang hampir setiap hari kita temukan, baik berupa bawang goring, bawang pada acar juga pada beberapa sajian makanan lainnya, ternyata mampu mengobati berbagai macam keluhan dan gangguan. Yuk kita simak sajiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://jundul.wordpress.com/2008/07/30/saktinya-bawang-merah/"&gt;More&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-1249068422472575837?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/1249068422472575837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/1249068422472575837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2009/10/saktinya-bawang-merah.html' title='Saktinya Bawang Merah'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-7860814312795384996</id><published>2009-10-28T09:56:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T09:57:16.205-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tani'/><title type='text'>BUDIDAYA BAWANG MERAH ASAL BIJI</title><content type='html'>&lt;img src ="http://r3gina.files.wordpress.com/2009/08/shallot.jpg" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Sampai saat ini petani bawang merah di Daerah Istimewa Yogyakarta selalu menggunakan umbi bibit sebagai bahan tanaman. Bibit yang berasal dari umbi, daya hasilnya relatif tidak berubah dengan bergantinya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan daya hasil hanya bisa dilakukan melalui perbaikan kultur teknis, dan suatu ketika produksi bawang merah akan mengalami penurunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://sa4t1.wordpress.com/2008/05/13/budidaya-bawang-merah-asal-biji/"&gt;More&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-7860814312795384996?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/7860814312795384996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/7860814312795384996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2009/10/budidaya-bawang-merah-asal-biji.html' title='BUDIDAYA BAWANG MERAH ASAL BIJI'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-5650296719414307390</id><published>2009-10-28T09:51:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T09:55:59.508-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tani'/><title type='text'>Antara Bawang Dan Kentang</title><content type='html'>&lt;img src ="http://suryadh.files.wordpress.com/2009/08/bawang.jpg?w=300&amp;h=300" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;Kentang yang baik harus cukup keras, kulitnya mulus dan permukaanya rata. Pilih yang tidak banyak matanya dan bebas dari noda hijau. Kentang yang bergelombang, membutuhkan waktu lebih saat pengupasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dijelaskan di atas, noda hijau pada kentang dicurigai mengandung solanin. Jadi, sebaiknya dihindari. Noda hijau juga membuat kentang terasa pahit.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://watashi-no-daidokoro.blogspot.com/2007/10/seluk-beluk-kentang.html"&gt;&lt;br /&gt;More&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-5650296719414307390?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/5650296719414307390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/5650296719414307390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2009/10/antara-bawang-dan-kentang.html' title='Antara Bawang Dan Kentang'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-3258589742416001018</id><published>2009-09-03T04:02:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T04:06:27.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>TNI Preparing Peacekeepers For Congo</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.tniad.mil.id/gbrberita/KONGO-3.jpg" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;The Indonesian military (TNI) is preparing another United Nations peacekeeping force for Congo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://beritasore.com/2009/08/15/tni-preparing-peacekeepers-for-congo/"&gt;The Indonesian contingent belongs to the  TNI Konga XX-G/Monuc 2009 engineering task force led by Lt Col Arnold A.P. Ritiauw,  deputy operations assistant to TNI Commander – Commodore Marsetio said in Bogor Friday.&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-3258589742416001018?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/3258589742416001018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/3258589742416001018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2009/09/tni-preparing-peacekeepers-for-congo.html' title='TNI Preparing Peacekeepers For Congo'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-1538112041419488971</id><published>2009-09-03T04:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T04:01:37.626-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pemerintah Prioritaskan Pembangunan Jembatan Selat Sunda</title><content type='html'>&lt;img src ="http://teknomotif.files.wordpress.com/2009/08/sunda.jpg" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;Pembangunan Jembatan Selat Sunda dan Pelabuhan Bojonegara di Serang, Banten, menjadi prioritas pemerintah pada tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://tempointeraktif.com/hg/nusa/2009/05/06/brk,20090506-174826,id.html"&gt;Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta, saat Musyawarah Rencana Pembangunan tingkat Provinsi Banten, di Serang, Rabu (6/5), mengatakan pembangunan jembatan Selat Sunda semakin mendesak.&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-1538112041419488971?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/1538112041419488971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/1538112041419488971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2009/09/pemerintah-prioritaskan-pembangunan.html' title='Pemerintah Prioritaskan Pembangunan Jembatan Selat Sunda'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-7980630679185131733</id><published>2009-09-03T03:54:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T04:18:04.728-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Makassar Akan Jadi Kota Metropolitan</title><content type='html'>&lt;img src ="http://4.bp.blogspot.com/_0LyHLMnI9yA/SHxXy8j25lI/AAAAAAAAAag/hrDF-sWkdlY/s400/Trans+Studio+Makassar.jpg" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Cita-cita Chairul Tanjung dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mendirikan kawasan wisata terpadu, termasuk hiburan indoor terbesar di Asia, segera terwujud. Selasa (8/9) &lt;a href="http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/09/03/07432719/megaproyek.kalla-chairul.tanjung.segera.terwujud"&gt;mendatang, Chairman Para Group itu akan mendampingi Jusuf Kalla meresmikan sebagian proyek itu.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk tahap awal kami akan resmikan Trans Studio Theme Park-nya dulu," kata Chairal Tanjung, Direktur Para Group yang juga adik Chairul Tanjung. Sementara Trans Studio Walk (pusat perbelanjaan), menurut Chairal, baru akan beroperasi mulai Juni 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-7980630679185131733?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/7980630679185131733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/7980630679185131733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2009/09/megaproyek-kalla-chairul-tanjung-segera.html' title='Makassar Akan Jadi Kota Metropolitan'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0LyHLMnI9yA/SHxXy8j25lI/AAAAAAAAAag/hrDF-sWkdlY/s72-c/Trans+Studio+Makassar.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-2945534963403359769</id><published>2009-06-05T02:10:00.000-07:00</published><updated>2009-06-05T02:14:19.000-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pengamat: Waspadai Perang Intelijen Pendukung Capres</title><content type='html'>&lt;img src ="http://4.bp.blogspot.com/_M6ylpFdMGsw/SSE_rcmTtSI/AAAAAAAAALk/yStHmP13We8/s400/capres.jpg" align= "left" border=3 width="540" HSPACE=5 &gt;&lt;img src ="http://www.thewashingtonnote.com/archives/intel-inside.png" align= "left" border=3 width="540" HSPACE=5 &gt;Pengamat politik mengatakan rakyat perlu mewaspadai  perang intelijen yang mungkin dilakukan para mantan perwira tinggi (pati) TNI yang menjadi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.antarasumut.com/berita-sumut/politik/pengamat-waspadai-perang-intelijen-pendukung-capres/"&gt;“Jika itu terjadi dan tidak disikapi dengan bijaksana, tidak tertutup akan terjadi kekisruhan pada pemilihan presiden yang akan datang,” kata peneliti politik nasional dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR. Lili Romli di Jakarta, Senin.&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-2945534963403359769?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/2945534963403359769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/2945534963403359769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2009/06/pengamat-waspadai-perang-intelijen.html' title='Pengamat: Waspadai Perang Intelijen Pendukung Capres'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_M6ylpFdMGsw/SSE_rcmTtSI/AAAAAAAAALk/yStHmP13We8/s72-c/capres.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-8823611577110365592</id><published>2009-04-29T05:36:00.000-07:00</published><updated>2009-04-29T05:42:09.845-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='batak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Hutatta</title><content type='html'>&lt;img src ="http://3.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SMODG-8WF2I/AAAAAAAAAPA/CXaXw7viwVc/S220/Ranjo+Batu1.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://3.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SI_USUEs7kI/AAAAAAAAAKo/uqVxJlHiMkA/S220/16072008341.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://1.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SKUEp1PGsLI/AAAAAAAAAMA/lsOZ8XoN_gY/S220/16072008346.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://2.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SIaaiKQ1avI/AAAAAAAAAIg/c4P9s4QGQaw/S220/16072008348.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://3.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SIam7-4Po7I/AAAAAAAAAIo/sqn5dTS4j2U/S220/Tobang.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://1.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SJatIfhfrKI/AAAAAAAAALA/BMaKA4eqy5U/S220/16072008350.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://1.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SIWt49LCv9I/AAAAAAAAAIY/o7shAhH8eqc/S220/16072008351.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://1.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SQgq-_QnmgI/AAAAAAAAAcg/PsZOCVkEe_E/S220/16082008567.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://3.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SE0Neult7xI/AAAAAAAAAEc/65QwwjaT1cI/S220/Usortolang-1.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://1.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SE5S7odKqvI/AAAAAAAAAEw/koyNvyQtgQk/S220/Lubuk+Larangan+Juga.bmp" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;img src ="http://4.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SE0GJcUX6II/AAAAAAAAAEU/XuSBSSgm-oI/S220/Saba+Nabaru+Isuan+di+Huta+Dangka.jpg" align= "left" border=3 width="540"  HSPACE=5 &gt;Gambar &lt;a href="http://bulunggadung.blogspot.com/"&gt;selanjutnya&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-8823611577110365592?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/8823611577110365592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/8823611577110365592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2009/04/hutatta.html' title='Hutatta'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pjjKXGvFQJQ/SMODG-8WF2I/AAAAAAAAAPA/CXaXw7viwVc/s72-c/Ranjo+Batu1.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-4406219365276378643</id><published>2008-12-18T10:08:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T10:11:26.172-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>About Bakkara</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.humbanghasundutankab.go.id/foto%20website/foto%20website/FOTOFOTOKEGIATANDIKABUPATENHUMBANGHASUNDUTAN/wakilbupatiberjetskidibakkara.jpg" align= "left" border=3 width="200" HSPACE=5 &gt;Bakkara (Bakara) adalah nama sebuah wilayah di pinggiran baratdaya Danau Toba, dekat Muara dan dalam wilayah administratif Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negeri_Bakkara"&gt;More&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-4406219365276378643?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/4406219365276378643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/4406219365276378643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2008/12/about-bakkara.html' title='About Bakkara'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-8390802826625348232</id><published>2008-04-27T19:05:00.000-07:00</published><updated>2008-04-27T19:11:19.161-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Memalukan, Purnawirawan TNI AD Kalah Pilkada</title><content type='html'>Memalukan, Purnawirawan TNI AD Kalah Pilkada&lt;br /&gt;Sabtu, 26-04-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MedanBisnis – Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Agustadi Sasongko mengingatkan para purnawirawan TNI AD agar tidak mencalonkan diri dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) kalau tidak yakin akan menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak pasti menang, jangan maju, sebab kalau nanti kalah memalukan,” katanya usai memberikan pengarahan kepada sekitar 1.000 perwira Kodam VII/Wirabuana, di Makodam VII Makassar, Jumat (25/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasad yang didampingi Pangdam VII/Wirabuana, Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo, dimintai tanggapannya menyusul kekalahan Mayjen TNI (Purn) Tri Tamtomo dalam Pilgubsu dan Letjen TNI (Purn) Agum Gumelar dalam Pilkada Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kasad, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya telah meminta kepada dirinya dan juga Panglima TNI agar purnawirawan TNI sebaiknya tidak mencalonkan diri dalam pilkada kalau tidak yakin menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada pak Tri Tamtomo, kata Kasad, sebelumnya sudah diingatkan bahwa kalau tidak pasti menang lebih baik jangan maju. “Beliau waktu itu yakin akan menang, tetapi kenyataannya babak belur,” ujar Kasad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Kasad mengaku telah memerintahkan staf ahli Mabes TNI AD untuk mengkaji mengapa purnawirawan TNI itu kalah dalam pilkada. “Perintah pengkajian ini hanya untuk pembelajaran bagi kami saja,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kasad, TNI tidak akan melarang purnawirawan mencalonkan diri dalam pilkada di suatu daerah karena seorang anggota TNI yang sudah purnatugas memiliki hak politik yang sama dengan warga negara sipil lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila purnawirawan TNI terjun dalam pilkada, TNI juga tidak akan memihak dan mendukung mereka, karena TNI harus bertindak netral,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memberi pengarahan kepada perwira kodam, Kasad beberapa kali menekankan pentingnya netralitas TNI dalam pilkada. Ia kemudian menyinggung kisruh pilkada di Maluku Utara yang konon disebabkan antara lain tidak netralnya Polri dan TNI di sana. (ant)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-8390802826625348232?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/8390802826625348232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/8390802826625348232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2008/04/memalukan-purnawirawan-tni-ad-kalah.html' title='Memalukan, Purnawirawan TNI AD Kalah Pilkada'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-477059894427816805</id><published>2008-03-22T15:18:00.000-07:00</published><updated>2008-03-22T15:23:04.005-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Sultan Urged To Remain Regional Leader</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;03/23/08 01:27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta people want Sultan, Paku Alam to remain region`s leaders&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta (ANTARA News) - The Association of Yogyakarta Village Heads is to stage a "people`s assembly" on Tuesday (March 25) to declare the region`s two hereditary rulers, Sultan Hamengkubuwono X and Paku Alam IX, as the Yogyakarta Special District`s governor and vice governor respectively. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be convened in the compound of the Yogyakarta Legislative Council and expected to be attended by some 20,000 people from all over the region, the assembly would be led by the chairman of the Yogyakarta Village Heads Association, Ismaya Mulyadi, the association`s general secretary, Bibit Rustamto, said here Saturday. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The assembly would be a forum for the expression of the Yogyakarta people`s aspiration to confirm the Sultan and Paku Alam as Yogyakarta`s governor and vice governor respectively, and to reject the holding of a gubernatorial election in the region, Rustamto said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The plan to hold the assembly was purely the Yogyakarta people`s own wish and not linked with any political party`s wish, interest or agenda. The assembly would produce a decision declaring the Sultan and Paku Alam Yogyakarta`s governor and vice governor respectively. .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The decision would be conveyed to the President, the House of Representatives (DPR), the Regional Representatives Council (DPD), the Yogyakarta Legislative Council, the district and municipal administrations in Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Our target is for the government to issue a regulation formalizing the filling of the gubernatorial and vice gubernatorial posts through appointments before the terms of the incumbents expires in October 2008. If until then there is still no government regulation, we will hold another people`s assembly," Kustamto said.  &lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-477059894427816805?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/477059894427816805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/477059894427816805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2008/03/sultan-urged-to-remain-regional-leader.html' title='Sultan Urged To Remain Regional Leader'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-5185514714676950237</id><published>2007-08-31T01:13:00.000-07:00</published><updated>2007-08-31T01:14:07.153-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Azwar Pohan Dan Pembinaan Generasi Muda</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;Walikota Tebing Tinggi:&lt;br /&gt;Minat Generasi Muda Islam Kuasai Seni Baca Al Qur’an Menurun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebing Tinggi, (Analisa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walikota Tebingtinggi Ir H.Abdul Hafiz Hasibuan menguraikan, sekarang ini minat generasi muda Islam untuk menguasai seni baca Al-Quran menurun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini merupakan tantangan bagi kita untuk terus meningkatkan intensitas dan frekwensi pembinaan kepada anak-anak kita di masa mendatang, kata walikota pada peringatan Israk Mikraj sekaligus penutupan MTQ ke-40 Kota Tebing Tinggi di Gedung Balai Pertemuan Kartini, Kamis (30/8). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi Ramadhan yang sudah di ambang pintu, walikota minta agar momentum Ramadhan dapat dijadikan titik tolak untuk mengawali hal itu dengan meningkatkan amal ibadah di bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Ustad Drs Sadzali Effendi dalam tausyiahnya mengatakan, salat merupakan hikmah dari Israk Mikraj, karena itu tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Terutama bagi umat Islam yang sudah akhil baligh, sebagaimana dialami Nabi Muhamamd SAW dalam perjalanan Israk Mikraj. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinggung masalah bulan suci Ramadhan yang sudah di ambang pintu, Sadzili Effendi minta agar jadikan bulan suci Ramadhan sebagai momentum untuk membersihkan jiwa dengan bingkai sabar dan salat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakandepag Kota Tebing Tinggi Drs H.Azwar Pohan mengucapkan terima kasih kepada LPTQ Kota Tebing Tinggi yang terus berupaya membudayakan dan membina seni baca Al-Quran di tengah-tengah masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi qori dan qoriah yang berhasil menjadi juara agar tidak cepat berpuas diri, tetapi terus belajar dan berlatih. Sementara yang belum berhasil agar belajar lebih giat lagi, keberhasilan nantinya di masa datang, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya penutupan MTQ ke-40 yang meliputi cabang Tartil, Fahmi Quran, Syahril Quran, Hifzil Quran dan Khatil Quran dirangkai dengan pengumuman pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tilawah Tartil Putra juara I,II dan III, Zainul Anwar (Kelurahan Pinang Mancung), Fadhilah (Kelurahan Mandailing) dan Faturridho Alfarizi (Kelurahan Satria). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tilawah Tartil Putri juara I, II dan III, Devian Aji (Keluarahan Satria), Nurul Annisa dan Ainin Mardhiyah (Kelurahan Pinang Mancung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tilawah anak-anak putra, juara I, II dan II, Azharuddin Al-Wafie (Kelurahan Lalang), Naufa Zaki (Kelurahan Satria) dan Ahmad Ridwan (Kelurahan Rambung). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tilawah anak-anak putri juara I, II dan III, Tri Suci Handayani (Kelurahan Lalang), An Nisak (Kelurahan Berohol) dan Sakinatun Najmi S (Kelaurahan Bagelen). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tilawah Remaja putra juara I, II dan III, Muhammad Iffandi (Kelurahan Pasar Baru), Ahmad Buchari Muslim (Kelurahan T. Tinggi) dan Abdun Nafik (Kelurahan Bulian). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tilawah Remaja putri juara I,II dan III, Amty Ma’rufah Ardiyah (Kelurahan Satria), Putri Wahyuningsih (Kelurahan Lalang) dan Zuhratul Uyun (Kelurahan Rambung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-5185514714676950237?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/5185514714676950237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/5185514714676950237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/08/azwar-pohan-dan-pembinaan-generasi-muda.html' title='Azwar Pohan Dan Pembinaan Generasi Muda'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-3903136419537276263</id><published>2007-08-31T00:22:00.001-07:00</published><updated>2007-08-31T00:22:55.846-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Nurdin Sipayung Dan Penguatan Identitas Simalungun</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Simalungun merupakan komunitas yang sudah dikenal di mana-mana. Oleh karenanya tunjukkanlah jati diri tanpa ada rasa keragu-raguan karena identitas sesuatau etnis merupakan aset negara yang tidak ternilai harganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu dilontarkan Ketua Presidium Partuha Maojana Simalungun (PMS) Dr Darwan Madja Purba SPM melantik pengurus DPC Partuha Maujana Simalungun Serdang Bedagai periode 2007-2012 Sabtu (25/8) di Lapangan Desa Sei Bamban Kabupaten Serdang Bedagai. Seribuan warga  Simalungun se-Kabupaten Serdang Bedagai hadir di sana. Dijelaskan Darwan, Partuha Maojana Simalungun terdiri dari kata Partuha= Orang yang dituakan, Maojana= cendikiawan dan Simalungun Orang yang rindu kemajuan. "Jadi PMS itu adalah orang-orang yang dituakan di dalamnya terdapat kaum cendikiawan yang rindu akan kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurus DPC PMS Kabupaten Serdang Bedagai yang dilantik ketua itu adalah Ir Aliman Saragih MSi, sekretaris Drs Nurdin Sipayung SH, bendahara Drs Amiruddin Damanik dilengkapi oleh seksi-seksi lainnya. Sebagai pertanda resminya pelantikan sesuai adat budaya Simalungun, masing-masing pengurus Dipispis dengan tujuan agar diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa dan sukses dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Selain pertanda resminya pengurus itu dilantik juga ditandai dengan pemukulan Ogung. Sebagai penghargaan, pengurus DPP PMS memberikan separangkat pakaian adat Simalungun dan ulos kepada Bupati Sergai HT Erry Nuradi Purba Dasuha dan H.OK David Purba selaku penasehat PMS Serdang Bedagai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir H. Aliman Saragih, Msi, Ketua DPC PMS Sergai dalam sambutannya menyatakan, berdasarkan sejarah Sultan Serdang, kerajaan Padang dan kerajaan Bedagai adalah orang Simalungun yang dihilangkan marganya. Jadi sebenarnya Hita do Sipukka Huta artinya orang Simalungunlah pada awalnya yang membuka Kabupaten Serdang Bedagai. Oleh karenanya marilah kita bangun Kabupaten Serdang Bedagai sesuai arahan bupati. Dijelaskan, pula ada sebagian warga Simalungun yang sudah memeluk agama Islam menghilangkan marganya. Hal ini sangat keliru karena agama dan budaya itu berbeda.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengimbau  mulai sekarang harus mencantumkan marganya dan marilah kita budayakan/biasakan bahasa Simalungun di rumah kita masing-masing agar bahasa Simalungun tetap lestari ungkapnya. Dalam kesempatan yang sama dirangkaikan pula dengan pelantikan UPAS(Usaha Penyelamatan Aset Simalungun) dengan pengurus terpililih, ketua Maspriadi Girsang, SH, Sekretaris Drs Sugeng Surya Saragih, bendahara dan seksi-seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Sergai HT Erry Nuradi dalam arahannya mengatakan Kabupaten Serdang Bedagai kaya etnis maupun budaya dan dalam kehidupannya sehari-hari sangat terpelihara dengan harmonis. Dengan kerukunan yang baik itu mari kita bangun Kabupaten Sergai menjadi salah satu kabupaten terbaik di Indonesia, ajak Erry. Usai pelantikan acara diselingi dengan berbagai kegiatan seperti  penyerahan Silua berupa ulos kepada pengurus PMS Deli Serdang kepada  Pengurus PMS Serdang Bedagai, pajaehon DPC PMS Sergai, Penyerahan Majalah Marsuha serta acara Marsombu Sihol yang dipandu artis ibukota asal Simalungun hingga selesai. &lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-3903136419537276263?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/3903136419537276263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/3903136419537276263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/08/nurdin-sipayung-dan-penguatan-identitas.html' title='Nurdin Sipayung Dan Penguatan Identitas Simalungun'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-7985405219366429042</id><published>2007-08-02T11:22:00.000-07:00</published><updated>2007-08-02T11:26:01.940-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='adat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='batak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dalihan'/><title type='text'>Mengenal Dalihan Na Tolu</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;ADAT BUDAYA BATAK DALIHAN NA TOLU:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISIS DARI SUDUT PRINSIP SERTA URGENSINYA DALAM MERAJUT INTEGRASI DAN IDENTITAS BANGSA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :Anwar saleh daulay *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak: Suku Batak memiliki adat budaya yang baku yang disebut Dalihan Na Tolu yang dapat menembus sekat-sekat agama/kepercayaan mereka yang dapat berbeda-beda. Adat budaya Batak ini memiliki tujuh nilai inti yaitu kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Nilai hamoraan (kehormatan) terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Nilai uhum (law) mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya dalam menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari keta’atan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat. Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci: Adat budaya daerah, Hubungan kekeluargaan, Identitas dan integrasi bangsa, Mekanisme budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Ketua Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Medan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia selain memiliki wilayah yang luas, juga mempunyai puluhan bahkan ratusan adat budaya. Salah satu diantaranya adalah adat budaya Batak Sumatera Utara, sesungguhnya setiap adat budaya merupakan potensi yang bernilai guna bilamana dijaga dan dilaksanakan dengan baik. Rahmani Astuti (1992:145) mengatakan bahwa nilai adat budaya sangat berguna untuk mengaktualkan nilai-nilai estetika dalam kehidupan kita, dan sekaligus ia dapat dijadikan sebagai intrumen penjaga identitas dan perekat kesatuan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini bangsa kita menghadapi berbagai tantangan, diantaranya adalah terusiknya aspek integritas dan identitas bangsa yang sangat majemuk. Indikasi terhadap terjadinya disintegrasi telah muncul di beberapa tempat seperti Aceh, Riau, Irian Jaya, dll. Mereka menuntut keseimbangan keuangan pusat dan daerah bahkan menuntut kemerdekaan. Berkenaan dengan masalah bangsa tersebut, pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah cara memelihara integritas dan identitas masyarakat kita yang terancam luntur itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui problema yang melatarbelakanginya. Di antara problema yang ada mengungkapkan bahwa latar belakang timbulnya diintegrasi dan erosi identitas adalah berkaitan dengan gaya (style) kebijakan pembangunan masa lalu (baca: masa orde baru) yang antara lain (1) penerapan sentralisme dalam segala hal, (2) uniformisme terhadap banyak pranata sosial budaya, (3) derasnya intervensi budaya asing. Akibat dari kebijakan itu adalah terganggunya potensi budaya lokal sebagai alat pembina jiwa integritas dan identitas bangsa yang terkenal dengan semboyan bhineka tunggal ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. D. Harahap (1986:24) mengatakan bahwa beberapa daerah ternyata memiliki sejumlah mekanisme kepemimpinan dan kearifan sebagai bagian dari nilai adat budaya. Dalam konsep adat budaya daerah terdapat beberapa kearifan lokal dan sejumlah kepemimpinan lokal yang kesemuanya potensial dalam menata masyarakat damai dengan identitas dan integritas bangsa yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari kebijakan masa lalu yang cenderung melemahkan potensi daerah, dan dikaitkan dengan realitas terganggunya kerukunan khidupan bangsa, maka sudah selayaknya nilai-nilai adat budaya dihidupkan kembali untuk memperkuat jiwa integritas dan identitas bangsa. Dengan cara mengenalkan dan mensosialisasikannya kembali adat budaya di tengah-tengah masyarakat diharapkan masyarakat Indonesia memiliki landasan adat budaya sehingga mampu menangkal pengaruh-pengaruh yang merusak sistim nilai-nilai sosial budaya. Dalam usaha mengenalkan adat budaya daerah itulah maka adat budaya Batak Dalihan Na Tolu disajikan. Untuk melakukan pengkajian, penilaian, dan pengenalan kembali adat budaya batak dewasa ini dicoba disoroti dengan cara menjawab pertanyaan: dimana, apa, mengapa, dan bagaimana adat budaya Batak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Dimana Wilayah Adat Budaya Batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku batak mempunyai lima sub suku dan masing-masing mampunyai wilayah utama, sekalipun sebenarnya wilayah itu tidak sedominan batas-batas pada zaman yang lalu. Sub suku dimaksud yaitu: (1) Batak Karo yang mendiami wilayah dataran tinggi Karo, Deli Hulu, Langkat Hulu, dan sebagian tanah Dairi; (2) Batak Simalungun yang mendiami wilayah induk Simalungun; (3) Batak Pak Pak yang mendiami wilayah induk Dairi, sebagian Tanah Alas, dan Gayo; (4) Batak Toba yang mendiami wilayah meliputi daerah tepi danau Toba, Pulau Samosir, Dataran Tinggi Toba, dan Silindung, daerah pegunungan Pahae, Sibolga, dan Habincaran; dan (5) Batak Angkola Mandailing yang mendiami wilayah induk Angkola dan Sipirok, Batang Toru, Sibolga, Padang Lawas, Barumun, Mandailing, Pakantan, dan Batang Natal. (Nalom Siahaan: 1982:X).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tarombo (silsilah) orang Batak, semua sub-sub batak itu mempunyai nenek moyang yang satu yaitu si Raja Batak (W. W. Hutagalung, 1990:7). Dari si Raja Batak inilah bekembang sub-sub suku Batak yang mengembara ke wilayah-wilayah teritorial di atas sejalan dengan perkembangan pemukiman baru atau perkotaan yang semakin meluas. Setiap pembukaan kampung baru biasanya diringi dengan penabalan marga baru terhadap orang yang membuka perkampungan tersebut. Cara ini terutama dilaksanakan dilingkungan sub-sub suku Batak Toba, sehingga dengan demikian jumlah marga dilingkungan suku Batak Toba adalah relatif lebih banyak jumlahnya, berbeda dengan jumlah marga pada sub suku Batak Mandailing Angkola yang relatif lebih sedikit jumlahnya karena tidak menerapkan cara penebalan marga baru. Marga dilingkungan suku Mandailing Angkola adalah hanya belasan jumlahnya, yaitu Nasution, Lubis, Siregar, Harahap, Hasibuan, Batu Bara, Dasopang, Daulay, Dalimunthe, Dongoran, Hutasuhut, Pane, Parinduri, Pohan, Pulungan, Siagian, Rambe, Rangkuti, Ritongga, dan Tanjung (St. Tinggibarani, 1977 : iii). Sedang marga pada subsuku Batak Toba adalah puluhan jumlahnya. Semua sub suku Batak yang disebut di atas telah meluas dan tersebar di Sumatera Utara, berintegrasi dengan suku-suku bangsa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai tempat di luar Sumatera Utara suku Batak banyak dijumpai sebagai perantau dan di daerah rantau suku batak biasanya tetap terikat dengan adat budaya sukunya. Misalnya di Sumatera Barat antara lain banyak terdapat di Rao, Lembah Malintang, dan Lubuk Sikaping (Kabupaten Pasaman); Lima Kaum (Kabupaten Tanah Datar); dan Lubuk Bagalung (Kabupaten Padang Pariaman). Di Propinsi Riau banyak terdapat di Tambusai, Rambah, Rokan, Tandun, dan Kota Darusalam Kabupaten Kampar. Kebanyakan perantau suku Batak di kedua propinsi ini adalah suku Batak Angkola Mandailing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalom Siahaan (1982:48) mengatakan bahwa sekalipun di rantau suku Batak selalu peduli dengan identitas sukunya, seperti berusaha mendirikan perhimpunan semarga atau sekampung dengan tujuan untuk menghidupkan ide-ide adat budayanya. Mereka mengadakan pertemuan secara berkala dalam bentuk adat ataupun silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilitas orang Batak yang cukup tinggi mengantarkan mereka ke berbagai penjuru tanah air di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri, seperti ke Malaysia. Di negeri jiran ini, yakni negara bagian Perak, terdapat nama kampung yang sama dengan kampung asal para migran Mandailing Angkola seperti kampung "Sihepeng". Di negeri jiran itu juga mereka mendirikan paguyuban kedaerahan yang bernama "Ikatan Kebajikan Mandailing Malaysia" (Harahap. E.St, 1960:27). Adat budaya Batak sebenarnya sudah dikenal sebagai bagian budaya Nusantara sejak zaman Majapahit. Hal ini dengan jelas diungkapkan oleh sejarawan Majapahit Mpu Prapanca dalam karya monumentalnya Negarakertagama yang bertarikh 1365 M, yang menyebutkan ada tiga daerah budaya Batak Mandailing, yaitu Angkola, Mandailing, dan Padanglawas. (Harahap B. Hamidi, 1979:8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari catatan sejarah diketahui bahwa berbagai pengaruh luar sudah lama memasuki wilayah daerah Batak. Pada Batak Angkola Mandailing pengaruh yang kuat adalah dari dunia Islam. Sedang di daerah Batak Toba pengaruh yang kuat adalah dari misi Kristen pada permulaan abad 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal bahwa berbagai pengaruh yang berlangsung berabad-abad telah menjadikan akulturasi dalam suku Batak dengan berbagai variasi dalam adat budaya Batak seperti langgam bahasa, dialek, pakaian adat, dan lain-lain. Namun demikian ada nilai inti (core values) yang tetap baku dan berlaku bagi seluruh sub suku Batak di wilayah dimanapun ia berada, yaitu adat Dalihan Na Tolu, dimana adat ini dapat menembus sekat-sekat agama/kepecayan kedalam suatu kesatuan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Apa Nilai Inti Budaya Batak Itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai inti budaya (core values of culture) suatu bangsa atau suku bangsa biasanya mencerminkan jati diri suku atau bangsa yang bersangkutan. Sedangkan jati diri itu maksudnya merupakan gambaran atau keadaan khusus seseorang yang meliputi jiwa atau semangat daya gerak spiritual dari dalam. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa nilai inti budaya Batak cukup luas. Dari berbagai kajian terhadap sejumlah ungkapan kata-kata, aksara orang Batak yang diikuti dengan pengalaman adat budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka dapat dilihat adanya tujuh macam nilai inti budaya suku Batak. Ketujuh nilai inti budaya Batak dimaksud ialah kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Secara ringkas nilai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Kekerabatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Hal ini terlihat baik pada Toba maupun Batak Angkola Mandailing dan sub suku Batak lainnya. Semuanya sama-sama menempatkan nilai kekerabatan pada urutan yang paling pokok. Nilai inti kekerabatan masyarakat batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalihan Na Tolu. Hubungan kekerabatan dalam hal ini terlihat pada tutur sapa baik karena pertautan darah ataupun pertalian perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Agama &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai agama/kepercayaan pada orang Batak tergolong sangat kuat. Sedang agama yang dianut oleh suku batak amat bervariasi. Menurut data (Departemen Agama Sumatera Utara, 1999) ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam seperti Angkola Mandiling, ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen seperti Batak Toba, dan ada wilayah Batak yang prosentase penganut agamanya berimbang seperti wilayah Batak Simalungun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara intensif ajaran agama telah disosialisasikan kepada anak-anak orang Batak sejak masa kecilnya dengan penuh pengawasan. Diantara pengajaran agama (khususnya Islam) yang diberikan ialah belajar membaca/mengaji al-Qur’an sejak kecil. Belajar ibadah dilaksanakan di rumah ibadah. Dalam pengaturan upacara perkawinan nuansa keagamaan cukup menonjol, demikian juga dalam suasana kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena keagamaan kadang-kadanng menjadi lebih kuat dari fenomena adat, khususnya di lingkungan suku masyarakat Mandailing Angkola. Tampilnya nuansa agama lebih dominan di lingkungan masyarakat Mandailing Angkola karena didukung oleh sarana pendidikan agama yakni pondok pesantren yang banyak jumlahnya didaerah itu. Diketahui bahwa 32 dari 70 pondok pesantren di Sumatera Utara terdapat di wilayah Mandailing Angkola, Padanglawas, dan Sipirok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti pengaruh agama Islam yang dominan dalam kehidupan masyarakat Batak Mandailing Angkola terlihat dalam perjodohan/perkawianan semarga dapat diterima di sana (meskipun jarang terjadi). Padahal perkawinan semarga secara jelas dilarang dalam adat Batak, karena dinilai sumbang atau inces. Diterima kawin semarga oleh mereka jelas merupakan kuatnya keyakinan agama yang membolehkan itu. Siapa yang dapat dijodohkan dan siapa yang tidak dapat dijodohkan jelas disebutkan dalam Islam, misalnya dalam al-Qur’an surat an-Nisa 23-24 dengan jelas disebut siapa yang boleh dinikahi, tidak ada dalam ayat itu larangan kawin semarga, kecuali muhrimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Hagabeon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Dengan lanjut usia diharapkan ia dapat mengawinkan anak-anaknya serta memeperoleh cucu. Kebahagiaan bagi orang Batak belum lengkap, jika belum mempunyai anak. Terlebih lebih anak laki-laki yang berfungsi untuk melanjutkan cita-cita orang tua dan marganya. Hagabeon bagi orang Batak Islam termasuk keinginannya untuk dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mengenai jumlah anak yang banyak (secara adat diharapkan memiliki 17 laki-laki dan 16 perempuan = 33 anak) yang telah berakar lama, telah mengalami pergeseran dari bersifat kuantitas pada anak yang berkualitas, mempunyai ilmu dan keterampilan hidup sekalipun jumlahnya tidak banyak. Peranan program KB (Keluarga Berencana) yang dilancarkan pemerintah cukup dominan dalam merubah pandangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang makin bertambah kebahagiaannya bila ia mampu menempatkan diri pada posisi adat di dalam kehidupan sehari-hari. Jelasnya perjuangan yang berdiri sendiri tetapi ditopang oleh keteladanan dan pandangan yang maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Hamoraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nilai (kehormatan) menurut adat Batak adalah terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Kekayaan harta dan kedudukan/jabatan yang ada pada seseorang tidak ada artinya bila tidak didukung oleh keutamaanspiritualnya. Orang yang mempunyai banyak harta serta memiliki jabatan dan posisi tinggi diiringi dengan sifat suka menolong/memajukan sesama, mempunyai anak keturunan serta diiringi dengan jiwa keagamaan maka dia dipandang mora (terhormat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Uhum dan Ugari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai uhum (law) bagi orang Batak mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari keta’atan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Setiap orang Batak yang menghormati uhum, ugari, dan janjinya dipandang sebagai orang batak yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteguhan pendirian pada orang Batak sarat bermuatan nilai-nilai uhum. Perbuatan khianat terhadap kesepakatan adat amat tercela dan mendapat sangsi hukum secara adat. Oleh karena itu, orang Batak selalu berterus terang dan apa adanya tidak banyak basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Pengayoman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut diemban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu. Tugas pengayom ini utamanya berada di pihak mora dan yang diayomi pihak anak boru. Sesungguhnya sesama unsur Dalihan Na Tolu dipandang memiliki daya magis untuk saling melindungi. Hubungan saling melindungi itu adalah laksana siklus jaring laba-laba yang mengikat semua pihak yang terkait dengan adat Batak. Prinsipnya semua orang menjadi pengayom dan mendapat pengayoman dari sesamanya adalah pendirian yang kokoh dalam pandangan adat Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa memiliki pengayom secara adat maka orang Batak tidak terbiasa mencari pengayom baru. Sejalan dengan itu, biasanya orang Batak tidak mengenal kebiasaan meminta-minta pengayom/belas kasihan atau cari muka untuk diayomi. Karena sesungguhnya orang yang diayomi adalah juga pengayom bagi pihak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Marsisarian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu. Secara bersama-sama masing-masing unsur harus marsisarian atau saling menghargai. Di dalam kehidupan ini harus diakui masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga saling membutuhkan pengertian, bukan saling menyalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila terjadi konflik diantara kehidupan sesama masyarakat maka yang perlu dikedepankan adalah prinsip marsisarian. Prinsip marsisarian merupakan antisipasi dalam mengatasi konflik/pertikaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengapa Adat Budaya Dalihan Na Tolu Dilestarikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu suku bangsa akan lenyap bilamana mereka tidak memiliki pegangan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Pegangan dimaksud adalah adat budaya yang terdapat pada suatu masyarakat . Oleh karena itu, nilai adat budaya perlu dikenalkan agar masyarakat sekarang dan yang akan datang mampu berprilaku sesuai tuntutan adat budaya yang dijunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengajarkan adat budaya kepada generasi muda selain sebagai sumbangan nyata, juga sebagai upaya membantu tegaknya tertib sosial kepada angkatan muda. Pengalaman pahit atau manis yang dialami oleh satu suku bangsa/etnis memang dapat mengembangkan nilai adat yang dilakukannya dan sejauhmana dia konsisten dengan nilai adatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan itulah mengapa adat Dalihan Na Tolu (DNT) diajarkan dilingkungan suku Batak. Ia merupakan adat istiadat yang bertalian erat dengan sistem kekerabatan suku batak. Adat DNT secara harfiah berarti tiga tungku. Hal ini bisa dianalogikan dengan tiga tungku-masak di dapur tempat menjarangkan periuk. Maka adat Batakpun mempunyai tiga tiang penopang dalam kehidupan, yaitu (1) pihak semarga (in group), (2) pihak yang menerima istri (wife receving party), (3) pihak yang memberi istri (giving party). (Nalom Siahaan, 1982:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkawianan terjadilah ikatan dan integrasi diantara tiga pihak yang disebut tadi, seolah-olah mereka bagai tiga tungku di dapur yang besar gunanya dalam menjawab persoalan hidup sehari-hari. Cukup banyak fungsi adat ini bagi masyarakat pendukungnya, diantaranya pati dohan holong yang artinya menunjukan kasih sayang diantara sesama yang penuh sopan santun/etik. Dari fungsinya yang penuh kehidmatan maka adat DNT dapat diterima oleh setiap etnis Batak sekalipun mereka berbeda-beda agama. Mereka yang menganut agama Islam, Kristen, Katolik, dan Budha kadang-kadang begitu erat ikatannya karena konsep adat telah terbentuk sejak mulai lahirnya kelompok masyarakat yang identitas utamanya adalah adanya marga. Dengan marga itu orang Batak akan setia tehadap ketentuan adatnya di manapun mereka berada (Nalom Siahaan 1982:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marga bagi orang Batak biasanya adalah identitas yang menunjukan silsilah dari nenek moyang asalnya. Sebagaimana diketahui marga bagi orang Batak diturunkan secara patrinial artinya menurut garis ayah. Sebutan berdasarkan satu kakek dalam marga yang sama markahanggi (semarga). Orang batak yang semarga merasa bersaudara kandung sekalipun mereka tidak seibu-sebapak. Mereka saling menjaga, saling melindungi, dan saling tolong-menolong (St. Tinggi Barani P. Alam 1977:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi lainnya dari adat DNT adalah pengenalan garis keturunan hingga jauh ke atas yang disebut tarombo (silsilah). Kekuatan kekerabatan terwujud dalam pemakaian tutur atau sapa. Tutur itu berisi aturan hubungan antar perorangan atau antar unsur dalam DNT. Tutur menjadi perekat bagi hubungan kekerabatan. Tidak kurang dari limapuluh macam tutur dalam kekerabatan Batak. Dengan menyebut tutur terhadap seseorang diketahuilah jalur hubungan kekerabatan diantara mereka yang menggunakannya. Tutur kekerabatan itu sekaligus menentukan prilaku apa yang pantas dan tidak pantas diantara mereka yang bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang memanggil tutur tulang yaitu mertua atau saudara laki-laki dari ibu kepada seseorang, maka sipemanggil adalah bere (anak) dari tulang tersebut. Konsekwensinya akan ada hak dan kewajiban diantara mereka secara timbal balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegaknya hak kewajiban diantara mereka sekaligus menentukan etika yang harus mereka jaga. Mereka harus menjaga etika dalam bersenda gurau. Demikian juga, tutur antara parumaen (istri anak atau menantu) terhadap amang boru (mertua laki-laki) ada etika adatnya yang masing-masing harus menjaganya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. De Jong (1970:7) mengatakan bahwa di bawah payung yang sama yaitu adat, manusia menjaga hak dan kewajiban tutur. Pada orang yang berbeda agama kadang terdapat sikap hidup yang sama. Alasannya cukup sederhana, yakni karena mereka semua pertama-tama merupakan orang Jawa atau Batak yang berpegang pada adat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran adat DNT di atas, dapat dimengerti bahwa adat DNT dapat dibentuk dalam mengatur mekanisme integritas dan identitas antar marga (clan) di suatu kampung. Akan tetapi meskipun telah berkembang melintas batas daerah Batak namun konsep dasar adat DNT berlaku sama di setiap wilayah dan tempat. Hal ini bisa terwujud karena tutur dalam DNT amat menjaga adanya etika. Dari luasnya hubungan kekerabatan dalam adat Batak maka dapat dilihat tumbuhnya harosuan (keakraban) dan nilai ini sangat mendasar dalam segala pergaulan. Nilai keakraban itu tidak sekedar teori, tapi diaplikasikan dalam bentuk mekanisme sosial adat DNT sampai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, yang senantiasa efektif penggunaanya dalam adat Batak adalah mengenai urusan siriaon dan sikukuton. Siriaon adalah kegiatan yang berkenaan dengan upacara adat bercorak kegembiraan seperti pesta perkawinan, mendirikan dan memasuki rumah baru, sedangkan siluluton adalah kegiatan adat yang bersifat duka cita seperti kematian. Dua macam peristiwa tersebut dipandang tidak dapat terlaksanan dengan baik tanpa partisipasi seluruh komponen adat DNT. (M.D. Harahap 1986:93). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap warga Batak yang sudah berumah tangga otomatis menjadi anggota pemangku adat DNT. Tidak ada alasan bagi mereka yang telah berumah tangga untuk tidak ikut tampil dalam menyelesaikan urusan siriaon dan siluluton di tengah-tengah masyarakat secara adat DNT. Karena bila salah satu unsur dari adat DNT tidak hadir maka suatu pekerjaan adat di pandang tidak sah dan tidak kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bagaimana cara Melestarikan Adat DNT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melestarikan suatu adat budaya dapat mempergunakan berbagai langkah seperti pemberian contoh/keteladanan, demontrasi, pemberian tugas, umpan balik, dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut dapat dipergunakan dalam melestarikan adat DNT. Caranya tidak harus berurutan tetapi dapat digunakan cara yang berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Dengan langkah seperti memberi contoh maka adat yang semula hanya sebagai pengetahuan, dapat digiring menjadi sikap dan kemudian berubah wujud menjadi diamalkan dan dipraktikkan atau didemonstrasikan dalam kehidupan nyata. Tayar Yusuf (1997:49) mengatakan dengan metode demonstrasi, yakni memperlihatkan bagaimana untuk melakukan jalannya suatu proses akan semakin lancarlah jalannya suatu adat. Disebut juga to show artinya mempertunjukkan suatu hal. Dengan latihan pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi miliknya dan betul-betul dikuasai (Tayar Yusuf, 1997:64). Metode latihan/pembiasaan juga banyak membantu pemahaman adat yang dilatih tentunya adalah hal-hal yang bersifat praktis, operasional seumpama melatih Markobar (berbicara adat) di tengah-tengah suatu acara baik adat siriaon ataupun siluluton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan umpan balik ialah dengan mengadakan suatu acara adat terhadap seseorang yang kurang begitu menjiwai adat, dengan harapan setelah ia mengikutinya maka dengan sendirinya ia menjadi pelaksana dan pendukung yang aktif. Secara gradual pengenalan adat akan dapat berjalan terus-menerus. Sedangkan sebagai tindak lanjut ialah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk acara adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaiannya adalah apakah suku-suku pemangku adat Batak sudah mewariskan adat budaya daerah disertai dengan contoh teladan terhadap masyarakat pendukungnya. Kelemahannya selama ini adalah kurangnya keteladanan dan latihan, umpan balik dalam adat batak. Apakah karena derasnya pengaruh arus budaya luar yang cenderung materialistis dan kurang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan turut mempengaruhi tidak berjalannya penanaman nilai-nilai adat budaya daerah, termasuk adat budaya batak? Jawabannya diserahkan pada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Simpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat budaya daerah, termasuk adat budaya Batak Dalihan Na Tolu dapat digunakan sebagai sarana dalam mempertahankan integrasi dan identitas bangsa, terutama di kalangan suku-suku yang ada di daerah secara luas. Di sana-sini pelaksanaan adat DNT semakin mengalami pendangkalan. Pendangkalan dimaksud ditandai dengan semakin berkurangnya perhatian masyarakat generasi muda mengenal dan melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam memberi pengenalan dan pengamalan adat budaya daerah sebagai khasanah budaya nasional pembinaan adat budaya daerah/lokal dalam situasi bangsa menghadapi tantangan globalisasi menjadi penting guna menumbuhkan dan menguatkan kembali dalam berbangsa/bernegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Acuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astuti Rahmani. 1992. Asal Usul Manusia: Menurut Bibel Al-Quran dan Saint, Bandung : Mizan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Agama Sumatera Utara. 1999. Peta Keagamaan Propinsi Sumatera Utara, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harahap M.D. 1986. Adat Istiadat Tapanuli Selatan. Grafindo Utama, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harahap B. Hamidi. 1979. Jalur Migrasi Orang Purba di Tapanuli Selatan. Majalah Selecta no. 917.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harahap. E St. 1960. Perihal Bangsa Batak: Bagian Bahasa. Jawatan Kebudayaan, Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutagalung, W.M. 1990. Pustaka Batak: Tarombo Dohot Turi-Turian Ni Bangso Batak, Tulus Jaya, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalom Siahaan. 1882. Adat Dalihan Na Tolu: Prinsip dan Pelaksanaannya, Grafindo, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;St. Tinggibarani P. Alam 1977. Burangir Nahombar: Adat Tapanuli Selatan, Balai adat Padangsidempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. De Jong. 1970. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yayasan Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayar Yusuf. 1970. Metodologi Pengajaran Agama. Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-7985405219366429042?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/7985405219366429042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/7985405219366429042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/08/mengenal-dalihan-na-tolu.html' title='Mengenal Dalihan Na Tolu'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-4594355015675383023</id><published>2007-07-16T22:16:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T22:40:52.484-07:00</updated><title type='text'>Program Angkasa Luar RI Dikembangkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_hymCAvrU4k0/RpxV7idSHaI/AAAAAAAAACY/LLqZRflU5ZQ/s1600-h/satelit.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_hymCAvrU4k0/RpxV7idSHaI/AAAAAAAAACY/LLqZRflU5ZQ/s400/satelit.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088036160372088226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah pihak ISRO (Indian Space Research Organization) memastikan tidak ada kendala yang mungkin menyebabkan penundaan, akhirnya roket Roket PSLV-C7 yang membawa micro satellite LAPAN berhasil diluncurkan pada hari ini (10/1/07)pukul 11.08 WIB dari Satish Dhawan Space Center (SDSC) Sriharikota- India, dan saat ini telah menempati orbitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ini menadai salah satu momen terpenting dalam sejarah Iptek Nasional dan sekaligus menandakan telah dilewatinya salah satu fase kritis dalam proses peluncuran micro satellite LAPAN, selanjutnya para ahli masih harus memastikan seluruh instrumen dalam micro satellite LAPAN berfungsi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu seluruh bangsa Indonesia berharap, momen yang membenggakan ini dapat menjadi tonggak baru pembangunan di bidang teknologi satelit dan kedirgantaraan nasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-4594355015675383023?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/4594355015675383023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/4594355015675383023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/07/program-angkasa-luar-ri-dikembangkan.html' title='Program Angkasa Luar RI Dikembangkan'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_hymCAvrU4k0/RpxV7idSHaI/AAAAAAAAACY/LLqZRflU5ZQ/s72-c/satelit.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-6031179624370421916</id><published>2007-07-16T21:02:00.000-07:00</published><updated>2007-07-16T21:18:54.975-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sport'/><title type='text'>Iraq Hancurkan Australia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_hymCAvrU4k0/RpxCLSdSHKI/AAAAAAAAAAk/F-TegcSU_qw/s1600-h/irak.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_hymCAvrU4k0/RpxCLSdSHKI/AAAAAAAAAAk/F-TegcSU_qw/s400/irak.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088014440722472098" /&gt;&lt;/a&gt;13/07/07 20:23&lt;br /&gt;Irak Pukul Australia 3-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkok (ANTARA News) - Irak secara mengejutkan berhasil memukul Australia 3-1 di Piala Asia, Jumat, sehingga membuat favorit juara turnamen tersebut terancam untuk tersingkir secara memalukan pada babak awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nashat Akram mencetak gol pertama melalui tendangan bebas di babak pertama setelah penjaga gawang Australa, Mark Schwarzer, melakukan kesalahan, dan Hawar Mulla Mohammad dan Karrar Jassim Mohammad menambah keunggulan timnya di babak kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Socceroos menyamakan kedudukan melalui kapten mereka, Mark Viduka pada awal babak kedua, tetapi kemudian diungguli oleh suatu tim yang harus berlatih dan bermain babak penyisihan di negara netral, yakni Jordania, karena perang di negara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irak, yang mencapai perempatfinal di tiga Piala Asia terakhir, kini naik ke puncak klasemen Grup A dengan empat poin dari dua pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thailand juga mengoleksi empat poin, sementara Oman dan Australia masing-masing mengumpulkan satu poin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australia, yang baru pertama kali tampil di Piala Asia dan dianggap sebagai salah satu tim favorit, masih mempunyai kesempatan untuk maju ke babak berikutnya bila mereka menang dalam pertandingan terakhir grup melawan tuan rumah Thailand, Senin. Mereka juga perlu mengumpulkan jumlah gol yang lebih banyak dari hasil pertandingan antara Irak dan Oman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australia telah berjanji akan menebus permainan buruknya saat ditahan imbang 1-1 oleh Oman dalam pertandingan hari Minggu, tetapi malah diungguli Irak di menit ke-21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akram tampaknya melakukan tendangan bebas tak berbahaya langsung ke arah Schwarzer, tetapi bukannya menangkap bola, penjaga gawang Middlesbrough itu dibingungkan oleh kehadiran Saleh Sadir dan menyaksikan bola melintas di atasnya untuk menjebol gawangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Cahill, yang mencetak satu gol saat bermain imbang 1-1 melawan Oman, diturunkan sebagai pemain penyerang di babak kedua, tetapi kehadirannya tidak membawa pengaruh apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australia menyamakan kedudukan saat babak kedua baru berjalan dua menit, ketika Brett Emerton melakukan umpan bola ke kotak penalti pada kaptennya, yang kemudian menyundul bola menembus gawang Noor Sabri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australia mulai melancarkan serangan gencar di babak kedua, tetapi serangan mereka dapat dipatahkan pertahanan berlapis Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akram mengirimkan bola di antara dua pemain bertahan kepada Hawar Mulla Mohammad, yang menjebloskan bola ke gawang Schwarzer untuk mengubah kedudukan menjadi 2-1 seteah menit ke-58 dan Karrar Jassim Mohammed menciptakan gol terakhir lima menit menjelang pertandingan usai setelah tembakan Mahdi Karim dapat ditepis Schwarzer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-6031179624370421916?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/6031179624370421916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/6031179624370421916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/07/iraq-hancurkan-australia.html' title='Iraq Hancurkan Australia'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_hymCAvrU4k0/RpxCLSdSHKI/AAAAAAAAAAk/F-TegcSU_qw/s72-c/irak.bmp' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-7126701625940445368</id><published>2007-06-25T09:45:00.000-07:00</published><updated>2007-06-25T09:52:04.194-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Rumah Hangus Terbakar Di Laguboti</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;24 Jun 07 21:55 WIB&lt;br /&gt;Rumah Hangus Terbakar Di Laguboti&lt;br /&gt;Laguboti WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rumah semi permanen milik Osar Silalahi, 52, warga Desa Sitoluama Kec. Laguboti Kab. Tobasa, Kamis malam (21/6) terbakar. Tidak ada korban jiwan, namun kerugian diperkirakan Rp40 juta rupiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai keterangan dihimpun Waspada, Jumat (22/6), terjadinya musibah kebakaran tersebut ketika adanya pemadaman listrik PLN. Dugaan sementara, kemungkinan api berasal dari pemasangan lilin pengganti penerangan listrik PLN, yang diletakkan pada bagian atas meja papan terjatuh, lalu menimbulkan kobaran api hingga menghanguskan bangunan rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camat Laguboti, Drs. RWSS Hutapea dikonfirmasi disela-sela rapat paripurna dewan membenarkan musibah kebarakan menghanguskan satu rumah. Dia mengatakan, pemadaman api berhasil dilakukan sekira pukul 21.00. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-7126701625940445368?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/7126701625940445368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/7126701625940445368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/06/rumah-hangus-terbakar-di-laguboti.html' title='Rumah Hangus Terbakar Di Laguboti'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-688693118930461233</id><published>2007-06-10T20:46:00.000-07:00</published><updated>2007-06-10T20:47:40.546-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Pesantren Al Kautsar Al Akbar Dan Sisingamangaraja XII</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Aset Sisingamangaraja XII di Belanda dan Inggris akan Ditarik &lt;br /&gt;Senin, 04-06-2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MedanBisnis – Medan&lt;br /&gt;Aset-aset serta berbagai benda peninggalan Raja Sisingamangaraja XII yang banyak terdapat di luar negeri, khususnya di sejumlah museum di London, Inggris dan Belanda, akan ditarik untuk dikembalikan ke Museum Sisingamangaraja XII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harapkan dengan pendekatan diplomatik yang dilakukan pemerintah pusat, semua aset dan berbagai peninggalan benda bersejarah milik Raja Sisingamangaraja XII bisa ditarik kembali ke Indonesia,” kata Ketua Nasional Panitia Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII Syarfie Hutauruk, di Pesantren Al'Kautsar Al'Akbar Jalan Pelajar Timur, Medan, Sabtu (2/6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal itu bisa dilakukan, maka barang-barang bersejarah itu akan diinventarisir dan selanjutnya dimasukkan ke dalam Museum Raja Sisingamangaraja XII di Bakara. Syarfie sendiri belum bisa menjelaskan apa-apa saja jenis benda-benda bersejarah milik Sisingamangaraja XII tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarfie juga mengemukakan, panitia sampai saat ini masih terus menggalang dana untuk pembangunan museum tersebut. Baik penggalangan kepada pemerintah pusat, para donatur serta pihak lainnya. Ia memastikan kegiatan itu dilaksanakan bersamaan dengan pemugaran Istana Sisingamngaraja XII di Bakara. “Itu semua dilakukan dalam rangka 100 tahun peringatan Sisingamngaraja XII,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai nasib dan kehidupan keluarga keturunan Raja Sisingamangaraja XII, Syarfie mengaku hal itu di luar jangkauannya sebagai panitia peringatan. Namun ia meminta pemerintah pusat tidak melupakan jasa-jasa Sisingamangaraja XII dan tetap memperhatikan para keluarga keturunan pahlawan nasional itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, pihaknya sendiri akan berupaya mengedarkan buku sejarah tentang Sisingamangaraja XII karangan para sejarahwan Indonesia. “Rencananya untuk tahap awal kami akan mengedarkan buku karangan Prof W Sijabat,” ujarnya.&lt;br /&gt;Pihaknya juga akan menggalang pembuatan buku atau sinopsis kecil tentang pahlawan nasional asal Tanah Batak itu. Penggalangan kegiatan itu rencananya akan dilakukan panitia bersama Ny Nina Akbar Tandjung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami juga akan meminta kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Mendiknas Bambang Sudibyo, agar penulisan sejarah diperbanyak, khusunya tentang Sisingamangaraja XII,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-688693118930461233?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/688693118930461233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/688693118930461233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/06/pesantren-al-kautsar-al-akbar-dan.html' title='Pesantren Al Kautsar Al Akbar Dan Sisingamangaraja XII'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-8484844186506625777</id><published>2007-05-12T15:21:00.000-07:00</published><updated>2007-05-12T15:26:00.324-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hukum'/><title type='text'>Eben Manik: Rudolf Asal Bunyi Soal UU No. 32/2004</title><content type='html'>11 Mei 07 22:01 WIB&lt;br /&gt;Pergantian Bupati Pakpak Bharat Menghangat&lt;br /&gt;Sidikalang, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perihal pergantian pucuk pimpinan Kab. Pakpak Bharat dari Bupati Ir. Muger Hery Berutu, MBA kepada wakilnya H. Makmur Barasa, SH menjadi isu hangat di Pakpak Bharat. &lt;br /&gt;Partai yang membawa pasangan itu menjadi pemenang pada Pilkadasung dua tahun lalu yakni PDIP, PKB dan PDK sibuk memikirkan siapa yang akan dicalonkan menjadi wakil bupati setelah H. Makmur Barasa, SH diangkat menjadi bupati defenitif, menggantikan Ir. Muger Hery Berutu yang meninggal dunia, Jumat (27/4) lalu. Tidak hanya ketiga partai itu yang sibuk, tetapi semua anggota DPRD mulai kasak-kusuk membangun kelompok-kelompok pendukung dua calon yang diisukan dalam UU No. 32 tahun 2004 dan PP No. 6 tahun 2005. Masyarakat juga tidak kalah seru membangun strategi dengan melontarkan opini-opini yang dianggap penting untuk mempengaruhi kepedulian anggota dewan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu Ketua DPRD, Mansehat Manik, SPd membenarkan kemungkinan pemilihan wakil bupati oleh dewan setelah H. Makmur Barasa menjadi bupati defenitif. Dewan yang memilih dan partai pemenang Pilkadasung yang berhak mencalonkan, kata ketua dewan itu. Sementara anggota Komisi A, Aminullah Berutu juga membenarkan kemungkinan itu kalau bupati defenitif menginginkannya. Lain dengan Hendra Habeahan, Ketua PPRNI Pakpak Bharat yang menuntut agar PDIP, PKB dan PDK mengusulkan tokoh lokal sebagai calon wakil bupati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua PGMP (Perhimpunan Generasi Muda Pakpak) Eben Pegagan Manik di Sidikalang, Kamis (10/5), menyatakan tidak benar undang-undang mengizinkan pemilihan wakil bupati di Pakpak Bharat. Dia menyatakan Gubsu Drs. Rudolf M. Pardede asal bunyi alias Asbun dalam pernyataannya kepada media massa, bahwa partai yang dipimpin Gubsu yakni PDIP telah mempersiapkan kadernya untuk diusulkan sebagai calon wakil bupati. Eben Manik menyesalkan Gubsu yang mengutamakan nuansa politik yang condong menguntungkan partainya tanpa mempertimbangkan potensi keresahan dan potensi konflik atas pernyataan politiknya. Seharusnya seorang gubernur tidak terlalu condong pada partainya, tetapi bersifat mengayomi semua warga agar merasa nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ketua PGMP yang alumni Politeknik ITB itu, undang-undang No. 32 tahun 2004 dan PP No. 6 tahun 2005, mengatur pemilihan wakil bupati apabila kepala daerah diberhentikan karena makar dan hukuman tindak pidana lain yang berkekuatan hukum tetap dengan hukuman lima tahun ke atas. Isu pemilihan wakil bupati itu merujuk UU No.32 tahun 2004 pasal 35 dan PP No.6 tahun 2005 pasal 131 ayat 2. Tidak ada poin dalam pasal dan ayat rujukan itu yang memberi peluang pemilihan wakil bupati setelah wakil bupati menjadi bupati defenitif, karena bupati meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eben Manik menyatakan para petinggi Sumatra Utara dan Pakpak Bharat salah menafsirkan UU No. 32 dan PP No. 6. Menurutnya, pernyataan dan isu itu telah membangun blok-blok pro dan kontra di tengah masyarakat. Padahal sebenarnya tidak akan ada pemilihan wakil bupati setelah H. Makmur Barasa, SH menjadi bupati defenitif.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-8484844186506625777?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/8484844186506625777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/8484844186506625777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/05/eben-manik-rudolf-asal-bunyi-soal-uu-no.html' title='Eben Manik: Rudolf Asal Bunyi Soal UU No. 32/2004'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-843939636892779237</id><published>2007-04-27T13:40:00.001-07:00</published><updated>2007-04-27T13:49:49.122-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Mulai 2009, Tidak Ada Ujian Nasional Penerimaan PNS</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) Taufiq Effendi mengatakan, mulai tahun 2009, sudah tidak ada lagi ujian nasional untuk penerimaan pegawai negeri sipil (PNS). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi mengatakan hal itu pada “Workshop Best Practices Reformasi Birokrasi Dalam Rangka Percepatan Pembangunan daerah” di Solo, Rabu (25/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mulai tahun 2009, sudah tidak ada lagi ujian nasional penerimaan PNS dan gantinya untuk penerimaan PNS ini berdasarkan kebutuhan dan usulan dari para bupati/walikota, yang bisa mengusulkan sendiri-sendiri dan disampaikan kepada Menpan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meminta kepada para bupati/walikota dalam mengajukan permintaan untuk memenuhi kebutuhan PNS juga harus sesuai dengan kebutuhan yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut menteri, selama ini ada permintaan pegawai baru di daerah-daerah yang palsu, karena setelah dicek di lapangan, banyak bupati/walikota tidak mengajukan permintaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada suatu daerah yang mengajukan permintaan pegawai baru 400 orang, tetapi setelah dicek di lapangan, 100 formasi yang diajukan itu orangnya tidak ada,” kata Taufiq Effendi sambil menambahkan agar para bupati/walikota berhati-hati dalam menangani persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai tenaga honorer yang akan diangkat menjadi PNS, ia mengatakan, diharapkan sesuai target tahun 2009 semuanya sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, setelah itu juga terus diikuti penataan, karena sampai saat ini masih banyak PNS yang hanya menumpuk di suatu bidang saja. Untuk PNS yang menumpuk itu nantinya akan dipecah atau disalurkan di tempat lain, seperti petugas penyuluh lapangan (PPL) pertanian, KB dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-843939636892779237?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://harian-global.com' title='Mulai 2009, Tidak Ada Ujian Nasional Penerimaan PNS'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/843939636892779237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/843939636892779237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/04/mulai-2009-tidak-ada-ujian-nasional.html' title='Mulai 2009, Tidak Ada Ujian Nasional Penerimaan PNS'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-2941631862470289212</id><published>2007-04-27T13:40:00.000-07:00</published><updated>2007-04-27T13:42:13.929-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Aksi Pendukung Protap Pemaksaan Kehendak</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Barisan Serba Guna (Banser) Gerakan Pemuda Ansor Sumut menilai aksi massa pendukung Provinsi Tapanuli (Protap) di DPRD Selasa (24/4) lalu, merupakan bentuk pemaksaan kehendak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelompok itu sudah berani merusak gedung dewan yang merupakan simbol-simbol pemerintahan dan memaksa Ketua DPRD menandatangani rekomendasi pembentukan Protap. Ini tak bisa dibiarkan,” ujar Komandan Banser GP Ansor Sumut Raidir Sigalingging SE di markasnya Jalan Amir Hamzah Medan, Kamis (26/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Raidir, aksi brutal pendukung Protap harus dilawan secara bersama-sama oleh masyarakat Sumut. Khusus umat Islam diimbau merapatkan barisan menghadapi kemungkinan terburuk, terutama kecenderungan kelompok pendukung Protap menjadikan oknum beragama Islam sebagai tameng melegalkan aksi brutal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita melihat ada upaya sistematis dan gerakan tersembunyi di balik aksi brutal pendukung Protap itu. Termasuk upaya salah satu pihak yang seolah mengeksploitir kehadiran massa beragama Islam dalam aksi itu, dengan target agar publik memahami aksi itu melibatkan umat Islam," kata Galingging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galingging yang juga Ketua Umum DPP Persatuan Pemuda Pelajar Mahasiswa Batak Islam (P3MBI) meminta aparat kepolisian menindak tegas oknum yang bertindak anarkis dalam aksi brutal pendukung Protap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa saja yang terbukti ikut merusak gedung DPRD Sumut dan ikut memprovokasi massa hingga menjadi beringas, harus ditangkap. Jika tidak, bukan tidak mungkin kelompok tersebut merasa paling berkuasa dan seenaknya memaksakan kehendak," ujar putra Dolok Sanggul Kecamatan Humbang Hasundutan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Galingging, sikap aparat kepolisian yang cenderung membiarkan aksi brutal pendukung Protap di gedung DPRD Sumut juga pantas dipertanyakan. Karena selama ini, pihak kepolisian cenderung garang menghalau pengunjukrasa ketika menuntut hak-haknya di gedung dewan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepolisian, katanya, sangat diskriminatif dalam menangani aksi unjukrasa, seperti sikap tegas saat komponen masyarakat berunjukrasa di gedung dewan memprotes Gubsu Rudolf M Pardede yang tidak memiliki ijazah. Termasuk saat memprotes kasus lain yang berbau sara. Aparat kepolisian sangat tegas dengan mengerahkan pasukan anti huru-hara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saat pendukung Protap beringas merusak gedung dewan dan memaksa Ketua DPRD menandatangani rekomendasi Protap, aparat kepolisian tenang-tenang saja,” katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banser Ansor Sumut, kata Galingging, mengajak segenap umat Islam di Sumut tetap waspada dengan gerakan-gerakan yang dilakukan kelompok tertentu dengan dalih membentuk Protap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rapatkan barisan dan selalu siaga. Jika sewaktu-waktu ada masalah serius menyangkut keselamatan umat, kita harus bertindak menjaga simbol-simbol negara, kewibawaan pemerintah, menyelamatkan kehormatan bangsa dan umat," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://harian-global.com/news.php?extend.16002"&gt;Harian Global&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-2941631862470289212?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://harian-global.com/news.php?extend.16002' title='Aksi Pendukung Protap Pemaksaan Kehendak'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/2941631862470289212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/2941631862470289212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/04/aksi-pendukung-protap-pemaksaan.html' title='Aksi Pendukung Protap Pemaksaan Kehendak'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-1607826687908316101</id><published>2007-04-27T13:15:00.000-07:00</published><updated>2007-04-27T13:19:02.408-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Buku Tentang Wacana Protap</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;27 Apr 07 06:27 WIB&lt;br /&gt;Ada Tiga Buku Penelitian Tentang Protap, Dua Tak Beredar Di Sumut&lt;br /&gt;* Masyarakat ’STPDN’ Tegas Menolak&lt;br /&gt;Medan, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketua Umum Forum Komunikasi Masyarakat Tapanuli Tengah Sibolga (FKM-TATSI) Untuk Penolakan Bergabung Dengan Provinsi Tapanuli Drs. H. Mustafa Sibuea mengungkapkan berdasarkan penelusurannya ada tiga buku penelitian yang telah diterbitkan berkaitan dengan rencana pembentukan Provinsi Tapanuli yang saling bertolak belakang. Anehnya , dua di antara tiga buku tersebut tidak terdapat di Sumatera Utara atau seakan-akan sengaja dihilangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibuea yang datang ke Waspada Kamis (26/4) bersama Ketua Umum Aliansi Generasi Muda Sibolga Tapteng Majuddin Bondar SHI menyebutkan, buku-buku tersebut adalah Laporan Tugas Tim Peneliti Kelayakan Pembentukan Provinsi Tapanuli Sesuai SK Gubsu no. 130.05/2442/2004 tanggal 21 November 2004 yang ditandatangani oleh T. Rizal Nurdin, Usul Pembentukan Provinsi Tapanuli yang disampaikan pada DPRD Sumut no. 130.8719 tanggal 7 Desember 2006 oleh Gubsu Rudolf M. Pardede, dan Proposal Pembentukan Provinsi Tapanuli yang ditujukan kepada DPR RI dan pihak-pihak lain oleh Panitia Pemrakarsa dengan surat no. 057/PPPT/XI/2006 tanggal 24 November 2006. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku pertama diuraikan tentang penelitian terhadap enam kabupaten/kota (Tapteng, Sibolga, Taput, Humbahas, Tobasa dan Samosir). Kesimpulan dari buku itu adalah A. pembentukan Protap tak memenuhi syarat. B. jika dipaksakan akan mengakibatkan konflik SARA bukan hanya lokal bahkan nasional. C terjadi tarik menarik yang tajam mengenai ibukota (Pandan, Sibolga, Siborong-borong), sedangkan berdasarkan UU no. 32 ibukota provinsi harus ditetapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang tebalnya 700 halaman ini, menurut Sibuea, sepertinya hilang dari peredaran di Sumut. Pada hal isi buku itu sangat berimbang dimana Gubsu T. Rizal Nurdin membuat pengkajiannya lengkap dengan tim pembanding. "Sepertinya untuk memuluskan pembentukan Protap, buku itu sengaja dihilangkan karena isinya tak mendukung. Saya sendiri memperolehnya dari seseorang yang sangat minta dirahasiakan," ujar Sibuea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku kedua adalah Usul Pembentukan Provinsi Tapanuli disampaikan pada DPRD Sumut no. 130.8719 tanggal 7 Desember 2006 oleh Gubsu Rudolf M. Pardede. Dalam buku itu daerah yang diajukan sebanyak tujuh kabupaten/kota (Tapteng, Sibolga, Taput, Humbahas, Tobasa, Samosir dan Nias Selatan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Sibuea, Rudolf Pardede dalam buku itu tidak memakai hasil penelitian sesuai SK Gubsu sebelumnya, tetapi membuat tim baru dengan SK no. 130.05/1263/K/2006 tanggal 15 Juni 2006 yang terdiri dari pemerintah Sumut dan panitia pemrakarsa. Jadi pertanyaan dalam hal ini, ujar Sibuea, apakah tim yang dibentuk Rudolf Pardede itu independen. Kemudian lagi apakah penelitiannya sudah sesuai dengan PP no. 129 Tahun 2000. Buku kedua inilah yang beredar di Sumut dan menjadi pedoman DPRD dalam menentukan sikapnya terhadap rencana pembentukan Protap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ketiga adalah Proposal Pembentukan Provinsi Tapanuli ditujukan kepada DPR-RI dll oleh Panitia Pemrakarsa dengan surat no. 057/PPPT/XI/2006 tanggal 24 November 2006. Dalam buku itu daerah yang diajukan 10 kabupaten/kota (Tapteng, Sibolga, Taput, Humbahas, Tobasa, Samosir, Nias Selatan, Nias, Pakpak Bharat, Dairi). Sama seperti buku kedua, menurut Sibuea, panitia tidak memakai hasil penelitian semasa T. Rizal Nurdin serta keakuratan penelitian diragukan apakah sesuai dengan PP no. 129 tahun 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih ironisnya lagi, kata Sibuea, selain buku itu tidak ditemukan di Sumatera Utara juga dalam buku Proposal Pembentukan Provinsi Tapanuli itu ditemukan simbol agama tertentu sehingga jelas kalau panitia menggiring masalah itu menjadi SARA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menzalimi 'STPDN' &lt;br /&gt;Lebih jauh menurut Sibuea lagi, pihaknya menyesalkan peristiwa demo pada Selasa (24/4) karena terjadinya tindakan anarkhis di depan mata aparat TNI dan Polri bahkan ada oknum TNI seakan-akan ikut pula membantu dengan mendrop nasi kepada pengunjukrasa. Sementara itu Ketua DPRD Sumut juga terlalu cepat membubuhkan tandatangannya memberikan rekomendasi tanpa memberikan penjelasan sedikitpun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Peristiwa itu sepertinya menzalimi masyarakat 'STPDN' (Sibolga, Tapteng, Pakpak, Dairi dan Nias) yang menolak keras pembentukan Protap," ujar Sibuea. Pada hal, kata Sibuea kalau saja anggota dewan atau Ketua DPRDSU mau mencermati buku Usul Pembentukan Provinsi Tapanuli yang ada pada mereka maka di situ tercantum juga tentang penolakan Protap tersebut. "Nah kalau ada yang menolak kan belum bisa dikeluarkan rekomendasinya," ujar Sibuea dan ditambahkan kalaupun Ketua DPRDSU merasa terdesak pada saat itu tetapi dia harus mengungkapkan pada pengunjukrasa tentang banyak pihak yang menolak. Toh kalau sesudah penjelasan itu masih dipaksa juga suruh teken rekomendasi ya bolehlah diteken, kata Sibuea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sibuea alasan penolakan Protap oleh masyarakat 'STPDN' secara umum adalah karena laporan tim peneliti yang dibentuk Rudolf skor rencana Protap lebih rendah dari skor rencana provinsi induk, menimbulkan SARA, tim pemrakarsa tidak repsentatif karena hanya terdiri satu etnis dan agama serta tidak mewakili semua elemen di eks residen Tapanuli, tarik menarik yang tajam dalam penentuan ibukota provinsi. Kemudian wilayah Protap tidak ideal karena dalam wilayah Provinsi Sumut (Tapsel, Madina dan Sidimpuan tidak diajukan sebagai wilayah Protap). Di Indonesia hanya DKI Jakarta dan DI Yogyakarta yang wilayahnya dalam provinsi lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan alasan penolakan secara khusus, katanya seperti Sibolga dengan keputusan DPRD Kota Sibolga no. 15/2006, sikap 30 ormas, OKP yang menaikkan spanduk penolakan, demo ribuan masyarakat Sibolga menolak Protap serta fatwa MUI Kota Sibolga yang menyatakan haram mendukung pembentukan Protap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Tapteng, penolakannya berdasarkan rapat paripurna DPRD 13 November 2006 yang menolak Protap bila ibukota di Siborong-borong, pernyataan sikap ormas, OKP yang mendatangi DPRD pada 2 Oktober 2006. Kabupaten Nias menolak karena ingin membentuk provinsi sendiri dan penolakan itu dikuatkan dengan SK DPRD Nias no. 02/KPTS-DPRD/2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Pakpak dan Dairi menolak karena masih ingin bergabung dengan Provinsi Sumut atau lebih baik bergabung dengan Provinsi Aceh Leuser Antara. Begitu pula Tapsel, Madina, dan Kota Padangsidimpuan menolak bergabung dan daripada bergabung lebih baik membentuk provinsi sendiri.&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-1607826687908316101?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/1607826687908316101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/1607826687908316101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/04/buku-tentang-wacana-protap.html' title='Buku Tentang Wacana Protap'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-3964834234208615329</id><published>2007-03-24T13:27:00.000-07:00</published><updated>2007-03-24T13:32:17.978-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Gema Sitombol</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;Gema Sitombol Padangsidimpuan Dideklarasikan      &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Mar 24, 2007 at 08:22 AM  &lt;br /&gt;Padangsidimpuan (SIB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah  membuktikan, bahwa Kota Padangsidimpuan dulunya adalah Sitombol (Lobu  Sitombol), Lobu artinya huta (kampung) dan sitombol berasal dari  bahasa Batak kuno yang artinya tahi bolon (Musyawarah besar para  panglima/pejuang suku suku atau golongan), sedangkan Padangsidimpuan  berasal dari kata Padang nadippu yang artinya, uluan (pimpinan musyawarah besar). Jadi jika ditinjau dari namanya   Padangsidimpuan dulunya adalah tempat para panglima berkumpul untuk  mengambil keputusan dalam melawan penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu  terungkap saat  Ketua Umum Gema (Generasi Muda) Sitombol Padangsidimpuan dr Hodri  AM.Simatupang Ketua Harian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ir Asalsah Harahap,  para Wakil Ketua  di antaranya, dr  Ismail Fahmi Ritonga MKes, Ramlan Siahaan, Sekretaris  Umum Ir. Ali Ibrahim Dalimunthe, Bendahara Umum Sahala Pane dan para pengurus lainnya mendeklarasikan Gema Sitombol Padangsidimpuan di Hotel  Natama Padangsidimpuan Senin (19/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Hodri AM Simatupang  dalam kesempatan itu mengungkapkan bahwa kata Sitombol mempunyai makna  yang sangat terkesan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk dikenang. Masyarakat  Padangsidimpuan hingga saat ini masih melestarikannya dengan membuat  nama jalan di jantung Kota &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padangsidimpuan, dan Lobu sitombol merupakan  embrio lahirnya Padangsidimpuan.&lt;br /&gt;Dikatakan, daerah Lobu  Sitombol terus berkembang. Karena Lobu  Sitombol (sekarang pusat Kota Padangsidimpuan) dijadikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pusat  pemerintahan Belanda dan pusat perdagangan,  maka daerah pemukiman penduduk pindah ke daerah hulu yaitu kampung losung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;batu.  Seterusnya Lobu Sitombol berkembang sampai akhirnya menjadi daerah  otonom dengan lahirnya Pemko Padangsidimpuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesuai  UU No 4 tahun  2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Ketua Harian Ir  Asalsah Harahap mengatakan, latar belakang berdirinya Gema  Sitombol Padangsidimpuan adalah hasil tukar pikiran Asalsah Harahap  Ismail Fahmi Ritonga dan lainnya yang mempunyai  kepedulian untuk memberikan kontribusi terhadap kota Padangsidimpuan, yang  bertujuan untuk mengakomodir segala saran dan sumbangsih untuk  kepedulian kota Padangsidimpuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumni Fakultas Tekhnik USU  itu lebih lanjut mengatakan,  pembentukan Gema Sitombol sebagai wujud tanggungjawab moral dalam memberikan kontribusi  perkembangan Padangsidimpuan yang concren atau peduli terhadap sosial  kemasyarakatan dengan konsep TAPSEL  (Tanggap, Peduli dan  Selesaikan) serta falsafah Falsapah adat Dalihan Natolu ( Kahanggi, Anak boru  dan Mora )sehingga tidak mengherankan, organisasi ini terdiri dari  berbagai multi agama, multi etnis sebagai ujud bhinneka tunggal ika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan Pengurus Gema Sitombol  Padangsidimpuan Penasehat H Baginda Raja Harahap Drs HM Iran  Ritonga, Rusli Chaniago, Ketua Umum dr Hodri AM Simatupang Ketua  Harian Ir. Asalsah Harahap, Wakil Ketua Umum dr Ismail Fahmi Ritonga  MKes, Firman Hakim Harahap, Ramlan Siahaan, Sekum Ir.Ali Ibrahim  Dalimunthe Wakil Zunaidi, Ir. Mukrim Dalimunthe Natali Putra Panjaitan,Bendahara Umum Sahala Pane, Wakil Dedi Arianto Koto, Toni dan Ketua  bidang bidang. Acara pendeklarasian berlangsung suksesditutup dengan  do,a yang dibawakan Ir.Asalsah Harahap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-3964834234208615329?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/3964834234208615329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/3964834234208615329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/03/gema-sitombol.html' title='Gema Sitombol'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-476728479204427778</id><published>2007-03-20T15:25:00.000-07:00</published><updated>2007-03-20T15:27:22.403-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Bakkara: Wisata Sejarah</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt;Minggu, 14 Agustus 2005  &lt;br /&gt;Ke Bakkara: Ziarah Sisingamangaraja &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit ungu di atas pucuk pinus arah perbukitan Dolok Sanggul, sungguh memesona. Lembah Bakkara yang membentang, tak kalah cantiknya. Tetapi, jalan sempit menurun yang terjal dengan kelokan tajam, membuat saya memilih menatap lurus ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari mulai gelap ketika saya memasuki kampung halaman Sisingamangaraja I-XII di Bius (bahasa Batak artinya desa) Bakkara, sekitar 280 km dari Medan. Dalam remang, susah menemukan tanda bahwa bius yang didirikan enam marga (garis keturunan dari lelaki) yaitu Sinambela, Manullang, Purba, Simamora, dan Sihite, itu pernah jadi benteng terakhir Sisingamangaraja XII. Padahal, ketika Belanda menguasainya tahun 1883, Bakkara telah berdiri sebagai bius selama 15 generasi atau telah berdiri sejak abad ke-14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedai kopi di Bakkara sore itu dipenuhi pengunjung yang semuanya lelaki. Suara televisi yang direlai parabola berseling obrolan dalam permaian kartu. Tak ada penginapan di sana, tetapi warga menawarkan menginap di rumah mereka. Saya memilih terus ke arah Muara, mencari tempat terbaik untuk melihat Danau Toba saat terbitnya Matahari, esok pagi. Rumah-rumah berdiri dalam jarak berjauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemericik air terdengar di sebuah kelokan, saya berhenti di sana. Ternyata, air terjun itu adalah Aek Sipangolu yang berarti air yang menghidupkan. Air ini dipercaya berasal dari bekas tapak kaki gajah Sisingamangaraja. Malam pekat. Api unggun yang saya buat jadi penerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 21.15, datang mobil berpenumpang delapan orang, separuhnya perempuan. Mereka mengaku dari Medan. Sebagian lalu mengambil air dan lainnya mandi di pancuran. ”Air ini untuk kesembuhan,” kata lelaki paruh baya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang datang dalam gelap itu pun belalu ke arah Muara. Saya beranjak dan memutuskan istirahat di pinggir jalan di tepi danau, sekitar dua kilometer dari Aek Sipangolu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari arah bukit, kebakaran hutan menimbulkan bunga api. Tiap tahun, perbukitan di tangkapan air Danau Toba itu terbakar. Dinas Kehutanan Sumut mencatat, tahun 2004 kebakaran hutan di area itu mencapai 410,5 hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari arah danau sesekali terdengar deru mesin perahu nelayan. Di apit bukit terjal dan danau dengan langit penuh bintang, saya membayangkan malam-malam sepi Sisingamangaraja XII bersama seluruh keluarganya selama 30 tahun bergerilya melawan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di celah bukit yang kini sebagian dilalap api itulah para pejuang Batak dibantu beberapa panglima asal Aceh melawan Belanda. ”Selama 14 hari, patroli mencari kembali jejak Sisingamangaraja ke seluruh penjuru, namun tak berhasil. Pegunungan dengan pepohonan dan semak rimbun, membuat usaha menyingkirkan diri mudah,” tulisan Letnan J H van Temmen, anak buah Kapten Christoffel, pemimpin pasukan Belanda yang memburu Sisingamangaraja XII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran terus berkecamuk, tetapi akhirnya saya terlelap juga. Embun pagi membangunkan saya sekitar pukul 06.00. Udara dingin, tetapi warna jingga langit dan hilir mudik perahu nelayan, menawarkan pesona yang sayang jika dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya kembali ke arah Bakkara dan berhenti di air terjun Aek Sipangolu yang semalam tak terlihat jelas. Setelah mandi di air terjun, saya mencari sisa peninggalan sang pahlawan di Bakkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ahu” Sisingamangaraja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziarah di Bakkara dimulai dari Sulu-sulu. Suasana gua sempit di atas bukit yang dikelilingi hamparan sawah sungguh menghanyutkan. Gemericik air sungai berbaur dengan gemerisik dedaunan. Bekas dupa dan rokok untuk persembahan tergelatak di lantai gua. Konon, gua yang dikeliling pepohonan beringin ini dulu digunakan Sisingamangaraja XII menggembleng diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya ke Lumban Raja, kediaman sang raja. Sayang tak ada lagi sisa benteng sebagaimana digambarkan Modigliani, peziarah dari Roma yang mengunjungi Bakkara tahun 1900, atau tujuh tahun setelah penyerangan Belanda. Dikisahkannya, saat itu masih dijumpai tembok keliling tinggi tersusun dari batu-batu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terlihat siang itu hanya pintu batu kecil yang dinaungi atap runcing relatif baru. Jajaran bukit batu yang menjulang menjadi pembatas dari sisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan batu persis di bagian tengah bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. Untuk menyandang gelar Sisingamangaraja, sang pewaris haruslah mampu mencabut pedang ini dari wadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marujinta Sidiani Sinambela, cucu Sisingamangaraja XII yang tinggal di desa itu mengatakan, bangunan berhias bendera perang itu adalah makam Sisingamangaraja XI. Sedangkan bangunan batu yang lebih sederhana di sebelahnya adalah makam Sisingamangaraja X. Makam raja-raja yang lain tak diketahui persis keberadaannya. Makam Sisingamangaraja XII juga diperdebatkan. Sebagian menilai makam sang raja ada di Soposurung, Balige.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Bakkara saya menuju Muara, lalu ke lembah Silindung, lalu mendaki ke Siborong-borong. Rute ini menentang arah Belanda mengejar Sisingamangaraja XII. Walau sudah beraspal, tetapi jalan berliku dan mendaki menimbulkan ngeri, terbayang lembah menjadi benteng pertahanan tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras mengguyur ketika saya menuju Balige, tanah yang pernah memerah oleh darah sang raja yang ditembus peluru Hamisi, marsose Belanda asal Ambon. Kematian tragis sang pahlawan yang selalu meneriakkan agar sesama ”mata hitam” bersatu padu melawan sang penjajah yang disimbolkan dengan ”mata putih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ahu Sisingamangaraja,” kalimat sang pahlawan kepada Harmisi sebelum mengembuskan napas terakhir terngiang dalam perjalanan menuju Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: AHMAD ARIF&lt;br /&gt;kompas.com&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-476728479204427778?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/476728479204427778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/476728479204427778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2007/03/bakkara-wisata-sejarah.html' title='Bakkara: Wisata Sejarah'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-116563806647629171</id><published>2006-12-08T20:12:00.000-08:00</published><updated>2006-12-08T20:27:32.916-08:00</updated><title type='text'>Gallery</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/Batak-Bunuh.jpg" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt; &lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/belanda-gantung.jpg"  width=371 height=252 border=0 &gt; &lt;br&gt; &lt;p&gt; &lt;hr size=2&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/belanda-makan.jpg" width=371 height=500 border=0&gt; &lt;br&gt; &lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/belanda-mayat.gif" width=371 height=300 border=0&gt; &lt;br&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/belanda-medali.gif"  width=371 height=500 border=0 &gt; &lt;br&gt; &lt;p&gt; &lt;hr size=2&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/belanda-pantau.jpg" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt; &lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/belanda-parade.gif" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/belanda-zending.gif"  width=371 height=400 border=0 &gt; &lt;br&gt; &lt;p&gt; &lt;hr size=2&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/berdagang.jpg" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/berunding.jpg"  width=371 height=252 border=0 &gt; &lt;br&gt; &lt;p&gt; &lt;hr size=2&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/buku-batak.jpg" width=371 height=600 border=0&gt; &lt;br&gt; &lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/entah.jpg" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/kapal.jpg"  width=371 height=252 border=0 &gt; &lt;br&gt; &lt;p&gt; &lt;hr size=2&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/kerja-paksa.jpg" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/opium-belanda.jpg"  width=371 height=252 border=0 &gt; &lt;br&gt; &lt;p&gt; &lt;hr size=2&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/orang.jpg" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/padri.bmp"  width=371 height=252 border=0 &gt; &lt;br&gt; &lt;p&gt; &lt;hr size=2&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/pembunuhan-van-dalen.jpg" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt; &lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/perang-batak.jpg" width=371 height=252 border=0&gt; &lt;br&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/peta.jpg"  width=371 height=252 border=0 &gt; &lt;br&gt; &lt;p&gt; &lt;hr size=2&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-116563806647629171?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/116563806647629171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/116563806647629171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/12/gallery.html' title='Gallery'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115829298058304606</id><published>2006-09-14T21:00:00.000-07:00</published><updated>2006-09-14T21:03:00.646-07:00</updated><title type='text'>Minum Air Parit</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; 12 Sep 06 21:42 WIB&lt;br /&gt;Warga Dusun Juma Gulangan &lt;br /&gt;Konsumsi Air Parit&lt;br /&gt;Sidikalang, WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekitar 60 rumah tangga (RT) warga dusun Juma Gulangan Desa Karing Kec. Berampu Kab. Dairi, masih mengkonsumsi air parit. Keadaan air parit tersebut selain berhulu dari areal persawahan, juga telah melintasi beberapa rumah warga yang diduga ada menggunakan air parit ini tempat buang hajat. &lt;br /&gt;Pantauan Waspada di lapangan, Selasa (12/9), air parit yang juga merupakan tali air itu menjadi tumpuan warga untuk kepentingan sehari-hari seperti untuk minum, mandi dan cuci. Di dusun tersebut tidak ada mata air yang dekat. Sedangkan air parit tersebut ke luar masuk areal persawahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang warga bernama Op. Marganda br Simanjuntak kepada Waspada mengatakan, bila musim kemarau terjadi di daerah ini, warga harus menggunakan air parit tersebut untuk keperluan sehari hari. Karena sumber air (mata air) tidak ada di kampung itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Waspada tanya apakah warga sehat mengkonsumsi air tersebut, ibu itu menjawab tidak ada masalah. Belum pernah warga sakit setelah mengkonsumsi air. Memang air parit tersebut sering keruh. Namun itu tidak jadi masalah karena sumber air tidak ada selain air parit tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan, bila Pemkab Dairi mau membangun air minum sangat mudah dilakukan, karena mata air dari hutan sebelah barat kampung tersebut dapat diambil.(c26) (sn) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115829298058304606?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115829298058304606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115829298058304606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/09/minum-air-parit.html' title='Minum Air Parit'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115829272180597396</id><published>2006-09-14T20:56:00.000-07:00</published><updated>2006-09-14T20:58:42.096-07:00</updated><title type='text'>Sisingamangaraja (Sumber Lain)</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Si Singamangaraja: Korban Rekayasa Sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazim diketahui oleh para ahli sejarah bahwa pola penulisan sejarah yang dewasa &lt;br /&gt;ini berkembang mengikuti klasifikasi tertentu. Ada penulisan sejarah berdasar &lt;br /&gt;agama, disebut religious historical, ada pula yang memandangnya dari sudut &lt;br /&gt;lain, nasionalisme misalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep nasionalisme sebagai suatu ideologi merupakan konsep yang baru. Menurut &lt;br /&gt;Islam konsep ini bertentangan dengan konsep kesatuan umat. Ia hanyalah sarana &lt;br /&gt;bagi musuh musuh Islam untuk memecah dan melemahkan kekuatan Islam. Jadi konsep &lt;br /&gt;penulisan sejarah dengan bersandarkan pada nasionalisme juga merupakan pola &lt;br /&gt;penulisan yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Si Singamangaraja, Pattimura, P. Diponegoro dan yang lainnya secara &lt;br /&gt;substansial sulit dimasukkan dalam frame perjuangan berskala nasional. Apalagi &lt;br /&gt;dikaitkan dengan semangat nasionalisme. Data sejarah menunjukkan bahwa dasar &lt;br /&gt;perjuangan mereka dalam melawan penjajahan adalah Islam. P. Diponegoro bahu &lt;br /&gt;membahu dengan para ulama menyatukan rakyat untuk bertempur melawan para &lt;br /&gt;penjajah. Begitu pula dengan Cut Nya' Dien, Pattimura, Si Singamangaraja dan &lt;br /&gt;lain lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda dan Strategi Kristenisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda ketika menyerbu suatu daerah berusaha menjadikan penduduk sekitarnya &lt;br /&gt;menjadi pengikut Nashrani. Tujuannya adalah agar perlawanan dapat padam dengan &lt;br /&gt;sendirinya, karena mereka menganggap penjajah dan penduduk setempat akan diikat &lt;br /&gt;oleh persatuan kristiani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Tapanuli bisa menjadi contoh usaha Belanda dalam menjalankan politik &lt;br /&gt;kristenisasi sebagai bagian dari strategi integral penjajahannya. J.PG.Westhof, &lt;br /&gt;seorang pekerja Belanda yang ditempatkan di Indonesia, mengatakan:"Pada &lt;br /&gt;pendapat kami, untuk tetap memiliki jajahan jajahan kita, sebagian besar &lt;br /&gt;tergantung pada konsep kristenisasi pada rakyat setempat. Baik yang belum &lt;br /&gt;memeluk agama maupun yang sudah beragama Islam".(J.H. Meerwaltd,1903,111 dan &lt;br /&gt;Solichin Salam,1965,50) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan agresi agama ini besar kemungkinan mulai dilancarkan pada tahun 1824, &lt;br /&gt;terbukti terjadi pembunuhan pendeta baptis Amerika bernama Munson dan Lyman di &lt;br /&gt;Sinaksak. Sedang pada tahun 1861 gerakan pengkristenan ini makin kuat dengan &lt;br /&gt;berdirinya Rijnsche Zending di Padang Sidempuan. Untuk keperluan ini pemerintah &lt;br /&gt;Belanda menunjuk missionaris Nommensen dan Simoniet untuk menangani program &lt;br /&gt;pengkristenan ini secara lebih besar. Atas jasa yang demikian besar pemerintah &lt;br /&gt;Belanda menganugerahkan bintang Officer van Oranje-Nassau kepada Nommensen pada &lt;br /&gt;tahun 1911. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa daerah strategi ini berhasil memadamkan perlawanan dan megubah &lt;br /&gt;sebagian kecil komposisi penduduk dari Islam ke kristen. Namun secara luas &lt;br /&gt;strategi ini gagal, bahkan menghasilkan perlawanan yang amat keras dan panjang.&lt;br /&gt;Perjuangan Si Singamangaraja XII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi tertekan akibat monopoli ekonomi, serangan kristenisasi, dominasi &lt;br /&gt;politik kolonial, Si Singamangaraja XII dinobatkan sebagai Maharaja negeri &lt;br /&gt;Toba, bersamaan dengan diterapkannya open door policy(politik pintu terbuka). &lt;br /&gt;Saat itu tinggal Aceh dan Tapanuli yang belum menandatangani Korte Volkering &lt;br /&gt;-Perjanjian Pendek- yang menegaskan dominasi Belanda di bidang politik, &lt;br /&gt;ekonomi, dan lain lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya terjadi peperangan yang panjang antara Aceh dan Tapanuli di satu &lt;br /&gt;pihak dengan Belanda di pihak lain. Peperangan ini berlangsung puluhan tahun. &lt;br /&gt;Hal yang jarang diberitakan oleh para sejarawan adalah bahwa Islam sebagai &lt;br /&gt;dasar semangat tempur mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Sejarawan sering menulis bahwa agama yang dianut oleh Si Singamangaraja &lt;br /&gt;adalah Palbegu, semacam ajaran animisme yang memuja para dewa. Ini sulit sekali &lt;br /&gt;kita terima bila kita teliti cap kerajaan Si Singamangaraja XII yang berbunyi: &lt;br /&gt;"Inilah Cap Maharaja di negeri Toba. Kampung Bakara nama kotanya. Hijrah Nabi &lt;br /&gt;1304 ". Cap ini dengan sendirinya menggambarkan betapa pekatnya ajaran Islam &lt;br /&gt;mempengaruhi diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf Batak yang masih &lt;br /&gt;diabadikan, sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mempertahankan &lt;br /&gt;huruf jawa dalam menulis surat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula jika kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam &lt;br /&gt;pada gambar kelewang serta matahari dan bulan. Akan lebih jelas jika kita kutip &lt;br /&gt;komentar koran koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang dianut oleh &lt;br /&gt;Si Singamangaraja XII, antara lain: Volgens berichten van de bevolking moet de &lt;br /&gt;togen,woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam zijn bekeerd, &lt;br /&gt;doch hij wird geen fanatiek islamiet en oefende geen druk op zijn ongeving uit &lt;br /&gt;om zich te bekeeren" (Menurut kabar kabar dari penduduk, raja yang sekarang &lt;br /&gt;(maksud titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu &lt;br /&gt;telah memeluk Islam dengan fanatik. Demikian pula ia tidak menekankan supaya &lt;br /&gt;orang orang sekelilingnya menukar agama). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita di atas memberikan data bahwa Si Singamangaraja beragama Islam dan tidak &lt;br /&gt;memaksakan agamanya terhadap rakyat. Berbeda dengan penyebaran agama yang &lt;br /&gt;dilakukan oleh Rijnsche Zending di Toba yang disertai serangan militer Belanda. &lt;br /&gt;Serangan semacam ini baik yang dilancarkan tahun 1861 maupun 1877 juga &lt;br /&gt;bermaksud untuk menguasai daerah daerah Toba yang subur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan jika Si Singamangaraja membalas serangan tersebut dengan tak &lt;br /&gt;kalah keras. Dalam perjuangan bersenjata tersebut beliau bekerjasama dengan &lt;br /&gt;Panglima Nali dari Minangkabau, daerah yang sejak dulu merupakan basis &lt;br /&gt;perjuangan Islam, dan Panglima Teuku Mohammad dari Aceh, Serambi Makkah. Selain &lt;br /&gt;karena satu keyakinan, letak Tapanuli yang berada di tengah tengah antara Aceh &lt;br /&gt;dan Sumatra Barat juga sangat menunjang terjadinya kerjasama tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan daerah Tapanuli oleh Belanda secara fisik bisa dikatakan berhasil. &lt;br /&gt;Bahal Batu, Butar dan Lobu Siregar telah berhasil didudukinya. Namun apalah &lt;br /&gt;artinya penguasaan tersebut jika tidak bisa menundukkan kemauan rakyatnya. Daya &lt;br /&gt;juang yang tinggi dimiliki oleh rakyat Tapanuli, dan daya juang yang demikian &lt;br /&gt;itu biasanya hanya dimiliki oleh bangsa yang telah mempunyai ajaran agama yang &lt;br /&gt;mengajarkan pembelaan diri apabila diserang. Disini Si Singamangaraja memiliki &lt;br /&gt;agama tersebut, yakni Islam. Keislamannya telah menunjangnya untuk mampu &lt;br /&gt;bertahan dan berjuang selama tigapuluh tahun lamanya. Beliau tidak hanya &lt;br /&gt;dianggap sebagai raja oleh rakyatnya, tetapi juga sebagai Imam dalam Agamanya. &lt;br /&gt;Faktor dukungan dari rakyat ini menunjang sekali dalam perjuangan bangsa &lt;br /&gt;melawan penjajahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi seorang pemimpin yang mempunyai kharisma besar dan didukung penuh &lt;br /&gt;oleh rakyatnya tersebut, Belanda berusaha menggunakan cara licik. Ibu, &lt;br /&gt;Permaisuri, dan kedua putra Si Singamangaraja ditangkap. Dengan demikian &lt;br /&gt;diharapkan beliau bisa digiring ke meja perundingan. Namun cara ini gagal &lt;br /&gt;total, karena kompromi tidak bisa tercapai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan situasi Tapanuli tersebut, Belanda memancarkan serangan membabi &lt;br /&gt;buta terhadap Ulama' di Aceh yang merupakan tulang punggung gerilya. Tindakan &lt;br /&gt;ini merupakan realisasi dari nasihat Snouck Hurgronje,seorang orientalis, untuk &lt;br /&gt;mengadakan pengejaran tanpa henti terhadap para ulama. Operasi yang sangat &lt;br /&gt;kejam dengan melakukan pembunuhan semena mena terhadap pemuka pemuka Islam &lt;br /&gt;tersebut mendapat restu pula dari menteri Bergsman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan Belanda terhadap Ulama Ulama di Aceh tersebut ditambah dengan kalahnya &lt;br /&gt;persenjataan membuat kekuatan Si Singamangaraja semakin berkurang. Politik &lt;br /&gt;Pintu Terbuka yang menuntut pengamanan modal asing, melibatkan negara negara &lt;br /&gt;imperialis lainnya untuk membantu usaha Belanda mengakhiri perlawanan umat &lt;br /&gt;Islam di Indonesia. Termasuk perlawanan Si Singamangaraja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 17 Juni 1907 di bawah pimpinan Kapten Christofel, Belanda menggempur pusat &lt;br /&gt;pertahanan Si Singamangaraja. Sampai saat pertempuran terakhir ini, beliau &lt;br /&gt;bersama putrinya Lopian, memilih gugur sebagai Syuhada daripada menyerahkan &lt;br /&gt;Bumi Islam Tapanuli di atas Korte Verklaring kepada Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tangan tangan tak bertanggung jawab mencoba mengaburkan fakta sejarah &lt;br /&gt;untuk tujuan tertentu. Gelar Syuhada diganti dengan atribut lain yang tak &lt;br /&gt;memiliki dasar dan fakta. Termasuk klaim yang mengatakan bahwa bagian timur &lt;br /&gt;negeri tercinta kita adalah basis agama tertentu dengan menafikan peran muslim &lt;br /&gt;di wilayah tersebut. Padahal sebagian besar Maluku, NTB, Ternate, Tidore dan &lt;br /&gt;Sulawesi mayoritas Islam. Mungkinkah Sultan Baabullah, Sultan Nuku, Sultan &lt;br /&gt;Hasanudin bukan pahlawan pahlawan Islam....? Terlalu bodoh untuk dijawab &lt;br /&gt;"Ya..., mungkin". Hasbunallah wani'mal wakil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;br /&gt;   Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Ahmad Mansur &lt;br /&gt;Suryanegara &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115829272180597396?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115829272180597396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115829272180597396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/09/sisingamangaraja-sumber-lain.html' title='Sisingamangaraja (Sumber Lain)'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115751678397797724</id><published>2006-09-05T21:25:00.000-07:00</published><updated>2006-09-05T21:26:24.200-07:00</updated><title type='text'>Di Toba Samosir 40 Ribu Hektare Lahan Tidur</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Di Toba Samosir Terbentang 40 Ribu Hektare Lahan Tidur &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balige, (Analisa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan kosong atau lahan tidur di Kabupaten Toba Samosir berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Toba Samosir ada seluas 40 ribu hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kepala Dinas Pertanian Toba Samosir Ir. H. Silitonga masih terbentang luasnya lahan kosong atau lahan tidur tersebut disebabkan berbagai faktor, antar lain terjadinya sengketan menyangkut siapa yang menjadi pemilik lahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya adanya sengketan yang berkepanjangan, maka bila ada niat investor untuk memberdayakan lahan itu, menjadi terganjal karena si investor tak bisa membuat perjanjian tentang pemakaian lahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lain yang membuat lahan kosong atau lahan tidur tersebut tidak dapat dimanfaatkan akibat pemilik kehilangan kepercayaan dimana sebelumnya setiap pengguna lahan tidak jelas menyangkut yang disebut dalam istilah Batak Pulutna Gogona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sulitnya mendapatkan para petani ulet dan rajin dan tidak adanya modal investasi membuat lahan kosong itu tidak tersentuh untuk mengolahnya menjadi lahan produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lahan kosong atau lahan tidur itu menjadi skala prioritas Dinas PertanianToba Samosir dan sebagai bukti hal tersebut sudah menjadi skala prioritas instansi itu sudah melakukan observasi ke lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak lanjut dari observasi itu menurut Kadis Pertanian Ir Horas Silitonga, yaitu Pemkab Toba Samosir sudah melakukan survey ke lokasi lahan kosong, misalnya Matio, Habinsaran, Borbor Balige, Dibisa dan Ajibata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan kosong atau lahan tidur itu tidak bisa dibiarkan terus harus segera dapat diproduktifkan dan kepada pemilik lahan itu diharapkan bila tidak langsung memproduktifkan bisa dengan menyerahkan kepada orang lain, tambahnya. (ep)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115751678397797724?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751678397797724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751678397797724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/09/di-toba-samosir-40-ribu-hektare-lahan.html' title='Di Toba Samosir 40 Ribu Hektare Lahan Tidur'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115751538201337819</id><published>2006-09-05T20:59:00.000-07:00</published><updated>2006-09-05T21:03:02.170-07:00</updated><title type='text'>Karo Dan Langkat</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; ca. 1670 - 16XX Panglima Deva Shahdan, ruler of Langkat. A military commander from Deli, who conquered and established his ruler over Langkat, ca. 1670. He had issue: &lt;br /&gt;• 1) Y.M. Raja Kahar ibni al-Marhum Panglima Deva Shahdan, Raja of Langkat - see below. &lt;br /&gt;• 1) Puteri Hijau binti al-Marhum Panglima Deva Shahdan. Taken as a prisoner to Aceh. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;ca. 16XX - 17xx Y.A.M. Raja Kahar ibni al-Marhum Panglima Deva Shahdan, Raja of Langkat, son of Panglima Deva Shahdan, ruler of Langkater. Succeeded his father. He d. 17xx, having had issue, a son: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman ibni al-Marhum Raja Kahar, Raja of Langkat - see below. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;17xx - 17xx Y.A.M. Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman ibni al-Marhum Raja Kahar, Raja of Langkat. He had issue four sons: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Raja Hitam ibni al-Marhum Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman [Kejeruan Tua], Raja of Langkat - see below. &lt;br /&gt;• 2) Y.M. Raja Wan Jabar. Wakil of Selesai. He had issue: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Sutan Muhammad Shaikh. Wakil of Satabat. &lt;br /&gt;• 3) Y.M. Raja Shahdan. Wakil of Pungai. &lt;br /&gt;• 4) Y.M. Raja Indra Bongsu. Wakil of Kota Dalam. m. several wives, including a daughter of the Orang-Kaya Asim, of Pangalan Bulu. He had issue, five sons and several daughters, including: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Wan Johor (half-brother of Sultan Ahmad). m. (first) (div.) Y.M. Raja Wan Perak, daughter of H.H. Sultan 'Amal ud-din I Panglima Mangedar 'Alam Shah ibni al-Marhum Tengku Panglima Gandar Wahid, Sultan of Deli. &lt;br /&gt;• b) Y.A.M. Raja Ahmad ibni al-Marhum Raja Indra Bongsu, Raja of Langkat (s/o the Pangalan Bulu lady) - see below. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Wan Supan (half-brother of Sultan Ahmad). &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Wan Shah (half-brother of Sultan Ahmad). &lt;br /&gt;• e) Y.M. Tengku Wan Desan (half-brother of Sultan Ahmad). &lt;br /&gt;• a) Y.M. Raja Wan Chandradevi. m. (div.) Y.A.M. Raja Nobat Shah ibni al-Marhum Raja Hitam, Raja Kejuruan Jipura Bilan Jentera Malai , son of Y.A.M. Raja Hitam ibni al-Marhum Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman [Kejeruan Tua], Raja of Langkat - see below. &lt;br /&gt;• 5) Y.M. Tengku Marim. &lt;br /&gt;• 6) Y.M. Tengku Pandei, of Kejuruan Tindal. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;17xx  - 1818 Y.A.M. Raja Hitam ibni al-Marhum Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman [Kejeruan Tua], Raja of Langkat, eldest son of Y.A.M. Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman ibni al-Marhum Raja Kahar, Raja of Langkat, educ. privately. Succeeded on the death of his father. Deposed after the conquest of Langkat by the Sultan of Siak, 1818. Fled to Deli, where he raised a force to regain his throne. He was k. in an explosion when trying to regain his domains, 1822, having had issue, three sons and one daughter: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Raja Nobat Shah ibni al-Marhum Raja Hitam, Raja Bendahara. Contested the succession with his cousin Sultan Ahmad. Installed as Raja Bendahara Kejuruan Jipura Bilan Jentera Malai under the protection of the Sultan of Siak Sri Indrapura, but failed to establish a viable state. m. (first) (div.) Y.M. Raja Wan Chandradevi, daughter of his uncle, Y.M. Raja Indra Bongsu, Wakil of Kota Dalam. m. (second) Y.M. Tengku Fatima, of Siak. He had issue: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Maharaja (s/o Tengku Fatima). &lt;br /&gt;• 2) Y.M. Raja Badr ud-din Shah ibni al-Marhum Raja Hitam. &lt;br /&gt;• 3) Y.M. Raja Deo Sedan ibni al-Marhum Raja Hitam. &lt;br /&gt;• 1) A daughter. m. before 1823, H.H. Sultan 'Amal ud-din I Panglima Mangedar 'Alam Shah ibni al-Marhum Tengku Panglima Gandar Wahid, Sultan of Deli (d. 18th March 1824), second son of Tengku Panglima Gandar Wahid [Kanduhid], Amir of Deli - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1818 - 1840 Y.A.M. Raja Ahmad ibni al-Marhum Raja Indra Bongsu, Raja of Langkat. b. ca. 1807, second son of Y.M. Raja Indra Bongsu, Wakil of Kota Dalam, by a daughter of the Orang-Kaya Asim, of Pangalan Bulu, educ. privately. Succeeded on the deposition of his uncle, 1818. Installed as Raja Kejuruan Muda Wallah Jipura Bilad Langkat under the protection of the Sultan of Siak Sri Indrapura. Reigned under the regency of his maternal uncle, the Orang-Kaya Shahbandar Sampei, until he came of age and assumed full ruling powers. m. Y.M. Tengku Kanah, of Siak. He d. 1840, having had issue, two sons and three daughters: &lt;br /&gt;• 1) Y.M. Tengku Sulung Agus ibni al-Marhum Raja Ahmad Shah. &lt;br /&gt;• 2) Y.M. Tengku Ngah Musa, Pangeran Mangku Negara Raja Muda, who became H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah ibni al-Marhum Raja Ahmad Shah, Sultan of Langkat (s/o Tengku Kanah) - see below. &lt;br /&gt;• 1) Y.M. Tengku Umi Salamah binti al-Marhum Raja Ahmad Shah. &lt;br /&gt;• 2) Y.M. Tengku Ratna Wilis binti al-Marhum Raja Ahmad Shah. &lt;br /&gt;• 3) Y.M. Tengku Lela Utama binti al-Marhum Raja Ahmad Shah. &lt;br /&gt;1840 - 1893 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah ibni al-Marhum Sultan Ahmad, Sultan of Langkat. b. at Tanjung Pura, 1807, second son of Raja Ahmad ibni al-Marhum Raja Indra Bongsu, Sultan of Langkat, by his wife, Tengku Kanah, educ. privately. Succeeded on the death of his father, as Raja of Langkat, 1840. Styled Pangeran Mangku Negara Raja Muda. Forced to accept Acehnese sovereignty in 1854, then raised to the title of Pangeran Indra di-Raja Amir, Pahlawan Sultan Aceh. Entered into a contract with the government of the NEI, in which he was recognised as independent of both Aceh and Siak, 26th October 1869. Assumed the title of Sultan and installed at Tanjung Pura, with the style of Sri Paduka Tuanku Sultan Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah, 1887. Increased his wealth and authority very greatly, by granting land concessions to the Dutch and other European owned planting companies. Abdicated in favour of his second son, 1892. m. (first) at Tanjung Pura, Inche' Syandu, daughter of Orang-kaya Datuk Setia di-Raja, of Hamparan Perak. m. (second) Hajjah Mariam binti Imam Sutan. m. (third) at Tanjung Pura, H.H. Tengku Meshaurah [Maslurah] binti Tengku Besar Desan, Tengku Permaisuri, daughter of Y.M. Tengku Besar Desan, of Langkat. He d. at Tanjung Pura, May 1897, having had issue, sven sons and two daughters: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Sulong Muhammad Sharif ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Tengku Mangkubumi (s/o Inche' Syandu). Pangeran of Langkat Hulu. m. before 1885, a daughter of Datuk Haji Mat Shah, Datuk Panglima Perang, of Sungei Bangka, in Siak state. He had issue: &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Kelana ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (s/o Inche' Syandu). He had issue, a son: &lt;br /&gt;• a) Y.A.M. Tengku Haji Idris bin Tengku Kelana, Tengki Sri Utama di-Raja. m. Y.A.M. Tengku Salama binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his wife, Inche' Pediwi. He had issue, four sons and three daughters: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Mustafa bin Tengku Haji Idris. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Fazil bin Tengku Haji Idris. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Zainal Shaukat bin Tengku Haji Idris. &lt;br /&gt;• iv) Y.M. Tengku Bahriun bin Tengku Haji Idris. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Asiah binti Tengku Haji Idris. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Akmal binti Tengku Haji Idris. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Halaida Romana binti Tengku Haji Idris. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku  'Abdu'l 'Aziz, who succeeded as H.H. Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat (s/o Tengku Meshaurah) - see below. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Hamzah al-Haj ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Tengku Indera di-Raja (s/o Hajjah Mariam). Pangeran of Langkat Hilir. He had issue, three sons and three daughters: &lt;br /&gt;• a) Y.A.M. Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah bin Tengku Hamzah al-Haj, Pangeran Kusuma Perwira. DH of Binjai 1888-1928, and Wakil Sultan at Luhak Langkat Bengkulu. Rcvd: Knt. of the Order of Orange-Nassau (13.10.1924). m. (first) Y.M. Tengku …, a Royal wife. m. (second) Y.M. Tengku Riom. m. (third) Y.M. Tengku Mahjiwa. He d. at Binjai, 21st June 1928, having had issue, nine sons and three daughters: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku 'Abdu'l Hamid bin Tengku Muhammad Adil. m. Y.M. Tengku Sitti. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Husni Ibrahim bin Tengku Muhammad Adil. m. (first) Y.M. Tengku Bon. m. (second) Y.M. Tengku Khadija. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Sulaiman bin Tengku Muhammad Adil. m. Inche' Bangun. &lt;br /&gt;• iv) Y.M. Tengku Malik ul-Bahar bin Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah. b. before 1910. m. (first) Hermina, née Den Bare, a Dutch lady. m. (second) a daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat. &lt;br /&gt;• v) Y.M. Dr. Tengku 'Abdu'llah Hod bin Tengku Muhammad Adil. b. before 1911 (full-brother of Amir Hamzah), educ. Amsterdam (MD). m. at Amsterdam, Henriette (b. at Amsterdam, 1910; d. 1991), née Snoeck. He d. 1985, having had issue, an only son: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Dr. Haji Nathan Mahmud bin Tengku 'Abdu'llah Hod. b. at Haarlem, the Netherlands, 1935, educ. Amsterdam (Ph.D., SH, MBA). Dir. Osprey Maritime Ltd. to 2001. m. Hajjah Radin Ayu Sri Siddharti (b. 1934), daughter of Radin Ramijan Viryasuputra [Ramidjan Wirjosaputro], of the Royal House of Mangkunegaran. He has issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Haji 'Abdu'llah Iskandar Rahmad Shah bin Tengku Nathan Mahmud [Iskandar Machmud]. b. at Bandung, Java, 6th September 1962, educ. (MBA). m. Istingdiah Sugujanto. He has issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt;• (i) Omar Alessandro ar-Rahman Aziz bin Tengku Haji 'Abdu'llah Iskandar Rahmad Shah [Omhar Machmud]. b. 19th September 1998. &lt;br /&gt;• (i) Aanadia Sabrina binti Tengku Haji 'Abdu'llah Iskandar Rahmad Shah [Aanadia Machmud]. b. 18th January 1995. &lt;br /&gt;• (ii) Skana Miaziza Kharima binti Tengku Haji 'Abdu'llah Iskandar Rahmad Shah [Skana Machmud]. b. 18th August 2001. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Sandra Fauzia binti Tengku Nathan Mahmud. b. at Padju, 21st March 1960, educ. the Netherlands (SH). m. Haji Muhammad Davy Odang, SH. She has issue, four sons: &lt;br /&gt; (i) Davy Muhammad Fauzy Odang. b. 18th May 1987. &lt;br /&gt; (ii) Duhita Karim Odang. b. 21sr March 1990. &lt;br /&gt; (iii) Othman Nathan Aziz Odang. b. 26th May 1993. &lt;br /&gt; (iv) Muhammad Abrar 'Abdu'l Rahman Odang. b. 14th October 1995. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Hajjah Dr. Mira Alida binti Tengku Nathan Mahmud. b. at Surabaya, Java, 2nd October 1961. m. Haji Dr. Medanto Budijo Kunto. She has issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt; (i) Kautzar Azlan Shah Kunto. b. 1st January 1989. &lt;br /&gt; (i) Adinda Rachmania Dinanti Kunto. b. 24th May 1987. &lt;br /&gt; (ii) Jeumpa Fathya Kinanti Kunto. b. 16th March 1998. &lt;br /&gt;• vi) Y.M. Tengku Amir ud-din bin Tengku Muhammad Adil. m. Tengku Najah. &lt;br /&gt;• vii) Y.A.M. Tengku Amir Hamzah bin Tengku Muhammad Adil, Tengku Indraputra. b. at Tanjung Pura, 28th February 1911 (full-brother of 'Abdu'llah Hod), educ. Langkatsche Sch., Tanjung Pura, MULO, Medan and AMS, Solo. Sometime Pangeran of Langkat Hulu, Republican Bupati of the Regency of Langkat 1945-1946. The foremost Malay writer and poet of his generation. m. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 21st March 1938, Y.A.M. Tengku Kamaliah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, eldest daughter of his uncle, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat, by his wife, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong. He was k. (executed by the rebels during the 'Social Revolution'), 20th March 1946, having had issue, an only daughter: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Tahura binti Tengku Amir Hamzah. b. 29th July 1939 (d/o Tengku Kamaliah). &lt;br /&gt;• viii) Y.M. Tengku 'Ali Nafiah bin Tengku Muhammad Adil. &lt;br /&gt;• ix) Y.M. Tengku Amal ud-din bin Tengku Muhammad Adil. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Sari Banum binti Tengku Muhammad Adil. m. Tengku Haji Dahlan. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Idut binti Tengku Muhammad Adil. m. at Binjai, 1st July 1929, Y.A.M. Tengku Muhammad Daud ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, sixth son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his fourth wife, Aja Loyah - see below. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Maheran binti Tengku Muhammad Adil. m. Jack Tobing. &lt;br /&gt;• b) Y.A.M. Tengku Muhammad Yasin bin Tengku Hamzah al-Haj, Tengku Pangeran Setia Indra. b. at Tanjung Pura, 1882. Pangeran of Langkat Hilir 1917-1930, and of Langkat Hulu 1930-1934, Vice-Presdt. Langkat State Cncl. in 1934. Rcvd: Knt. of the Order of Orang-Nassau (1937), and the Great Golden Star for Loyalty and Merit. m. (first) Y.M. Tengku Maharani. m. (second) Y.M. Tengku Rahimah. m. (third) Y.M. Tengku Fatimah Zahra. He d. at Tanjung Pura, 7th May 1957, having had issue, ten children, including two sons and four daughters by Tengku Fatimah Zahra: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Burhan ud-din bin Tengku Muhammad Yasin (s/o Tengku Fatimah Zahra). &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Mazlan bin Tengku Muhammad Yasin (s/o Tengku Fatimah Zahra). m. Y.M. Tengku Milfah binti Tengku Kamil, only daughter of Y.A.M. Tengku Kamil ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, sometime Pangeran of Binjai, by his wife, Y.A.M. Tengku Arfah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. He had issue, three sons and two daughters: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Erwin bin Tengku Mazlan. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Hamzah bin Tengku Mazlan. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Irwan bin Tengku Mazlan. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Andromeda binti Tengku Mazlan. m. Haji 'Abdu'l Hamid Arshad [Hamid Arsyad], Datuk Amar di-Raja, Engineer, Sec. to the Sultan of Langkat 2002. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Carmen Silva binti Tengku Mazlan. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Zaitun binti Tengku Muhammad Yasin (d/o Tengku Fatimah Zahra). m. Y.A.M. Tengku Muhammad Nur ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Tengku Bendahara, sometime Cdr. Langkat Barisan Corps and Minister for Finance, son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his wife, H.H. Tengku Fatimah Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri, daughter of Y.M. Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman, of Serdang. She had issue, three sons and four daughters - see below. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Nasbah binti Tengku Muhammad Yasin (d/o Tengku Fatimah Zahra). &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Zainab binti Tengku Muhammad Yasin. b. 1921 (d/o Tengku Fatimah Zahra). &lt;br /&gt;• iv) Y.M. Tengku Zohoriah Haneth binti Tengku Muhammad Yasin. b. 1922 (d/o Tengku Fatimah Zahra). &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Muhammad Yunus bin Tengku Hamzah al-Haj. m. Inche' Hartini. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Chantik binti Tengku Hamzah al-Haj. m. Y.M. Tengku Item Gedang. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Tambun binti Tengku Hamzah al-Haj. m. Said Sagaf [Sayyid … Alsagoff?). &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Gambut binti Tengku Hamzah al-Haj. m. Y.M. Tengku Zainal Abidin. &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku 'Umar ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (s/o Inche' Syandu). Sometime Pangeran of Pulau Kampai. &lt;br /&gt;• 6) Y.A.M. Tengku 'Abdu'llah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (s/o Inche' Syandu). &lt;br /&gt;• 7) Y.A.M. Tengku 'Abdu'l Majid ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (s/o Inche' Syandu). &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Ubang Maimuna binti al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (d/o Hajjah Mariam). m. ca. 1859, Y.A.M. Tuanku Hashim bin Tuanku 'Abdu'l-Kadir Shah, Abangta Muda (b. 1840; d. at Padang Tiji, VII Mukims, Aceh, 22nd January 1897, bur. Masjid Tiji, XXII Mukims), sometime Prince Regent of Aceh, second son of Y.M. Tuanku 'Abdu'l-Kadir bin Tuanku Chut Zainal Abidin. She had issue, one son - see Indonesia (Aceh). &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Putri Aisha [Intan] binti al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah (d/o Tengku Meshaurah). m. Y.A.M. Tengku Syed Embong bin Tengku Syed Khalid, Tengku Pangeran Jaya Setia, son of Y.M. Tengku Syed Khalid bin Tengku Syed Mohammed of Siak. She had issue - see Indonesia (Siak). &lt;br /&gt;1893 - 1927 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat. b. at Tanjung Pura, 19th May 1875, third son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah ibni al-Marhum Sultan Ahmad, Sultan of Langkat, by his third wife, H.H. Tengku Meshaurah[Maslurah] binti Tengku Besar Desan, Tengku Permaisuri, daughter of Tengku Besar Desan, of Langkat, educ. privately. Proclaimed on the abdication of his father, 1893. Installed at Tanjung Pura, 23rd May 1894. Rcvd: Cdr. of the Order of Orange-Nassau (31.8.1920), Knt. of the Order of the Netherlands Lion, and Cdr. 2nd class of the Order of Henry the Lion of Brunswick (1910). m. (first) 1892, H.H. Tengku Alautiah binti Raja Muda Tengku Sulaiman, Tengku Mahasuri (d. at Tanjung Pura, 31st October 1897), installed at Tanjung Pura, as  Tengku Mahasuri 23rd May 1894, daughter of Tengku Sulaiman ibni al-Marhum Sultan Panglima Mangedar Otteman, Raja Muda and Regent of Deli. m. (second) January 1898, H.H. Tengku Aisha binti al-Marhum Sultan Zainal Rashid Mu'adzam Shah, Tengku Permaisuri (d.s.p.11th January 1904), installed at Tanjung Pura, as Tengku Permaisuri January 1898, daughter of H.H. Sultan Zainal Rashid Mu'adzam Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Taj ud-din Mukarram Shah, Sultan of Kedah, by his wife, Tengku Miriam binti Tengku Zia ud-din, eldest daughter of Tunku Zia ud-din ibni al-Marhum Sultan Zain al-Rashid al-Mu'azzam Shah, sometime Viceroy of Selangor. m. (third) 1905, H.H. Tengku Fatimah Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri (cre. 1905) (b. 1890; d. 23rd May 1919), daughter of Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman, of Serdang, by his wife, Tengku Ngah Saleha binti Tengku Sutan Siddiq, daughter of Sutan Siddiq ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Tengku Temenggong, sometime Wakil at Perbaungan. m. (fourth) Aja Loyah. m. (fifth) Y.M. Tengku Putri. m. (sixth) Tengku Ainum. m. (seventh) at Klang, Selangor, December 1919, H.H. Tengku Putri Zahara binti al-Marhum Sultan 'Ala ud-din Sulaiman Shah, Tengku Permaisuri (b. 18th December 1899; d. 18th January 1982), installed at Tanjung Pura, as  Tengku Permaisuri December 1919, daughter of Colonel H.H. Sultan 'Ala ud-din Suleiman Shah ibni al-Marhum Raja Muda Musa, Sultan of Selangor, GCMG, KCVO, by his first wife, H.H. Tengku Maharum binti Tengku Zia ud-din, Tengku Ampuan, daughter of Tengku Zia ud-din ibni al-Marhum Sultan Zain al-Rashid al-Mu'azzam Shah [Tunku Kudin], Viceroy of Selangor. m. (eighth) Inche' Pediwi. m. (ninth) Inche' Sanggit. He d. at Tanjung Pura, 1st July 1927, having had issue, including, thirteen sons and ten daughters: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Mahmud, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat (s/o Tengku Alautiah) - see below. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Kamil ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). Temp. Pangeran of Langkat Hulu in 1934, later Pangeran of Binjai. m. 30th July 1933, Y.A.M. Tengku Arfah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d. 1978), daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan, by his fifth wife, Y.A.M. Tengku Zahara, youngest daughter of H.H. Raja Muhammad Yusuf al-Mahdi bin Raja 'Ali, Yang di-Pertuan Muda of Riau. He had issue, five sons and one daughter: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Nasir ud-din bin Tengku Kamil. m. Y.M. Tengku Nazlia Hanim binti Tengku Muhammad 'Ali, daughter of his maternal uncle, Y.A.M. Tengku Muhammad 'Ali ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, of Asahan, by his wife, Y.M. Tengku Nur Aini binti Tengku Salim. He had issue, a daughter: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Mazwin binti Tengku Nasir ud-din. m. Y.M. Tengku Taha ul-Rizal bin Tengku Zia ud-din, second son of Y.A.M. Tengku Zia ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz [Tengku Kuding], by his first wife, Inche' Lusi, née Kepel - see below. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Taj ud-din bin Tengku Kamil. &lt;br /&gt;• c) Y.A.M. Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, Head of the Royal House of Langkat - see below. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Aswan bin Tengku Kamil. &lt;br /&gt;• e) Y.M. Tengku Zulkifli bin Tengku Kamil. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Milfah binti Tengku Kamil. m. Y.M. Tengku Mazlan bin Tengku Muhammad Yasin, second son of Y.M. Tengku Muhammad Yasin bin Tengku Hamzah al-Haj. She had issue, three sons and two daughters - see above. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Ahmad ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Pangeran (s/o Tengku Aisha). m. at the Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 1920, Y.M. Tengku Maharum binti Tunku Zainal Rashid, daughter of Y.A.M. Tunku Zainal-Rashid ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Hamid Halim Shah [Tunku Da'i], of Kedah, in Malaya, by his wife, Y.M. Tengku Nyan binti Tunku Bahadur Shah, daughter of Y.M. Tunku Bahadur Shah bin Tengku Zia ud-din. He had issue, one son: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Mansur bin Tengku Ahmad. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Muhammad Nur ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Bendahara (s/o Tengku Fatimah Sham). Cdr. Langkat Barisan Corps, Minister for Finance in 1934. m. Y.M. Tengku Zaitun binti Tengku Muhammad Yasin, daughter of Y.M. Tengku Muhammad Yasin bin Tengku Hamzah al-Haj. He had issue, three sons and four daughters: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Muhammad Hisham ud-din bin Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Muhammad Fakhri bin Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku 'Abdu'l Kamalzat bin Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Nur Aziah binti Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Fauzia binti Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Khairat un 'Azhar binti Tengku Muhammad Nur Aziz [H.H. the Tengku Ampuan of Deli]. b. 6th January 1938. m. (first) a Javanese gentleman, by whom she had issue, four sons and two daughters. m. (second) at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 31st January 1990, as his second wife, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Azmi Perkasa 'Alam Shah Al-Haj ibni al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli (b. at Medan, 24th April 1936; d. from heart failure, at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 4th May 1998), eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his second wife, Inche' Mariam binti 'Abdu'llah - see Indonesia (Deli) &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Farial binti Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Haji Mukhtar ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. Inche' Akmal. He had issue, two sons and three daughters: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku 'Abdu'l Aziz bin Tengku Haji Mukhtar. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Ahmad Aziz bin Tengku Haji Mukhtar. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Aziza binti Tengku Haji Mukhtar. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Amina binti Tengku Haji Mukhtar. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Asia binti Tengku Haji Mukhtar. &lt;br /&gt;• 6) Y.A.M. Tengku Muhammad Daud ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Aja Loyah). m. at Binjai, 1st July 1929, Y.M. Tengku Idut binti Tengku Muhammad Adil, second daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah bin Tengku Hamzah al-Haj, Pangeran Kusuma Perwira, sometime DH of Binjai and Wakil Sultan at Luhak Langkat Bengkulu. &lt;br /&gt;• 7) Y.A.M. Tengku Murad ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 25th November 1948 (or 17th October 1948), Y.A.M. Tengku Hajjah Maheran binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his first wife, Y.M. Raja Amina binti Raja Chulan, Tengku Puan Indra Raja, daughter of Y.A.M. Raja Sir Chulan ibni al-Marhum Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, KBE, CMG, Raja di-Hiler, of Perak. He had issue, one son and four daughters: &lt;br /&gt;• a) H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Iskandar Hilali 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Tengku Murad Aziz, Sultan of Langkat (s/o Hajjah Tengku Maheran) - see below. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Beizura binti Tengku Murad Aziz. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Muchaira binti Tengku Murad Aziz. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Dina binti Tengku Murad Aziz. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Murashida binti Tengku Murad Aziz. &lt;br /&gt;• 8) Y.A.M. Tengku Harun ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. Y.M. Tengku Nur Fashrah. &lt;br /&gt;• 9) Y.A.M. Tengku Ibrahim ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Maharaja Sungei Binjai. m. Y.A.M. Tengku Salmah binti ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, youngest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong. &lt;br /&gt;• 10) Y.A.M. Tengku Maimun [Maimoen] ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. Y.M. Tengku Nomel Badr ul-Buhaja [Badroel Boehaja] binti Tengku Hafas, elder daughter of Y.A.M. Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran, sometime Wakil of Bedagai and Pangeran of Langkat Hilir, by his wife, Y.A.M. Tengku Uan Mahanun, daughter of Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila. He has issue, four sons and three daughters: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Muhammad Airad bin Tengku Maimun. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Kamajaya bin Tengku Maimun. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Alwin bin Tengku Maimun. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Haji Azwar bin Tengku Maimun, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj ibni al-Marhum Tengku Maimun, Sultan of Langkat - see below. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Yunita binti Tengku Maimun. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Hermina binti Tengku Maimun. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Laura binti Tengku Maimun. &lt;br /&gt;• 11) Y.A.M. Tengku Putra ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Putri Zahara). m. Y.M. Tengku Hazariah. He has issue, four daughters: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Petronella binti Tengku Putra. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Soraya binti Tengku Putra. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Sri Kamala Devi binti Tengku Putra. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Sandra Norliza binti Tengku Putra. &lt;br /&gt;• 12) Y.A.M. Tengku Zia ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz [Tengku Kuding] (s/o Tengku Putri Zahara). m. (first) Inche' Lusi, née Kepel. m. (second) Siti Hawa Ningsih. He has issue, seven sons and five daughters: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Zainal Azali bin Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi). &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Taha ul-Rizal bin Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi). m. Y.M. Tengku Mazwin binti Tengku Nasir ud-din, daughter of Y.M. Tengku Nasir ud-din bin Tengku Kamil. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Azizan bin Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi). &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Adi bin Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa). &lt;br /&gt;• e) Y.M. Tengku Darma bin Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa). &lt;br /&gt;• f) Y.M. Tengku Priyatna bin Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa). &lt;br /&gt;• g) Y.M. Tengku Kelana Asmara Jaya bin Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa). &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Cornelia binti Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi). &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Bariah binti Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi). &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Shavita binti Tengku Zia ud-din (s/o Inche' Lusi). &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Sri Susanti binti Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa). &lt;br /&gt;• e) Y.M. Tengku Sri Astuti binti Tengku Zia ud-din (s/o Siti Hawa). &lt;br /&gt;• 13) Y.A.M. Tengku 'Abdu'r Rahim ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Inche' Pediwi). &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Lailan Shahfinah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tenku Mas. b. 24th October 1903 (d/o Tengku Aisha). Styled Ratu of Bulungan, with the style of Her Highness from 12th November 1926 to 27th March 1930. m. (first) at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 12th November 1926 (zifaf), H.H. Paduka Sri Sultan Maulana Ahmad Sulaiman ud-din, Sultan of Bulungan (b. early 1905; d. 27th March 1930), second son of H.H. Paduka Sri Sultan Maulana Muhammad Kasim ud-din ibni al-Marhum Sultan Muhammad Azim ud-din, Sultan of Bulungan, by his third wife, Rakhmah, by whom she had issue an only son - see Indonesia (Bulungan). m. (second) January 1931, Y.A.M. Tuanku Rajih Anuar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Tengku Putra Mahkota, Head of the Royal House of Serdang (b. at Kota Bahru, 23rd March 1900; d. at Medan, 28th December 1960), eldest son of H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang, by his second wife, Inche' Kurnia Purba, by whom she had further issue, four sons and three daughters - see Indonesia (Serdang). &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Shah ul-Bariah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (s/o Tengku Fatimah Sham). m. (first) Y.M. Tengku Hamid. m. (second) Rusli Siregar. She had issue, two sons and one daughter by her first husband, and one son and one daughter by her second: &lt;br /&gt; a) Y.M. Tengku Aiz us-Thafa bin Tengku Hamid. &lt;br /&gt; b) Y.M. Tengku Amir ul-Aswad bin Tengku Hamid. &lt;br /&gt; c) Umar Siregar. &lt;br /&gt; a) Y.M. Tengku Merri binti Tengku Hamid. &lt;br /&gt; b) Rita Siregar. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Nurillah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Puan Tengah (d/o Aja Loyah). m. 3rd August 1933, as his second wife, Y.A.M. Tengku Harun al-Rashid ibni al-Marhum Tuanku Sultan Makmun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Tengku Perdana Mentri (b. at Medan, at Medan, 8th February 1891), second son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Makmun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. She had issue, one son and one daughter - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Putri Zainab binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Tengku Putri). m. 21st July 1933, Y.A.M. Tengku Mansur Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, Tengku Besar (disappeared with his father during the 'Social Revolution' in Sumatra, 4th March 1946), eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong - see Indonesia (Kualuh). &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Maimuna binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Tengku Ainum). m. Y.M. Tengku Harison, of Bedagai, Deli, by whom she had issue, four sons and one daughter: &lt;br /&gt; a) Y.M. Tengku Nazman bin Tengku Harison. &lt;br /&gt; b) Y.M. Tengku Usman bin Tengku Harison. &lt;br /&gt; c) Y.M. Tengku Muhammad Rizan bin Tengku Harison. &lt;br /&gt; a) Y.M. Tengku Zulfa binti Tengku Harison. m. Y.A.M. Tengku Mustafa Kamal Pasha ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (b. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 27th August 1935), son of her maternal uncle, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat. She has issue, one son - see below. &lt;br /&gt;• 6) Y.A.M. Tengku Aizah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Tengku Putri Zahara). m. Y.M. Raja Izzat. She has issue, three sons and one daughter: &lt;br /&gt; a) Y.M. Raja Shukri Amrun bin Raja Izzet. &lt;br /&gt; b) Y.M. Raja Izlin bin Raja Izzet. &lt;br /&gt; c) Y.M. Raja Zulkarnain bin Raja Izzet. &lt;br /&gt; a) Y.M. Raja Latifa Afifi binti Raja Izzet. &lt;br /&gt;• 7) Y.A.M. Tengku Mariam binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Tengku Putri Zahara). m. Tengku Harris bin Tengku Hafas (b. ca. 1922), third son of Y.A.M. Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran, sometime Wakil of Bedagai and Pangeran of Langkat Hilir, by his wife, Y.A.M. Tengku Uan Mahanun, daughter of Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila. She has issue, two sons and three daughters - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;• 8) Y.A.M. Tengku Salama binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Inche' Pediwi). m. Y.A.M. Tengku Haji Idris bin Tengku Kelana, Tengki Sri Utama di-Raja, son of Y.A.M. Tengku Kelana ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid ul-Mu'azzam Shah. She had issue, four sons and three daughters - see above. &lt;br /&gt;• 9) Y.A.M. Tengku Sauda binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz (d/o Inche' Sanggit). m. Y.M. Tengku Amrun. She has issue, three sons: &lt;br /&gt; a) Y.M. Tengku Khairad bin Tengku Amrun. &lt;br /&gt; b) Y.M. Tengku Kadir bin Tengku Amrun. &lt;br /&gt; c) Y.M. Tengku Ivan bin Tengku Amrun. &lt;br /&gt;• 10) Y.A.M. Tengku Rahima binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Ampuan. b. posthumously, at Kota Dalam, 4th August 1927 (d/o Tengku Putri Zahara). m. 10th March 1956, as his third wife Captain H.R.H. Sultan Salah ud-din 'Abdu'l Aziz Shah Alhaj ibni al-Marhum Sultan Hisam ud-din Alam Shah Alhaj, Sultan of Selangor Dar ul-Ihsan (b. at Istana Bandar Temasha, Kuala Langat, 8th March 1926; d. at the Gleneagles Hospital, Kuala Lumpur, 21st November 2001), son of Group Group Captain H.R.H. Sultan Hisam ud-din Alam Shah al-Haj ibni al-Marhum Sultan 'Ala ud-din Sulaiman Shah, Sultan of Selangor Dar ul-Ihsan, KCMG, by his first wife, H.R.H. Raja Hajah Jema'a binti Raja Ahmad, Tengku Ampuan, daughter of Raja Ahmad, of Perak. She d. 27th June 1992, having had issue, two daughters - see Malaysia (Selangor). &lt;br /&gt;1927 - 1948 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat. b. at Kota Dalam, 19th July 1893, son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his first wife, H.H. Tengku Alautiah binti Raja Muda Tengku Sulaiman, Tengku Mahasuri, daughter of Tengku Sulaiman ibni al-Marhum Sultan Panglima Mangedar Otteman, Raja Muda and Regent of Deli, educ. Succeeded on the death of his father, 1st July 1927. Installed at the Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 24th October 1927. Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. Rcvd: Knt. of the Order of the Netherlands Lion (21.10.1935), GC of the Order of the Dragon of Annam (17.2.1939), and Cdr. of the Order of Leopold II of Belgium (29.3.1939). m. (first) at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 1917, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri (b. 8th August 1892; d. 9th March 1971), installed at Tanjug Pura, as Tengku Permaisuri 2nd September 1927, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong, by his wife, H.M. Tengku Zubaida binti Tengku Al-Haji Ismail, Tengku Ampuan, daughter of Y.A.M. Tengku Al-Haji Ismail ibni al-Marhum Sultan Usman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Tengku Pangeran Nara, of Bedagai, by whom he had issue, 12 children. m. (second) Inche' Sri Dharma [Seridam]. m. (third) Inche' Asmah. He d. at Manggalaan, Medan, 23rd April 1948 (bur. Tengku Pura), having had issue, four sons and ten daughters: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Musa bin Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Raja Muda. b. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 22nd September 1924 (s/o Tengku Raudah). He d.v.p. (disappeared) August/September 1946. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Atha'ar ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Head of the Royal House of Langkat (s/o Tengku Raudah) - see below. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Yahya ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (s/o Tengku Raudah). &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Mustafa Kamal Pasha ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Head of the Royal House of Langkat (s/o Tengku Raudah) - see below. &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Kamaliah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 21st March 1938, Y.A.M. Tengku Amir Hamzah bin Tengku Muhammad Adil, Tengku Pangeran Indraputra (b. at Tanjung Pura, 28th February 1911; k. 20th March 1946), younger son of Y.A.M. Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah bin Tengku Hamzah al-Haj, Pangeran Kusuma Perwira, sometime DH of Binjai and Wakil Sultan at Luhak Langkat Bengkulu. She had issue, one daughter - see above. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Atfah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Y.M. Tengku Ramli. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Kalsum binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. m. Hasan Darus. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Latifa Hanum binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. m. Y.M. Tengku Razali bin Tengku Hafas, fourth son of Y.A.M. Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran, sometime Wakil of Bedagai and Pangeran of Langkat Hilir, by his wife, Y.A.M. Tengku Uan Mahanun, daughter of Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila. She has issue, one son and eight daughters - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Bainah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Y.M. Tengku Sulaiman. &lt;br /&gt;• 6) Y.A.M. Tengku Ajerun binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Y.M. Tengku Shahrul. &lt;br /&gt;• 7) Y.A.M. Tengku Mahseran binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Yopie Endoh. &lt;br /&gt;• 8) Y.A.M. Tengku Nur Jahan binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Tengku Raudah). m. Major-General Barkah Tirtadijaya, Ambassador to Egypt 1984. &lt;br /&gt;• 9) Y.A.M. Tengku Zahariah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Inche' Sri Dharma). &lt;br /&gt;• 10) Y.A.M. Tengku Basrah binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah (d/o Inche' Asmah). &lt;br /&gt;• A daughter. m. before 1938, as his second wife, Y.M. Tengku Malik ul-Bahar bin Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah (b. before 1910), son of Y.A.M. Tengku Muhammad Adil Rahmad Shah bin Tengku Hamzah al-Haj, Pangeran Kusuma Perwira, sometime DH of Binjai and Wakil Sultan at Luhak Langkat Bengkulu - see above. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;[1948  - 1990] Y.A.M. Tengku Atha'ar ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Head of the Royal House of Langkat. b. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 14th November 1929, second son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat, by his first wife, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri. Succeeded as Head of the Royal House of Langkat, on the death of his father, 23rd April 1948. m. Y.M. Tengku Radliya binti Tengku Mansur Shah, eldest daughter of Y.A.M. Tengku Mansur Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, Tengku Besar, sometime Regent of Kualuh, by his wife, Tengku Darjat, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Shah, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. He d. (s.p?) 14th June 1990. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;[1990 - 1999] Y.A.M. Tengku Mustafa Kamal Pasha ibni al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Head of the Royal House of Langkat. b. at Istana Dar ul-Aman, Tanjung Pura, 27th August 1935, youngest  son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat, by his first wife, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri. Succeeded as Head of the Royal House of Langkat, on the death of his elder brother, 14th June 1990. m. Y.M. Tengku Zulfa binti Tengku Harison, only daughter of Y.M. Tengku Harison, of Bedagai, Deli, by his wife, Y.A.M. Tengku Maimuna binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• 1) Y.M. Tengku Azihar bin Tengku Mustafa Kamal Pasha. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;[1999 - 2001] Y.A.M. Tengku Dr Herman Shah bin Tengku Kamil, Head of the Royal House of Langkat, third son of Tengku Kamil ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, by his wife, Y.A.M. Tengku Arfah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. Recognised by the thirteen chiefs of Langkat as Sultan designate 22nd May 1999, but never confirmed by the government of Indonesia or formally installed. He d. 2001. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2001 - 2003 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Iskandar Hilali 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj ibnu al-Marhum Tengku Murad Aziz, Sultan of Langkat. b. at Medan, 29th September 1952, only son of Y.A.M. Tengku Murad Aziz ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, by his wife, Y.A.M. Hajjah Tengku Maheran binti al-Marhum Sultan 'Alam Shah Otteman al-Sani Perkasa 'Alam, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Alam Shah Otteman II al-Sani Perkasa 'Alam ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. Succeeded his first cousin as Head of the Royal House of Langkat, 2001. Selected by the thirteen hereditary chiefs and nobles of the principality as Sultan of Langkat, 29th May 2002. Installed at Tanjung Pura, with the title of Sri Paduka Tuanku Sultan Iskandar Hilali 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj, 27th October 2002. m. Y.M. Hajjah Dr. Mirla Safrina. He d. suddenly, in hospital, at Medan, 21st May 2003 (bur. Azizi Mosque, Tanjung Pura). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2003 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj ibni al-Marhum Tengku Maimun, Sultan of Langkat. b. at Medan, 21st January 1951, as Tengku Azwar Aziz, youngest son of Y.A.M. Tengku Maimun [Maimoen] ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, by his wife, Y.M. Tengku Nomel Badr ul-Buhaja [Badroel Boehaja] binti Tengku Hafas, educ. Head of the Dept. of Industry &amp; Trade, Govt. of North Sumatra. Recognised by the thirteen hereditary chiefs and nobles of the principality as Sultan of Langkat, 21st May 2003. Installed on the same day, at the Balairung, Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, with the title of Sri Paduka Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah al-Haj. m. Y.M. Hajjah Marina Indera (b. at Medan, 1st March 1958). He has issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Arifanda bin Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah. &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Anissa Feloini binti Tuanku Sultan Azwar 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115751538201337819?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751538201337819'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751538201337819'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/09/karo-dan-langkat.html' title='Karo Dan Langkat'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115751505386095862</id><published>2006-09-05T20:51:00.000-07:00</published><updated>2006-09-05T20:57:34.040-07:00</updated><title type='text'>Serdang dan Karo</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Kesultanan Serdang dipengaruhi oleh budaya dan person-person Karo dan Simalungun. Berikut Silsilahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1728 - 1782 Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah bin Tuanku Panglima Paderap [Kejeruan Junjungan], Raja of Serdang. b. 1703, third son of Tuanku Panglima Padrap [Pidali], Amir of Deli, by his Royal wife, Tuanku Ampuan Sampali. Appointed as Heir Apparent by his father. Expelled from Deli, by his elder half-brother, after the death of his father in 1720. Taken to Serdang together with his mother and younger brother. Proclaimed as ruler of Serdang with the title of Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah, by the Datuk Sunggal and other nobles, 1728. He d. 1782 (bur. Sampali), having had issue, three sons and one daughter:  &lt;br /&gt;• 1) Tengku Malim ibni al-Marhum Tuanku Umar. He d.s.p. unm. &lt;br /&gt;• 2) Tengku Ainan, of Kejeruan Ujong, who succeeded as Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah ibni al-Marhum Tuanku Umar, Raja of Serdang - see below. &lt;br /&gt;• 3) Tengku Sabjana ibni al-Marhum Tuanku Umar, Raja Muda, of Kejeruan Ujong. Wakil of Kampong Kelambir from 1782. He had issue, including two sons: &lt;br /&gt;• a) Tengku Usman bin Tengku Sabjana, Tengku Panglima Besar, of Sungai Tuan. He d. after 28th January 1823, having had issue, two sons: &lt;br /&gt;• i) Tengku Zainal-Abidin [Raja Bidin] bin Tengku Usman. He d. after 25th August 1865. &lt;br /&gt;• ii) Tengku Muhammad 'Ali bin Tengku Usman, Tengku Panglima Besar, of Sungai Tuan. He d. after 13th August 1879, having had issue, a son: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Muhammad Daud bin Tengku Muhammad 'Ali, Tengku Indra Pahlawan, of Deli. &lt;br /&gt;• b) Tengku Muhammad Thakir [Mattakir] bin Tengku Sabjana, Pangeran Muda Sri di-Raja. Heir Apparent in succession to his father. He d. 1865, having had issue, a son: &lt;br /&gt;• i) Tengku Musa bin Tengku Muhammad Thakir. &lt;br /&gt;• 1) Tengku Embong binti al-Marhum Tuanku Umar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1782 - 1822 Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah ibni al-Marhum Tuanku Umar [Al-Marhum Kacapuri], Raja of Serdang. b. 1767, second son of Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah bin Tuanku Panglima Paderap, Raja of Serdang, educ. privately. Succeeded on the death of his father, 1782. m. (first) Tuanku Sri Alam, Tuanku Ampuan, daughter of Tuanku Nan Panjang ibni al-Marhum Raja Hitam, Yang di-Pertuan of Perbaungan. m. (second) Sharifa … m. (third) …He d. 1822 (bur. Kampong Besar), having had issue, seven sons and three daughters: &lt;br /&gt;• 1) Tengku Zainal Abidin ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah, Tengku Besar (s/o Tuanku Sri Alam). m. Tengku Sri Deli, daughter of Raja Nobat Shah ibni al-Marhum Raja Hitam, Raja Bendahara Kejuruan Jipura Bilan Jentera Malai, of Langkat. He was k.v.p. at Kampung Punggai, 1815, having had issue, five sons and three daughters: &lt;br /&gt;• a) Sutan Aman bin Tengku Zainal Abidin, Raja Muda Sri Maharaja (cre. 1865). Wakil of Perbaungan. He d. 1885, having had issue, seven children: &lt;br /&gt;• i) Tengku Ngah Safie bin Sutan Aman. He had issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Akil bin Tengku Ngah Safie. &lt;br /&gt;• (2) Tengku Siti Hawa Tengku Ngah Safie. &lt;br /&gt;• ii) Tengku Susun bin Sutan Aman. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Lindung bin Tengku Susun. She d. 1924. &lt;br /&gt;• iii) Tengku Ja'afar bin Sutan Aman. He had issue, three sons and three daughters: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Mahmud bin Tengku Ja'afar. He d. 1929, having had issue, three sons and three daughters:  &lt;br /&gt;• (a) Tengku Mahdar bin Tengku Mahmud. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Dechan bin Tengku Mahmud. &lt;br /&gt;• (c) Colonel Tengku 'Abdu'l Majid bin Tengku Mahmud. Col. Indonesian National Police. &lt;br /&gt;• (a) Tengku Jamah binti Tengku Mahmud. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Nasbun binti Tengku Mahmud. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Maimah binti Tengku Mahmud. &lt;br /&gt;• (2) Tengku Muhammad Isa bin Tengku Ja'afar. He d. 28th February 1954. &lt;br /&gt;• (3) Tengku Sahar bin Tengku Ja'afar. &lt;br /&gt;• (1) Tengku Hawidah binti Tengku Ja'afar. She d. 15th April 1983. &lt;br /&gt;• (2) Tengku Khadija binti Tengku Ja'afar. &lt;br /&gt;• (3) Tengku Rutmini binti Tengku Ja'afar. &lt;br /&gt;• iv) Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman. m. Tengku Ngah Saleha binti Sutan Siddiq, daughter of Sutan Siddiq ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Tengku Temenggong, sometime Wakil at Perbaungan. He d. 1908, having had issue, ten children:  &lt;br /&gt;• (1) Tengku Fakhr ud-din bin Tengku Putih 'Abdu'l Kadir. b. 1882. Mufti of Serdang, journalist, Islamic nationalist, Mbr. Sarekat Islam, and the High Islamic Cncl. 1936-1937, Islamic Religious Adviser to the Sultan of Serdang. He d. 1937, having had issue, four sons and four daughters: &lt;br /&gt;• (a) Tengku 'Usman bin Tengku Fakhr ud-din. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Fuad bin Tengku Fakhr ud-din. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Nikman bin Tengku Fakhr ud-din. &lt;br /&gt;• (d) Tengku Mahdi bin Tengku Fakhr ud-din. &lt;br /&gt;• (a) Tengku Walisah binti Tengku Fakhr ud-din. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Nur Fakhrab binti Tengku Fakhr ud-din. She d. 1954. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Mahdiah binti Tengku Fakhr ud-din. &lt;br /&gt;• (d) Tengku Ratfah binti Tengku Fakhr ud-din. &lt;br /&gt;• (2) Tengku Benjamin bin Tengku Putih 'Abdu'l Kadir. &lt;br /&gt;• (3) Tengku Muhammad Arifin Tobo bin Tengku Putih 'Abdu'l Kadir. b. 17th October 1889. Police Werdana Gewestelijk Recherche 1938-1942, Political Intelligence Ofcr. with Japanese Police 1942-1945, later Chief Cmsnr. National Police Force. He d. 3rd November 1998, having had issue, five sons and four daughters:  &lt;br /&gt;• (a) Tengku Imarwardi bin Tengku Muhammad Arifin. b. 17th May 1932. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Asfin bin Tengku Muhammad Arifin. b. 1st October 1939. Sometime employee of Pertama State Oil Co. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Faruk bin Tengku Muhammad Arifin. b. 9th September 1942. Politician. &lt;br /&gt;• (d) Colonel Tengku 'Abdu'l Gafar bin Tengku Muhammad Arifin. b. 10th April 1944. He d. at Jakarta, Java, 7th September 1998. &lt;br /&gt;• (e) Tengku Zainal Abidin bin Tengku Muhammad Arifin. b. 1st January 1946. Sometime Branch Mngr. Pertama State Oil Co. m. Tengku Salimat ul-Mardiah Laila binti Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah, eldest daughter of H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan of Serdang, by his wife, H.H. Tengku Mulfi binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Tengku Permaisuri, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. &lt;br /&gt;• (a) Tengku Khalija binti Tengku Muhammad Arifin. b. 17th October 1933. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Sukainah binti Tengku Muhammad Arifin. b. 5th February 1935. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Ammah binti Tengku Muhammad Arifin. b. 27th January 1937. &lt;br /&gt;• (d) Tengku Liafah binti Tengku Muhammad Arifin. b. 27th November 1937. &lt;br /&gt;• (4) Major Tengku Zamrah bin Tengku Putih 'Abdu'l Kadir. Maj. TNI 1946, Mbr. Independence delegation to the Hague Conf., later joined Ministry of the Interior. He d. 28th September 1979, having had issue, two sons and five daughters: &lt;br /&gt;• (a) Tengku Adjit Muzaffar Shah bin Tengku Zamrah. He d. 29th July 1998. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Iskandar Shah bin Tengku Zamrah. &lt;br /&gt;• (a) Tengku Ijattbailah binti Tengku Zamrah. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Selfi Khadariah binti Tengku Zamrah. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Akmal binti Tengku Zamrah. &lt;br /&gt;• (d) Tengku Saskia binti Tengku Zamrah. &lt;br /&gt;• (e) Tengku Yasmin binti Tengku Zamrah. &lt;br /&gt;• (5) Tengku Jafizham bin Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, educ. Al-Azhar Univ., Cairo. Mbr. High Islamic Cncl. 1945-1946, Sometime Professor of Islamic Studies, State Univ. of North Sumatra. m. Tengku Temah binti Tengku 'Abdu'llah, fourth daughter of Tengku 'Abdu'llah bin Tengku Mustafa. He d. 14th April 1988, having had issue, five sons and three daughters: &lt;br /&gt;• (a) Tengku Wasif bin Tengku Jafizham. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Rushdi bin Tengku Jafizham. Lecturer at State Univ. of North Sumatra.  &lt;br /&gt;• (c) Tengku Fakhr ud-din bin Tengku Jafizham. &lt;br /&gt;• (d) Tengku Jazid bin Tengku Jafizham. &lt;br /&gt;• (a) Tengku Nira Nur Aili binti Tengku Jafizham. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Khair un-nisa binti Tengku Jafizham. Attorney-at-Law. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Farida binti Tengku Jafizham. Lecturer at State Islamic Inst. &lt;br /&gt;• (6) Tengku Adhar bin Tengku Putih 'Abdu'l Kadir. He d. 30th September 1932, having had issue, one daughter: &lt;br /&gt;• (a) Tengku Zahijah binti Tengku Adhar. &lt;br /&gt;• (1) H.H. Tengku Fatima Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri (cre. 1905). b. 1890. m. 1905, as his third wife, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat (b. at Tanjung Pura, 9th May 1878; d. at Kota Dalam, 1st July 1927), third son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mahadiah Mu'azzam Shah ibni al-Marhum Sultan Ahmad, Sultan of Langkat, by his third wife, H.H. Tengku Meshaurah[Maslurah] binti Tengku Besar Desan, Tengku Permaisuri, daughter of Tengku Besar Desan, of Langkat. She d. 23rd May 1919, having had issue, five sons and two daughters - see Indonesia (Langkat). &lt;br /&gt;• (2) Tengku Istrawati Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir. &lt;br /&gt;• (3) Tengku Dijah binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir. &lt;br /&gt;• i) Tengku Mariyam binti Sutan Aman. &lt;br /&gt;• b) Tengku Imban bin Tengku Zainal Abidin [Sutan Dewa]. &lt;br /&gt;• c) Tengku Kelana bin Tengku Zainal Abidin. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• i) Tengku Ubang bin Tengku Kelana.  &lt;br /&gt;• d) Sutan Hasan bin Tengku Zainal Abidin, Tengku Panglima Besar. Datuk Berlapan of Bandar Labuhan. He had issue, five sons and two daughters: &lt;br /&gt;• i) Tengku Muhammad Dewa bin Sutan Hasan, Tengku Sri Maharaja (cre. 1916). b. 1861. DH of Ramunia 1916-1934, and Wazir of Serdang until 1934. m. Tengku Zainab binti Tengku Ngah Ipok, daughter of Tengku Ngah Ipok bin Tuanku Ibrahim, of Perbaungan. He d. at Perbaungan, 26th June 1934, having had issue, one daughter: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Sapura binti Tengku Muhammad Dewa. m. Tengku Muhammad Hanif bin Sutan Muhammad Idris. Wakil at Perbaungan, second son of Sutan Muhammad Idris bin Sutan Siddiq. Wakil at Perbaungan. She d. 6th July 1961, having had issue - see below. &lt;br /&gt;• ii) Sutan 'Abdu'l Rahman [Tan Deraman] bin Sutan Hasan, of Serbajadi. He had issue, three sons: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Badar ud-din bin Tan Deraman. He had issue, one son and four daughters: &lt;br /&gt;• (a) Tengku Harison bin Tengku Badar ud-din. &lt;br /&gt;• (a) Tengku Fatima [Timah] binti Tengku Badar ud-din. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Topah binti Tengku Badar ud-din. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Hasbi binti Tengku Badar ud-din. &lt;br /&gt;• (d) Tengku Hayati binti Tengku Badar ud-din. &lt;br /&gt;• (2) Tengku Husain bin Tan Deraman. He had issue, one son and four daughters: &lt;br /&gt;• (a) Tengku Ajiman bin Tengku Husain. &lt;br /&gt;• (a) Tengku Amalia binti Tengku Husain. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Khairuni binti Tengku Husain. &lt;br /&gt;• (c) Tengku Deka binti Tengku Husain. &lt;br /&gt;• (d) Tengku Beth binti Tengku Husain. &lt;br /&gt;• (3) Tengku Pi'ie bin Tan Deraman. m. Tengku Habshah. He had issue, two sons and a daughter:  &lt;br /&gt;• (a) Tengku Shahrul bin Tengku Pi'ie. &lt;br /&gt;• (b) Tengku Kamrin bin Tengku Pi'ie. He had issue, three daughters: &lt;br /&gt;• (i) Tengku Alfa Chandra binti Tengku Kamrin. &lt;br /&gt;• (ii) Tengku Beta Anggeraini binti Tengku Kamrin. &lt;br /&gt;• (iii) Tengku Gama Andhika binti Tengku Kamrin. &lt;br /&gt;• (a) Tengku Anie binti Tengku Pi'ie. &lt;br /&gt;• (4) Tengku Hitam bin Tan Deraman. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• (a) Tengku Sulung Laut bin Tengku Hitam. m. Tengku Tahura binti Tengku Indralana, elder daughter of his uncle, Tengku Indralana bin Sutan Hasan. He had issue, four sons and three daughters: &lt;br /&gt;• (i) Tengku Aminu'llah bin Tengku Sulung Laut. He had issue, three sons and a daughter: &lt;br /&gt;• 1. Tengku Haris bin Tengku Aminu'llah. &lt;br /&gt;• 2. Tengku Amir Hamzah bin Tengku Aminu'llah. m. a grand daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. &lt;br /&gt;• 3. Tengku Mirza bin Tengku Aminu'llah. &lt;br /&gt;• 1. Tengku Ratna Wilis binti Tengku Aminu'llah. &lt;br /&gt;• (ii) Tengku Harman bin Tengku Sulung Laut. &lt;br /&gt;• (iii) Tengku Izmuzad bin Tengku Sulung Laut. &lt;br /&gt;• (iv) Tengku Rustam bin Tengku Sulung Laut. He had issue, six children.  &lt;br /&gt;• (i) Tengku Fadiah binti Tengku Sulung Laut. &lt;br /&gt;• (ii) Tengku Rahil binti Tengku Sulung Laut. &lt;br /&gt;• (iii) Tengku Maharani binti Tengku Sulung Laut. &lt;br /&gt;• iii) Tengku Indralana bin Sutan Hasan. He had issue, two sons and two daughters: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Hedar bin Tengku Indralana. He had issue, four children. &lt;br /&gt;• (2) Tengku Jaudin bin Tengku Indralana. He d. 26th June 1962, having had issue, ten children. &lt;br /&gt;• (1) Tengku Tahura binti Tengku Indralana. m. Tengku Sulung Laut bin Tengku Hitam, son of her uncle, Tengku Hitam bin Tan Deraman. She had issue - see above.  &lt;br /&gt;• (2) Tengku Maharmah binti Tengku Indralana. &lt;br /&gt;• iv) Tengku Kolok bin Sutan Hasan. He had issue, seven sons and two daughters: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Muhammad 'Ali bin Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• (2) Tengku Mansur bin Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• (3) Tengku Kitam bin Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• (4) Tengku Alang bin Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• (5) Tengku Makmun bin Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• (6) Tengku Busu bin Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• (7) Tengku Ismail bin Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• (1) Tengku Ngah Zaleha binti Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• (2) Tengku Aisha binti Tengku Kolok. &lt;br /&gt;• v) Tengku 'Abdu'llah bin Sutan Hasan. &lt;br /&gt;• i) Tengku Mariam binti Sutan Hasan. &lt;br /&gt;• a) Tengku Meraijah binti Tengku Zainal Abidin, Tengku Hajjah Besar. &lt;br /&gt;• b) Tengku Aminah binti Tengku Zainal Abidin. &lt;br /&gt;• c) Tengku Halimah binti Tengku Zainal Abidin &lt;br /&gt;• 2) Tengku Sinar, who succeeded as H.H. Paduka Sri Sultan Thaf Sinar Bashar Shah ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah [Al-Marhum Besar], Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang (s/o Tuanku Sri Alam) - see below. &lt;br /&gt;• 3) Tengku Tunggal ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah, Tengku Sri Maharaja, of Kampong Durian. Sometime Minister of State. He d. after 30th January 1823, having had issue, a son: &lt;br /&gt;• a) Tengku Agung bin Tengku Tunggal, Tengku Sri Maharaja, of Kampong Durian. b. 1806. He d. 1885, having had issue, a son: &lt;br /&gt;• i) Tengku Ala ud-din [Alaidin] bin Tengku Agung, Tengku Sri Maharaja. Minister of State 1889. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• (1) Tengku Ibrahim bin Tengku Alaidin. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• (a) Tengku Mansur bin Tengku Ibrahim. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• (i) Al-Haj Tengku Amry bin Tengku Mansur, Tengku Sri Maharaja, of Ramunia (cre. 12th June 2002), SH. &lt;br /&gt;• 4) Tengku Harum [Merah Uda] ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah (s/o the second wife), of Kampong Paku.  &lt;br /&gt;• 5) Tengku Andang ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah (s/o Tuanku Sri Alam). Pangeran of Bandar Labuhan. He d. after 30th January 1823, having had issue, two daughters: &lt;br /&gt;• a) Tengku Shafiah binti Tengku Andang. &lt;br /&gt;• b) Tengku Rabiah binti Tengku Andang. &lt;br /&gt;• 6) Sutan Nur Shahmad ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah. &lt;br /&gt;• 7) Tuanku Gadeh Angai [Angal] ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah (s/o Tuanku Sri Alam). He had issue, a daughter: &lt;br /&gt;• a) Tengku Sri Ulam binti Tuanku Gadeh Angal. &lt;br /&gt;• 1) Tuanku Sri Ulam binti al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah (d/o Tuanku Sri Alam). &lt;br /&gt;• 2) Tuanku Jijah binti al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah (d/o Tuanku Sri Alam). &lt;br /&gt;• 3) Tuanku Upam binti al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah (d/o Tuanku Sri Alam). &lt;br /&gt;• 4) Tengku Sharifa Nur Isah binti al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah (d/o Sharifa …). m. Sayyid … Alsagoff. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1822 - 1851 H.H. Paduka Sri Sultan Thaf Sinar Bashar Shah ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah [Al-Marhum Besar], Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang. b. 1790, second son of Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah ibni al-Marhum Tuanku Umar, Raja of Serdang, by his wife, Tuanku Sri Alam, Tuanku Ampuan, daughter of Tuanku Nan Panjang ibni al-Marhum Raja Hitam, Yang di-Pertuan of Perbaungan, educ. privately. Succeeded on the death of his father, 1822. m. several wives, including, H.H. Tuanku Sri Indra Kuala, Tuanku Ampuan, daughter of Y.A.M. Tuanku Sutan Usalli ibni al-Marhum Tuanku Nan Panjang, Yang di-Pertuan of Perbaungan. He d. at Kachapuri, 1851 (bur. Kampong Besar), having had issue, four sons:  &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku 'Abdu'l Jalil ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah. He d.s.p. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Mustafa ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Raja Muda Sri Maharaja (cre. 1885). He d. ca. 1896, having had issue, four sons and four daughters: &lt;br /&gt;• a) Y.A.M. Tengku Muhammad Nur ud-din bin Tengku Mustafa, Tengku Bendahara (cre. 1896). b. 1868. DH of Pakam 1896-1935. Rcvd: Great Gold Star for Loyalty and Merit (31.8.1931). m. Y.M. Tengku Ngah Ramiah binti Tengku Haji Muhammad Yasin, only daughter of his uncle, Y.A.M. Tengku Haji Muhammad Yasin ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Pangeran Mangku Negara, sometime Wakil at Perbaungan. He d. at St Elisabeth Hospital, Medan, 11th December 1935, having had issue, two sons and six daughters: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Taha bin Tengku Muhammad Nur. He had issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Mustafa bin Tengku Taha. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Muhrizat binti Tengku Taha. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Muzfila binti Tengku Taha. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Hedar bin Tengku Muhammad Nur. Private Sec. to the Sultan 1934. m. Y.M. Tengku Sa'adiah binti Tengku 'Abdu'llah, eldest daughter of his uncle, Y.M. Tengku 'Abdu'llah bin Tengku Mustafa. He d.s.p. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Bedah binti Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Sadri binti Tengku Muhammad Nur. m. Y.M. Tengku Ghafar bin Tengku 'Abdu'llah, younger son of her paternal uncle, Y.M. Tengku 'Abdu'llah bin Tengku Mustafa. She had issue, one son and two daughters - see below. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Durani binti Tengku Muhammad Nur. m. Tengku Amir ud-din, of Bilah. &lt;br /&gt;• iv) Tengku Saja'ah binti Tengku Muhammad Nur. m. Y.M. Tengku Atau'llah [Ataillah] bin Tengku Muhammad Hanif, sometime Wakil at Perbaungan, youngest son of Tengku Muhammad Hanif bin Sutan Muhammad Idris, sometime Wakil at Perbaungan, by hs wife, Y.M. Tengku Sapura binti Tengku Muhammad Dewa, daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad Dewa bin Sutan Hasan, Tengku Sri Maharaja, of Ramunia. She had issue, two sons and one daughter - see above. &lt;br /&gt;• v) Y.M. Tengku Rehan binti Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• vi) Y.M. Tengku Erika binti Tengku Muhammad Nur. &lt;br /&gt;• b) Y.A.M. Tengku Muhammad Adil bin Tengku Mustafa, Tengku Bentara Kiri. He had issue, one son and two daughters:  &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Afluz bin Tengku Muhammad Adil. He had issue, four sons and five daughters: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Hafmarshah bin Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Hafmanshah bin Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Afdila bin Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Tengku Muhammad Haris bin Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Fifian Rosa binti Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Hafni binti Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Novifa binti Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Tengku Liza binti Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• (5) Y.M. Tengku Fila binti Tengku Afluz. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Jin binti Tengku Muhammad Adil. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Jufinizah binti Tengku Muhammad Adil. m. Y.M. Tengku Sharil bin Tengku 'Abdu'llah, eldest son of her paternal uncle, Y.M. Tengku 'Abdu'llah bin Tengku Mustafa. She d.s.p. - see below.  &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku 'Abdu'llah bin Tengku Mustafa. He had issue: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Sharil bin Tengku 'Abdu'llah. m. Y.M. Tengku Jufinizah binti Tengku Muhammad Adil, younger daughter of his paternal uncle, Y.A.M. Tengku Muhammad Adil bin Tengku Mustafa, Tengku Bentara Kiri. He d.s.p. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Ghafar bin Tengku 'Abdu'llah. m. Y.M. Tengku Sadri binti Tengku Muhammad Nur, second daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad Nur ud-din bin Tengku Mustafa, Tengku Bendahara, by his wife, Y.M. Tengku Ngah Ramiah binti Tengku Haji Muhammad Yasin, only daughter of Y.A.M. Tengku Haji Muhammad Yasin ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Pangeran Mangku Negara, sometime Wakil at Perbaungan. He had issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt;• (1) Professor Dr. Y.A.M. Tengku Amin Ridzwan bin Tengku Ghafar, Tengku Bendahara, of Lubuk Pakam (cre. 12th June 2002). m. Y.M. Tengku Nacziea binti Tengku Atau'llah, daughter of Y.M. Tengku Atau'llah [Ataillah] bin Tengku Muhammad Hanif, by his wife, Y.M. Tengku Saja'ah binti Tengku Muhammad Nur, third daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad Nur ud-din bin Tengku Mustafa, Tengku Bendahara. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Filly binti Tengku Ghafar. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Fauzy binti Tengku Ghafar. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Sa'adiah binti Tengku 'Abdu'llah. m. Y.M. Tengku Hedar bin Tengku Muhammad Nur, sometime Private Sec. to the Sultan, younger son of her uncle, Y.A.M. Tengku Muhammad Nur ud-din bin Tengku Mustafa, Tengku Bendahara - see above. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Hariah binti Tengku 'Abdu'llah. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Esah binti Tengku 'Abdu'llah. &lt;br /&gt;• iv) Y.M. Tengku Temah binti Tengku 'Abdu'llah. m. Y.M. Tengku Jafizham bin Tengku Putih 'Abdu'l Kadir (d. 14th April 1988), sometime Professor of Islamic Studies, State Univ. of North Sumatra, fifth son of Y.M. Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman. She had issue - see above.  &lt;br /&gt;• v) Y.M. Tengku Menah binti Tengku 'Abdu'llah. &lt;br /&gt;• vi) Y.M. Tengku Aswad binti Tengku 'Abdu'llah. &lt;br /&gt;• vii) Y.M. Tengku Mahridar binti Tengku 'Abdu'llah. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku 'Umar bin Tengku Mustafa. He had issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Nurian bin Tengku 'Umar. m. Y.M. Tengku Sofjan Johan. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Heredar binti Tengku 'Umar. m. Y.M. Tengku Affan. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Junaina binti Tengku 'Umar. m. Y.M. Tengku Hanif Husain. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Zainab binti Tengku Mustafa. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Tamelan binti Tengku Mustafa. m. Tengku N. of Deli. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Malawati binti Tengku Mustafa. m. Y.M. Sutan Muhammad Idris bin Sutan Siddiq, sometime Wakil at Perbaungan, son of her paternal uncle, Sutan Siddiq ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Tengku Temenggong, sometime Wakil at Perbaungan. She had issue, three sons and one daughter - see below. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Ubang binti Tengku Mustafa. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku 'Abdu'l Majid ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Muhammad Bashar ud-din, who succeeded as H.H. Paduka Sri Sultan Muhammad Bashar un-din Saif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang (s/o Tuanku Sri Indra Kuala) - see below. &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Haji Muhammad Yasin [Mat Yasin] ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Pangeran Mangku Negara. Wakil at Perbaungan and Datuk Berlapan of Batak Timur Dusun. He had issue, one daughter: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Ngah Ramiah binti Tengku Haji Muhammad Yasin. m. Tengku Muhammad Nur ud-din bin Tengku Mustafa, Tengku Bendahara (b. 1868; d. at St Elisabeth Hospital, Medan, 11th December 1935), eldest son of her uncle, Tengku Mustafa ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Raja Muda. She had issue - see above. &lt;br /&gt;• 6) Y.A.M. Sutan Siddiq ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Tengku Temenggong  (s/o Tuanku Sri Indra Kuala). Wakil at Perbaungan. He had issue, a son and a daughter: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Sutan Muhammad Idris bin Sutan Siddiq. Wakil at Perbaungan. m. Y.M. Tengku Malawati binti Tengku Mustafa, third daughter of his paternal uncle, Y.A.M. Tengku Mustafa ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Raja Muda Sri Maharaja. He had issue, three sons and one daughter: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Teh Nasrun bin Sutan Muhammad Idris, Tengku Bentara of Kanan. He had issue, eight sons and two daughters: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Amir ud-din [Amrun] bin Tengku Teh Nasrun. He had issue, three sons:  &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Khairal bin Tengku Amrun. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Khatir bin Tengku Amrun. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Irwan bin Tengku Amrun. &lt;br /&gt;• (2) Colonel Y.M. Tengku Muhammad Nur ud-din [Noerdin] bin Tengku Teh Nasrun. Cmsnd. 2nd-Lieut. Hikojo Kimutai (Airfield Defence Force), Giyugun (Japanese Territorial Force) x/9/1944, Capt. TRI 1945, Cdt. 3rd Btn. in Medan-Perbaungan 1946, prom. Maj. 1946, retd. as Col. m. 3 rd July 1945, Y.M. Tengku Rafiah. He had issue, five sons and two daughters: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Burhan ud-din bin Tengku Nur ud-din [Burhan Noerdin]. m. a princess from Langkat. He has issue, two sons. &lt;br /&gt;• (b) Major-General Al-Haj Y.M. Tengku Rizal bin Tengku Nur ud-din [Rizal Nurdin]. b. at Bukit Tinggi, 21st February 1948, educ. Akabri Military Acad., Magelang. Cmsnd. 2nd-Lieut. TNI 1971, dep. cdr. Operation Pulau Galang 96 Task Force, UN Mission to Cambodia, GSO (Personnel) at Army HQ, prom. Brig-Gen. 1/3/1995, cdt. Prospective Army Officers Sch. (Secapa TNI-AD) at Bandung 1995-1996, Chief of Staff Bukit Barisan (North Sumatra) 1996-1997, prom. Maj-Gen. 4/8/1997, Cdr. Bukit Barisan 1997-1998, Governor of North Sumatra 1998-2005. m. Ny Hajjah Siti Mariam. He was k. in a aeroplane crash, at Padang Bulan, Medan, 5th September 2005 (bur. there at the Royal Cemetery, Masjid Raya Al Ma'shun Deli), having had issue, two daughters: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Amalia Madiana binti Tengku Rizal Nurdin. b. 1974, educ. SH. m. ... &lt;br /&gt;• (ii) Y.M. Tengku Arisma Mellina binti Tengku Rizal Nurdin. b. 1980, educ. Parahyangan Univ., Bandung, West Java (Sip.), and in Germany. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Adi Geraha Putra bin Tengku Nur ud-din. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Ismail Irawan bin Tengku Nur ud-din. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Erry Murjadi bin Tengku Nur ud-din. Regent of Serdang-Bedagai since 2005. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Rafina binti Tengku Nur ud-din. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Mahdahfah Sufiaharumy binti Tengku Nur ud-din. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Razli bin Tengku Teh Nasrun. He had issue, two sons and two daughters:  &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Shahily Shafnifar bin Tengku Razli. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Tik bin Tengku Razli. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Ernafarizah binti Tengku Razli. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Evryhy-Dhainaty binti Tengku Razli. &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Tengku Warid Badar ud-din [Badrun] bin Tengku Teh Nasrun. He had issue, two sons: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Tarkhir Zulfikhar bin Tengku Warid. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku M ansur Rudian bin Tengku Warid. &lt;br /&gt;• (5) Y.M. Tengku Fardis Azhar ud-din [Azrun] bin Tengku Teh Nasrun. He had issue: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Azusky bin Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Arwar bin Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Fazy bin Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Shahral [Aol] bin Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (e) Y.M. Tengku Fakhrizal bin Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Nazarwati [Ati] binti Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Azwani binti Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Fakhdilawati binti Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Fakhrainy binti Tengku Fardis. &lt;br /&gt;• (6) Y.M. Tengku Fakhri ud-din [Fachriun] bin Tengku Teh Nasrun. He has issue, two daughters:  &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Fakhriandy binti Tengku Fakhri ud-din. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Fakhliza binti Tengku Fakhri ud-din. &lt;br /&gt;• (7) Y.M. Tengku Arif ud-din bin Tengku Teh Nasrun. He has issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Lisadjidin bin Tengku Arif ud-din. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Azmy Hanafy binti Tengku Arif ud-din. &lt;br /&gt;• (8) Y.M. Tengku Abumahrisurat bin Tengku Teh Nasrun. He had issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Isfhan bin Tengku Abumahrisurat. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Sharizat binti Tengku Abumahrisurat. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Tafara binti Tengku Teh Nasrun. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Jabah binti Tengku Teh Nasrun. m. Wan Heffen Baru. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Muhammad Hanif bin Sutan Muhammad Idris. Wakil of Perbaungan 1906. m. Y.M. Tengku Sapura binti Tengku Muhammad Dewa (d. 6th July 1961), daughter of daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad Dewa bin Sutan Hasan, Tengku Sri Maharaja, of Ramunia, by his wife, Y.M. Tengku Zainab binti Tengku Tengku Ngah Ipok, daughter of Y.M. Tengku Ngah Ipok bin Tuanku Ibrahim, of Perbaungan. He d. at Perbaungan. He had issue, four sons and one daughter:  &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Jampuk bin Tengku Muhammad Hanif. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Nazar bin Tengku Muhammad Hanif. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Dhaifah bin Tengku Muhammad Hanif. m. Y.M. Tengku Nef Dewani binti Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anwar, eldest daughter of Y.A.M. Tuanku Rajih Anwar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Tengku Putra Mahkota, Head of the Royal House of Serdang, by his first wife, Y.M. Inche' Nelli. He had issue, five daughters: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Faceira binti Tengku Dhaifah. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Nabariah binti Tengku Dhaifah. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Eliza. binti Tengku Dhaifah. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Zahriar binti Tengku Dhaifah. &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Tengku Atau'llah [Ataillah] bin Tengku Muhammad Hanif (s/o Tengku Sapura). Wakil at Perbaungan. m. Y.M. Tengku Saja'ah binti Tengku Muhammad Nur, third daughter of his cousin, Y.A.M. Tengku Muhammad Nur ud-din bin Tengku Mustafa, Tengku Bendahara. He has issue, two sons and one daughter: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Tifka Zulkikar bin Tengku Atau'llah. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Zulkarnain [Dzulharn] bin Tengku Atau'llah, Raja Usalli. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Nacziea binti Tengku Atau'llah. m. Professor Dr. Y.A.M. Tengku Amin Ridzwan bin Tengku Ghafar, Tengku Bendahara, of Lubuk Pakam, son of Y.M. Tengku Ghafar bin Tengku 'Abdu'llah, by his wife, Y.M. Tengku Sadri binti Tengku Muhammad Nur, second daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad Nur ud-din bin Tengku Mustafa, Tengku Bendahara - see below. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Esperus binti Tengku Muhammad Hanif. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Nizam bin Sutan Muhammad Idris. Chair. KNI 1945-1956. He had issue, one son:  &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Zulkifli bin Tengku Nizam. Cmsnd. 2nd-Lieut. 1st Regt. TRI 1946. He has issue, six sons and four daughters: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Fauzinarim bin Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Zulkarnain bin Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Haris bin Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Zuwahar bin Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (e) Y.M. Tengku Taufik bin Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (f) Y.M. Tengku Nazriani bin Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Nilharwaty binti Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Nazeriah binti Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Zulfakam binti Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Nazariah binti Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Embab binti Sutan Muhammad Idris. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Ngah Saleha binti Sutan Siddiq. m. Y.M. Tengku 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman, son of Y.M. Sutan Aman bin Tengku Zainal Abidin. She had issue - see above. &lt;br /&gt;• 7) Y.A.M. Tengku Muhammad Adil ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah. &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Ngah Salima binti al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Rabiah binti al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Putri Sharifa Aishah binti al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah. m. Y.M. Raja Burhan ud-din, sometime Cdt. of Tanah Abang Dist., son of Y.M. Sutan Mangku Tua [Manguntuah] of Pagaruyung - see Indonesia (Minangkabau). &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Mariam binti al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah [Tengku Tju]. m. Y.M. Raja Shams ud-din&lt;br /&gt;1851 - 1879 H.H. Paduka Sri Sultan Muhammad Bashar ud-din Saif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah [Al-Marhum Kota Batu], Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang. b. 1809, youngest son of H.H. Paduka Sri Sultan Thaf Sinar Bashar Shah ibni al-Marhum Tuanku Ainan Johan Pahlawan Alam Shah, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang, by his wife, Tuanku Sri Indra Kuala binti al-Marhum Tuanku Sutan Usalli, Tuanku Ampuan, daughter of Tuanku Sutan Usalli ibni al-Marhum Tuanku Nan Panjang, Yang di-Pertuan of Perbaungan, educ. privately. Succeeded on the death of his father, 1850/1851. Forced to accept Acehnese sovereignty and recognised as Wazir Sultan Aceh (i.e. Minister of the Sultan of Aceh) in 1854. Inherited Perbaungan after the death of his father-in-law. Deprived of the districts of Danai, Padang, and Bedagai and Perchut, by the Dutch, who ceded them to the Sultan of Deli in 1865. m. (first) H.H. Tengku Zahra binti Tuanku Musa Ainan Rahmad Shah, Tengku Ampuan, younger daughter and heiress of Tuanku Musa Ainan Rahmad Shah ibni al-Marhum Tuanku Sutan Usalli, Yang di-Pertuan of Perbaungan. m. (second) Inche' Rata, of Pantai Cermin. He d. at Istana Bogok, Rantau Panjang Serdang, 20th December 1879 (bur. Makam di-Raja, Kampung Besar), having had issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt;• 1) Tengku Sulaiman, who succeeded as H.H. Paduka Sri Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang (s/o Inche' Rata) - see below. &lt;br /&gt;• 1) Tengku Putri Amina binti al-Marhum Sultan Bashar un-din. b. before 1862. &lt;br /&gt;• 2) Tengku Ketu binti al-Marhum Sultan Bashar un-din. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1879 - 1946 H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din [Al-Marhum Perbaungan], Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang. b. 17th July 1862, only son of H.H. Paduka Sri Sultan Muhammad Bashar un-din Saif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Thaf Sinar Bashar Shah, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang, by his wife, Inche', educ. privately. Succeeded on the death of his father, 20th December 1879. Reigned under a Cncl. of Regency until he came of age and assumed full ruling powers, 29th January 1887. Installed at Perbaungan, 4th May 1889. Recovered the district of Danai from the Sultanate of Deli in 1882. Removed his capital to Simpang Tiga Perbaungan in 1896. A long-standing opponent of Dutch rule, he refused to sign a contract with the government of the NEI for several years. Acceded to the Indonesian Republic on 4th December 1945. Detained during the "social revolution". Chair. Sarikat ul-Mulk 1922. Rcvd: Knt. of the Order of the Netherlands Lion (26.7.1927), and Officer of the Order of Orange-Nassau (22.8.1923). m. (first) at Medan, 21st March 1891, H.H. Tengku Darwishah binti Raja Burhan ud-din, Tengku Permaisuri (d. 13th October 1946), daughter of Raja Burhan ud-din, of Paggaruyung, sometime Cdt. of Tanah Abang Dist. m. (second) Inche' Kurnia Purba (d. at Perbaungan, 12th December 1939). m. (third) Inche' Raya Purba. m. (fourth) Tuanku Hajjah Zahara binti al-Marhum Tuanku Ainan Rahmad Shah, Tengku Ampuan, younger daughter of Tuanku Ainan Rahmad Shah ibni al-Marhum Tuanku Sutan Usalli, Yang di-Pertuan of Perbaungan. He d. in protective custody, at Perbaungan Bandar Setia, 13th October 1946 (bur. there at the Masjid Raya Sulaimaniyah), having had issue, five sons and three daughters: &lt;br /&gt;• 1) Tuanku Rajih Anwar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Tengku Putra Mahkota, Head of the Royal House of Serdang (s/o Inche' Kurnia Purba) - see below. &lt;br /&gt;• 2) Tengku Shahrial Sinar bin al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah (s/o Inche' Raya). m. (first) Tengku Nur Haniah [Tengku Nani]. m. (second) Inche' Hajjah Ramlah. m. (third) Inche' Hajjah Nur Hayati (no issue). He had issue, four sons and two daughters by his first wife, and four sons and three daughters by his second wife: &lt;br /&gt;• a) Tengku Rizal bin Tengku Shahrial Sinar (s/o Tengku Nur Haniah). &lt;br /&gt;• b) Tengku Faisal bin Tengku Shahrial Sinar [Ang] (s/o Tengku Nur Haniah). m. … He has issue: &lt;br /&gt;• i) Tengku Fadli bin Tengku Faisal. &lt;br /&gt;• c) Tengku Chairal bin Tengku Shahrial Sinar [Ong] (s/o Tengku Nur Haniah). m. … &lt;br /&gt;• d) Tengku Izral bin Tengku Shahrial Sinar [Ibung] (s/o Tengku Nur Haniah). m. … &lt;br /&gt;• e) Tengku Mirsal bin Tengku Shahrial Sinar (s/o Inche' Hajjah Ramlah). &lt;br /&gt;• f) Tengku Julizar Ramdan Shah bin Tengku Shahrial Sinar (s/o Inche' Hajjah Ramlah). &lt;br /&gt;• g) Tengku Azwin Shahri bin Tengku Shahrial Sinar (s/o Inche' Hajjah Ramlah). &lt;br /&gt;• h) Tengku Azlin Shahputra bin Tengku Shahrial Sinar (s/o Inche' Hajjah Ramlah). &lt;br /&gt;• i) Tengku Mayra binti Tengku Shahrial Sinar [Neneng] (d/o Tengku Nur Haniah). m. Dr. Tengku Amirf ud-din bin Tengku Hamid, of Langkat. She has issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt;• i) Tengku Shahputra bin Tengku Amirf ud-din. b. 1976. &lt;br /&gt;• i) Tengku Shahfitri binti Tengku Amirf ud-din. b. 1974, educ. Australia. &lt;br /&gt;• ii) Tengku Mirafita binti Tengku Amirf ud-din. b. 1987. &lt;br /&gt;• j) Tengku Fazilla Agustina binti Tengku Shahrial Sinar [Titien] (d/o Tengku Nur Haniah). m. … &lt;br /&gt;• k) Tengku Shahfira binti Tengku Shahrial Sinar (d/o Inche' Hajjah Ramlah). &lt;br /&gt;• l) Tengku Marlina Suriyani binti Tengku Shahrial Sinar (d/o Inche' Hajjah Ramlah). &lt;br /&gt;• m) Tengku Maslina Manja binti Tengku Shahrial Sinar (d/o Inche' Hajjah Ramlah). &lt;br /&gt;• 3) Tengku Abu Nawar Sinar, who succeeded as H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan of Serdang (s/o Inche' Raya) - see below. &lt;br /&gt;• 4) Tengku Lukman al-Hakim Sinar, Tengku Temenggong Mangku Negara, who succeeded as H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah II ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan and Head of the Royal House of Serdang (s/o Tuanku Hajjah Zahara) - see below. &lt;br /&gt;• 5) Tengku Abu Kasim Sinar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah (s/o Tuanku Hajjah Zahara). m. Inche' Dahlia. He had issue, three sons: &lt;br /&gt;• a) Tengku 'Umar Shadiq bin Tengku Abu Kasim Sinar. &lt;br /&gt;• b) Tengku Ismar ud-din Shariq bin Tengku Abu Kasim Sinar. &lt;br /&gt;• c) Tengku Firuz Shafiq bin Tengku Abu Kasim Sinar. &lt;br /&gt;• 1) Tengku Putri Nazri [Nosri] binti al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah (d/o Inche' Kurnia Purba). m. at Istana Kota Galuh, Simpang Tiga, Perbaungan, 27th May 1933, as his first wife, Tuanku Mahmud bin Tuanku 'Abdu'l Majid (b. 1895; m. second, 1952, Tengku Sharifa Fadhlun binti Tengku Sayyid Embong, former Maharatu of Siak Sri Indrapura, and d. 1958), youngest son of Tuanku 'Abdu'l Majid bin Tuanku Pangeran Abbas, of Kuala Bati, by his wife, Pocut Meurah Biheui. She had issue - see Indonesia (Aceh). &lt;br /&gt;• 2) Tengku Fatima Zahriah [Zahry] binti al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah (d/o Inche' Raya). &lt;br /&gt;• 3) Tengku Zainabah binti al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah (d/o Tuanku Hajjah Zahara). &lt;br /&gt;[1946 - 1960] Tuanku Rajih Anwar ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Tengku Putra Mahkota, Head of the Royal House of Serdang. b. at Kota Bahru, 23rd March 1900, eldest son of H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang, by his second wife, Inche' Kurnia Purba, educ. Malay Sch., Perbuangan; MULO, Batavia. Became Heir Apparent at birth. Recognised as such by the Governor-General of the NEI and granted the title of Tengku Besar, 8th October 1918. Invested with the title of Tengku Putra Mahkota 1932. Served as Deputy Ruler during the latter part of his father's reign. Acceded to the Indonesian Republic together with his father on 4th December 1945. Succeeded his father as head of the Royal House of Serdang, 13th October 1946. Dir. Midden Serdang Landbouw Maatschappij 1920-1946. m. (first) Inche' Nelli. m. (second) January 1931, Tengku Lailan Shahfinah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l 'Abdu'l Jalil Rahmad, Tengku Mas (b. 24th October 1903), widow of H.H. Paduka Sri Sultan Maulana Ahmad Sulaiman ud-din, Sultan of Bulungan, and eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his third wife, H.H. Tengku Fatima Sham binti Tengku 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri, daughter of Tengku Putih 'Abdu'l Kadir of Serdang. He d. at Medan, 28th December 1960 (bur. Royal Mausoleum, Sulaimaniya Mosque, Perbuangan), having had issue, two sons and four daughters by his first wife, and four sons and two daughters by his second: &lt;br /&gt;• 1) Tengku Ziwar bin Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (s/o Inche' Nelli). He has issue: &lt;br /&gt;• a) Tengku Achyar bin Tengku Ziwar. &lt;br /&gt;• b) Tengku Jofemis Spachendra binti Tengku Ziwar. &lt;br /&gt;• 2) Tengku Athar bin Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (s/o Inche' Nelli). He has issue, four sons and four daughters:  &lt;br /&gt;• a) Tengku Sharif ul-Anwar bin Tengku Athar. &lt;br /&gt;• b) Tengku Eduard Arwar bin Tengku Athar. &lt;br /&gt;• c) Tengku Bahdar Johan bin Tengku Athar. &lt;br /&gt;• d) Tengku Sadiq Iskandar bin Tengku Athar. &lt;br /&gt;• a) Tengku Hadj Shafinah binti Tengku Athar. &lt;br /&gt;• b) Tengku Zita Cadlyza (?) binti Tengku Athar. &lt;br /&gt;• c) Tengku Sabrina Junita binti Tengku Athar. &lt;br /&gt;• d) Tengku Lucy Lailani binti Tengku Athar. &lt;br /&gt;• 3) Tengku Peter Azwar bin Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (s/o Tengku Lailan Shahfinah). He has issue, two daughters: &lt;br /&gt;• a) Tengku Sabina binti Tengku Peter Azwar. &lt;br /&gt;• b) Tengku Elfina binti Tengku Peter Azwar. &lt;br /&gt;• 4) Tengku Evert Anhar bin Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (s/o Tengku Lailan Shahfinah). He has issue, three sons and one daughter: &lt;br /&gt;• a) Tengku Evan bin Tengku Evert Anhar. &lt;br /&gt;• b) Tengku Evin bin Tengku Evert Anhar. &lt;br /&gt;• c) Tengku Evoo bin Tengku Evert Anhar. &lt;br /&gt;• a) Tengku Evalina binti Tengku Evert Anhar. &lt;br /&gt;• 5) Tengku Ishar bin Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar. &lt;br /&gt;• 6) Tengku Saif ul-Nahar bin Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar. &lt;br /&gt;• 1) Tengku Nef Dewani binti Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (d/o Inche' Nelli). m. Tengku Dhaifah bin Tengku Muhammad Hanif, third son of Tengku Muhammad Hanif bin Sutan Muhammad Idris, sometime Wakil at Perbaungan. She had issue, five daughters - see above. &lt;br /&gt;• 2) Tengku Romani binti Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (d/o Inche' Nelli). &lt;br /&gt;• 3) Tengku Nazli binti Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (d/o Inche' Nelli). &lt;br /&gt;• 4) Tengku Sita Sharitsa binti Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar. (d/o Inche' Nelli). m. Tengku Muhammad Denial.  &lt;br /&gt;• 5) Tengku Zahiar binti Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (d/o Inche' Nelli). &lt;br /&gt;• 6) Tengku Cornelia binti Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar. b. 30th April 1934 (d/o Tengku Lailan Shahfinah). m. Tengku Hisam ud-din. &lt;br /&gt;• 7) Tengku Lydia binti Tengku Putra Mahkota Tuanku Rajih Anuar (d/o Tengku Lailan Shahfinah). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;[1960]- 2001 H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah al-Haj ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan and Head of the Royal House of Serdang. b. at Kraton Kota Galuh, Perbuangan Bandar Setia, 13th April 1932, as Tengku Abu Nawar Sinar, second son of H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang, by his fourth wife, Inche' Hajjah Zaharah, educ. HLS, and MULO, Medan, and at HIS and Sch. Grafika, Jakarta. Succeeded on the death of his elder brother as head of the Royal House of Serdang, 28th December 1960. Recognised as Permangku Adat, 17th November 1996. Elected by the mobles and officials as Sultan with the reign title of Paduka Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah al-Haj, at Gedong Juang, Perbuangan, 5th January 1997. Dir. CV PUTRI, Chair. PT. PPP Serdang Tengah (Dir. 1971-2002), PT. PPP Serdang Hilir, Presdt-Dir. PT Blumei, etc. m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, H.H. Tengku Mulfi binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Tengku Permaisuri, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his first wife, Raja Amina binti Raja Chulan, Tengku Puan Indra Raja, daughter of Raja Sir Chulan ibni al-Marhum Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, KBE, CMG, Raja di-Hiler, of Perak. He d. at Medan, 28th January 2001 (bur. Royal Mausoleum, Sulaimaniya Mosque, Perbuangan), having had issue, three sons and three daughters: &lt;br /&gt;• 1) Tengku Sulaiman Amal ud-din bin Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah, Raja Muda. &lt;br /&gt;• 2) Dr Tengku Ahmad Tala'a bin Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah, Tengku Pangeran Sri Mahkota. Installed as Timbalan Kepala Adat, 12th June 2002. &lt;br /&gt;• 3) Tengku Haris 'Abdu'llah bin Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah. &lt;br /&gt;• 1) Tengku Salimat ul-Mardiah Laila binti Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah. m. Tenku Zainal Abidin bin Tengku Muhammad Arifin (b. 1st January 1946), sometime Branch Mngr. Pertama State Oil Co., youngest son of Tengku Muhammad Arifin Tobo bin Tengku 'Abdu'l Kadir, sometime Chief Cmsnr. Indonesian National Police Force - see above.  &lt;br /&gt;• 2) Tengku Haniza binti Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah. &lt;br /&gt;• 3) Tengku Melfira binti Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah (d/o Tengku Mulfi). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, October 1991, Tengku Otteman Hidayat bin Tengku Muhammad Ansari, son of Tengku Muhammad Ansari bin Tengku Muhammad Hidayat, by his wife, Tengku Zaira binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, fifth daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. She has issue, one son - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;2001 H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah II ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan and Head of the Royal House of Serdang. b. at Istana Kota Galuh, Simpang Tiga Perbaungan, 27th July 1933, as Tengku Lukman al-Hakim Sinar, third son of H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang, by his fourth wife, Tuanku Hajjah Zahara, educ. HLS, MULO, SMS and Univ. Sumatera Utara, Medan (SM 1962); and Univ. Jayabaya, Jakarta (SH 1969). Styled Tengku Temenggong Mangku Negara, before his accession. Sec. Dewan Kesenian Medan 1972-1975, newspaper columnist for "Waspada" since 1987. Succeeded on the death of his elder brother as Head of the Royal House of Serdang, 28th January 2001. Installed as Sultan with the reign title of Paduka Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah II, at the Balairung Adat Istana Dar ul-Arif, Kraton Kota Galuh, Perbuangan Bandar Setia, 12th June 2002. Conservationist, historian and author of "Batu Kecil: Tuanku Seri Paduka Gocah Pahlalawan" (1959), "Sari Sejarah Serdang" (1971), "Silsilah Kesultanan Deli dan Istana Maimun" (1975), "Sejarah Keseultanan Melayu di Sumatera Timur" (1985), "Perang Sunggal" (1987), "The History of Medan in the olden times" (1996), "National Revolution and the so-called Social Revolution in East Sumatra" (1997),"Teromba Silsilah Radja2 dan Bangsawan Serdang" (2001), "Kebudayaan Melayu Sumatera Timur" (2002), etc. Dir. CV Las Jaya, Chair. PT Perkebunan Serdang Tengah 1972-2001, and PT Benteuka, Mbr. Advisory Cncl. PT Perkebunan Serdang Hilir, etc. He has issue, one son and five daughters: &lt;br /&gt;• 1) YAM Tengku Bashar ud-din Shukri [Basyaruddin Shouckry] bin Tuanku Lukman al-Hakim Sinar, Tuan Muda Sri di-Raja.  &lt;br /&gt;• 1) Dr. Tengku Rabitta Cherise [Cherrys] binti Tuanku Lukman al-Hakim Sinar, MPH. &lt;br /&gt;• 2) Dr. Tengku Silvana Khair un-nisa [Chairuanissa] binti Tuanku Lukman al-Hakim Sinar. b. at Medan, 16th September 1954, educ. Australia (MA). Lecturer at Univ. Sumetera Utara, Medan. &lt;br /&gt;• 3) Tengku Eliza Nurhan binti Tuanku Lukman al-Hakim Sinar. &lt;br /&gt;• 4) Dr Tengku Thurhaya Zain binti Tuanku Lukman al-Hakim Sinar, MA. &lt;br /&gt;• 5) Tengku Myrha Rozanna binti Tuanku Lukman al-Hakim Sinar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115751505386095862?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751505386095862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751505386095862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/09/serdang-dan-karo.html' title='Serdang dan Karo'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115751462796892733</id><published>2006-09-05T20:43:00.000-07:00</published><updated>2006-09-05T20:50:28.140-07:00</updated><title type='text'>Asahan Dan Marpaung</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Mansur Marpaung atau yang dikenal dengan Tuanku Asahan ikut serta dalam membangun kesultanan Asahan. Untuk mengetahui keterlibatannya, berikut silsilah keturunan raja Marpaung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1630 - 16xx Y.T.M. Sri Paduka Raja 'Abdu'l Jalil I ibni al-Marhum Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat [al-Marhum Tangkahan Sitarak], Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, younger son of H.H. Paduka Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Perkasa 'Alam Shah Johan Berdaulat Zainal-Abidin ibni al-Marhum Sultan Mansur Shah, Sultan of Aceh Dar us-Salam, by his wife Siti Ungu Putri Berinai [Siti Unai], daughter of Raja Halib [al-Marhum Mankat di-Jambu], of Pinangawan, by his second wife, the daughter of a Raja of Angkola. m. (first) Amina, daughter of Ompa Liang, Bendahara. m. (second) Tengku Ampuan, daughter of Tengku Sulung [al-Marhum mangkat di-Simpang], Raja of Panai and Bila. He d. at Tangkahan Sitarak, 16xx, having had issue: &lt;br /&gt;• 1) Y.T.M. Sri Paduka Raja Said Shah ibni al-Marhum Raja 'Abdu'l Jalil, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan (s/o Amina) - see below. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Raja Paduka. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Raja Huma (s/o the Tengku Ampuan). Resided in Bila. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Raja Marsah (s/o the Tengku Ampuan). Resided in Bila. &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Raja Busu (s/o the Tengku Ampuan). Resided in Bila. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;16xx - 17xx Y.T.M. Sri Paduka Raja Said Shah ibni al-Marhum Raja 'Abdu'l Jalil [al-Marhum Simpang Tiga], Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, eldest son of Y.T.M. Sri Paduka Raja 'Abdu'l Jalil I ibni al-Marhum Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat [al-Marhum Tangkahan Sitarak], Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, by his first wife, Amina, daughter of Ompa Liang, Bendahara. Succeeded on the death of his father, 16xx. m. Inche' Halijah, daughter of the Bendahara. He d. at Simpang Tiga, 17xx, having had issue: &lt;br /&gt;• 1) Y.T.M. Sri Paduka Raja Muhammad Mahrum Shah ibni al-Marhum Raja Said Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan - see below. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;17xx - 1760 Y.T.M. Sri Paduka Raja Muhammad Mahrum Shah ibni al-Marhum Raja Said Shah [al-Marhum Gagap], Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, son of Y.T.M. Sri Paduka Raja Said Shah ibni al-Marhum Raja 'Abdu'l Jalil [al-Marhum Simpang Tiga], Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, by his wife, Inche' Halijah, daughter of the Bendahara. m. Inche' Samida, daughter of the Bendahara. He d. at Sungei Banitan, 1760, having had issue, three sons: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Raja 'Abdu'l Jalil, who succeeded as Y.T.M. Sri Paduka Raja 'Abdu'l Jalil Shah II ibni al-Marhum Raja Muhammad Mahrum Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan (s/o Samida) - see below. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Raja Muhammad Shah 'Abdu'l Ja'afar ibni al-Marhum Raja Muhammad Mahrum Shah, Paduka Raja (s/o Samida). He had issue, three sons: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Raja Biong Besar. He had issue, three sons: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Raja Uteh Muhammad Yunus bin Raja Biong Besar. He had issue, seven sons: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Muhammad Dewa bin Raja Uteh Muhammad Yunus [Raja Sulung]. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Raja Muhammad Abu Bakar bin Raja Uteh Muhammad Yunus [Raja Tengah]. m. a lady of Arabian origin. He had issue, two sons and two daughters: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Ngah 'Ali bin Raja Muhammad Abu Bakar, Sri Maharaja. m. (first) a lady from Batu Bara. m. (second) a Tengku from Deli. m. (third) Y.M. Sharifa Maheran, a lady of Arab descent from Palembang. m. (fourth) Inche' Lebar. He had issues, four sons and four daughters: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Raja Muhammad Nur bin Raja Ngah 'Ali [Raja Alang] (s/o of the lady from Batu Bara). m. Inche' Amina, a lady from Malacca. He had issue, one daughter: &lt;br /&gt;• 1. Y.M. Raja Zainab binti Raja Alang Muhammad Nur. b. ca. 1913. m. (first) ca. 1927, Y.B.M. Tengku Hitam 'Umar bin Tengku Muda Usman, Tengku Sri Setia di-Raja (b. 27th December 1884; d. 25th April 1945), sometime State Sec. of Trengganu, son of Y.M. Tengku Usman bin Tunku 'Abdu'l Jalil, of Singapore, by his third wife, Cik Maimuna. m. (second) Encik Muhammad Osman. She d. at Singapore, 4th May 1979, having had issue, one son and two daughters - see Malaysia (Johor). &lt;br /&gt;• (ii) Y.M. Raja 'Abdu'l Majid bin Raja Ngah 'Ali (s/o of the lady from Batu Bara). m. Hajah Uteh, daughter of the Datuk Bandar of Kisaran. He had issue, three sons and one daughter: &lt;br /&gt;• 1. Y.M. Raja Ahmad bin Raja 'Abdu'l Majid. &lt;br /&gt;• 2. Y.M. Raja Montel bin Raja 'Abdu'l Majid. &lt;br /&gt;• 3. Y.M. Raja Gusti bin Raja 'Abdu'l Majid. &lt;br /&gt;• 1. Y.M. Raja Maskiah binti Raja 'Abdu'l Majid. &lt;br /&gt;• (iii) Y.M. Raja Mansur bin Raja Ngah 'Ali [Raja Suloh] (s/o Sharifah Maheran). m. Che' Esah binti Abdullah, a Chinese lady who converted to Islam. &lt;br /&gt;• (iv) Y.M. Raja Ni'mat bin Raja Ngah 'Ali (s/o Sharifah Maheran). m. Che' Ke'ah. He had issue, one son: &lt;br /&gt;• 1. Y.M. Raja Kadir bin Raja Ni'mat. &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Raja Siti Halima binti Raja Ngah 'Ali (d/o the lady from Batu Bara). m. (first) Y.M. Raja 'Ali. m. (second) Ja'afar Sidek, of Bila. m. (third) Haji Razali; (fourth) Muhammad Daim. She has issue, one daughter, by her first husband. &lt;br /&gt;• (ii) Y.M. Raja Pe'ah (Raja Imah) binti Raja Ngah 'Ali (d/o the Deli princess). m. Raja Alang Sharif, of Kota Pinang. She had issue, four children. &lt;br /&gt;• (iii) Y.M. Raja Amina binti Raja Ngah 'Ali (d/o Sharifah Maheran). m. Y.M. Raja Amir bin Tengku Muhammad of Kota Pinang, son of Y.A.M. Raja Kongah Halijah (Raja Jijah), daughter of the Yang di-Pertuan of Kota Pinang. She had issue, one son and six daughters. &lt;br /&gt;• (iv) Y.M. Raja Nambut binti Raja Ngah 'Ali (d/o Inche Lebar). m. (first) a member of the Aceh Royal Family. m. (second) Haji Musa. She had issue, one daughter, by her first husband. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Raja Alang Ismail bin Raja Muhammad Abu Bakar. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Uteh binti Raja Muhammad Abu Bakar. m. as his first wife, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan (b. 1862; d. at Tanjung Balai, 7th July 1915), eldest son of Y.A.M. Tengku Muhammad 'Adil [Babul] ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, by his first wife, Inche' Sri Bulan, daughter of the Panglima Perang. She had issue, at least one son - see below. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Raja Devi binti Raja Muhammad Abu Bakar. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Raja Uteh Kidal bin Raja Uteh Muhammad Yunus. He had issue, two sons: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Muhammad Dewa bin Raja Uteh Kidal. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Raja Musai bin Raja Uteh Kidal. &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Raja Biong bin Raja Uteh Muhammad Yunus. &lt;br /&gt;• (5) Y.M. Raja Akub bin Raja Uteh Muhammad Yunus. &lt;br /&gt;• (6) Y.M. Raja Banggah bin Raja Uteh Muhammad Yunus. &lt;br /&gt;• (7) Y.M. Raja Busu Gila bin Raja Uteh Muhammad Yunus. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Raja Duding bin Raja Biong Besar. He had issue, four children: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Biong Longah bin Raja Duding. He had issue: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Ongah Rawa. He had issue one child: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Raja Uteh. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Raja Alang bin Raja Biong Longah. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Raja Alang bin Raja Duding. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Ongah Jangnah binti Raja Duding. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Raja Halima [Alimah] binti Raja Duding. &lt;br /&gt;• iii) Y.A.M. Raja Panglima Besar. He had issue, four children: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Tua Mahmud bin Raja Panglima Besar. He had issue, three children: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Tongah. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Raja Ulung Toba. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Raja Biong. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Raja Biong bin Raja Panglima Besar. He had issue, three children. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Raja Alang Arab bin Raja Panglima Besar. He had issue, five children: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Biong. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Raja Andak. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Raja Busu. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Raja Taulung Nembah. &lt;br /&gt;• (e) Y.M. Raja Ongah. &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Raja Andak Kidu bin Raja Panglima Besar. He had issue, three children: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Bayak. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Raja Ulung. He had issue, three children: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Raja Uteh. &lt;br /&gt;• (ii) Y.M. Raja xxx. &lt;br /&gt;• (iii) Y.M. Raja Biong. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Raja Uteh. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Raja Undin bin Raja Muhammad Shah 'Abdu'l Ja'afar. He had issue, two sons: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Raja Sulung Hasan bin Raja Undin. He had issue, two sons and one daughter: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Biong bin Raja Hasan. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Raja Alang Abdil bin Raja Hasan. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Sulung Banun binti Raja Hasan. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Raja Andak 'Abu Bakar bin Raja Undin. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Raja Hitam. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Raja Kechil Besar (s/o Samida). He had issue, six children: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Raja Kisaran. He had issue, five children, including: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Raja Sulung Lila. He had issue, three children: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Ulung. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Raja Ongah. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Raja Alang. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Raja Sri xxx. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Raja Pantai &lt;br /&gt;• c) Y.M. Raja Ujung Padang. He had issue, two sons and three daughters: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Raja Saliman. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Raja Hitam, who had issue, one daughter: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Sri. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Raja Sulung. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Raja Tuah Rapiah. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Raja Sulung Duli. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Raja Mandak, who had issue, two children: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Raja Sulung Mai, who had issue, one child. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Raja Tuah Agar, who had issue, two children, including: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Tuah Gambang. &lt;br /&gt;• e) Y.M. Raja Alang. &lt;br /&gt;• f) Y.M. Raja Unchu. &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Raja Amaran binti al-Marhum Raja Muhammad Mahrum Shah, Engku Inche' Sejuk. m. after 1748, H.H. Paduka Sri Raja Haji bin Raja Chelak [Raja Haji al-Shahid Fisabillu'llah Ta'ala al-Marhum Teluk Ketapang], Yang di-Pertuan Muda of Riau (k. in battle at Tanjong Palas, Malacca, 19th June 1784), eldest son of H.H. Paduka Sri Raja Chelak bin Daeng Rilaga, Yang di-Pertuan Muda of Riau, first wife, Inche' Tomita. She had issue, one daughter - see Indonesia (Riau). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1760 - 1765 Y.T.M. Sri Paduka Raja 'Abdu'l Jalil Shah II ibni al-Marhum Raja Muhammad Mahrum Shah [al-Marhum Mangkat di Sungei Raja], Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, eldest son of Y.T.M. Sri Paduka Raja Muhammad Mahrum Shah ibni al-Marhum Raja Said Shah [al-Marhum Gagap], Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, by his wife, Inche' Samida, daughter of the Bendahara. m. Inche' Salama, daughter of the Bendahara. He d. at Sungei Raja, 1765, having had issue, three sons: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Raja Deva Shah, who succeeded as Y.T.M. Sri Paduka Raja Deva Shah ibni al-Marhum Raja 'Abdu'l Jalil, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan (s/o Salama) - see below. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Raja 'Abdu'l Zalim ibni al-Marhum Raja 'Abdu'l Jalil, Raja Muda (s/o Salama). &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Sutan Muda (s/o Salama). He had issue, three sons and one daughter, including: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Sutan bin Sutan Muda. He had issue, a son and a daughter: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Tua bin Tengku Sutan. m. a daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sutan Gegar Alam, Yang di-Pertuan Besar of Panai. He had issue: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Sulung binti Tengku Tua. m. as his first wife, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah I ibni al-Marhum Raja Muhammad 'Ali Shah, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of the State of Asahan (b. 1806; d. at Sirantau, 10th February 1859, bur. Kampung Masjid), son of Y.T.M. Sri Paduka Raja Muhammad 'Ali Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah, Raja and Yang di-Pertuan of the State of Asahan, by his wife, Tengku Ampuan, daughter of Tengku Sutan. She had issue - see below. &lt;br /&gt;• i) Y.A.M. Tengku Ampuan. m. Y.T.M. Sri Paduka Raja Muhammad 'Ali Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah, Raja and Yang di-Pertuan of the State of Asahan (d. at Sirantau, 1813), second son of Y.T.M. Sri Paduka Raja Deva Shah ibni al-Marhum 'Abdu'l Jalil, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, by his third wife, a Chinese lady from Malacca. She had issue - see below. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Gagap bin Sutan Muda. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Raja Ja'afar bin Sutan Muda. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1765 - 1805 Y.T.M. Sri Paduka Raja Deva Shah ibni al-Marhum 'Abdu'l Jalil [al-Marhum Mangkat di Pasir Putih], Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, eldest son of Y.T.M. Sri Paduka Raja 'Abdu'l Jalil Shah II ibni al-Marhum Raja Muhammad Mahrum Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, by his wife, Inche' Salama, daughter of the Bendahara. m. (first) a daughter of the Bendahara. m. (second) a daughter of the Raja of Tanah Java. m. (third) a Chinese lady from Malacca. m. (fourth) Inche' Jahu, another lady from Malacca. m. (fifth) Sayyida …He d. at Pasir Putih, 1805, having had issue, three sons: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Raja Musa, who succeeded as Y.T.M. Sri Paduka Raja Said Musa Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan (s/o the third wife) - see below. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Raja Muhammad 'Ali, who succeeded as Y.T.M. Sri Paduka Raja Muhammad 'Ali Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan (s/o the third wife) - see below. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Raja Laut (s/o Inche' Jahu). &lt;br /&gt;• Raja Deva Shah, also had a grandson: &lt;br /&gt;• Y.M. Raja Ongah Lam Shah. m. Y.A.M. Tengku Busu, youngest daughter of H.H. Sri Paduka Raja Muhammad Ishaq ibni al-Marhum Raja Said Musa Shah, Raja of Kualuh and Leidong and Yang di-Pertuan Muda of Asahan. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1805 - 1808 Y.T.M. Sri Paduka Raja Said Musa Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah [al-Marhum Mangkat di-Rantau Panjang], Raja and Yang di-Pertuan of the State of Asahan, eldest son of Y.T.M. Sri Paduka Raja Deva Shah ibni al-Marhum 'Abdu'l Jalil, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, by his third wife, a Chinese lady from Malacca. Succeeded on the death of his father, 1805. m. Inche' Fatima, daughter of Megat Gunug, Bendahara. He d.s.p. at Rantau Panjang, 1808 (succ. by his younger brother), having had issue, one posthumous son and one daughter, including: &lt;br /&gt;• 1) H.H. Sri Paduka Raja Muhammad Ishaq ibni al-Marhum Raja Said Musa Shah, Raja of Kualuh and Leidong and Yang di-Pertuan Muda of Asahan. b. posthumously, three months after the death of his father, 1808 (s/o Inche' Fatima). He had issue, three sons and four daughters - see Indonesia (Kualuh), including: &lt;br /&gt;• a) H.H. Sri Paduka Tuanku Ni'matu'llah Shah ibni al-Marhum Raja Muhammad Ishaq, Sultan of Asahan and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong - see below and Indonesia (Kualuh). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1808 - 1813 Y.T.M. Sri Paduka Raja Muhammad 'Ali Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah, Raja and Yang di-Pertuan of the State of Asahan, second son of Y.T.M. Sri Paduka Raja Deva Shah ibni al-Marhum 'Abdu'l Jalil, Raja and Yang di-Pertuan of Asahan, by his third wife, a Chinese lady from Malacca. Succeeded on the death of his elder brother, 1808. m. (first) Y.A.M. Tengku Ampuan, sister of Y.A.M. Tengku Tua, and daughter of Y.A.M. Tengku Sutan. He d. at Sirantau, 1813 (succ. by his nephew), having had issue, a son and a daughter: &lt;br /&gt;• 1) H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah I ibni al-Marhum Raja Muhammad 'Ali Shah, Sultan and Yang di-Pertuan of the State of Asahan (s/o the Tengku Ampuan) - see below. &lt;br /&gt;• 1) H.H. Raja Siti Asmah binti Raja Muhammad 'Ali Shah, Tengku Maha Suri Raja (d/o the Tengku Ampuan). m. 1852, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Panglima Usman al-Sani Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Panglima Mangedar 'Alam Shah [Marhum Masjid], Sultan of Deli (b. at Labuhan 1809; d. there, 22nd October 1857, Masjid Raya), second son of Panglima Sultan 'Amal ud-din I Mangedar 'Alam ibni al-Marhum Tuanku Panglima Gandar Wahid, Sultan of Deli. She had issue, one son&lt;br /&gt;1813 - 1859 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah I ibni al-Marhum Sultan Muhammad 'Ali Shah [al-Marhum Kampung Masjid], Sultan and Yang di-Pertuan Besar of the State of Asahan. b. 1806, educ. privately. Proclaimed by his uncle, Tengku Tua and Tengku Biyung Kechil, on the death of his father, 1813. Asserted his independence from Aceh sometime during the middle of the nineteenth century. Assumed the title of Sri Paduka Tuanku al-Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, and recognised as such by the British and Dutch authorities. m. (first) Y.M. Tengku Sulung (b. ca. 1815), daughter of his uncle, Y.A.M. Tengku Tua, of Bedagai, by his wife, a daughter of the Raja of Panai. m. (second) Tuan Telaha [Tuan Trus], daughter of a nephew of the Batak Raja of Buntu Panai. He d. at Si Rantau, 10th February 1859 (bur. there at the Kampung Masjid), having had issue, five sons and four daughters by his first wife, and two sons and one daughter by his second: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Ahmad Shah, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Ahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Asahan (s/o Tengku Sulung) - see below.  &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Amir ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, Tengku Pangeran Besar Muda. b. 1840 (s/o Tengku Sulung). Exiled to Ambon, 1865. m. (first) a daughter of Guru Babiat, Raja of Duluk. m. (second) January 1865 (nikah), Y.A.M. Tengku Andak binti Tuanku Sutan Bidar Alam Shah, daughter of Y.T.M. Tuanku Sutan Bidar Alam Shah II, Raja of Bila. He d. 1913 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, three sons: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Muhammad 'Ali bin Tengku Amir, Tengku Mantri. He had issue, four sons: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Adenan bin Tengku Muhammad 'Ali. DH of Kisaran. He had issue, three sons and one daughter: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Idris bin Tengku Adenan. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Bahar ud-din bin Tengku Adenan. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Putih bin Tengku Adenan. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Hanum binti Tengku Adenan. She was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of her family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Sahman bin Tengku Muhammad 'Ali. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Mahmud bin Tengku Muhammad 'Ali. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• iv) Y.M. Tengku Bahman bin Tengku Muhammad 'Ali. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Muhammad Ishaq bin Tengku Amir. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Ahmad bin Tengku Amir. DH of Masihi. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Zulkarnain bin Tengku Ahmad, educ. Univ. of Leiden (Indische Jurist). &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Muhammad 'Adil [Babul] ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. b. at Tanjung Balai, 1840 (s/o Tengku Sulung), educ. privately. Appointed as Heir Apparent with the title of Raja Muda. Exiled to Riau, 1865. m. (first) 1861, Encik Sri Bulan (b. ca. 1840), daughter of the Panglima Perang. m. (second) Encik Kadariah, a lady from Palembang. m. (third) Encik … m. (fourth) at Cianjar, Java, ca. 1892, Radin Ayu Sariah (b. at Cianjar, ca.1870; d. 24th January 1925), a Sundanese lady. m. (fifth) Daeng …, a Bugis lady. He d. 1908, having had issue, eight sons and five daughters: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Ngah Tanjung, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan (s/o Sri Bulan) - see below.  &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Alang Yahya bin Tengku Muhammad 'Adil. b. at Tanjung Balai, 1880 (s/o Sri Bulan). Regent for his nephew with the title of Sri Paduka Tengku Regent from 7th July 1915-15th June 1933. Rcvd: Knt. of the Order of the Netherlands Lion (24.8.1928), and Officer of the Order of Orange-Nassau (31.8.1920). m. (first) Tengku Ulong Serdang, from Palembang. m. (second) Y.M. Tengku Biong binti Tengku Alam Shah, daughter of Y.A.M. Tengku Alam Shah, Raja of Kisaran. He d. at Tanjung Balai, 23rd March 1940 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, two daughters by his first wife, and seven sons and two daughters by his second wife: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku 'Abdu'l Majid bin Tengku Alang Yahya (s/o Tengku Biong). DH of Tanjung Balai. m. Y.A.M. Tengku Aisha ['Isah] binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d. 1987), younger daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Shah, Sultan of Asahan. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, three daughters: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Khadariyah binti Tengku 'Abdu'l Majid. m. (first) Tengku 'Ala ud-din bin Tengku Haji Bahrum (k. at Tanjung Balai, during the "social revolution", 4th March 1946, and bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), son of Y.M. Tengku Haji Bahrum, of Bedagai. m. (second) Y.M. Tengku Muhammad 'Ali. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Rawiya binti Tengku 'Abdu'l Majid. m. (first) Y.M. Tengku Nurlain bin Tengku Muhammad Ishaq (k. at Tanjung Balai, during the "social revolution", 4th March 1946, and bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), son of Y.A.M. Tengku Ishaq ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah - see below. m. (second) Y.M. Tengku Shuaib bin Tengku Nazar, son of Y.M. Tengku Nazar bin Tengku Muhammad 'Adil - see below. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Hania binti Tengku 'Abdu'l Majid. m. (first) Y.M. Tengku Madrail bin Tengku Dollah (k. at Tanjung Balai, during the "social revolution", 4th March 1946, and bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), son of Y.M. Tengku Dollah bin Tengku Alang Yahya, by his wife, Y.M. Tengku Ijjah binti Tengku Rahmad, daughter of Y.M. Tengku Rahmad bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran Bendahara Putra of Bedagai, in Deli. m. (second) Y.M. Tengku Bahar ud-din bin Tengku Kechil Muda, of Kisaran. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku 'Abdu'l Rahman bin Tengku Alang Yahya (s/o Tengku Biong). He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, six sons: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Muhammad Yasir bin Tengku 'Abdu'l Rahman. m. (first) Y.M. Tengku Rahima binti Tengku Mansur Shah, second daughter of Y.A.M. Tengku Mansur Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, Tengku Besar, sometime Regent of Kualuh, by his wife, Y.A.M. Tengku Darjat binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Shah, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. m. (second) Che' Zamzam Khairani Pane, from Mandailing. m. (third) Che' Mariani, from Padang. He had issue, eight sons and seven daughters:  &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Azwar bin Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Faizal bin Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Iskandar bin Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Badul Shah bin Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (e) Y.M. Tengku Ahmad Rubaini bin Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (f) Y.M. Tengku Heru Taib bin Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (g) Y.M. Tengku Salman bin Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (h) Y.M. Tengku Harry bin Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Karmela binti Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Henny binti Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Tita binti Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Zulvina binti Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (e) Y.M. Tengku Linda binti Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (f) Y.M. Tengku Wenny binti Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (g) Y.M. Tengku Febian binti Tengku Muhammad Yasir. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Rum Shah bin Tengku 'Abdu'l Rahman, Duta Amerta. He had issue, two sons: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Yunus bin Tengku Rum Shah. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Baddi bin Tengku Rum Shah. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Muhammad Hamdan bin Tengku 'Abdu'l Rahman. m. Y.M. Tengku Cah. He d. at Medan, 1996, having had issue, two sons and three (or five) daughters: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Farial bin Tengku Muhammad Hamdan. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Uddin bin Tengku Muhammad Hamdan. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Fera binti Tengku Muhammad Hamdan. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Siti Khadija binti Tengku Hamdan. b. at Langkat Pakam, 6th April 1969. m. at Medan, 21st August 1994, Y.M. Tengku Deddy bin Tengku Haji Bustaman (b. at Medan, 1st April 1969), third son of Y.M. Tengku Haji Bustamam bin Tengku Salim, by his first wife, Y.M. Tengku Mustari Hanim binti Tengku Lukman, daughter of Y.M. Tengku Lukman bin Tengku Alang Yahya.  She has issue, two sons and two daughters - see above. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Memeng binti Tengku Muhammad Hamdan. &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Tengku Amir Shah bin Tengku 'Abdu'l Rahman, Datuk Bentara. m. Y.M. Tengku Maysara. He had issue, five sons and two daughters: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Cik bin Tengku Amir Shah. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Dewa bin Tengku Amir Shah. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Kelana bin Tengku Amir Shah. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Fadel bin Tengku Amir Shah. &lt;br /&gt;• (e) Y.M. Tengku Husain bin Tengku Amir Shah. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Murni binti Tengku Amir Shah. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Madda binti Tengku Amir Shah. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Ismail bin Tengku Alang Yahya (s/o Tengku Biong). m. Y.A.M. Tengku Kemala binti al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. He had issue, an only son: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Yachmon bin Tengku Ismail. &lt;br /&gt;• iv) Y.M. Tengku Lukman bin Tengku Alang Yahya (s/o Tengku Biong). m. (first) Encik Siti. m. (second) Y.M. Tengku Rawiya, from Kisaran. m. (third) Encik Galuh. m. (fourth) Encik Upik. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, eight sons and three daughters: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Idham bin Tengku Lukman (s/o Encik Siti). &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Cik bin Tengku Lukman (s/o Encik Siti). &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Ngah Hashim bin Tengku Lukman (s/o Encik Siti). &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Tengku Amir bin Tengku Lukman (s/o Encik Siti). &lt;br /&gt;• (5) Y.M. Tengku Hamlet bin Tengku Lukman (s/o Encik Galuh). &lt;br /&gt;• (6) Y.M. Tengku Asmuni bin Tengku Lukman (s/o Encik Upik). &lt;br /&gt;• (7) Y.M. Tengku Haji Wildan Lukman bin Tengku Lukman (s/o Tengku Rawiya). &lt;br /&gt;• (8) Y.M. Tengku Bahrein bin Tengku Lukman (s/o Tengku Rawiya). &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Ayang binti Tengku Lukman (d/o Encik Siti). &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Mustari Hanim binti Tengku Lukman. b. at Tanjung Balai, 1944 (d/o Encik Galuh). m. Y.M. Tengku Bustamam bin Tengku Salim, son of Y.M. Tengku Salim bin Tengku Uwuk Ibrahim. She d. from a heart attack, at Medan, 11th February 1992, having had issue, two sons - see below. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Maimuna binti Tengku Lukman (d/o Encik Upik). &lt;br /&gt;• v) Y.M. Tengku Sahmenan bin Tengku Alang Yahya (s/o Tengku Biong). m. Y.A.M. Tengku Kamila binti al-Marhum Tuanku Muhammad Shah al-Haj, second daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Muhammad Shah al-Haj ibni al-Marhum Tuanku 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah al-Haj, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong. He had issue, five sons and one daughter: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Ulong Yahya bin Tengku Sahmenan. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Anwar bin Tengku Sahmenan. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Nad bin Tengku Sahmenan. &lt;br /&gt;• (4) Y.M. Tengku Tatam bin Tengku Sahmenan. &lt;br /&gt;• (5) Y.M. Tengku Aswin bin Tengku Sahmenan. &lt;br /&gt;• (1) Tengku Ngah binti Tengku Sahmenan.  &lt;br /&gt;• vi) Y.M. Tengku Haji Husain bin Tengku Alang Yahya (s/o Tengku Biong). m. Y.M. Raja Nurhera binti Raja Haji Shahr ud-din (m. second, Y.M. Raja Badri Shah bin Raja Haji Harun al-Rashid, of Perak, by whom she had further issue - see Malaysia (Perak)), daughter of Y.A.M. Raja Haji Shahr ud-din ibni al-Marhum Sultan Sir Idris Murshid al-Azzam Shah Rahmatu'llah, by his first wife, Y.M. Raja Zubaida binti Raja Haji Mahmud, daughter of Y.M. Raja Haji Mahmud bin Raja Kechil 'Usman, 4th Orang Kaya-kaya Imam Paduka Tuan di-Raja of Perak. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, one son and two daughters: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Nasrun bin Tengku Hussain. b. 18th November 1943. m. Che' Norlela. He has issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Ashroff bin Raja Nasrun. &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Raja Hazlyn binti Raja Nasrun. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Raja Khair ul-Nisha binti Tengku Hussain b. 10th December 1945. m. Y.M. Raja Jalil bin Raja 'Abdu'llah, from Selangor, Dir. Asmarine (M) Sdn Bhd, Principal Shipping Consultant Pelorus Intelligence &amp; Technology Acad. Sdn Bhd., Mbr. Maritime Inst. of Malaysia (MIMA), Malaysian Shipowners' Assoc. (MASA), etc. She d. 10th August 2003, having had issue, one son and two daughters. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Raja Zaharira binti Tengku Hussain. b. 8th February 1946 (?) m. and has issue, two children.  &lt;br /&gt;• vii) Y.M. Tengku Dollah bin Tengku Alang Yahya (s/o Tengku Biong). m. Y.M. Tengku Ijjah binti Tengku Rahmad, daughter of Y.M. Tengku Rahmad bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran Bendahara Putra of Bedagai, in Deli. He had issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Madrail bin Tengku Dollah. m. Y.M. Tengku Hania binti Tengku 'Abdu'l Majid (m. second, Y.M. Tengku Bahar ud-din bin Tengku Kechil Muda, of Kisaran), daughter of Y.M. Tengku 'Abdu'l Majid bin Tengku Alang Yahya, sometime DH of Tanjung Balai, by his wife, Y.A.M. Tengku 'Isah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, younger daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Shah, Sultan of Asahan. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Zaleha binti Tengku Dollah. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku …binti Tengku Alang Yahya, Tengku Suri (d/o Tengku Ulong Serdang). m. the Raja of Kota Pinang. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Nalang binti Tengku Alang Yahya, Tengku Suri (d/o Tengku Ulong Serdang). m. the Raja of Kota Pinang. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Iyek binti Tengku Alang Yahya (d/o Tengku Biong). m. Y.M. Tengku Kahar ud-din. &lt;br /&gt;• iv) Y.M. Tengku Shams binti Tengku Alang Yahya (d/o Tengku Biong). m. Y.A.M. Tengku 'Abdu'l Aziz ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan, by his fifth wife, H.H. Tengku Zahara binti Raja Muhammad Yusuf al-Mahdi, youngest daughter of H.H. Raja Muhammad Yusuf al-Mahdi bin Raja 'Ali, Yang di-Pertuan Muda of Riau. She had issue - see below. &lt;br /&gt;H.H. Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah I, had issue: &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Muhammad 'Adil [Babul] ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, had further issue: &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Uwuk Ibrahim bin Tengku Muhammad 'Adil. b. 1880 (s/o Tengku Sri Bulan). He d. 1928, having had issue, four sons and two daughters: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Muhammad Jamal ud-din bin Tengku Uwuk Ibrahim. DH of Bandar Pulau and Kisaran. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah).  &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Muhammad Idris bin Tengku Uwuk Ibrahim. m. Y.A.M. Tengku Hasnan binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Shaiban bin Tengku Muhammad Idris. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Hafidza binti Tengku Muhammad Idris. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Salim bin Tengku Uwuk Ibrahim. b. ca. 1910. Sec. to Sultan Sha'ibun 1933. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, two sons and three daughters: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Haji Dr. Tengku Bustamam bin Tengku Salim. b. at Tanjung Balai, 9th September 1942. Dir. PD Pasar Kota Medan. Distinguished sportsman and administrator. Coach to Indonesian Water Polo Team at Asian Games in Japan 1962, and 5th SEA Games, Coach for North Sumatra Water Polo Team 1974-2003. m. (first) Y.M. Tengku Mustari Hanim binti Tengku Lukman (b. at Tanjung Balai, 1944; d. from a heart attack, at Medan, 11th February 1992), daughter of Y.M. Tengku Lukman bin Tengku Alang Yahya, by his third wife, Encik Galuh. m. (second) 1993, Y.M. Raja Yahyuana binti Raja Chik Yahya (b. at Kisaran, 19th January 1955), daughter of Y.M. Raja Chik Yahya bin Raja Shukur bin Raja Nongah, of Siak. He has issue, seven sons and two daughters by his first wife, and two sons by his second: &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Zainal Arifin bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 10th September 1965 (s/o Tengku Mustari Hanim). Employed with Bank of North Sumatera, Mbr. North Sumatera Water Polo Team, took part in five SEA Games 1983-1995 and National Games 1988-2000. m. at Medan, 1st October 1993, Susiana (b. at Medan, 27th March 1973), daughter of Haji Agus Salim Ginting, of Tanah Karo, near Berastagi. He has issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Ezy Andika bin Tengku Zainal Arifin. b. at Medan, 8th September 1994.  &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Vira Melfiza binti Tengku Zainal Arifin. b. at Medan, 16th July 1997. &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Danial bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 13th March 1967 (s/o Tengku Mustari Hanim). m. at Medan, 6th December 1997, Evy Triana (b. at Medan, 3rd September 1976), daughter of Haji Aziz Wahyu. He has issue, two daughters: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Amadhea Irvada binti Tengku Danial. b. at Medan, 27th September 1998.  &lt;br /&gt;• (ii) Y.M. Tengku Marsandita binti Tengku Danial. b. at Medan, 20th March 2001. &lt;br /&gt;• (c) Y.M. Tengku Deddy bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 1st April 1969 (s/o Tengku Mustari Hanim). m. at Medan, 21st August 1994, Y.M. Tengku Siti Khadija binti Tengku Muhammad Hamdan (b. at Lubuk Pakam, 6th April 1969), second daughter of Y.M. Tengku Muhammad Hamdan bin Tengku 'Abdu'l Rahman, by his wife, Y.M. Tengku Cah. He has issue, two sons and two daughters: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Muhammad Maulana bin Tengku Deddy Bustaman. b. at Medan, 28th July 1998. &lt;br /&gt;• (ii) Y.M. Tengku Muhammad Danul bin Tengku Deddy Bustaman. b. at Medan, 13th January 2002. &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Natasha Hanim binti Tengku Deddy Bustaman. b. at Medan, 3rd January 1996. &lt;br /&gt;• (ii) Y.M. Tengku Nanda Ramadhani binti Tengku Deddy Bustaman. b. at Medan, 22nd January 1997. &lt;br /&gt;• (d) Y.M. Tengku Dicky bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 5th September 1970 (s/o Tengku Mustari Hanim). m. Dr Ramayanti Harahap (b. at Gunung Tua, 28th August 1969), daughter of Inche 'Ali Murti Harahap. He has issue, two sons: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Viky al-Azmi bin Tengku Dicky Bustaman. b. at Medan, 5th April 1996. &lt;br /&gt;• (ii) Y.M. Tengku Fariz al-Farizi bin Tengku Dicky Bustaman. b. at Medan, 1st June 1999.  &lt;br /&gt;• (e) Y.M. Tengku Boyke bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 11th January 1972 (s/o Tengku Mustari Hanim). &lt;br /&gt;• (f) Y.M. Tengku Ferry bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 3rd August 1974 (s/o Tengku Mustari Hanim), educ. Univ. Amir Hamzah, Medan. Employed with Garuda Indonesian Airlines 1993-1998, and PDAM Tirtanadi Medan 1998-2002. Mbr. North Sumatera Water Polo Team, took part in National Games 2000. Writer and historian. Author of "Bunga Rampai Kesultanan Asahan" (2003). m. at Medan, 24th January 2002, Cik Puan Lollyta Mahdona biti Husnan 'Abdu'l Ghani (b. at Batu Sangkar, 12th September 1975), daughter of Inche Husnan bin 'Abdu'l Ghani, from Batu Sangkar, in West Sumatra. He d. suddenly from heart failure, at Medan, 13th February 2004 (in whose memory this chapter is dedicated), having had issue, an only son: &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Falqih Muhammad Alif bin Tengku Ferry Bustaman. b. at Medan, 12th May 2003. &lt;br /&gt;• (g) Y.M. Tengku Muhammad Iqbal bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 19th March 1975 (s/o Tengku Mustari Hanim). Employed with EGL Global Logistics. &lt;br /&gt;• (h) Y.M. Tengku Muhammad Ridho bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, August 1994 (s/o Raja Yahyuana). &lt;br /&gt;• (i) Y.M. Tengku Muhammad Rizky Tun Mas bin Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 17th August 1995 (s/o Raja Yahyuana). &lt;br /&gt;• (a) Y.M. Tengku Imelda Rugayya binti Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 21st October 1982 (d/o Tengku Mustari Hanim). &lt;br /&gt;• (b) Y.M. Tengku Madiana Ramadhani binti Tengku Haji Bustaman. b. at Medan, 2nd June 1984 (d/o Tengku Mustari Hanim). &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Harun bin Tengku Salim. b. at Tanjung Balai, 1944. &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Ulong Rahmah binti Tengku Salim. b. at Tanjung Balai, 1938. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Antan binti Tengku Salim. b. at Tanjung Balai, 1940. &lt;br /&gt;• (3) Y.M. Tengku Fauzia binti Tengku Salim. b. at Tanjung Balai, 1945. &lt;br /&gt;• iv) Y.M. Tengku Muhammad Nur bin Tengku Uwuk Ibrahim [Mohamed Noor]. b. 1910. m. Inche Rusnah (d. 1983), a lady from Padang, in West Sumatra. He d. 5th December 1983, having had issue, one son:  &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Nazif bin Tengku Muhammad Nur. m. Ilse Noor, a German artist working in Malaysia and celebrated for her etchings. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Amina [Amnah] binti Tengku Uwuk Ibrahim. m. Y.M. Tengku Ship bin Tengku Thaib [Syip], son of Y.M. Tengku Thaib, a descendant of Tengku Panglima Gandar Wahid bin Tuanku Panglima Paderap, Amir of Deli. No issue. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Buhana binti Tengku Uwuk Ibrahim. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Hitam bin Tengku Muhammad 'Adil (s/o Tengku Sri Bulan). He was k. during the "social revolution", 4th March 1946, having had issue, a son: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Iskandar bin Tenku Hitam. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• e) Y.M. Tengku Uwuk Musa bin Tengku Muhammad 'Adil. b. at Tanjung Balai, 1893 (s/o Radin Ayu Saria). Sec. to the Sultan 1938-1945, Vice-Chair. East Sumatra Provincial Advisory Cncl. 1942-1945, DH of Tanjung Balai 1945-1946. Rcvd: Lesser Golden Star for Loyalty &amp; Merit (1938). m. (first) before May 1919, Y.M. Tengku Iluk [Elok] binti Tengku Ismail al-Haj, daughter of Y.A.M. Tengku Ismail al-Haj ibni al-Marhum Sultan Usman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Tengku Pangeran Nara, of Badagai. m. (second) Encik Siti Amalia (k. at Tanjung Balai, together with her husband, 4th March 1946, bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), a Dutch lady. He was k. at Tanjung Balai, together with all his household, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having adopted several nephews: &lt;br /&gt;o i) Y.M. Tengku Aswani bin Tengku Hafas - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;o ii) Y.M. Tengku Rahil.  &lt;br /&gt;o iii) Y.M. Tengku Ahmad Jalil [bin Tengku Mukhtar?] - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;o iv) Y.M. Tengku Babul bin Tengku 'Usman, of Bedagai. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• f) Y.M. Tengku Bahari bin Tengku Muhammad 'Adil. b. at Tanjung Balai, 1895 (s/o Radin Ayu Saria). He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, five children, including two daughters. &lt;br /&gt;• g) Y.M. Tengku Mansur bin Tengku Muhammad 'Adil [Tengku Dr. Mansoer]. b. at Tanjung Balai, 17th January 1897 (s/o Radin Ayu Saria), educ. STOVIA, Batavia. and Medical Sch. of the Univ. of Leiden (MD). Presdt. Jong Sumatra Bond (JSB) 1917-1919, worked as MD in Batavia and the Celebes, Surgeon at Elisabeth Hospital at Medan, Chair. Persatuan Sumatera Timur (East Sumatra Assoc.) 1940, and East Sumatra Provincial Advisory Cncl. 1945-1947, Governor of the State (Wali Negara) of East Sumatra 25th December 1947-15th August 1950. Rcvd: GO of the Order of Orange-Nassau (22.8.1948). m. at Leiden, 7th May 1924, Amalia Gezina (b. at Leiden, Netherlands, 9th August 1893; d. there at Schiedam, 19th January 1967), former wife of Leendert Pieter Johannes de Vos, and daughter of Fredrik August Wempe, by his wife, Ingetje, daughter of Jan Cornelisz Roodenburg. He d. at Medan, 7th October 1955, having had issue, one son and one daughter: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Adil Hanafiah bin Tengku Mansur [Dr. Ad Mansoer]. b. at Leiden, the Netherlands, 24th April 1927, educ. Medical Sch. of the Univ. of Leiden (MD). Surgeon at Schiedam, Netherlands. m. at Amsterdam, 10th January 1953, Rita Leontine (b. at Medan, 10th July 1928), née Haye. He d. at Schiedam, Netherlands, 30th November 1979, having had issue, three sons and two daughters:  &lt;br /&gt;• (1) Dr. John Risto Mansoer. b. at Leiden, Netherlands, 8th May 1954. m. 1989, Astrid. He has issue, one daughter: &lt;br /&gt;• (a) Alexandra Mansoer. b. at Schiedam, Netherlands, 22nd July 1991. &lt;br /&gt;• (2) Dr. Adil Willem Mansoer. b. at Leiden, Netherlands, 24th March 1956. m. at Schiedam, Netherlands, 5th June 1987, Linda (b. at Schiedam, Netherlands, 19th May 1962), née van der Laan, a former nurse. He has issue, three sons and one daughter: &lt;br /&gt;• (a) Adil Mansoer. b. at Vlaardingen, 4th November 1990. &lt;br /&gt;• (b) Anton Mansoer. b. at Schiedam, 30th December 1992. &lt;br /&gt;• (c) Willem Mansoer. b. at Rotterdam, 4th March 1996. &lt;br /&gt;• (a) Marie-Claire Mansoer. b. at Vlaardingen, 29th February 1988. &lt;br /&gt;• (3) Leonard Hendrik Mansoer. b. at Schiedam, Netherlands, 14th May 1965. m. at Kasteel Haarzuilen bij Utrecht, 1987, Jane. He has issue, one daughter: &lt;br /&gt;• (a) Maxine Amber Mansoer. b. at Maassluis, Netherlands, 13th October 1992. &lt;br /&gt;• (1) Marina Bernadina Gezina. b. at Schiedam, Netherlands, 25th May 1957. m. at Vlaardingen, 9th January 1987, Henry Zegers. She has issue, one son and one daughter. &lt;br /&gt;• (2) Alexandra Nannette. b. at Schiedam, Netherlands, 2nd October 1958. m. at Schiedam, Netherlands, 4th August 1989, Mark Pennock, physiotherapist. She has issue, two daughters.  &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Saria binti Tengku Mansur [Ietje]. b. at Leiden, the Netherlands, 14th January 1925, educ. Leiden. m. (first) at Tanjung Balai, Sumatra, 2nd May 1944 (div. 8th August 1950), Y.M. Tengku Aswani bin Tengku Hafas (b. at China Kassih, Sumatra, 29th May 1920; d. at Medan, 15th April 1994), son of Y.M. Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran, sometime Wakil of Bedagai and Pangeran of Langkat Hilir, by his wife, Y.A.M. Tengku Uan Mahanun, daughter of Y.T.M. Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila, by whom she had issue, two sons and one daughter - see Indonesia (Deli). m. (second) at Medan, 26th January 1955, Jan Harm Velsink (b. at Emlichheim, Germany, 15th October 1927), eldest son of Gerrit Velsink, by his first wife, Zwantien, née Klinge. She had further issue, one daughter. &lt;br /&gt;• h) Y.M. Tengku Ulung bin Tengku Muhammad 'Adil. b. 1900 (s/o Encik Daeng). &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Nazar bin Tengku Muhammad 'Adil. b. 1910 (s/o Encik Daeng). He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, two sons: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Ala ud-din bin Tengku Nazar, Tengku Bendahara. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Shuaib bin Tengku Nazar. m. Y.M. Tengku Rawiya binti Tengku 'Abdu'l Majid, former wife of Y.M. Tengku Nurlain bin Tengku Muhammad Ishaq, and second daughter of Y.M. Tengku 'Abdu'l Majid bin Tengku Alang Yahya, sometime DH of Tanjung Balai, by his wife, Y.A.M. Tengku 'Isah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, younger daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Shah, Sultan of Asahan. &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Khalisa [Chaliza] binti Tengku Muhammad 'Adil (d/o Radin Ayu Saria). &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Kasima binti Tengku Muhammad 'Adil (d/o Radin Ayu Saria). She d. 1965. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Hafsa binti Tengku Muhammad 'Adil (d/o Radin Ayu Saria). She d. 1972. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Kasina binti Tengku Muhammad 'Adil. b. 1905 (d/o Encik Daeng). &lt;br /&gt;• e) Y.M. Tengku Tisa [Mulki] binti Tengku Muhammad 'Adil (d/o Tengku Sri Bulan). m. Y.M. Tengku Rahmad bin Tengku Ismail al-Haj, Pangeran Bendahara Putra of Bedagai, younger son of Y.A.M. Tengku Ismail al-Haj ibni al-Marhum Sultan Usman al-Sani Perkasa 'Alam Shah [Tengku Sulung Laut], Tengku Pangeran Nara, by his first wife, Tengku Kechil Ajis, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah I ibni al-Marhum Tuanku Musa Shah, Sultan of Asahan. She d. 1922, having had issue, at least one son and one daughter. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Muhammad Sharif ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, Tengku Setia Maharaja. b. ca. 1850 (s/o a junior wife). He had issue, four sons: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Muhammad Shukur bin Tengku Muhammad Sharif. He had issue: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Asnan bin Tengku Muhammad Shukur. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Muhammad Yusuf bin Tengku Muhammad Sharif. &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Ni'matu'llah bin Tengku Muhammad Sharif. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Hitam bin Tengku Muhammad Sharif, Tengku Setia Maharaja. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah). &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Muhammad Bakir ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. b. ca. 1850 (s/o a slave). He had issue, three sons: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Uda bin Tengku Muhammad Bakir. &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Buang bin Tengku Muhammad Bakir.  &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Nonchik bin Tengku Muhammad Bakir. &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Sulung Toba binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Tuan Trus). m. before January 1868, Y.M. Tengku Sayyid Damad, of Penang. &lt;br /&gt;• 2) H.H. Tengku Tengah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, Tengku Ampuan (d/o Tengku Sulung). m. September 1865, H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah ibni al-Marhum Tuanku Muhammad Ishaq, Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong (b. 1862; d. 20th March 1882), eldest son of H.H. Tuanku Muhammad Ishaq ibni al-Marhum Tuanku Said Musa Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong and Yang di-Pertuan Muda of Asahan. She had issue - see Indonesia (Kualuh). &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Putri binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Tengku Sulung). She d. unm. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Kechil Ajis binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. b. ca. 1850 (d/o Tengku Sulung). m. before January 1868, Y.A.M. Tengku Ismailiyah al-Haj ibni al-Marhum Sultan Usman Perkasa 'Alam Shah [Tengku Sulung Laut], Tengku Pangeran Nara (b. at Asahan, 14th May 1851; d. at Istana Bedagai, 20th March 1914 (bur. Masjid Tanjung Beringin, Bedagai), third son of H.H. Sri Paduka Tuanku Panglima Sultan Usman al-Sani Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Mangedar 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his first wife, H.H. Raja Siti Asma binti Tuanku Muhammad 'Ali Shah, Tengku Maha Suri Raja, daughter of H.H. Tuanku Muhammad 'Ali Shah ibni al-Marhum Tuanku Deva Shah, Raja and Yang di-Pertuan of the State of Asahan. She had issue, three sons and one daughter - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Sunit binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, Tengku Ampuan (d/o Tengku Sulung). m. ca. 1863, Y.T.M. Tuanku Sutan Gagar Alam Shah II, Raja of Panai (d. at Labuhan Bilik, 1880), eldest son of Y.T.M. Badri Tuanku Sutan Mangedar Alam I [al-Marhum Kahar], Raja of Panai. She had issue - see Indonesia (Panai). &lt;br /&gt;1859 - 1888 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Ahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Asahan. b. 1830, eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah I ibni al-Marhum Raja Musa Shah [al-Marhum Kampung Masjid], Sultan and Yang di-Pertuan Besar of the State of Asahan, by his first wife, Tengku Sulung, daughter of his uncle, Tengku Tua. Succeeded on the death of his father, 10th February 1859. Installed with the reign name of Sri Paduka Tuanku Sultan Ahmad Shah. Deposed by the Dutch authorities on 27th September 1865, but continued to rule in the interior of the state. Restored and recognised by the government of the NEI, 25th March 1886. m. Y.A.M. Tengku Sulung, eldest daughter of Y.A.M. Raja Muhammad Ishaq ibni al-Marhum Raja Sayyid Musa Shah, Raja of Kualuh and Leidong and Yang di-Pertuan Muda of Asahan. He d.s.p. at Tanjung Balai, 27th June 1888 (bur. Besar Masjid) (succ. by his nephew). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[1865 - 1867 H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Nikmatu'llah Shah ibni al-Marhum Raja Muhammad Ishak, Raja of Kualuh and Leidong and Yang di-Pertuan Muda of Asahan. Appointed by the Dutch as provisional ruler of Asahan after they had deposed his brother-in-law, Sultan Ahmad Shah, 29th September1865. Deposed at Asahan, 30th November 1867 - see Indonesia (Kualuh).] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1888 - 1915 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan. b. 1862, as Tengku Ngah Tanjung, eldest son of Y.A.M. Tengku Muhammad 'Adil [Babul] ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, by his first wife, Inche' Sri Bulan, educ. privately. Adopted by his childless uncle and appointed as Heir Apparent, 1878. Succeeded on his death, 27th June 1888 (recognised by the NEI government, 6th October 1888). Installed at Tanjung Balai, with the reign name of Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II, 30th August 1890. Rcvd: Knt. of the Order of the Netherlands Lion (1908). m. (first) Y.M. Raja Uteh binti Raja Tengah Muhammad Abu Bakar, eldest daughter of Y.M. Raja Tengah Muhammad Abu Bakar, by his wife, a lady of Arabian origin. m. (second) Siti Zainab. m. (third) Inche' Itam. m. (fourth) Inche' Ongah. m. (fifth) 1905, H.H. Tengku Zahara binti Raja Muhammad Yusuf al-Mahdi, Tengku Permaisuri (b. 1880; d. 22nd June 1964), younger daughter of H.H. Raja Muhammad Yusuf al-Mahdi bin Raja 'Ali, Yang di-Pertuan Muda of Riau, by his wife, H.H. Tengku Fatima binti al-Marhum Sultan Mahmud Muzaffar Shah, Tengku Ampuan, daughter of H.H. Paduka Sri Sultan Mahmud IV Muzaffar Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Mu'adzam Shah, Sultan of Lingga. m. (sixth) Y.M. Tengku Madariah (d.s.p.). He d. at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, 7th July 1915 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, eight sons and eight daughters: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Amir bin Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, Tengku Besar. b. at Tanjung Balai, ca. 1885 (s/o Raja Uteh). Recognised as Heir Apparent by the NEI government, 5th May 1899. m. (first) Tengku Safiah (d. 1919). m. (second) Inche' Jatimah (d. 1948). He d.v.p. 1913, having had issue, four sons: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Muhammad Idham bin Tengku Besar Amir (s/o Tengku Safiah). &lt;br /&gt;• b) Y.M. Tengku Sulaiman bin Tengku Besar Amir (s/o Tengku Safia). m. Y.M. Ungku Fatima Nelly binti Ungku 'Abdu'l Rahman, daughter of Y.M. Ungku 'Abdu'l Rahman bin Ungku 'Abdu'l Majid, of Johor, by his first wife, Che Puan Amina binti 'Abdu'llah, a Dutch lady. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, six children, including: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku 'Abdu'l Rahman bin Tengku Sulaiman. He had issue, two sons: &lt;br /&gt;• (1) Y.M. Tengku Rumshah bin Tengku 'Abdu'l Rahman. &lt;br /&gt;• (2) Y.M. Tengku Hamdan bin Tengku 'Abdu'l Rahman. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Zainal Rashid bin Tengku Sulaiman. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Tengku Ismid bin Tengku Sulaiman. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Khadija binti Tengku Sulaiman [Tengku Tuti]. m. Y.M. Dato' Dr. Ungku Omar bin Ungku Ahmad (b. at Johor Bahru, 18th January 1931; d. 15th February 1969), son of Y.M. Ungku Ahmad bin Ungku Omar, by his wife, Y.M. Ungku Kintan Maimuna binti Ungku 'Abdu'l Rahman, daughter of Y.M. Ungku 'Abdu'l Rahman bin Ungku 'Abdu'l Majid, of Johor. She had issue, one son and four daughters - see Malaysia (Johor). &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Zainab binti Tengku Sulaiman. m. Y.M. Ungku 'Abu Bakar bin Ungku 'Abdu'l Rahman, son of Y.M. Ungku 'Abdu'l Rahman bin Ibrahim, of Johor, by his wife, Che Puan Pah, adopted daughter of H.H. Tunku Mariam binti al-Marhum Sultan Sir Abu Bakar, Tengku Ampuan Besar, of Pahang. She had issue, two sons and two daughters - see Malaysia (Johor).  &lt;br /&gt;• c) Y.M. Tengku Effendi bin Tengku Besar Amir (s/o Encik Jatimah). m. Y.M. Ungku Ruqaya binti Ungku 'Abdu'l Rahman [Gati] (m. second, Encik Ahmad bin Omar, by whom she had further issue - see Malaysia (Johor), daughter of Y.M. Ungku 'Abdu'l Rahman bin Ungku 'Abdu'l Majid, of Johor, by his first wife, Che Puan Amina binti 'Abdu'llah, a Dutch lady. He was k. at Tanjung Balai, together with 40 members of his family, during the "social revolution", 4th March 1946 (bur. there at the Great Mosque of Sultan Ahmad Shah), having had issue, three sons and two daughters: &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Yafisham bin Tengku Effendi. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Abd Hamid bin Tengku Effendi. &lt;br /&gt;• iii) Y.M. Ungku Ibrahim bin Tengku Effendi. &lt;br /&gt;• i) Y.M. Tengku Zorah binti Tengku Effendi. &lt;br /&gt;• ii) Y.M. Tengku Nettiah binti Tengku Effendi. &lt;br /&gt;• d) Y.M. Tengku Haji Anwar bin Tengku Besar Amir (s/o Inche' Jatimah). &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Ibrahim ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (s/o Siti Zainab). &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Usman ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. b. 1900 (s/o Inche' Itam). &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Ishaq ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. b. 1900 (s/o Inche' Itam), educ. HIS Tanjung Balai, and MULO, Batavia. He had issue, a son: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Nurlen bin Tengku Ishaq. m. Y.M. Tengku Rawiyah binti Tengku 'Abdu'l Majid (m. second, Y.M. Tengku Shuaib bin Tengku Nazar), second daughter of Y.M. Tengku 'Abdu'l Majid bin Tengku Alang Yahya, sometime DH of Tanjung Balai, by his wife, Y.A.M. Tengku 'Isah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, younger daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Shah, Sultan of Asahan. &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Haidar ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (s/o Inche' Ongah), educ. HIS Tanjung Balai and MULO, Batavia. m. at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, ca. 26th September 1933, a daughter of Colonel H.H. Sultan 'Abdu'l Hamid Halim Shah II ibni al-Marhum Sultan Ahmad Taj ud-din al-Mukarram Shah, Sultan of the State of Kedah Dar ul-Aman, KCMG. He d. 1982. &lt;br /&gt;• 6) Y.A.M. Tengku Besar Sha'ibun Yunus, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibnu al-Marhum Sultan Muhammad Husain, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Asahan (s/o Tengku Zahara) - see below. &lt;br /&gt;• 7) Y.A.M. Tengku Muhammad 'Ali ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (s/o Tengku Zahara). m. Y.M. Tengku Nur Aini binti Tengku Salim. He had issue, a daughter: &lt;br /&gt;• a) Y.M. Tengku Nazlia Hanim binti Tengku Muhammad 'Ali. m. Y.M. Tengku Nasir ud-din bin Tengku Kamil, eldest son of Y.A.M. Tengku Kamil ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Pangeran Binjai, of Langkat, by his wife, Y.A.M. Tengku Arfa binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan - see Indonesia (Langkat).  &lt;br /&gt;• 7) Y.A.M. Tengku 'Abdu'l Aziz ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (s/o Tengku Zahara). m. Y.M. Tengku Shams binti Tengku Alang Yahya, youngest daughter of Y.A.M. Tengku Alang Yahya bin Tengku Muhammad 'Adil, sometime Sri Paduka Tengku Regent, by his second wife, Y.M. Tengku Biong binti Tengku Alam Shah, daughter of Y.M. Tengku Alam Shah, Raja of Kisaran. &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Darjat binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. m. Tengku Mansur Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, Tengku Besar (d. presumed killed, 4th March 1946), eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku al-Haji 'Abdu'llah Nikmat Shah, Sultan and of Kualuh and Leidong. She d. at Istana Tanjung Pasir, 28th April 1931, having had issue, four sons and four daughters - see Indonesia (Kualuh). &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Aisha ['Isah] binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Inche' Ongah). m. Y.M. Tengku 'Abdu'l Majid bin Tengku Alang Yahya, sometime DH of Tanjung Balai, elder son of Y.A.M. Tengku Alang Yahya bin Tengku Muhammad 'Adil, sometime Sri Paduka Tengku Regent. She d. 1987, having had issue, an only daughter - see above. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Khair ul-Baria binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Inche' Itam). m. 1911, Y.A.M. Tengku Mahmud bin Tengku Rahmad, Pangeran Bendahara, son of Tengku Rahmad bin Tengku Ismail al-Haj, Pangeran Bendahara Putra of Bedagai, by his wife, Y.M. Tengku Tisah [Mulki] binti Tengku Muhammad 'Adil, fifth daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad 'Adil ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. She d. 1980 - see Indonesia (Deli). &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Fatima binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Inche' Itam). She d. 1963. &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Chantik binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Inche' Itam). She d. 1982. &lt;br /&gt;• 6) Y.A.M. Tengku Kalsum binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Inche' Itam). She d. 1978. &lt;br /&gt;• 7) Y.A.M. Tengku Arfah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Tengku Zahara). m. 30th July 1933, Y.A.M. Tengku Kamil ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, sometime Pangeran of Binjai, second son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his wife, H.H. Tengku Fatimah Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri, daughter of Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman, of Serdang. She d. 1978, having had issue, five sons and one daughter - see Indonesia (Langkat). &lt;br /&gt;• 8) Y.A.M. Tengku Jawahir binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d/o Tengku Zahara). m. Y.M. Tengku Amir bin Tengku Salim, son of Y.M. Tengku Salim. &lt;br /&gt;• 9) Y.A.M. Tengku Hasnan binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. m. Y.M. Tengku Muhammad Idris bin Tengku Uwok Ibrahim, second son of Y.M. Tengku Uwok Ibrahim bin Tengku Muhammad 'Adil. She had issue, one son and one daughter - see above. &lt;br /&gt;1915 - [1980] H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah III ibnu al-Marhum Sultan Muhammad Husain, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Asahan. b. at Tanjung Balai, 5th October 1906, as Tengku Besar Sha'ibun Yunus, sixth son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan, by his fifth wife, H.H. Tengku Zahara binti Raja Muhammad Yusuf al-Mahdi, Tengku Permaisuri, educ. HIS Tanjung Balai and MULO, Batavia. Recognised as Heir Apparent by the government of the NEI, 8th February 1913. Succeeded on the death of his father, 7th July 1915. Reigned under the Regency of Tengku Alang Yahya 1915-1916. Came of age and was invested with full ruling powers at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, with the title of Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, 15th June 1933. Attended the Solemn Investiture of Queen Juliana of the Netherlands at the Nieuwe Kerk, Amsterdam, 1948. Rcvd: Knt. of the Order of the Netherlands Lion, Officer of the Order of Orange-Nassau, Solemn Investiture medal (6.9.1948), etc. m. (first) at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, 17th June 1933, H.H. Tengku Nur ul-Asikhin binti al-Marhum Tengku Rahmad, Tengku Permaisuri (b. 1896; d. 1st January 1973), installed as Tengku Permaisuri at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, 17th June 1933, daughter of Y.A.M. Tengku Rahmad bin Tengku Ismail al-Haj, Pangeran Bendahara Putra, of Bedagai, by his wife, Y.M. Tengku Tisah [Mulki] binti Tengku Muhammad 'Adil, fifth daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad 'Adil [Babul] ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah. m. (second) at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, 1933, Inche' Mariam. m. (third) at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, September 1933, Inche' Sa'adiah binti Muhammad Ariffin (b. 1917), daughter of Inche' Muhammad Arifin. He d. 6th April 1980, having had issue, four sons and six daughters: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Sulong Baihaq ibni al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. b. at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, 18th April 1935 (s/o Tengku Nur ul-Asikhin). &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Alexander ibni al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Kamal Abraham, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Kamal Abrahim 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Asahan (s/o Inche' Sa'adiah) - see below. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Muhammad Adnan ibni al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Nur Hayati binti al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Danian binti al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. &lt;br /&gt;• 3) Y.A.M. Tengku Alma binti al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. &lt;br /&gt;• 4) Y.A.M. Tengku Mirna binti al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. &lt;br /&gt;• 5) Y.A.M. Tengku Nur Jahan binti al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. &lt;br /&gt;• 6) Y.A.M. Tengku Yasmin binti al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[1980] H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Dr. Kamal Abrahim 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibnu al-Marhum Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Asahan. b. at Tanjung Balai, 15th January 1958, as Tengku Kamal Abraham, third son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah III ibnu al-Marhum Sultan Muhammad Husain, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Asahan, by his third wife, Inche' Sa'adiah binti Muhammad Ariffin, educ. High Sch., Medan and Univ. of Jakarta (MD). Medical Practitioner practising at Kota Raja, Aceh and at Medan. Succeeded on the death of his father, as Head of the Royal House of Asahan, 6th April 1980. Installed at Tanjung Balai, with the title of Sri Paduka Tuanku Sultan Dr. Kamal Abrahim 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, 17th May 1980. Chair. Forum Komunikasi Keluarga Besar Kesultanan Asahan (FKKBKA) 2002. m. at Kota Raja, Aceh, 18th April 1993, Eva Meutia (b. at Kota Raja, Aceh, 11th January 1963), a lady from Aceh. He has issue, two sons and one daughter: &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Muhammad Iqbal Alvinanda bin Tuanku Sultan Dr. Kamal Abrahim 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah. b. at Medan, 17th March 1994. &lt;br /&gt;• 2) Y.A.M. Tengku Muhammad Arif Fadu'llah bin Tuanku Sultan Dr. Kamal Abrahim 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah. b. at Medan, 29th May 1995. &lt;br /&gt;• 1) Y.A.M. Tengku Shafira binti Tuanku Sultan Dr. Kamal Abrahim 'Abdu'l Jalil Rahmad Shahm. b. at Medan, 14th December 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115751462796892733?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751462796892733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751462796892733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/09/asahan-dan-marpaung.html' title='Asahan Dan Marpaung'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115751417369261760</id><published>2006-09-05T20:37:00.000-07:00</published><updated>2006-09-05T20:42:54.116-07:00</updated><title type='text'>Karo dan Deli</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Hubungan Batak Karo dan Kesultanan Deli sangat berhubungan satu sama lain. Orang-orang Kari marga Surbakti banyak memberikan kontribusi kepada kesultanan Karo. Berikut adalah Silsilah kesultanan Deli yang mencakup person-person Karo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir Muhammad Badar ud-din Khan&lt;br /&gt;m&lt;br /&gt;Putri Chandra Devi&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Raja Akbar Qamar ud-din Delhi Khan&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Pocut Raja Ali Akbar Amal ud-din, Bendahara&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Pocut Raja Azif Amir ud-din&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Pocut Raja Husain Karim ud-din&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Pocut Raja Yasid Musaf ud-din, Bendahara&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Pocut Raja Muhammad, Bendahara of Pasai&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Pocut Raja Burhan ud-din Darawi Akbar&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;Muhammad Hisam ud-din Dalik Khan&lt;br /&gt;(with whom we treat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1632 - 1653 Y.T.M. Tuanku Muhammad Hisam ud-din Dalik Khan [Lebai Hitam], Sri Paduka Khoja Pahlawan, Yang di-Pertuan of Aru. b. in Pasai, ca. 1590, son of Pocut Raja Burhan ud-din Darawi Akbar. Entered the service of the Sultan of Aceh and appointed to command his naval forces in the rank of Laksamana Khoja Bintan. Appointed as his Wakil of Aru with the title of Sri Paduka Khoja Pahlawan, 1630. Having received Perchut and Labuhan in dowry after his second marriage, he expanded his territories further by annexing Gunung Klarus, Sempali, Kota Bangun, Pulau Barayan, Kota Jawa, and Kota Rengas. Elected as Datuk Sunggal and Ulon Janji by the four Karo Urung Rajas. m. (first) at Aceh (div. there ca. 1629), Y.A.M. Putri Khair ul-Baria binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l-Kadir 'Ala'uddin Shah, younger daughter of Y.T.M. Paduka Sri Sultan Tuanku 'Abdu'l-Kadir 'Ala'uddin Shah ibni al-Marhum Sultan Zainal-Abidin Shah, Sultan of Pahang. m. (second) 1632, Y.M. Putri Nang Baluan Beru Surbakti, younger sister of Datuk Hitam Surbakti, Raja Urung of Sunggal. He d. 1653 (bur. Batu Jergok, Old Deli), having had issue, by his second wife:&lt;br /&gt;1) Y.T.M. Tuanku Panglima Parunggit, 2nd Yang di-Pertuan of Aru - see below. &lt;br /&gt;s &lt;br /&gt;1653 - 1698 Y.T.M. Tuanku Panglima Parunggit [Kejeruan Padang] ibni al-Marhum Tuanku Muhammad Hisam ud-din Dalik Khan, Panglima of Deli. b. 1634, only recorded son of Y.T.M. Tuanku Muhammad Hisam ud-din Dalik Khan, Sri Paduka Khoja Pahlawan, Yang di-Pertuan of Aru. Succeeded on the death of his father as Panglima of Deli, 1669. Made himself independent of Aceh in 1669 and established relations with the Dutch at Malacca and Batavia. Removed his capital to Medan Kesawan. m. the younger sister of the Datuk of Suka Piring. He d. 1698, having had issue, two sons:&lt;br /&gt;1) Y.T.M. Tuanku Panglima Paderap [Pidali] ibni al-Marhum Tuanku Panglima Parunggit, Amir of Deli - see below. &lt;br /&gt;2) Y.T.M. Tuanku Panglima Pasutan ibni al-Marhum Tuanku Panglima Parunggit, Yang di-Pertuan of Aru. Usurped control over Aru on the death of his father, and expelled his elder brother, 1698. He d. 1761. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1698 - 1728 Y.T.M. Tuanku Panglima Paderap [Pidali] ibni al-Marhum Tuanku Panglima Parunggit, Amir of Deli. b. at Aru, 1654, son of Y.T.M. Tuanku Panglima Parunggit [Kejeruan Padang], Panglima of Deli. Expelled from Aru by his brother, 1698. Removed his capital to Berayan island, where he established a new state. Assumed the title of Amir of Deli. m. several wives, including Tuanku Ampuan Sampali, the only Royal wife. He d. on Berayan island, 1728, having had issue, four sons:&lt;br /&gt;1) Y.M. Tengku Jalal ud-din ibni al-Marhum Tuanku Panglima Paderap, of Kejeruan Metar. He had issue, two sons:&lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku Pujar, of Kejeruan Metar. He had issue, two sons:&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Nah. He had issue, a son:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Gabal. He had issue, a son:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Raja Tumpang. Penghulu of Kampong Mabar. &lt;br /&gt;ii) Y.M. Tengku Jabal. s &lt;br /&gt;b) Y.M. Tengku Tariq [Tarim] bin Tengku Jalal ud-din, Raja Indra Muda of Perchut (in 1823). He had issue, one son:&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Malik bin Tengku Tariq, Raja Muda of Perchut. He had issue, three sons:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Hatung bin Tengku Malik. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Sutan Sharif bin Tengku Malik, of Kejeruan Sri di-Raja. &lt;br /&gt;(3) Y.M. Tengku Muhammad Daud bin Tengku Malik, Raja Muda Sri di-Raja, of Perchut. He had issue, three sons:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Tengku Suad Niran bin Tengku Muhammad Daud [Sutan Heran]. &lt;br /&gt;(b) Y.M. Tengku 'Abdu'l Rahman bin Tengku Muhammad Daud. Wakil at Perchut. &lt;br /&gt;(c) Y.M. Tengku Muhammad Salih bin Tengku Muhammad Daud [Sutan Mat Shah]. He had issue:&lt;br /&gt;(i) Y.M. Tengku Muhammad Hidayat ibnu Tengku Muhammad Salih, Tengku Kejuruan Paduka Raja (cre. 5th March 1912). m. Y.A.M. Tengku Izah binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his wife, Inche' Mariam, Inche' Puan Negara. He had issue, a son:&lt;br /&gt;1. Y.M. Tengku Muhammad Ansari bin Tengku Muhammad Hidayat. m. Y.A.M. Tengku Zaira binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah (b. at Deli, 6th February 1936), fifth daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his third wife, H.H. Raja Norshidah binti al-Marhum Raja Haji Harun ar-Rashid, Tengku Ampuan, younger daughter of Y.A.M. Raja Haji Harun ar-Rashid ibni al-Marhum Paduka Sri Sultan Sir Idris Murshid al-A'zam Shah Rahmadu'llah Shah, Raja Kechil Sulong of Perak. He had issue, including two sons:&lt;br /&gt;a. Y.M. Tengku Otteman Hidayat bin Tengku Muhammad Ansari. m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, October 1991, Y.A.M. Tengku Melfira binti Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah, fifth daughter of H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan of Serdang, by his wife, H.H. Tengku Mulfi binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. He has issue, a son:&lt;br /&gt;i. Y.M. Tengku Azlan Shah Al-Sani bin Tengku Otteman Hidayat. &lt;br /&gt;b. Y.M. Tengku Ariston Shah bin Tengku Muhammad Ansari. m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, October 1991, Che' Zarina binti Muhammad Yusuf. &lt;br /&gt;2) Y.T.M. Tengku Panglima Gandar Wahid ibni al-Marhum Tuanku Panglima Paderap, Amir of Deli - see below. &lt;br /&gt;3) Y.M. Tengku Umar, of Kejeruan Junjungan, who became Y.T.M. Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah ibni al-Marhum Tuanku Panglima Paderap, Raja of Serdang (s/o Tuanku Ampuan Sampali) - see Indonesia (Serdang).s &lt;br /&gt;4) Y.M. Tengku Tawar Arifin ibni al-Marhum Tuanku Panglima Paderap (s/o Tuanku Ampuan Sampali), of Kejeruan Santun. Expelled with his brother Umar and settled in Serdang, ca. 1728. He had issue, three sons:&lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku Mat Shaikh bin Tengku Tawar Arifin, of Surbajadi. He had issue, four sons:&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Radin Inu bin Tengku Mat Shaikh, Raja of Pulau Berayan (in 1823). m. Firman Shahifah, of Serdang. He had issue, two sons:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Timbang Lawan bin Tengku Radin Inu, of Surbajadi (from. 1860). He d. 1870, having had issue, two sons:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Tengku Ismail bin Tengku Timbang Lawan [Tengku Muhammad Mat Solan], Tengku Panglima Serdang. &lt;br /&gt;(b) Y.M. Tengku Muhammad Bastr bin Tengku Timbang Lawan. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku 'Abdu'l Rahman [Draman] bin Tengku Radin Inu, of Surbajadi (from 1870). He d. 5th September 1877, having had issue, two sons:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Tengku Adil bin Tengku 'Abdu'l Rahman. &lt;br /&gt;(b) Y.M. Tengku Ujung bin Tengku 'Abdu'l Rahman. &lt;br /&gt;ii) Y.M. Sutan Daik [Manja Kaya], Raja Graha, of Surbajadi (in 1823). &lt;br /&gt;iii) Y.M. Sutan Lela [Wan Achan]. m. in Kedah, 1822, …He had issue, a son:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Sutan Hitam bin Sutan Lela. He had issue, two sons:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Sutan Bandar Agung. &lt;br /&gt;(b) Y.M. Sutan Muhammad Shah [Mat Shah]. &lt;br /&gt;iv) Y.M. Sutan 'Ali [Wan Bagus], of Danai. He had issue, a son:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Raja Ambang bin Sutan 'Ali, Setia di-Raja, of Surbajadi. b. 1876. He d. 1925. &lt;br /&gt;b) Y.M. Tengku Ja'afar bin Tengku Tawar Arifin, Raja Graha, of Danai. He had issue, four sons:&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Tunggal bin Tengku Ja'afar, Sutan Bagus, of Durian. He had issue, a son:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Mahmud bin Tengku Tunggal, 6th Raja Graha, of Danai (succ. 1887). Served in the Selangor civil war 1877-1878. He d. 1906, having had issue, two sons:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Tengku Ariffin bin Tengku Mahmud. &lt;br /&gt;(b) Y.M. Tengku Sulaiman bin Tengku Mahmud, 7th Raja Graha, of Danai (succ. 1906). He d. 1919. s &lt;br /&gt;ii) Y.M. Tengku Mandia Kaya al-Wasafi Billah bin Tengku Ja'afar, Raja Graha, of Danai. He had issue, three sons:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Yar ud-din [Jaudin] bin Tengku Mandia Kaya al-Wasafi Billah, 4th Raja Graha, of Danai. Sometime Raja Muda Graha. He d. 1886, having had issue, a son:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Sutan Ibrahim bin Tengku Yar ud-din, 5th Raja Graha, of Danai (succ. 1886). He d. 1887. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku Andon bin Tengku Mandia Kaya al-Wasafi Billah. &lt;br /&gt;(3) Y.M. Tengku Mandak bin Tengku Mandia Kaya al-Wasafi Billah. He had issue, a son:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Sutan Buang bin Tengku Mandak, Pemangku Raja of Danai. &lt;br /&gt;c) Y.M. Tengku Madia Gerang bin Tengku Tawar Arifin, 1st Raja Sel. Nibung. He had issue, a son:&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Wahid ud-din bin Tengku Madia Gerang, 2nd Raja Sel. Nibung (cre. 1823). He had issue, a son:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Sutan Megah bin Tengku Wahid ud-din. Pemangku Raja Danai 1965. He had issue, a son:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Sutan Mat Shaikh bin Sutan Megah, Tengku Panglima Besar of Deli. Author of the "Hikayat Deli" (ca. 1923). &lt;br /&gt;s &lt;br /&gt;1728 - 1761 Y.T.M. Tuanku Panglima Gandar Wahid [Kanduhid] bin Tuanku Panglima Paderap, Amir of Deli, second son of Y.T.M. Tuanku Panglima Paderap [Pidali], Amir of Deli, by a commoner. Seized the throne on the death of his father, and expelled his younger brothers, 1728. m. a lady from XII Kuta Hamparan Perak. He d. at Labuhan Deli, 1761 (bur. there at the Masjid Raya), having had issue, four sons and one daughter:&lt;br /&gt;1) Y.M. Wan Ka ibni al-Marhum Tuanku Panglima Gandar Wahid (s/o a junior wife). m. (first) …(d. 1823). He had issue, four children, including:&lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku … b. ca. 1813 (s/o the first wife). &lt;br /&gt;2) Y.T.M. Tuanku 'Amal ud-din, who became H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Panglima 'Amal ud-din I Mangedar 'Alam ibni al-Marhum Tuanku Panglima Gandar Wahid, Sultan of Deli - see below. &lt;br /&gt;3) Y.M. Wan Kumbang ibni al-Marhum Tuanku Panglima Gandar Wahid (s/o a junior wife). &lt;br /&gt;4) Y.M. Wan Ayat ibni al-Marhum Tuanku Panglima Gandar Wahid (s/o a junior wife). He d. before 1823, having had issue, a son:&lt;br /&gt;a) Y.M. Wan Aripula bin Wan Ayat. &lt;br /&gt;1) Y.M. Wan Mende binti al-Marhum Tuanku Panglima Gandar Wahid (d/o a junior wife). m. before 1823, Y.M. Pocut Udin, son of Raja Tunku of Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1761 - 1824 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Panglima 'Amal ud-din I Mangedar 'Alam ibni al-Marhum Tuanku Panglima Gandar Wahid, Sultan of Deli, second son of Tengku Panglima Gandar Wahid bin Tuanku Panglima Paderap, Amir of Deli. Succeeded on the death of his father as Tuanku Panglima 'Amal ud-din, 1761. Raised to the title of Sultan Panglima Mangedar 'Alam by the Sultan of Siak, 18th March 1814. m. before 1823, a daughter of Y.A.M. Raja Hitam ibni al-Marhum Sutan Bendahara Raja Badi uz-Zaman [Kejeruan Tua], Raja of Langkat. He d. at Labuhan Deli, 18th March 1824 (bur. there at the Masjid Raya), having had issue, an only surviving son and daughter:&lt;br /&gt;1) Tengku Usman, who became H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Panglima Usman Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Panglima Mangedar 'Alam [Marhum Masjid], Sultan of Deli - see below. &lt;br /&gt;1) Y.M. Wan Perak (d/o a junior wife). m. (div.) Y.M. Wan Johor bin Raja Indra Bongsu, eldest son of Y.M. Raja Indra Bongsu, of Kota Dalam, by a junior wife. She had issue - see Indonesia (Langkat). &lt;br /&gt;s &lt;br /&gt;1824 - 1857 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Panglima Usman Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Panglima Mangedar 'Alam [Marhum Masjid], Sultan of Deli. b. at Labuhan 1809, son of H.H. Sultan 'Amal ud-din I Panglima Mangedar 'Alam ibni al-Marhum Tengku Panglima Gandar Wahid, Sultan of Deli, educ. privately. Appointed as Heir Apparent and deputy ruler with the title of Sultan Muda Panglima Perkasa 'Alam before 1823. Succeeded on the death of his father, 18th March 1824. Defeated by the Sultan of Aceh, becoming his vassal and local representative, with office of Wakil Sultan Aceh, 1854. Entered into a contract with the Dutch, who recognised the independence of the sultanate from both Aceh and Siak, 22nd August 1862. Thereafter recognised as Sri Paduka Tuanku Sultan Panglima Usman Perkasa 'Alam Shah with the style of His Highness. m. (second) 1852, H.H. Raja Siti Asmah binti Raja Muhammad 'Ali Shah, Tengku Maha Suri Raja, daughter of H.H. Raja Muhammad 'Ali Shah ibni al-Marhum Raja Deva Shah, Raja and Yang di-Pertuan of the State of Asahan, by his wife, the Tengku Ampuan, daughter of Tengku Sutan, of the Royal house of Aceh. m. (third) Y.M. Sri Kamalah, elder daughter of Banu Ashim, by his wife, the elder sister of Datuk Amar Laut, Datuk of Sunggal. He d. at Labuhan Deli, 22nd October 1857 (bur. there at the Masjid Raya), having had issue:&lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Mahmud, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Usman Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, Sultan of Deli - see below. s &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Sulaiman ibni al-Marhum Sultan Usman Perkasa 'Alam Shah, Raja Muda (cre. 1861). Appointed as Regent for his nephew, 25th October 1873. He d. at Labuhan Deli, 1895, having had issue:&lt;br /&gt;a) H.H. Tengku Alautiah binti Raja Muda Tengku Sulaiman. Installed at Tanjung Pura, as Tengku Permaisuri and granted the style of Her Highness, 23rd May 1894. m. 1892, as his first wife, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat (b. 9th May 1878; d. at Kota Dalam, 1st July 1927), son of H.H. Paduka Sri Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah ibni al-Marhum Sultan Ahmad, Sultan of Langkat, by his wife, H.H. Tengku Meshaurah binti Tengku Besar, Tengku Permaisuri. She d. at Tanjung Pura, 31st October 1897, having had issue - see Indonesia (Langkat). &lt;br /&gt;3) Y.A.M. Tengku Ismailiyah al-Haj ibni al-Marhum Sultan Usman Perkasa 'Alam Shah [Tengku Sulung Laut], Tengku Pangeran Nara. b. at Asahan, 14th May 1851 (s/o Tengku Raja Siti), educ. privately. Previously styled Pangeran Kelana Raja. Received Badagai as his apange. m. (first) before January 1868, Y.A.M. Tengku Kechil Ajis [Malika] binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah I ibni al-Marhum Raja Musa Shah, Sultan of Asahan, by his first wife, H.H. Tengku Sulung, eldest daughter of Y.M. Tengku Sutan Tua, of Panai. m. (second) Inche' Siti Adat, daughter of the Datuk of Kampung Baru. m. (third) Inche' Maimuna binti Awang 'Abdu'l Rahman, daughter of Awang 'Abdu'l Rahman, of Penang. He d. at Istana Bedagai, 1914, having had issue, three sons and one daughter by his first wife, one daughter by his second, and four sons by his third wife:&lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku Rahmad bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran Bendahara Putra (s/o Inche' Maimuna) of Bedagai. m. Y.M. Tengku Tisa [Mulki] binti Tengku Muhammad 'Adil (d. 1922), fifth daughter of Y.A.M. Tengku Muhammad 'Adil [Babul] ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, of Asahan, by his first wife, Inche' Sri Bulan, daughter of the Panglima Perang. He had issue, one son and two daughters: s&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Mahmud bin Tengku Rahmad, Pangeran Bendahara. m. 1911, Y.A.M. Tengku Khair ul-Bariah binti al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah (d. 1980), daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan of Asahan, by his third wife, Y.M. Inche' Itam. &lt;br /&gt;i) H.H. Tengku Nur ul-Asikhin binti al-Marhum Tengku Rahmad. b. 1896. Installed as Tengku Permaisuri at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, and granted the style of Her Highness 17th June 1933. m. at the Istana Kota Raja Indra Sakti, Tanjung Balai, 17th June 1933, H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Sha'ibun 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah III ibnu al-Marhum Sultan Muhammad Husain, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Asahan (b. at Tanjung Balai, 5th October 1906; d. 6th April 1980), son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah II ibni al-Marhum Tengku Muhammad 'Adil, Sultan and Yang di-Pertuan of Asahan, by his by his wife, H.H. Tengku Zahara binti al-Marhum Raja Muhammad Yusuf, youngest daughter of H.H. Raja Muhammad Yusuf al-Mahdi bin Raja 'Ali, Yang di-Pertuan Muda of Riau. She d. 1st January 1973, having had issue - see Indonesia (Asahan). &lt;br /&gt;ii) Y.M. Tengku Ijjah binti al-Marhum Tengku Rahmad. m. Y.M. Tengku Dollah bin Tengku Alang Yahya, youngest son of Y.A.M. Tengku Alang Yahya bin Tengku Muhammad 'Adil, Sri Paduka Tengku Regent, of Asahan, by his second wife, Y.M. Tengku Biong binti Tengku Alam Shah, daughter of Y.M. Tengku Alam Shah, Raja of Kisaran. She had issue, one son and one daughter - see Indonesia (Asahan). &lt;br /&gt;b) Y.M. Tengku Mukhtar bin Tengku Ismail al-Haj. He had issue, a son and a daughter:&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Ahmad Jalil bin Tengku Mukhtar. Adopted by his aunt, Tengku Iluk and her husband, Tengku Musa. &lt;br /&gt;i) A daughter. m. as his second wife, Y.M. Tengku Johan Arifin bin Tengku Hafas, eldest son of her uncle, Y.M. Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran, by his wife, Y.M. Tengku Uan Mahanun, daughter of Y.T.M. Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila. She had issue, seven children - see below. &lt;br /&gt;c) Y.M. Tengku Hafas bin Tengku Ismail al-Haj, Tengku Pangeran. b. at Tanjung Bringin, Bedagai, 24th March 1895 (s/o Inche' Maimuna), educ. Wakil of Bedagai 1932-1943, Pangeran of Langkat Hilir 1943-1945, Dir. of the Cabinet to the Wali Negara of East Sumatra 1949-1950. m. Y.M. Tengku Uan Mahamun (b. at Billah, 1891; d. at Medan, Sumatra, 29th June 1961), daughter of Y.T.M. Tuanku Sutan Bidar Alam Shah III, Raja of Bila. He d. after 1961, having had issue, at least two sons:&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Johan Arifin bin Tengku Hafas (s/o Tengku Uan Mahanun). m. (first) a lady of Dutch-Indonesia extraction, who d. at an early age from tuberculosis. m. (second) a daughter of his uncle, Y.M. Tengku Mukhtar bin Tengku Ismail al-Haj. He had issue, three sons and five daughters: s&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Muhid bin Tengku Johan Arifin (s/o the first wife). He d. young. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku Benjamin bin Tengku Johan Arifin (s/o the second wife). &lt;br /&gt;(3) Y.M. Tengku Azman bin Tengku Johan Arifin (d/o the second wife). &lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Salwina binti Tengku Johan Arifin (d/o the second wife). &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku Hasri binti Tengku Johan Arifin (d/o the second wife). &lt;br /&gt;(3) Y.M. Tengku Nur Saida binti Tengku Johan Arifin (d/o the second wife). &lt;br /&gt;(4) Y.M. Tengku Nelwani binti Tengku Johan Arifin (d/o the second wife). &lt;br /&gt;(5) Y.M. Tengku Analsa binti Tengku Johan Arifin (d/o the second wife). &lt;br /&gt;ii) Y.M. Tengku Aswani bin Tengku Hafas. b. at China Kassih, Sumatra, 29th May 1920 (s/o Tengku Uan Mahanun). Adopted by his aunt, Tengku Iluk and her husband, Tengku Musa. m. (first) at Tanjung Balai, Sumatra, 2nd May 1944 (div. 8th August 1950), Y.M. Tengku Sariah binti Tengku Mansur [Ietje] (b. at Leiden, the Netherlands, 14th January 1925; m. second, at Medan, 26th January 1955, Jan Harm Velsink, by whom she had further issue, one daughter), only daughter of Y.M. Tengku Mansur bin Tengku Muhammad 'Adil [Tengku Dr. Mansoer], of Asahan, by his wife, Amalia Gesina, daughter of Fredrik August Wempe. He d. at Medan, 15th April 1994, having had issue, two sons and one daughter:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Iskandar bin Tengku Aswani [Lex Mansoer]. b. at Medan, 16th January 1947 (s/o Tengku Sariah). Emigrated to British Columbia, 1982. m. at Koedijk, Netherlands, 20th August 1965, Klasiena Johanna [Ineke] (b. at Sint Pancras, Netherlands, 24th September 1946), daughter of Gerbrand Nieuwland, by his wife, Egberdina, née Buscher. He has issue, two sons:&lt;br /&gt;(a) Frank Mansoer. b. at Koedijk, 9th February 1966. Principal of the Willem Alexander Sch., Bergen. m. Floortje (b. at Leiden, 26th August 1969), daughter of Marinus Peeters, by his wife, Balbina, née Versteegen. He has issue, two sons and one daughter:&lt;br /&gt;(i) Imme Mansoer. b. at Alkmaar, Netherlands, 2nd June 1998. &lt;br /&gt;(i) Ies Mansoer. b. at Alkmaar, Netherlands, 11th July 2000. &lt;br /&gt;(ii) Sara Mansoer. b. at Alkmaar, Netherlands,9th July 2002. &lt;br /&gt;(b) Bob Mansoer. b. at Alkmaar, Netherlands, 25th August 1979, educ. Victoria Univ., BC, Canada. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku Mansur Adil bin Tengku Aswani [Ad Mansoer]. b. at Medan, 28th May 1948 (s/o Tengku Sariah). m. at Noord-Scharwoude, Netherlands, 10th September 1976, Jolanda (b. 10th January 19xx), née Molenaar. He has issue, one son and four daughters:&lt;br /&gt;(a) Justin Mansoer. b. at Alkmaar, Netherlands, 16th April 1982. &lt;br /&gt;(a) Sariah Mansoer. b. at Broek op Langedijk, Netherlands, 2nd May 1984. &lt;br /&gt;(b) Naima Ananda Mansoer. b. at Broek op Langedijk, Netherlands, 19th October 1985. &lt;br /&gt;(c) Moetiara Roswitha Mansoer. b. at Broek op Langedijk, Netherlands, 4th July 1989. &lt;br /&gt;(d) Jasmin Zahara Mansoer. b. at Broek op Langedijk, Netherlands, 27th June 1991. s &lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Buhaya Inge Noermaya binti Tengku Aswani [Maya]. b. at Medan, 23rd May 1945 (d/o Tengku Sariah). m. at Bergen, Netherlands, 6th May 1971, Theodorus [Dirk] Brouwer (b. at Alkmaar, Netherlands, 4th February 1946), engineer, son of Johannes Wilhelmus Brouwer, by his wife, Maroescha [Rita], née Krischko. She has issue, one son and one daughter. &lt;br /&gt;iii) Y.M. Tengku Harris bin Tengku Hafas. b. ca. 1922 (s/o Tengku Uan Mahanun). Sometime CEO Hagemeyer (Malaysia) Sdn. Bhd. m. Y.A.M. Tengku Mariam binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his seventh wife, H.H. Tengku Putri Zahara binti al-Marhum Sultan 'Ala ud-din Sulaiman Shah, Tengku Permaisuri, daughter of Colonel H.H. Sultan 'Ala ud-din Suleiman Shah ibni al-Marhum Raja Muda Musa, Sultan of Selangor, GCMG, KCVO. He has issue, one son and three daughters:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku 'Abdu'l Aziz bin Tengku Harris. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku Razief bin Tengku Harris. &lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Mastura binti Tengku Harris. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku Movita binti Tengku Harris. &lt;br /&gt;(3) Y.M. Tengku Farida binti Tengku Harris. &lt;br /&gt;iv) Y.M. Tengku Razali bin Tengku Hafas (s/o Tengku Uan Mahanun). m. Y.A.M. Tengku Latifa Hanum binti al-Marhum Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibnu al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz, Sultan of Langkat, by his first wife, H.H. Tengku Raudah binti al-Marhum Tuanku Al-Haji Muhammad Shah, Tengku Permaisuri, eldest daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong. He had issue, one son and eight daughters: s&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Iskandar Zulkarnian al-Qadri bin Tengku Razali. &lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Ferial Azly binti Tengku Razali. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku Alaida Handem binti Tengku Razali. &lt;br /&gt;(3) Y.M. Tengku Eliana binti Tengku Razali. &lt;br /&gt;(4) Y.M. Tengku Aswin bin Tengku Razali. &lt;br /&gt;(5) Y.M. Tengku Selfiana binti Tengku Razali. &lt;br /&gt;(6) Y.M. Tengku Ridzwa binti Tengku Razali. &lt;br /&gt;(7) Y.M. Tengku Razifa binti Tengku Razali. &lt;br /&gt;(8) Y.M. Tengku Khairina binti Tengku Razali. &lt;br /&gt;v) Y.M. Tengku Zulkifli bin Tengku Hafas (s/o Tengku Uan Mahanun). m. Dr. Mieke Hafas, MD, a lady of Dutch nationality. He had issue, one son and two daughters:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Rohan bin Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Rosmala Gita Carolina binti Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku Agnieta Sandra binti Tengku Zulkifli. &lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku Nomel Badr ul-Buhaja [Badroel Boehaja] binti Tengku Hafas (d/o Tengku Uan Mahanun). m. Y.A.M. Tengku Maimun [Maimoen] ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his wife, H.H. Tengku Fatimah Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri, daughter of Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman, of Serdang. She had issue, three sons and four daughters - see Indonesia (Langkat). &lt;br /&gt;ii) Y.M. Tengku Fatimah Nabariah binti Tengku Hafas [Imah] (d/o Tengku Uan Mahanun). &lt;br /&gt;d) Y.M. Tengku Agus Maimun bin Tengku Ismail al-Haj (s/o Inche' Maimuna). &lt;br /&gt;e) Y.M. Tengku Idham Laut bin Tengku Ismail al-Haj. b. 1900 (s/o Inche' Maimuna). m. before 1950, Y.A.M. Raja Noyah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, daughter H.H. al-'Ashik Billah Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah II Habibu'llah ibni al-Marhum Sultan Ja'afar Safi ud-din Mu'azzam Shah, Sultan and Yang di-Pertuan of Perak Dar ul-Ridzwan (by a Chinese lady?). He d. 1963, having had issue, five sons and six daughters, including:&lt;br /&gt;i) Y.M. Tengku British bin Tengku Idham Laut. s &lt;br /&gt;ii) Y.M. Tengku Amir Faruk bin Tengku Idham Laut. b. at Medan, 24th January 1956. m. Y.M. Tengku Hafiza binti Tengku 'Abdu'l Mutaib, son of Y.M. Tengku 'Abdu'l Mutaib, of Labuhan. He has issue, eight sons and one daughter, including:&lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Hikman bin Tengku Amir Faruk. m. Ratna. He had issue, one son and two daughter, including:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Tengku Liza binti Tengku Hikman. &lt;br /&gt;(2) Y.M. Tengku 'Abdu'llah Faruk bin Tengku Amir Faruk. b. at Medan, 24th January 1956. m. Inche' Sulastri binti Sudarso. He has issue, four sons and one daughter:&lt;br /&gt;(a) Y.M. Tengku Agung Ramadhan bin Tengku 'Abdu'llah Faruk. b. at Medan, 1985. &lt;br /&gt;(b) Y.M. Tengku Muhammad Rizky bin Tengku 'Abdu'llah Faruk. b. at Medan, 1991. &lt;br /&gt;(c) Y.M. Tengku Alam Shah Putra bin Tengku 'Abdu'llah Faruk. b. at Medan, 1995. &lt;br /&gt;(a) Y.M. Tengku Putri Nabila binti Tengku 'Abdu'llah Faruk. b. at Medan, 2000. &lt;br /&gt;(1) Y.M. Tengku Hawari binti Tengku Amir Faruk. &lt;br /&gt;a) H.H. Tengku Zubaida binti Tengku Ismail al-Haj, Tengku Ampuan (d/o Tengku Kechil). m. 1886, H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong (b. 1867; d. 4th March 1946), eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah bin Muhammad Ishak, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong, by his second wife. She had issue, two sons and three daughters - see Indonesia (Kualuh). &lt;br /&gt;b) Y.M. Tengku Iluk binti Tengku Ismail al-Haj [Elok]. m. before May 1919, Y.M. Tengku Uwuk Musa bin Tengku Muhammad 'Adil (b. at Tanjung Balai, 1893; k. at Tanjung Balai, together with all his household, during the "social revolution", 3rd March 1946), son of Y.A.M. Tengku Muhammad 'Adil [Babul] ibni al-Marhum Sultan Muhammad Husain Rahmad Shah, Raja Muda, of Asahan, by his fourth wife, Y.M. Radin Ayu Sariah, of Cianjar, on Java. She d.s.p. having adopted four sons - see Indonesia (Asahan). s &lt;br /&gt;4) Y.A.M. Tengku Al-Haji 'Abdu'l Rahman ibni al-Marhum Sultan Usman Perkasa 'Alam Shah, Tengku Temenggong. He had issue, a son:&lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku Muhammad Mukhtar bin Tengku Al-Haji 'Abdu'l Rahman, Tengku Paduka Setia Sri (cre. 12th July 1926). b. at Labuhan Deli, 7th August 1893, educ. HIS Medan. Secretary to the Sultan 1919. &lt;br /&gt;5) Y.A.M. Tengku Haji Ja'afar ibni al-Marhum Sultan Usman Perkasa 'Alam Shah, Tengku Pangeran Bendahara. Sometime Tengku Perdana Mantri. m. Inche' Hajjah Zaliha (d. 1926). He d. 1926 aged 74 years, having had issue, a son:&lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku Haji Ahmad Hayat bin Tengku Al-Haji Ja'afar, Tengku Pangeran Bendahara. He d. 2nd April 1923. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1857 - 1873 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Usman Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. b. at Labuhan Deli, 1831, as Tengku Mahmud, eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Panglima Usman Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Panglima Mangedar 'Alam, Sultan of Deli, educ. privately. Succeeded on the death of his father, 22nd October 1857. Installed with the reign title of Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah. Entered into a contract with the government of the NEI which recognised his independence from the Sultans of Aceh and Siak, 21st August 1862. Increased his wealth and authority very greatly by granting land concessions to the Dutch and other European planting companies. m. several wives, including, (first) (div.) H.H. Tengku Zaleha binti Tengku Zainal Abidin, Tengku Maha Suri Raja, daughter of Tengku Zainal Abidin. m. (second) Y.M. Inche' Mariam, Inche' Puan Negara. m. (third) Inche' …(m. second, Raja Burhan ud-din, of Pagaruyung). He d. at Labuhan Deli, 24th October 1873 (bur. there at the Kota Masjid), having had issue, one son and three daughters, by his Royal wife:&lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Ma'amun al-Rashid, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli (s/o Tengku Zaleha) - see below. &lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Fatimah binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah (d/o Tengku Zaleha). &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Zubaidah binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah (d/o Tengku Zaleha). &lt;br /&gt;3) Y.A.M. Tengku Rumayah binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah (d/o Tengku Zaleha). She d. young. &lt;br /&gt;s &lt;br /&gt;1873 - 1924 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah [al-Marhum Ma'amur], Sultan of Deli. b. at Labuhan Deli, 2nd October 1853, as Tengku Ma'amun al-Rashid, eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Usman Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his first wife, Tengku Zaleha binti Tengku Zainal Abidin, Tengku Maha Suri Raja, educ. privately. Succeeded on the death of his father, 24th October 1873. Invested by the Sultan of Siak, at Bengkalis, 13th May 1875. Installed at Labuhan Deli, with the reign title of Sri Paduka Tuanku Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, 7th December 1876. Moved his capital to Medan, 18th May 1891. Constructed several important examples of architecture in the Moorish style, including the Istana Agong Kota Ma'amun and the Masjid Raya al-Mashun. Rcvd: Cdr. of the Order of Orange-Nassau (31.8.1920), and Knt. of the Order of the Netherlands Lion. m. (first) Y.M. Inche' Nemak, Inche' Puan Besar (d. at Medan, 7th July 1932). m. (second) Y.M. Inche' Ganda, Inche' Ibu Baginda (cre. 10th February 1925) (b. 1858; d. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 1945). m. (third) Tengku Maimuna [Tengku Andah] (d. at Medan, June 1936). He d. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 9th September 1924 (bur. Masjid al-Masun, Medan), having had issue, three sons and five daughters:&lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku 'Amal ud-din, Tengku Besar, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli (s/o Inche' Ganda) - see below. s &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Harun al-Rashid ibni al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Tengku Perdana Mantri (cre. 1st February 1923). b. at Medan, 8th February 1891. Wakil of Bedagai 1932. Rcvd: the Lesser Gold Star for Loyalty and Merit (1933). m. (first) 10th February 1925, Y.M. Aja Siti Kamaliah, Aja Puri Anum (cre. 10th February 1925) (d. 6th December 1926), daughter of Datuk Akub, Datuk Sri Dharma Indra, the Wazir of XII Kota Hamperan Perak. m. (second) 3rd August 1933, Y.A.M. Tengku Nurillah binti al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, Tengku Puan Tengah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his wife, Aja Loyah. He had issue, three sons and one daughter:&lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku Ainul bin Tengku Harun al-Rashid. b. 6th December 1926 (s/o Aja Siti Kamaliyah). &lt;br /&gt;b) Y.M. Tengku Danial bin Tengku Harun al-Rashid (s/o Tengku Nurillah). &lt;br /&gt;c) Y.M. Tengku Muhammad Jufri al-Rashid bin Tengku Harun al-Rashid. b. 1949. &lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku Munayal binti Tengku Harun al-Rashid (d/o Tengku Nurillah). &lt;br /&gt;3) Y.A.M. Tengku Amin ud-din ibni al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Tengku Bendahara. &lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Putri binti al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah (eld. sister of Sultan 'Amal ud-din II). She d. at Medan, February 1937. &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Chantik binti al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah. m. 21st November 1933, Y.A.M. Tengku 'Abdu'l Rashid, Tengku Besar, son of Y.T.M. Tuanku Sutan Ma'amur Perkasa Alam Shah, Yang di-Pertuan of Kota Pinang - see Indonesia (Kota Pinang). &lt;br /&gt;3) Y.A.M. Tengku Kemala binti al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah. m. 8th May 1930, Tengku Ismail bin Tengku Alang Yahya, third son of Y.A.M. Tengku Alang Yahya bin Tengku Muhammad 'Adil, Sri Paduka Tengku Regent, of Asahan, by his second wife, Y.M. Tengku Biong binti Tengku Alam Shah, daughter of Y.A.M. Tengku Alam Shah, Raja of Kisaran. She had issue, an only son - see Indonesia (Asahan). &lt;br /&gt;s &lt;br /&gt;1924 - 1945 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. b. at Labuhan Deli, 8th March 1877, as Tengku 'Amal ud-din, eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din Mahmud Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his wife, Inche' Ganda, Inche' Ibu Baginda, educ. privately. Appointed as Heir Apparent with the title of Tengku Besar, 22nd February 1893. Became Regent for his incapacitated father, 1923. Proclaimed as Sultan after his death, 11th September 1924. Installed at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, with the reign title of Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din II Perkasa 'Alam Shah, 17th December 1924. Crowned there, 9th February 1925. Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. Rcvd: Knt. of the Order of the Netherlands Lion (29.8.1931), and Officer of the Order of Orange-Nassau (31.8.1932, Knt. 22.8.1923). m. (first) 17th November 1899, Y.A.M. Raja Maheran binti al-Marhum Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, Tengku Mahasuri (cre. 1899) (d. 16th April 1901, bur. Masjid Raya, Labuhan), third daughter of H.H. Maulana Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah II Habibu'llah ibni al-Marhum Sultan Ja'afar Safi ud-din Mu'adzam Shah, Sultan of Perak. m. (second) 1903, Y.M. Inche' Mariam, Inche' Puan Negara (cre. 10th February 1925). m. (third) at Deli, 2nd November 1906, H.H. Raja Khalija binti al-Marhum Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, Tengku Permaisuri (b. 1882; d. 10th November 1960), installed at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, as Tengku Permaisuri 10th February 1925, daughter of H.H. al-'Ashik Billah Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah II Habibu'llah ibni al-Marhum Sultan Ja'afar Safi ud-din Mu'azzam Shah, Sultan and Yang di-Pertuan of Perak Dar ul-Ridzwan, by his second wife, Y.M. Wan Norsiah., by whom he had issue two sons and seven daughters. He d. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 4th October 1945, having had issue, seven sons and eight daughters:&lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Besar Otteman, Tengku Mahkota, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli (s/o Maheran) - see below. &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Amir ud-din ibni ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Tengku Pangeran Bendahara (cre. 1st August 1930). b. 12th March 1905 (s/o Mariam), educ. Frobel and First European Schs., Medan and MULO, Batavia. Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 3rd June 1928, Y.A.M. Raja Noor Aziah, styled Tengku Puan Bendahara from 1st August 1930, and Tengku Puan Bongsu from 23rd September 1936, elder daughter of Y.A.M. Raja Haji Harun ar-Rashid ibni al-Marhum Paduka Sri Sultan Sir Idris Murshid al-A'zam Shah Rahmadu'llah Shah, Raja Kechil Sulong of Perak. He had issue, one son:&lt;br /&gt;a) Y.M. Tengku Fuad ud-din bin Tengku Amir ud-din. b. 23rd September 1936. &lt;br /&gt;3) Y.A.M. Tengku Muhammad Dalik ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Tengku Sri Muda. b. at Istana Kota Ma'amun, Medan, 2nd October 1906. &lt;br /&gt;4) Y.A.M. Tengku Hafiz ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah (s/o Khalijah). He d. young. &lt;br /&gt;5) Y.A.M. Tengku Jamal Mansur ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah (c/o Khalijah). He d. young. s &lt;br /&gt;6) Y.A.M. Tengku Izz ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah. b. at Istana Kota Matsun, Medan, 18th March 1912, educ. HIS Medan. m. January 1936, Y.M. Raja Arfah, a Perak Princess. &lt;br /&gt;7) Y.A.M. Tengku Kamil ud-din ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah. b. at Istana Kota Matsun, Medan, 18th March 1912, educ. HIS Medan. &lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Jurah al-Mamnun binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah. b. 22nd August 1907 (d/o Khalijah). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 3rd June 1928, Y.M. Raja 'Ali Shah bin Raja Mansur, son of Y.A.M. Raja Mansur ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, of Perak - see Malaysia (Perak). &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Izah binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah (d/o Inche' Mariam). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 3rd June 1928 (div.), Y.M. Raja Dato' Sri Arif Shah bin Raja Haji Harun al-Rashid (b. at Bukit Chandan, Kuala Kangsar, 1st September 1902; d. 25th January 1975), eldest son of Y.A.M. Raja Haji Harun al-Rashid ibni al-Marhum Sultan Sir Idris Murshid al-Azzam Shah Rahmatu'llah, Raja Kechil Sulong, of Perak, by his first wife, Che' Rahmah - see Malaysia (Perak). [?m. (second?) Y.M. Tengku Muhammad Hidayat ibnu Tengku Muhammad Salih, Tengku Kejuruan Paduka Raja, son of Y.M. Tengku Muhammad Salih bin Muda Sri di-Raja Tengku Muhammad Daud [Sutan Mat Shah], of Perchut. She had issue - see above. &lt;br /&gt;3) Y.A.M. Tengku Zuraida binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah (d/o Raja Khalija). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 12th June 1930, Y.M. Tengku Nazam ud-din, son of her father's sister. &lt;br /&gt;4) Y.A.M. Tengku Yohanit binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah (d/o Raja Khalija). &lt;br /&gt;5) Y.A.M. Tengku Akmal binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah (d/o Raja Khalija). &lt;br /&gt;6) Y.A.M. Tengku Umm ul-Banin [Oomul Banin] binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah. m. at Medan, 4th March 1931, Y.M. Raja Zainal Azman Shah bin Raja Sir Chulan, Raja Kechil Bongsu (d. 16th December 1956), son of Y.A.M. Raja Sir Chulan ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, Raja di-Hiler, KBE, CMG, of Perak, by his wife, Y.A.M. Raja Kechil Puteh Kalsum binti Paduka Sri Sultan Sir Idris Murshid al-Azzam Shah Rahmatu'llah, Raja Perempuan, eldest daughter of Colonel H.H. Paduka Sultan Sir Idris Murshid al-Azzam Shah Rahmatu'llah ibni al-Marhum Raja Bendahara Alang Iskandar, Sultan and Yang di-Pertuan of Perak, GCMG, GCVO. She had issue, two daughters - see Malaysia (Perak). &lt;br /&gt;7) Y.A.M. Tengku Mahtera binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah. m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 25th February 1934, Y.M. Tunku Izahain bin Tunku Ibrahim (d. 26th June 1938), son of Y.A.M. Tunku Ibrahim ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Hamid Halim Shah, CMG, CVO, sometime Regent of Kedah, by his wife, Y.M. Tunku Aisha binti Raja Muda Tunku 'Abdu'l Aziz, daughter of Y.A.M. Tunku 'Abdu'l Aziz ibni al-Marhum Sultan Ahmad Taj ud-din Mukarram Shah, Raja Muda of Perak - see Malaysia (Kedah). &lt;br /&gt;8) Y.A.M. Tengku Ashar binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah. m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 13th February 1939, Y.A.M. Tengku Darman Shah ibni al-Marhum Sultan Muhammad Shah, younger son of H.H. Sri Paduka Tuanku Al-Haji Muhammad Shah ibni al-Marhum Tuanku Al-Haji 'Abdu'llah Ni'matu'llah Shah, Raja and Yang di-Pertuan of Kualuh and Leidong - see Indonesia (Kualuh). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1945 - [1967] H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. b. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 20th August 1900, as Tengku Besar Otteman, eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his first wife, Raja Maheran binti al-Marhum Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, Tengku Mahasuri, third daughter of H.H. Maulana Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah II Habibu'llah ibni al-Marhum Sultan Ja'afar Safi ud-din Mu'adzam Shah, Sultan of Perak, educ. Switzerland. Styled Tengku Mahkota at birth. Invested as Heir Apparent by his father, at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 12th July 1926. Tengku Temmengong of Labuhan, October 1931. Attended the Golden Jubilee Celebrations of Queen Wilhelmina, in Amsterdam, 1938. Regent 1933-1945. Mbr. All-Sumatra Advisory Cncl. 1945. Succeeded on the death of his father, 4th October 1945. Installed at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 6th October 1945. m. (first) at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 7th May 1925, Y.A.M. Raja Amina binti Raja Chulan, Tengku Puan Besar Indra (b. 1900; d. at Medan, d. 26th January 1934), installed as Tengku Puan Besar Indra 13th July 1926, daughter of Raja Sir Chulan ibni al-Marhum Paduka Sri Sultan 'Abdu'llah Muhammad Shah Habibu'llah, KBE, CMG, Raja di-Hiler, of Perak, by his wife, Raja Puteh Kulsom binti Paduka Sri Sultan Sir Idris Murshid al-A'zam Rahmadu'llah Shah, Raja Perempuan Kechil, eldest daughter of Colonel H.H. Paduka Sri Sultan Sir Idris Murshid al-A'zam Rahmadu'llah Shah ibni al-Marhum Raja Bendahara Alang Iskander, Sultan of Perak, GCMG, GCVO. m. (second) at Kuala Kangsar, Perak,11th April 1935, H.H. Raja Norshidah binti al-Marhum Raja Haji Harun ar-Rashid, Tengku Ampuan (b. 1914; d. 13th September 1978), styled Tengku Ampuan Besar from 11th October 1935, and installed as Tengku Ampuan 6th October 1945, younger daughter of Y.A.M. Raja Haji Harun ar-Rashid ibni al-Marhum Paduka Sri Sultan Sir Idris Murshid al-A'zam Shah Rahmadu'llah Shah, Raja Kechil Sulong of Perak. m. (third) 1935, Y.M. Inche' Mariam binti 'Abdu'llah (b. 1922). He d. at Kuala Lumpur, Malaysia, 5th June 1967 (bur. Masjid Raja al-Maksum, Medan), having had issue, five daughters by his first wife, one daughter by his second, and four sons and one daughter by his third wife:&lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Otteman Azmi, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Azmi Perkasa 'Alam Shah Al-Haj ibni al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli (s/o Inche' Mariam) - see below. s &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Haji Hamdi ibni al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah [Tengku Haji Hamdi Otteman Delikhan], Raja Muda. b. 11th July 1940 (s/o Inche' Mariam). Mbr. North Sumatra Provincial Legislative Cncl. 1982-1992. Installed as Wali Sultan (Sultan's Governor or Guardian) for his minor grand nephew, at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 22 nd July 2005. &lt;br /&gt;3) Y.A.M. Tengku Husayn ibni al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah [Tengku Husayn Otteman Delikhan], Tengku Temenggong. b. 17th April 1942 (s/o Inche' Mariam). &lt;br /&gt;4) Y.A.M. Tengku Zikry ibni al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah [Tengku Zikry Otteman Delikhan], Tengku Laksamana. b. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 22nd January 1945 (s/o Inche' Mariam). s &lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Hajjah Maheran binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah (d/o Raja Amina). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 17th October 1948 (nikah) and 25th November 1948 (zifaf), Y.A.M. Tengku Murad Aziz ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah, son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Abdu'l 'Aziz 'Abdu'l Jalil Rahmad Shah ibni al-Marhum Sultan Haji Musa al-Khalid al-Mu'azzam Shah, Sultan of Langkat, by his wife, H.H. Tengku Fatimah Sham binti Tengku Putih 'Abdu'l Kadir, Tengku Permaisuri, eldest daughter of Y.M. Tengku Putih 'Abdu'l Kadir bin Sutan Aman. She had issue, one son and four daughters - see Indonesia (Langkat). &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Nuzli binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah (d/o Raja Amina). &lt;br /&gt;3) Y.A.M. Tengku Zelmi binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah (d/o Raja Amina). &lt;br /&gt;4) Y.A.M. Tengku Mulfi binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah (d/o Raja Amina). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah, Sultan of Serdang, second son of H.H. Paduka Sri Sultan Tuanku Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang, by his third wife, Inche' Raya. She had issue - see Indonesia (Serdang). &lt;br /&gt;5) Y.A.M. Tengku Fauzi binti ibni al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah. b. at Medan, January and d. there, June 1933 (d/o Raja Amina). &lt;br /&gt;6) Y.A.M. Tengku Zaira binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah. b. at Deli, 6th February 1936 (d/o Raja Norshidah). m. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, October 1991, Y.M. Tengku Muhammad Ansari bin Tengku Muhammad Hidayat, son of Y.M. Tengku Muhammad Hidayat ibnu Tengku Muhammad Salih, Tengku Kejuruan Paduka Raja, of Perchut, by his wife, Y.A.M. Tengku Izah binti al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, daughter of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Amal ud-din II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Ma'amun al-Rashid Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. She had issue - see above. &lt;br /&gt;7) Y.A.M. Tengku Zaida (or Zuraidah?) binti al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah. b. at Deli, 30th October 19xx (d/o Inche' Mariam). m. …, son of Sulaiman Paris. She d. 31st May 2002, having had issue, including a son. &lt;br /&gt;s &lt;br /&gt;1967 - 1998 H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Azmi Perkasa 'Alam Shah Al-Haj ibni al-Marhum Sultan Otteman al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. b. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 24th April 1936, eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan 'Amal ud-din al-Sani Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli, by his third wife, Inche' Mariam binti 'Abdu'llah, educ. Perguruan Khalsa English Sch., Medan and English Coll., Johor Bahru. Appointed as Heir Apparent with the title of Tengku Mahkota, 6th October 1945. Succeeded on the death of his father, 5th June 1967. Installed at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan. MHR for Medan in the Indonesian National Assembly at Jakarta 1982-1992. m. (first) at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 19th Jul 1959, H.H. Tuanku Zainab Zulhari binti Tuanku Mahmud, Tengku Ampuan (b. 13th April 1938; d. at Jakarta, 20th May 1988), styled Tengku Ampuan Besar from 1959, and Tengku Ampuan from 1967, daughter of Tuanku Mahmud bin 'Abdu'l Majid, of Aceh, by his wife, a daughter of H.H. Paduka Sri Sultan Sulaiman Sharif ul-'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Bashar un-din, Sultan and Yang di-Pertuan Besar of Serdang. m. (second) at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 31st January 1990, H.H. Tuanku Khairat un 'Azhar binti Tengku Muhammad Nur Aziz, Tengku Ampuan (b. 6th January 1938), widow of a Javanese gentleman, and third daughter of Tengku Muhammad Nur ibni al-Marhum Sultan 'Abdu'l Aziz, Tengku Bendahara, of Langkat, by his wife, Tengku Zaitun binti Tengku Muhammad Yasin, daughter of Tengku Muhammad Yasin bin Tengku Hamzah al-Haj. He d. from heart failure, at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 4th May 1998 (bur. there at the Masjid Raja al-Maksum), having had issue, two sons and one daughter by his first wife, and no children by his second:&lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Otteman, who succeeded as H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman III Mahmud Ma'amun Padrap Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Azmi Perkasa 'Alam Shah al-Haj, Sultan of Deli (s/o Tuanku Zainab) - see below. &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Osman Aga Amal Ganda Wahid ibni al-Marhum Sultan Azmi Perkasa 'Alam Shah al-Haj. b. at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 28th December 1971 (s/o Tuanku Zainab), educ. SMP, Medan; SMA, Jakarta; Indonesian Military Acad., Magelang. &lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Hajjah Nazariah binti al-Marhum Sultan Azmi Perkasa 'Alam Shah al-Haj [Yaya]. b. 1968 (d/o Tuanku Zainab). &lt;br /&gt;s &lt;br /&gt;1998 - 2005 Lieutenant-Colonel H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman III Mahmud Ma'amun Padrap Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Azmi Perkasa 'Alam Shah al-Haj, Sultan of Deli. b. at Kuala Lumpur, Malaysia, 30th August 1966, as Tengku Otteman Mahmud, eldest son of H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan 'Alam Shah 'Azmi Perkasa 'Alam Al-Haj ibni al-Marhum Sultan 'Alam Shah Otteman al-Sani Perkasa 'Alam, Sultan of Deli, by his first wife, H.H. Tuanku Hajjah Zainab Zulhari binti Tuanku Mahmud, Tengku Ampuan, daughter of Tuanku Mahmud bin 'Abdu'l Majid of Aceh, educ. SMP, Medan; SMA, Jakarta; Indonesian Military Acad., Magelang; and Land Forces Commando Staff Coll., Bandung, Java. Cmsnd. 2nd-Lieut. of Infantry TNI 1989, prom. Maj. 1999, served in the Timor conflict 1995, in Iri an Jaya (Papua) 1998, and at Makassar, South Sulawesi 1999-2003, prom. Lieut-Col. 2003, cdt. 312 Btn. Kala Sakti, Brigif 15 Kujang II, Kodam III Siliwangi, Jawa Barat 2003, served at Subang 2003-2004, and in the Tsunami relief ops. in Aceh 2004-2005. Succeeded on the death of his father as Head of the Royal House of Deli, 4th May 1998. Installed as Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman Mahmud Ma'amun Padrap Perkasa 'Alam Shah, at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 5th May 1998. m. at Makassar, South Sulawesi, 24th April 1997*, Y.A.M. Puang Hajjah Siska Mara Bintang, Raja Ampuan Indra (b. at Makassar, South Sulawesi, 15th May 1965), granted the titles of Puan Indra Raja and Raja Ampuan Indra 30th August 2002, daughter of Major-General Haji Andi Zainal Basri Palaguna, sometime Governor of South Sulawesi, by his wife, Hajjah Nurmi. He was k. in an aircraft accident, at Malik us-Saleh Airport, Lhoksemauwe, North Aceh, 21st July 2005 (bur. Masjid Raja al-Maksum, Medan), having had issue, two sons:&lt;br /&gt;1) Y.A.M. Tengku Mahmud Arfa Lamanjiji [TjiTji], who succeeded as H.H. Paduka Sri Sultan Mahmud Arfa Lamanjiji Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Otteman Mahmud Ma'amun Padrap Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli - see below. &lt;br /&gt;2) Y.A.M. Tengku Zulkarnain Otteman Mangendar Alam ibni al-Marhum Sultan Otteman Mahmud Ma'amun Padrap Perkasa 'Alam Shah. b. at Subang, Java, 23rd November 2003. &lt;br /&gt;s &lt;br /&gt;[2005] H.H. Paduka Sri Sultan Mahmud Arfa Lamanjiji Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Otteman Mahmud Ma'amun Padrap Perkasa 'Alam Shah, Sultan of Deli. b. at Makassar, South Sulawesi, 17th August 1997*, elder son of Lieutenant-Colonel H.H. Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman III Mahmud Ma'amun Padrap Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Azmi Perkasa 'Alam Shah al-Haj, Sultan of Deli, by his wife, Y.A.M. Puang Hajjah Siska Mara Bintang, Raja Ampuan Indra, educ. SD Kelapa Kembar, Subang, Java. Succeeded on the death of his father, 21st July 2005. Installed at the Istana Agong Kota Ma'amun, Medan, 22nd July 2005. Reigns under the guardianship of his paternal grand uncle, the Raja Muda, Tengku Haji Hamdi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;* The date of the marriage given here is the one stated in a published newspaper interview with Hajjah Siska Mara Bintang. The same interview gives the date of birth for her elder son as 29th August 1998. The dates for the marriage vary in range between 1996 and 1999, according to different sources in Deli, Jakarta and Makassar. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115751417369261760?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751417369261760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115751417369261760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/09/karo-dan-deli.html' title='Karo dan Deli'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115346919415233541</id><published>2006-07-21T01:04:00.000-07:00</published><updated>2006-07-21T01:06:34.423-07:00</updated><title type='text'>Novel Layak Dibaca: Bayang-bayang Pohon Delima</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.serambi.co.id/modules/Katalog/images/cover/buku_bayang-pohonDelima.gif" align= "left" border=3 width="200" height="350" HSPACE=5 &gt; Bayang-Bayang Pohon Delima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by: Tariq Ali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah: Julkifli Marbun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISBN:979-16-0134-8&lt;br /&gt;478 hal.&lt;br /&gt;Ukuran 13 x 20 cm&lt;br /&gt;Terbit: Juli 2006&lt;br /&gt;Harga: 54.900,00&lt;br /&gt;Pernerbit Serambi&lt;br /&gt;http://serambi.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayang-Bayang Pohon Delima adalah salah satu dari tetralogi novel Tariq Ali yang mengungkap jejak peradaban Islam. Novel ini telah diterjemahkan dalam lusinan bahasa dan dianugerahi penghargaan Archbishop San Clemente del Instituto Rosalia de Casto Prize untuk kategori Fiksi Bahasa Asing Terbaik yang diterbitkan di Spanyol pada 1994. Tiga karyanya yang lain: Kitab Salahuddin, Perempuan Batu, dan Sultan in Palermo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali's "Shadow of the Pomegranate Tree" provides not only a great reading, but an extremely useful corrective to the general western misconception about Muslim society. His work while a fiction, has clearly been thoroughly researched. The openness, tolerance and cosmopolitanism of Islamic society during the Moorish period is clearly presented with accents and touches that ring true. While westerners are inclined to view Islam as a monolithic entity, Ali brings out the division and tension that existed within the societies of each period.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Shadows of the Pomegranate Tree" is set in Spain after the fall of Granada. The story of the Banu Hudayl, a landed aristocratic family, the book explores the fateful decision that the Muslims of Spain had to make in the aftermath of the Reconquista. Shadows opens with the Muslim community having been recently shaken by the burning of their books on the order of Ximenes de Cisneros, Isabella's confessor. Sent to Granada to debate theology, Cisneros was verbally bested by the Muslim scholars. Defeated, he ordered all Muslim books to be destroyed two million manuscripts burned. "They set our culture on fire...The record of eight centuries was annihilated in one day", Umar the head of the Hudayl, laments. The only books to be saved from this wanton destruction were 300 medical and scientific works, spared by the petitions of Christian scholars who realized their superiority, and those books that the soldiers carrying them to the square discarded, judging the books' importance by their weight.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cisneros, a man of the church is hell bent on destroying all vestiges of the Muslim society and culture in Granada. He sees force as the only way to win the conversion of the Muslims to Christianity, unlike his predecessor, who had given orders for the priests to learn Arabic and have Christian works translated. Yet his actions also have a personal element, as others whisper about his apparent Jewish features. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cisneros cruelty is interestingly contrasted to the outlook of Don Ignio, the civilian governor of the Granada region, and a life long friend of Umar's. Don's entrouge consisted of Jewish and Moors, and he tells Umar "For me a Granada without them is like a desert without Oasis. But I am on my own" When Umar comments that the current situation would never have arisen had the Moors used the same tactics that the Christian were now employing, Dons's response is: "Instead you attempted to bring civilization to the whole peninsula regardless of faith or creed. It was noble of you now you must pay the price."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The reason I find this an excellent read is because Ali treats western history with the same thoroughness and brutal honesty, he demolishes the myth that the episode was a victory of one sort or the other of western society, simply by incorporating facts into the narrative. The triumphalism and sheer blood thirstiness of the Christian west is underscored most clearly in "Shadows of the Pomegranate Tree".&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115346919415233541?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115346919415233541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115346919415233541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/07/novel-layak-dibaca-bayang-bayang-pohon.html' title='Novel Layak Dibaca: Bayang-bayang Pohon Delima'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115166382151842937</id><published>2006-06-30T03:36:00.000-07:00</published><updated>2006-06-30T03:37:01.616-07:00</updated><title type='text'>Sionomhudon</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Sejarah Negeri Sionomhudon&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Negeri Sionomhudon pada abad 15-16 dikenal merupakan bagian dari Kerajaan Barus Hulu, sejak berdirinya sebuah kerajaan dengan rajanya bernama Sultan Marah Sifat. (Mengenai Barus Hulu lihat Abdul Rachmi Pasaribu, Buku Raja Uti Tokoh Spiritual Batak, Yayasan Lopian Indonesia, 1996)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di negeri inilah Sisingamangaraja XII mendapat suaka politik dan mendirikan benteng pertahanan terakhir dan sekaligus pemerintahan in exile, kerajaan Batak melawan kekuatan kolonial Belanda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Negeri Sionomhudon atau dalam bahasa Pakpak disebut Siennemkodin (Enam periuk) terletak di daerah pegunungan bagian barat Danau Toba membentang hingga pinggir lautan India, di barat perbatasannya adalah Barus dan Singkil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang ini, secara administratif pemerintahan, wilayah ini terletak persis di ujung barat Humbang Hasundutan. Di bagian selatan berbatasan langsung dengan Tapanuli Tengah menyenggol perbatasan Aceh Selatan dan di timur laut dengan Kabupaten Dairi/Pakpak Barat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wilayah ini, dalam administrasi kolonial Belanda bernama Onderafdeling Boven Barus, Kecamatan Barus Hulu, dengan asisten Demang berkedudukan di Pakkat. (Drs Gens G Malau, Buku Lopian Boru Sinambela hal 206-217, Yayasan Taotoba Nusabudaya, Jakarta 1997)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Barus Hulu, dengan otoritas Sultan Marah Sifat meliputi tujuh provinsi; Negeri Rambe, Negeri Simanullang, Negeri Pusuk, Negeri Marbun, Negeri Tukka Dolok, Negeri Siambaton, Negeri Tukka Holbung Sijungkang dan Negeri Sionomhudon (Parlilitan &amp; Tarabintang). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak 1000-1300 SM, diperkirakan kerajaan ini masuk dalam kedaulatan Kerajaan Hatorusan, Bagian dari Dinasti Sorimangaraja pimpinan Raja Uti (Raja Miok-miok atau Raja Hatorusan atau Biak-biak alias Gumelleng-gelleng) yang berpusat di Sianjur Mula-mula. Kerajaan Uti ini, merupakan konfederasi kerajaan-kerajaan kecil yang membentang di seluruh tanah Batak, timur Sumatera sampai pesisir Singkil di Aceh dan daerah pesisir barat, Sumatera Utara. Ibukotanya pernah pindah-pindah, diantaranya ke Aceh (pesisir). (Parlindungan)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Barus (Hilir), di tahun 200 SM, merupakan daerah terpenting kerajaan Hatorusan dengan kunjungan orang-orang Arab pra-Islam Funisia dan Mesir serta armada Fir'aun untuk membeli beberapa komoditas, menurut Ptolomeus. Orang India menyebut Barus dengan "Warusaka". Bangsa Yunani dan Cina juga imigran di daerah ini. (Abdul Hadi W. M. Buku Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Mizan 1995) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua daerah; Fansur dan Lobutua adalah primadona para imigran ke kerajaan Barus. Islam mulai menjadi agama di pesisir. Sulaiman, seorang pedagang Arab, pada tahun 851 M melaporkan, adanya pertambangan emas dan perkebunan kapur barus di daerah ini (Ferrand 36). Mereka tidak membedakan Barus dengan Kerajaan Barus Hulu, karena kedua pertambangan emas dan perkebunan kapur barus hanya ada di Barus Hulu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada Abad 10-12, Kerajaan Hatorusan diserang oleh balatentara Sriwijaya. Raja Utipun kehilangan kontrol terhadap kerajaan-kerajaan kecilnya. Diperkirakan Barus Hilir dan Hulu takluk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah Sriwijaya berhasil diusir, kerajaan-kerajaan Barus Hulu dan Hilir kemudian membangun daerahnya. Kontrol Hatorusan melemah. Begitu juga terhadap Singkil dan beberapa kerajaan di pesisir barat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abad 14, gelombang pasukan Majapahit pimpinan perdana menteri Gajah Mada melakukan ekspansi melalui timur Sumatera. Beberapa wilayah Batak pernah dikuasai sampai Sionomhudon. Pergerakan mereka ke barat terhenti karena mereka berhasil dihalau keluar tanah Batak. Namun begitu kerajaan Majapahit tetap melakukan hubungan dagang dengan Barus. Elemen Majapahit, yang tidak menyempatkan diri kembali ke pulau Jawa, mendirikan komunitas di Dairi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber-sumber sejarah dinasti Ming di Cina menyatakan bahwa pada tahun 1418 sebuah rombongan utusan Kerajaan Majapahit menemui raja Barus disertai orang-orang Cina yang telah tinggal lama di situ (Krom 144).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Pagarruyung pernah berkeinginan menaklukkan Barus pada abad 15. Namun pada abad 16, salah satu cabang keturunan Raja Uti, Sultan Ibrahimsyah Pasaribu berhasil membangun kekuatan Barus yang lebih kuat dan disegani. Sebuah kerajaan yang terpisah dari Kerajaan Uti yang tinggal sisa-sisanya di Tanah Batak pedalaman. Namun dia memakai nama Kerajaan Hatorusan, mengikut kepada nama kerajaan nenek moyangnya, sebagai nama kerajaannya di Barus tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dinasti Sorimangaraja diketahui akhirnya dikudeta oleh marga Manullang. Kedaulatan kerajaan Batak akhirnya ditransfer ke Raja Mahkota alias Manghuntal yang menjadi pendiri Dinasti Sisingamangaraja. Dia mantan panglima Kerajaan Hatorusan yang berhasil menumpas para pemberontok di pedalaman Tano Batak. Dinasti SM Raja berpusat di Bakkara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada zaman inilah, abad-16, diketahui bahwa di Barus Hulu telah berdiri lama kerajaan tersendiri dengan raja Sultan Marah Sifat. Diperkirakan kerajaan ini juga pecahan dari Hatorusan. Sultan Pasaribu, penguasa Hatorusan versi baru, mengultimatum Barus Hulu. Kerajaan Barus Hulu kemudian tunduk ke kerajaan Barus Raya pimpinan Sultan Ibrahimsyah Pasaribu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemajuan ilmu pengetahuan dan ekonomi juga sampai ke Kerajaan Barus Hulu. Para pedagang dan sudagar dari Negeri Rambe, Sionomhudon dan lain sebagainya aktif terlibat dalam perputaran ekonomi di kawasan ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibatnya, pada abad ke-17, komunitas-komunitas kecil muslim terbentuk di pedalaman Batak di kerajaan Barus Hulu. Mereka ini adalah para pedagang dan saudagar antar huta yang tertarik untuk masuk Islam di Barus; pusat ekonomi saat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Komunitas muslim pedagang dari marga Sihotang misalnya banyak dijumpai di huta Siranggason, Tolping, Siantar Dairi dan lain sebagainya. Begitu juga dengan Hasugian, Malau, Nahampun dan Naipospos di Napa Horsik dan Napa Singkam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Marga Simbolon, banyak bermukim di Tarabintang, Laetoras dan beberapa kelompok lagi di Hutambasang. Di Hutambasang sendiri kebanyakan muslimnya adalah dari marga Manalu.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkur, Meha dan Sitohang merupakan marga-marga yang mendirikan mesjid pertama di Parlilitan. Sementara itu di Negeri Rambe, komunitas muslim berasal dari pedagang marga Simamora, Marbun, Pasaribu, Sigalingging, Purba dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam setiap pesta dan festival, posisi komunitas Muslim tersebut sangat dihormati. Mereka akan disediakan tempat khusus dan koki dari komunitasnya sendiri dalam perjamuan pesta. Mereka akan disebut komunitas Parsulam atau Parsolam dalam pesta tersebut. Tapi secara umum, dalam kegiatan sehari-hari mereka tidak berbeda dengan mayoritas masyarakat di situ yang Parmalim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sultan Ibrahimsyah Pasaribu adalah legenda Sultan Batak. Dia seorang alim, penyebar agama Islam dan tokoh pembaru politik dan pemikiran agama. Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syamsuddin al-Sumatrani, dua orang tokoh yang sangat berpengaruh dalam tasawuf yang juga disinyalir memberi warga kepada agama lokal dan sinkretisme Parmalim, hidup di zaman ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Awal Abad 17, Aceh melakukan ekspansi. Sultan Ibrahimsyah gugur membela negerinya. Kerajaan Barus akhirnya dipegang oleh Sultan Yusuf Pasaribu dan setelah meninggal digantikan Sultan Hidayat Pasaribu dan beberapa keturunanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Hatorusan baru ini, merupakan aliansi SM Raja XII dalam menghadapi kekuatan kolonial. Beberapakali surat-menyurat serta negosiasi dilakukan untuk mengatur strategi pertahanan. Setelah tewasnya SM Raja XII pada tahun 1907, rakyat  Barus Hulu dan Hilir masih terus melakukan perlawanan kepada Belanda walau dalam jumah kecil sampai tahun 1920.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barus Hulu, sepeninggalan Sultan Marah Sifat digantikan oleh anaknya Sultan Maharaja Bongsu dan keturunannya, akhirnya takluk ke Belanda dan menjadi Onderafdeling Boven Barus berpusat di Pakkat. Hanya saja beberapa provinsinya belum seluruhnya takluk. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika SM Raja XII mengambil suaka politik di Pearaja, Negeri Sionomhudon, provinsi Barus Hulu, turut bersamanya sekitar 800 orang yang sebagian besar terdiri dari pasukan khusus pengawal raja bantuan dari kerajaan Aceh. Pearaja menjadi basis pemerintahan in exile Kerajaan Batak selama 17 tahun sebelum akhirnya takluk juga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Negeri Sionomhudon di Barus Hulu sejak dahulu merupakan negeri yang kaya raya terkenal dengan tambang emasnya. Diperkirakan masih terdapat bahan galian lain yang belum diteliti. Hutannya menghasilkan kapur barus, damar, terpentin dan lain sebagainya. Perkebunan di sana juga menghasikan kulit manis, raru, komponen ramuan medis dan minyak nilam sebagai bahan utama pembuatan parfum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sionomhudon dikuasai oleh keturunan parna dengan enam kelompok marga; Tinambunan, Tumangger, Maharaja, Turuten dan Pinayung serta Nahampun. Namun secara umum orang-orang Dairi ini tidak ingin disebut orang Batak. Karena mereka mempunyai nenek moyang sendiri, bukan Raja Batak tetapi Mpu Bada orang Majapahit. Mpu kadang disebut Empu atau Ompu).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Negeri Sionomhudon sejak dahulu masuk dalam wilayah Dairi; Tano Dairi. Penduduknya menyebut diri suku Pakpak. Mereka dan warga Barus Hulu yang lain kebanyakan menjadi pedagang trans Tano Batak. menghubungkan Lobu Tua, pusat perdagangan komoditas laut dengan wilayah pusat kerajaan Batak. (By. J Marbun)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115166382151842937?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115166382151842937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115166382151842937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/06/sionomhudon.html' title='Sionomhudon'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115166360832937895</id><published>2006-06-30T03:32:00.000-07:00</published><updated>2006-06-30T03:33:28.436-07:00</updated><title type='text'>Raja Uti: Imam Parmalim</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Raja Uti atau juga sering dikenal sebagai Raja Puti atau Uti Mutiraja yang sejak hidupnya bermigrasi ke pesisir, mengakibatkan semua keturunannya menganut keyakinan Islam. Pesisir Fansur atau kadang lazim disebut Barus sekarang ini, merupakan wilayah luar tanah Batak yang kontak langsung dengan dunia luar sehingga orang Batak yang domisisli di sana banyak yang memeluk Islam yang lagi tren saat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbeda dengan mayoritas wilayah tanah Batak, bahkan setelah Dinasti SM Raja berdiri, kebanyakan penduduk masih menganut agama aseli Batak. Raja Manghuntal atau Mahkota, merupakan “priestervost” dalam istilah L. Van Vuuren. Seorang raja yang menjadi tokoh pemersatu konfederasi puluhan Raja-raja Huta batak, yang membawa rakyatnya kepda kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dia melarang penghambaan (perbudakan?), mencintai kebersihan dan kesehatan desa-desa serta selalu menghimbau penduduk untuk membangun sumber air minum yang sehat bagi desa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penulis teringat, apakah ini karena Pandemi Kolera yang seringkali menjangkiti rakyat Batak atau tidak, perlu penjelasan lebih lanjut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedudukan Raja Uti bagi Parmalim (penganut agama malim, lihat sejarah lahirnya Raja Uti dan keajaiban pada cacat tubuhnya di link yang lain) adalah tokoh spiritual (Supranatural) dengan kedudukan sebagao orang yang bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian Raja SM Raja dari pertama sampai dua belas. Bimbingan itu juga berlaku kepada bangsa batak sejak dahulu kala.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab-kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim. Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang ke dalam pengertia; orang-orang saleh berpakaian sorban putih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Parmalim merupakan agama monoteis aseli orang Batak. Sekarang ini agama ini telah diakui oleh Pemerintah RI seagai aliran kepercayaan. Seperti halnya sebuah agama, ajaran ii mempunyai sekte-sekte. Tiga di antaranya yang terkenal adalah Parmalim dengan pimpinan, (rasul?) Raja Mulia Naipospos berkedudukan di Huta Tinggi, Laguboti. Sekte yang kedua dengn rasulnya Guru Somalaing berkedudukan di Balige dan yang tekhir rasul Guru Mangantar Manurung di Si Gaol Huta Gur-gur, Porsea. Sekte lain yang sudah pudar adalah Agama Putih dan Agama Teka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Raja Uti berkedudukan sebaga pembawa agama seperti halnya Guru Nanak di keyakinan Sikh, para SM Raja merupakan penerusnya dalam menerima wahyu dan para pemimpin agama sebagai rasul-rasul pembaharu. Sejarah peradaban kaum Batak sebanding dengan rekannya kaum Yahudi, Arab, India, Tao dan lain sebagainya yang mempunyai nabi dan rasul-rasul dari kaumnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejaah Batak tidak saja mengenai perluasan wilayah, adat-istiadat, perang dan konflik tapi juga mengenai sejarah pencarian Tuhan dalam bentuk pembaharuan dan perubahan pola pikir dalam beragama. Parmalim merupakan produk dari proses pencarian Tuhan yang tiada hentinya dalam percaturan sejarah bangsa Batak. Seperti halnya yang dialami oleh bangsa-bangsa dengan peradaban yang maju lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekilas Agama Parmalim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tuhan: Mulajadi Na Bolon (Yang Maha Besar tempat semua makhluk berasal) &lt;br /&gt;Tempat Ibadah: Bale Parpitaan dan Bale Partonggoan &lt;br /&gt;Kita Suci: Tumbaga Holing &lt;br /&gt;Pembawa Agama/Tokoh Spiritual: Raja Uti &lt;br /&gt;Pantangan: Riba, Makan Darah, Babi dan Anjing serta Monyet &lt;br /&gt;Hari Suci: Sabtu &lt;br /&gt;Pertama kali berdiri: 497 Masehi atau 1450 tahun Batak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Guru Mulia Naipospos&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sandaran Teologis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Filosofi Teologis Guru Mulia dalam pemahaman Parmalim adalah tentang sebuah eksistensi. Eksistensi manusia harus didasarkan pada komunikasi pada alam. Tanpa itu keseimbangan tidak dapat dipertahankan. Salah satu ujud dari komunikasi kepada alam akan membentuk penyadaran diri sebagai makhluk yang lemah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegulauan dalam pikiran yang menimbulkan pertanyaan dalam diri akan mendapat jawaban dari diri itu sendiri, sebagai sebab akibat, bahwa segala sesuatu itu ada karena ada yang mengadakannya atau yang membuatnya ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa yang mengadakan sesuatu itu tidak dapat dijelaskan dengan alam pikiran manusia. Tetapi ada suatu kuasa. Kuasa yang Maha Besar dan agug yang tidak dapat dibandingkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tuhan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ugamo malim menyebut kuasa itu adalah Mulajadi na Bolon. Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak bermula dan tidak berujung. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keberadaannya adalah kekal untuk selama-lamanya. Keberadaan Mulajadi Nabolon itu dalam ajaran malim dapat dipahami dari tonggo-tonggo atau ayat-ayat doa berikut ini;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ompung Mulajadi nabolon&lt;br /&gt;Ho do namanjadihon langit na manjadihon tano &lt;br /&gt;Namanjadihon saluhut nasa naadong&lt;br /&gt;Ho do namanjadihon jolma umbahen naadong&lt;br /&gt;Na manjadihon harajaon aa adong&lt;br /&gt;Margomgom di toru ni langitmu, di atas ni tano on&lt;br /&gt;Dijadihon ho do tondim jadi anakmu &lt;br /&gt;Ima Raja Nasiakbagi&lt;br /&gt;Margomgom hami di ruma hamalimon mi&lt;br /&gt;Parajar si oloan jala marmeme si bonduton&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ajarna i do nahuoloi hami&lt;br /&gt;Mamena i do na huparngoluhon hami&lt;br /&gt;Umbahen ro hami saluhut ginomgom ni tondina&lt;br /&gt;Sian holang-holang ni dosa nauanu on&lt;br /&gt;Marluhut si pangantaran ni bale parpitaan&lt;br /&gt;Dohot bale partonggoan&lt;br /&gt;Marsomba mardaulat tu ho&lt;br /&gt;Marhite lapir ni tangan nami marsomba&lt;br /&gt;Timpul ni daupa dohot pangurason &lt;br /&gt;Indahan na las&lt;br /&gt;Dengke ni lean&lt;br /&gt;Pira ni ambalungan&lt;br /&gt;Manuk lahi bini&lt;br /&gt;Hambing puti si tompion&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teori-teori teologis yang dimengerti dalam ayat-ayat tersebut adalah bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan tidak mempunyai ujung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia dapat dihubungi dan dijumpai hanya dalam alam spiritual. Teori ini mengatakan bahwa dia dapat disembah dengan sesaji.  Dapat dipuji dalam kehidupan yang lebih mendalam  dari kehidupan manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa menghukum dan kuasa mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keberadaan kuasa Mulajadi Nabolon menurut ugamo malim terpencar dalam wujud Debata Natolu, Debata Na Tolu adalah wujud kuasa dari tiga fungsi kuasa Tuahn Yang Maha Esa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Guru Somalaing&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ajarannya meliputi beberapa perintah dan larangan. Bila Guru Mulia befokus pada pemahaman teologis ketuhanan maka Guru Somalaing banyak berfokus pada ajaran agamanya yang menjadi pedoman sehari-hari hubungan antara manusia. Dia kemudian tewas dalam sergapan pasukan ekspedisi Belanda yang terinfiltrasi di Habinsaran&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Guru M Manurung&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembaharuan agama parmalim yang perdibuatnya adalah pengorganisasian para pengikut parmalim. Lengkap dengan susuna ritual dan pemimpin-peminpin hirarkis ke Tuhan. Dia merancang ibadat, kebaktian dan tata adat serta prosedur-prosedur lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Organisasi keagamaan mereka yang terbesar adalah PAMBI singkatan dari Persatuan Agama Malim Baringin Batak Indonesia, lengkap dengan divisi kaum ibu, ulama dan sayap mudanya (Naposobulun). Mereka fokus dalam pembinaan ummat. Jumlah pengikutnya adalah 502.496 jiwa pada tahun 1996 (buku ini diterbitkan). (J. Marbun)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115166360832937895?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115166360832937895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115166360832937895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/06/raja-uti-imam-parmalim.html' title='Raja Uti: Imam Parmalim'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115166331898529639</id><published>2006-06-30T03:25:00.000-07:00</published><updated>2006-06-30T03:28:39.610-07:00</updated><title type='text'>Uti: Sejarah Kerajaan Hatorusan</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Sejarah Kerajaan Hatorusan&lt;br /&gt;By. J. Marbun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Prasejarah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa kerajaan mulai terbentuk dan memerintah tanah Batak sejak tahun 1000 SM di Sianjur Mula-mula tepatnya di kaki bukit Pusuk Buhit. Kumpulan kerajaan-kerajaan huta ini berkumpul dalam persemakmuran kerajaan Batak. Mereka ini merupakan turunan dari kubu Tatea Bulan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Uli Kozok, dalam Aschim Sibeth, The Batak, di tanah Batak telah bermukim kelompok manusia pemburu, nomadic hunters, di zaman Palaeolithic. Namun ledakan gunung toba sekitar 75.000 tahun yang lalu telah mengganggu habitat mereka. Ledakan tersebut mengeluarkan lava dan magma sampai ke Sri Langka dan Selat Bengal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peralatan-peralatan batu yang ditemukan dibawah lapisan-lapisan lava tersebut, setelah digali, merupakan bukti adanya kehadiran manusia sebelum ledakan tersebut. Namun diyakini hanya sedikit diantara mereka yang dapat menyelamatkan diri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;30.000 tahun yang lalu, penduduk pulau ini digoncang dengan ledakan yang kedua. Ledakan tersebut mengakibatkan terbentuknya pulau Samosir di bekas danau ledakan pertama yang disebut Tao Toba.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di pantai timur Sumatera, Heaps of Seashells yang besar berdiameter 30 m dan dan dalamnya 5 m telah ditemukan. Peralatan ini sama fungsinya dengan yang ditemukan di Vietnam dan Malaysia. Ini adalah bukti untuk mengetahui kebiasaan makan populasi zaman batu saat itu; pemburu, pengumpul dan para nelayan yang disebut budaya Hoabinh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Juga diketahui bahwa orang-orang zaman batu tersebut hanya memiliki sedikit persamaan tubuh dengan penghuni Indonesia yang sekarang. Mereka masuk dalam katagori Ras Australoid yang menjadi penghuni pertama Indonesia, Melanesia sampai Australia. Berkulit gelap namun tidak terlalu hitam, rambut keriting, bibir tebal dan pendek. Mereka inilah yang menjadi populasi asli tanah Toba. Si Raja Batak yang menjadi leluhur Bangsa Batak diyakini merupakan imigran dari daerah Burma atau Siam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbeda dengan sebagain besar populasi Indonesia yang merupakan berasal dari Ras Mongoloid keturunan Cina Selatan yang bermigrasi. Diyakini pengaruh mongolid juga mencapai daerah Batak di awal-awal Masehi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa suku di Sumatera seperti Aceh dan melayu belum sampai ke Indonesia sebelum abad ke-2 Masehi. Sedangkan nenek moyang Batak nampaknya telah tinggal di pegunungan Sumaetra Utara sejak lama, makanya mereka lebih berparas Australoid. Demikian Uli Kozok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Hatorusan Berdiri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa keturunan Si Raja Batak mendirikan kerajaan-kerajaan huta, salah satunya Kerajaan Hatorusan. Kerajaan Hatorusan, didirikan oleh Raja Uti putra Tatea Bulan, mulai membangun tatanan hidup masyarakat dengan sistem negara teokrasi. Raja Uti alias Raja Biak-biak merupakan seorang intelektual. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Guru Tatea Bula atau disebut juga Toga Datu pernah pergi menemui pamannya (Saudara dari Ibunya) di Siam. Dia bermaksud meminang paribannya, putri sang Paman/Tulang. Tapi rencananya tidak berhasil, tidak disebutkan alasannya. Ketika dia kembali ke kampung halaman, Sianjur Mulamula, dia terkejut dan sangat sedih menemukan kampung halaman yang ditinggalkannya telah kosong. Ayahnya, Si Raja Batak telah meninggal dunia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu, adiknya, Raja Isumbaon telah pindah ke Dolok Pusuk Buhit dekat dengan Pangururan sekarang ini. Adik bungsunya Toga Laut mengembara dan membuka wilayah yang sekarang masuk ke Aceh dan bernama Gayo/Alas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia berinisiatif untuk menemui adiknya; Raja Isumbaon. Di sana dia menetap sementara dan kemudian kembali ke Sianjur Mula-mula, tempat lahirnya. Dia berusaha bangkit dari kepedihan hidupnya tersebut dengan menghabiskan waktunya dengan berkontemplasi dan bekerja; bercocok tanam di sawah. Pada saat-saat itulah dia bertemu dengan seorang wanita pendatang, yang kesasar, dan mengaku bernama Boru Sibasoburning Guru. Sibasoburning mempunyai bahasa yang berbeda dengan bahasa Batak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hati tertarik, mungkin sudah jodoh, keduanya menikah. Hasilnya adalah anak pertama raja Miok-miok yang disebut sebagai Raja Gumelleng-gelleng, disebut juga raja Miok-miok atau Biak-biak dengan gelar Raja Uti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lahir dengan kondisi cacat, dengan tangan dan kaki yang lebih pendek dari ukuran normal bukan menjadi halangan untuk melakoni hidupnya sebagai mana layaknya. Teknologi metalurgi diduga sudah berkembang dan lazim digunakan di masanya. Raja Uti mempunyai daya pikir dan kreatifitas yang luar biasa dibandingkan anak normal. Beberapa alat diciptakannya untuk mengatasi keterbatasan cacat tubuhnya. Dia berhasil merangkai kain dengan kayu ringan seperti layang-layang besar yang membuatnya dapat bergelantungan saat layang-layang tersebut terbang. Legenda sekarang ini mengatakan bahwa Raja Uti mempunyai sayap dan dapat terbang karena kesaktiannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masyarakat Toga Tatea Bulan saat itu merupakan masyarakat yang berbudaya. Hal ini diyakini karena Guru Tatea Bulan yang juga seorang raja dengan gelar Raja Ilontungan merupakan seorang filosofis. Pemikiran dan ajaran-ajaran Guru termaktub dalam Kitab Pustaha Agong.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kitab ini membahas cakupan antara lain; Ilmu Hadatuan (Medical dan Metaphysical Science), Parmonsahon (Art of Self Defence &amp; Strategy-cum-Tactical Science) dan Pangaliluon (Science of Deceit).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perkembangan ilmu pengetahuan saat itu telah membuat kerajaan sangat disegani oleh rakyatnya. Sementara itu Kubu Toga Sumba dengan Rajanya Isumbaon juga ikut serta berusaha membangun peradaban.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bila kubu Tatae Bulan lebih fokus pada hal-hal spiritual dan sosial. Maka kebijakan dan ajaran Raja Isumbaon termaktub dalam Kitab Pustaha Tumbaga Holing mencakup; Harajaon (Political Science or the science about the kingdom), Parumaon (Legislation), Partiga-tigaon (Econimics Science or The Arts of Trading) dan Paningaon (Life Skills or Technology).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Populasi kerajaan Hatorusan saat itu membentang dari timur Sumatera sampai barat Sumatera dengan kota pelabuhannya; Barus dan Singkil di utara mencakup Gayo dan Rao di bagian selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teknologi dan Peradaban Barus&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat Raja Uti, dan keturunannya yang dikenal sebagai Pre-Islamic Barus Kings oleh kalangan barat, memindahkan ibukota kerajaannya ke pesisir, di sinilah ia memperkuat kerajaan Hatorusan dengan membangun berbagai bandar, seperti Barus. Kota Fansur dan Lobu Tua merupakan kota-kota penting di Barus. Kota Fansur merupakan kota tertua karena wilayah ini dulunya merupakan persinggahan bagi penduduk nomaden, karena adanya pansur-pansur yang berfungsi sebagai pancoran air dari mata air pegunungan. Sering disebut Pansur dalam bahasa Batak dan Fansur dalam sebutan orang-orang Arab. Teknologi pembuatan parfum, medis dan pengawetan berkembang oleh tangan-tangan ahli Batak menjadikan Barus, daerah yang sangat terkenal di saatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ajaran paningaon atau kemampuan untuk kreatif dalam penguasaan teknologi yang diajarkan Guru Tatea Bulan, memberi dorongan kepada Kerajaan Hatorusan untuk membentuk golongan profesional di kalangan masyarakat yang menangani segala tuntutan peralatan. Para tenaga profesional ini telah berpengalaman dan mengkonstruksi bangunan-bangunan raksasa yang terbuat dari kayu; rumah Batak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ilmu-ilmu mengenai pengolahan logam dan pembuatan berbagai pernik perhiasan yang menjadi primadona para saudagar yang datang dikembangkan dalam 'partungkoan' dan 'toguan'. Institusi ini merupakan ruangan besar yang berfungsi sebagai tempat pembelajaran generasi muda yang ingin menguasasi berbagai pengetahuan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Raja patik, adalah profesi pengajar di partungkaon tersebut. Setiap kali para mahasiswa berkumpul dalam 'hall' tersebut, raja patik akan datang dan memulai pengajaran yang diperlukan. Kurikulum berlaku tidak kaku, jadi setiap saat dan setiap waktu isi pembelajaran akan berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, seorang raja patik, juga menjadi pembicara dalam pertemuan-pertemuan formal dan informal di masyarakat. Untuk forum yang formal dia menjadi anggota dewan bius. Wilayah pemukiman baru disebut huta dan jumpulan huta disebut bius. Wewenang raja patik adalah menguasai regulasi dan hal-hal detail dari kehidupan adat sebuah masyarakat dalam level bius. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Posisinya dalam sebuah pemerintahan huta dan bius lebih bersifat konsultatif. Dia menjadi pegarah moral dalam kehidupan sosial masyarakat dan menjadi "walking encyclopedia" di tengah-tengah komunitasnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para mahasiswanya tersebut sebelumnya menimba ilmu di partungkoan di komunitas masing-masing. Baik itu yang ada di huta, luat maupun bius. Pembelajaran pada seorang anak akan dimulai dari keluarganya. Setiap orang akan dibekali orang tuanya filsafat dasar pendidikan yang disebut Sisia-sia Na Lima atau 'a five folding teaching', yaitu Mardebata (belief in God), Martutur (treasuring kinship realation), Marpatik (carrying out regulation), Maruhum (respect for law) dan Maradat (haighly valuing the culture).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah dirasa cukup dan sudah memahami, si anak akan diarahkan orang tuanya untuk menghadiri berbagai pertemuan di partungkoan setempat untuk mendengarkan berbagai ajaran dan pelajaran dari raja patik. Berbagai ajaran dasar yang ada di Pustaha Agong maupun Pustaha Tumbaga Holing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sampai batas waktu tertentu si anak akan merasa perlu untuk mengembangkan ilmunya, maka dia akan berinisiatif untuk menghadiri partungkoan yang lebih mendalam dan lebih bermutu, biasanya ada di huta yang lebih besar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak semua siswa mempunyai keiginan untuk melanjutkan pendidikannya. Semuanya tergantung hasrat dan kemampaun ekonominya. Beberapa di antaranya langsung melibatkan diri dalam masyarakat. Beberapa melanjutkan ilmunya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka yang menyukai ilmu kesehatan atau kedokteran sekarang ini akan berusaha menguasai ilmu hadatuan kepada datu profesional. Tidak mudah mendaftar untuk menjadi datu, dibutuhkan persyaratan yang ketat, dukungan ekonomi dan berbagai ritual. Tentunya seorang yang ingin menjadi datu harus menguasai aksara Batak sebagai medium pembelajaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tahap yang tinggi, dalam bidang hadatuan, ilmu yang dipelajari tidak saja mengenai medis dan pengobatan semata tapi juga ilmu astronomi,  habeguan, parmonsahon, dan pangaliluon serta ilmu kimia dalam meracik bahan-bahan yang digunakan sebagai racun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka yang ingin bergelut dan berprofesi di Onan akan menguasai ilmu partiga-tigaon dari raja patik yang menguasainya. Onan adalah pasar ekonomi yang fungsinya tidak hanya pada kegiatan ekonomi tapi juga arbitrase, penetapan undang-undang, pengumpulan opini dan penyebaran informasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka yang lebih ingin menjadi tenaga-tenaga ahli di galangan kapal, konstruksi bangunan atau rumah, pandai besi dan pengolahan logam emas dan perak serta penenunan kain-kain akan berusaha menguasai ilmu paningaon.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam pembangunan rumah Batak misalnya, seorang arsitek atau insinyur akan mengatur dan mendesain bentuk rumah. Profesi insinyur ini disebut 'panumpan ruma'. Dia harus memiliki keahlian pembangunan rumah kayu ditambah kemampuan geometri. Karena rumah tinggal tersebut harus disesuaikan dengan arah dan posisinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain ini kemampuan dalam penghitungan dan pengukuran serta ilmu aritmatika dibutuhkan untuk menyempurnakan bangunan. Seorang arsitek biasanya akan dibantu oleh beberapa ahli lainnya, seperti desainer pengukir ornamen-ornamen hiasan bangunan yang disebut panggorga dan juga tentunya bagian pengecatan. Mereka ini diharuskan untuk menguasai sisi aestetik ornamen dan kompilasi warna-warna yang dibutuhkan. Warna-warna tersebut harus disesuaikan dengan pemahaman filosofis yang berkembang saat itu. Dengan demikian para arsitek dan desainer warna tersebut tidak bekerja sembarangan karena setiap warna mempunyai makna tersendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain itu teknologi pembukaan huta merupakan ilmu pengetahuan yang penting saat itu. Mobilitas warga dalam membuka hunian-hunian baru memerlukan keahlian dalam merancang tata letak kota baru agar layak huni dan aman. Beberapa perlengkapan kampung seperti 'parik' yang berfungsi sebagai barikade untuk mempertahankan diri dari musuh harus diletakkan semestinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu elemen parik tersebut adalah batu-batu besar yang sulit diangkut bahkan oleh lima orang sekalipun. Teknik-teknik pegangkutan batu tersebut membutuhkan keahlian yang tidak mudah. Peletakan 'harbangan'  sebagai pintu utama ke huta tersebut juga harus sesuai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gedung-gedung pendukung seperti horja (tempat ritual), tempat pengeringan padi, gudang penyimpanan besar, tempat bermain anak-anak dan taman membutuhkan desain tata kota yang sangat rumit. Tempat permainan anak misalnya, adalah lapangan terbuka yang tanahnya tahan hujan yang membutuhkan pengetahuan dalam komposisi adukan tanah di lapisan atasnya serta pengukuran ketinggian dari sistem pengairan dan irigasi penampungan aliran hujan, sehingga tetap nyaman dipakai, tidak menjadi kubangan lumpur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para sarjana-sarjana Batak pada waktu itu juga mengembangkan teknologi pembuatan kapal dari apa yang mereka dapatkan dari danau Toba, yaitu pabrik solu yang menyebar dipinggiran danau tersebut. Solu tersebut tidak saja dipakai sebagai pengangkutan di atas air, tapi juga mempunyai seni ukiran yang indah di sisi-sisinya yang memberi keindahan bagi penggunanya. Pengetahuan ini sangat dibutuhkan dalam perbaikan kapal-kapal asing di galangan kerajaan di Barus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Teknologi irigasi persawahan juga menjadi keahlian masyarakat pada waktu itu. Sebuah pengetahuan yang sangat berguna khusunya saat iklim tidak menentu. Ahli yang menangani irigrasi tersebut disebut 'raja bondar'. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam bidang tekstil, mesin-mesin teksil tradisional saat itu dibuat untuk memanifestasikan filosofi masyarakat. Kain bukan saja digunakan sebagai pakain tapi juga menunjukkan keagungan pemahaman atas filsafat kehidupan. Dalam ulos misalnya, kolaborasi warna-warna tertentu memberikan arti sesuai dengan filsafat Daihan Na Tolu dan Naga Padoha.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konsekuensi kehidupan huta yang semakin ramai dan komplikasi membutuh peralatan-peralatan domestik untuk mempermudah. Untuk itu beberapa peralatan mulai diciptakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aksesoris yang berkembang saat itu adalah aneka macam perhiasan, seperti cincin, anting-anting, tempat penyimpanan sirih yang terbuat dari emas dan sirih tergantung level sosial pemakainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam bidang musik, dikenal alat 'tulila', 'hasapi', 'saga-saga', 'tanggetang', 'ogung', 'oloan', 'doal', 'panggora', 'gordang', 'hombung', 'sarune' daln lain-lain. Peralatan pertanian seperti, 'gair-gair', 'hudali', 'ansuan', 'ninggala', 'auga', 'rogo', 'sasabi', 'guris' dan sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peralatan dapur, 'dagu', 'sonduk', 'seak', 'hudon', 'poting' , 'anduri, 'hombur-hombur', 'sapa', 'panutuan', 'parburian', 'ramboan', 'parsisiraan', 'tabu-tabu dan lain-lain. Penyimpanan misalnya, 'panuhunan' 'hadangan', 'hajut', 'sanihe', 'ragian', 'harpe', 'singkup' daln lain sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka juga menciptakan peralatan tenun seperti, 'pipisan', 'sorha', 'anian', 'erdeng-erdeng', 'hulhulan', 'iran', 'pangunggasan', 'pamapan,' 'pagabe', 'pamunggung', 'hatulungan', 'baliga, 'balabas', 'turak, 'hasoli', 'parsosaan', 'songka', 'lili', 'paniratan', 'tipak' dan sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peralatan lain yang penting adalah alat-alat tulis, buku-buku yang terbuat dari bambu, peralatan festival, 'marusir' (catur Batak) dan lain sebagainya.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Raja Uti sendiri merupakan penyayang binatang yang disegani pada zamannya. Sanking banyaknya koleksi binatang melata dan buas di istananya, membuat pamornya semakin bertambah di kalangan masyarakat. Kondisinya yang cacat membuatnya lebih banyak berkurung di istananya di Barus. Dia hanya berkomunikasi kepada menteri-menterinya untuk urusan kenegaraan. Akibatnya dia jarang tampil dipublik sehingga mitos dan legenda mengenai raja Utipun semakin sempurna; sebagai raja yang misterius.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barus berkembang menjadi kota pelabuhan yang masyhur karena sudah tersedia tenaga ahli profesional dalam pembuatan dan perbaikan galangan kapal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber-sumber sejarah Yunani, misalnya dari Ptolomeus abad ke-2 SM mengatakan bahwa kapal-kapal Athena telah singgah di kota ini pada abad-abad terakhir sebelum tibanya tarikh Masehi. (Abdul Hadi W.M, Hamzah Fansuri; Masalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Mizan 1995).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitu pula rombongan kapal Fir'aun dari Mesir telah berkali-kali berlabuh di Barus antara lain untuk membeli kapur barus (kamper), bahan yang sangat diperlukan untuk pembuatan mummi. Mereka adalah orang-orang Arab pra-Islam Funisia, Kartago yang sekarang menjadi Libya dan Mesir, Afrika Utara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa literatur mengenai Barus dan pelayaran orang-orang Yunani, Arab, Mesir, Yahudi, India, Persia, Cina dan lain-lain ke daerah tersebut di antaranya, O. W. Wolters, The Fall of Srivijaya in Malay History, Itacha: Lund Humpries Publishers Ltd., 1970. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang penting lagi adalah G. Ferrand, Relation de voyages et textes Geographiques Arabs. Persians et Turks relatif e l'Extreme-Orient du Ville aux siecles 2 jilid, Paris, 1913; dan N. J. Krom, Hindoe- Javanesche Geschiedenis (cetakan kedua), 's-Gravenhague, 1931.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Juga dapat dibaca karangan Jane Drakard "An India Ocean Port: Source from the Earlier History of Barus", Archipel No. 37-38, 1989 dan L.F. Brakel, "The Birthplace of Hamza Pansuri", JMBRAS 42, 2, 1969, h. 206-213.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ptolomeus membicarakan Barus sebanyak lima kali di dalam laporannya dengan pandangan negatif terhadap penduduk pribumi Sumatera, khususnya orang Batak yang dikatakannya sebagai orang-orang kanibal (Wolters hal. 9; Krom h. 57-59)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa abad kemudian hal ini terbukti ketika seorang pedagang Yahudi dari Kairo telah meninggal di Barus pada paruh pertama abad-13 (Wolters 43). Diduga orang Yahudi ini berlaku sombong dan semena-mena dan dimakan oleh orang Batak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang-orang India menyebut Barus sebagai "Warusaka" berarti kota pelabuhan dan Sumatera sebagai Suvarnadvipa- The Fabulous Island of Gold. Hal ini dikarenakan Kerajaan Hatorusan telah berkembang tidak hanya menjadi kota pelabuhan penting, tapi kota perkebunan kamper (disebut juga kapur, kanpur, kampur, kanfer dan kafur) dan industri logam emas. Barus menjadi pemasok logam emas ke seluruh dunia. Sisa-sisa emas tersebut masih terdapat di beberapa daerah Batak sekarang ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu di pedalaman Batak, Sianjur Mula-mula beberapa kerajaan huta telah berdiri lama. Tahun 100 SM Kerajaan Batahan Pulo Morsa eksis. Kerajaan ini memakai sistem raja na opat atau raja berempat yang terdiri; Pulo Morsa Julu, dengan Raja Suma Hang Deha, Pulo Morsa Tonga, Raja Batahan Jonggi Nabolon, Pulo Morsa Jau dengan Raja Situan I Rugi-rugi dan Pulo Morsa Jae dengan Raja Umung Bane. Kerajaan ini bertahan selama 24 keturunan. (Tiurma. L Tobing, Raja Sisingamangaraja XII, Depdikbud 1981).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Kerajaan Hatorusan, hukum-hukum yang mengatur interaksi sosial masyarakat diatur dalam berbagai undang-undang secara demokratis (parsagoman). Kumpulan hukum tersebut tercakup dalam Dalihan Na Tolu dan perjambaran. Untuk menghindari kekacauan antar wilayah-wilayah kecil di bawah Kerajaan Hatorusan, diciptakan institusi raja huta dan Pande na Bolon sebagai penasehat keagamaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada 450 M, daerah pedalaman Batak, Toba, telah diolah dan dikelola secara luas oleh rakyat kerajaan tersebut. Mereka yang dominan terutama dari kubu Isumbaon, kelompok marga Si Bagot Ni Pohan. Di daerah ini bermukim juga kaum Tatea Bulan yang membentuk kelompok minoritas terutama dari marga Lubis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagian dari Lubis terdesak ke luar Toba dan merantau ke selatan. Sebagain lagi menetap di Toba dan Uluan hingga kini. Di daerah Selatan kelompok marga Lubis harus bertarung melawan orang-orang Hindu Minang. Mereka kalah. Perantauan berhenti dan mereka mendirikan tanah Pekantan Dolok di Mandailing yang dikelilingi benteng pertahanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka kemudian berhadapan dengan penghuni Lobu Tua, Bangsa Tamil berkulit hitam ras Dravidian, melalui Kepulauan Andaman berkelana sampai daerah muara Sungai Batang Toru. Orang-orang tersebut tersingkir dan kemudian menetap di hutan-hutan sekitar Muara Sipongi. Bangsa Tamil beberapa abad kemudian, bermigrasi dari India Selatan, membonceng perusahaan-perusahaan Eropa dan membentuk Kampung Keling di Kerajaan Melayu Deli, Medan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para pengikut parmalim menyakini bahwa tahun 497 M atau 1450 tahun Batak, merupakan tahun kebangkitan pemikiran keagamaan di kepemimpinan Raja-raja Uti. Raja Uti dinobatkan sebagai Tokoh Spiritual Batak dan Rasul Batak (Abdul Rachmi Pasaribu, Raja Uti: Tokoh Spiritual Batak, Yayasan Lopian Indonesia, 1996).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gerakan Separatis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada 600 M, komunitas Batak di Simalungun memberontak dan memisahkan diri dari persemakmuran kerajaan Batak. Mereka mendirikan kerajaan Nagur dengan bentuk dan identitas yang berbeda. Mereka kemudian tidak mau disebut Batak atau Toba. Mereka ini keturunan Batak yang bermukim di Tomok, Ambarita dan Simanindo di Pulau Samosir. Di kemudian hari kerajaan Nagur di tangan orang Batak Gayo tertransformasi menjadi beberapa kerajaan Islam di Aceh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Simalungun merupakan tanah yang subur akibat bekas siraman lava. Siraman lava dan magma tersebut berasal dari ledakan gunung berapi terbesar di dunia, di zaman pra sejarah. Ledakan itu membentuk danau Toba. Orang Simalungun berhasil membudidayakan tanaman, selain padi yang menjadi tanaman kesukaan orang Batak; Pohon Karet. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasil-hasil pohon karet tersebut mengundang kedatangan ras Mongoloid; orang-orang Cina yang sudah pintar berperahu pada zaman Dinasti Swi, 570-620 M. Di antaranya Bangsa Yunnan yang sangat ramah dan banyak beradaptasi dengan pribumi dan suku bangsa Hokkian, suku bangsa yang dikucilkan di Cina daratan, yang sering menjadi bajak laut di Lautan Cina Selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kolaborasi dengan bangsa Cina tersebut membentuk kembali kebudayaan maritim di masyarakat setempat. Mereka mendirikan kota pelabuhan Sang Pang To di tepi sungai Bah Bolon lebih kurang tiga kilometer dari kota Perdagangan. Orang-orang dari Dinasti Swi tersebut meninggalkan batu-batu bersurat di pedalaman Simalungun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada abad ke-7, utusan dagang kerajaan Barus Hatorusan berangkat dari Barus  menuju ke Cina membicarakan perdagangan bilateral antara Sumatera dan Cina (Wolters 33).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu laporan Cina yang lain mengatakan bahwa Sriwijaya pada abad ke-7 dan 8 merupakan kerajaan ganda satu diantaranya ialah Barus (Wolters 9). Diyakini lokasi strategis Barus dan volume perdagangan di wilayah tersebut membuat kerajaan Hatorusan terlibat dalam pertikaian politik dengan kerajaan Sriwijaya dari Sumatera Selatan dan Jawa, sehingga saling menganeksasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hubungan Barus dengan Sriwijaya dibicarakan di dalam kitab Sunda lama "Carita Parahyangan" yang mengatakan bahwa Barus merupakan daerah taklukan dari Raja Sanjaya, raja Sumatera dari Sriwijaya yang berkuasa di Jawa dan mendirikan candi Borobudur (Krom 126).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sriwijaya memang pernah menyerbu Barus, namun gangguan dari luar tersebut dapat akhirnya diatasi sehingga Barus kembali menjadi kota yang padat dengan perdagangan. Perkembangan pemikiran agama juga berkembang. Saat ini mulai masuk Islam ke Barus. Sulaiman, seorang pedagang dan penjelajah muslim, pada tahun 851 M memberitakan tentang adanya penambangan emas dan perkebunan barus (kamper) di Barus (Ferrand 36).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ahli sejarah menemukan bukti-bukti arkeologis yang memperkuat dugaan bahwa sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang awal di Sumatera seperti Peurlak dan Samudera Pasai, yaitu sekitar abad-9 dan 10, di Barus telah terdapat kelompok-kelompok masyarakat Muslim dengan kehidupan yang cukup mapan (Dada Meuraxa dalam Ali Hasymi, Sejarah Masuk dan Perkembangan Islam di Indonesia, bandung PT Al Ma'arif 1987). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada 850 M, kelompok marga Harahap dari Kubu Tatea Bulan, bekas populasi Habinsaran bermigrasi massal ke arah Timur. Menetap di aliran sungai Kualu dan Barumun di Padang Lawas. Kelompok ini sangat hobbi berkuda sebagai kendaraan bermigrasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena ini, dalam jangka waktu yang singkat, sekitar dua tahun, mereka sudah menguasai hampir seluruh daerah Padang Lawas antara sungai Asahan dan Rokan. Sebuah daerah padang rumput yang justru sangat baik untuk mengembangbiakkan kuda-kuda mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagain dari kelompok marga ini, melalui Sipirok, menduduki daerah Angkola dan di sini tradisi mengembala dan menunggang kuda hilang, mereka kembali menjadi komunitas agraris. Sementara di Padang Lawas mereka menjadi penguasa feodalistik dan mulai memperkenalkan perdagangan budak ke Tanah Batak Selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu pada 900 M, marga Nasution mulai tebentuk di Mandailing. Beberapa ratus tahun sebelumnya, perbauran penduduk dengan pendatang sudah menjadi tradisi di beberapa tempat, khusunya yang di tepi pantai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penduduk dataran tinggi, para pendatang di pelabuhan Natal dan Muaralabu (dikenal dengan sebutan Singkuang atau Sing Kwang oleh ejaan Cina), dan terutama elemen-elemen bangsa Pelaut Bugis dari Sulawesi, yang singgah sebelum berlayar berdagang menuju Madagaskar, telah berasimilasi dengan penuh toleransi dengan bangsa Batak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para pendatang tersebut dengan sukarela interaksi dan menerima adat Dalihan Natolu agar dapat mempersunting wanita-wanita setempat setelah puluhan tahun di tengah laut. Datu Nasangti Sibagot Ni Pohan dari Toba, seorang yang disegani saat itu, menyatukan mereka; campuran penduduk peribumi dan pendatang tersebut, membentuk marga Nasution.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu perebutan kekuasaan terjadi, Martua Raja Doli dari Sianjur Sagala Limbong Mulana (Sianjur Mula-mula) dengan pasukannya merebut wilayah Lottung di Samosir Timur. Percampuran keduanya membentuk kelompok Marga Lottung Si Sia Marina, yang terdiri atas; Situmorang, Sinaga, Nainggolan, Pandiangan, Simatupang, Aritonang dan Siregar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibnu Rustih kurang lebih pada tahun 900 M menyebut Fansur, nama kota di Barus, sebagai negeri yang paling masyhur di kepulauan Nusantara (Ferrand 79). Sementara itu tahun 902, Ibn Faqih melaporkan bahwa Barus merupakan pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera (Krom 204).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemasyhuran Barus juga mengundang imigran asing bermukim dan berdagang serta menjadi buruh di beberapa sentral industri. Sebuah inskripsi Tamil bertarikh 1088 M dari zaman pemerintahan Kulottungga I (1070-1120) dari kerajaan Cola menyebut Barus terletak di Lobu Tua, dan banyak orang Tamil tinggal di kota ini sebagai saudagar dan pengrajin (Krom 59-60). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada 1050 M, karena minimnya peralatan medis, epidemik melanda daerah Lottung kembali. Masyarakat Lottung Si Sia Marina berhamburan ke luar dari wilayah tersebut menuju daerah yang “sehat”. Akibatnya, kelompok Marga Siregar terpecah dua menjadi Siregar Sigumpar dan Siregar Muara, keduanya bermukin di Toba.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu pada 1293 - 1339 M, Penetrasi orang-orang Hindu yang berkolaborasi dengan Bangsa Jawa mendirikan Kerajaan Silo, di Simalungun, dengan Raja Pertama Indra Warman dengan pasukan yang berasal dari Singosari. Pusat pemerintahan teokrasi ini berkedudukan di Dolok Sinumbah. Kelak direbut oleh orang-orang Batak dan di atasnya menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan Simalungun dengan identitas yang mulai terpisah dengan Batak. Kerajaan Silo ini terdiri dari dua level masyarakat; Para Elit yang terdiri dari kaum Priyayi Jawa dan Masyarakat yang terdiri dari kelompok Marga Siregar Silo.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibat berbagai rongrongan dan berbagai gempuran dari arah selatan seperti Sriwijaya dan Kerajaan Hindu/Budha Pagarruyung, kerajaan Hatorusan memindahkan ibukotanya ke Aceh Singkil. Pasukan Hatorusan memperketat posisi kerajaan dengan modernisasi peralatan. Gajah, kuda dan binatang-binatang buas lainnya dijadikan sebagai alat bantu kavaleri dan pengawal istana. Oleh karena itu Dinasti Uti terkenal angker berkat kehadiran Gajah-gajah dan binatang-binatang buas di sekitar istananya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barus saat itu tetap dipertahankan sebagai kerajaan kota perdagangan dengan pimpinan sultan lokal yang bertanggung jawab kepada pusat kerajaan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada abad-13 Ibnu Said membicarakan peranan Barus sebagai pelabuhan dagang utama untuk wilayah Sumatera (Ferrand 112). Marco Polo mengunjungi Sumatera pada tahun 1292, dan menulis bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan, yang agak tergantung kepada Cina, tetapi merupakan pelabuhan rempah-rempah yang penting dan memiliki otonomi (Krom 339).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Prapanca, seorang pujangga Majapahit abad ke-14, yang masyhur mengatakan di dalam Negara Kertagama bahwa Barus merupakan salah satu negeri Melayu yang penting di Sumatera. Negeri Barus menjadi terkenal karena masyarakat Batak di Sumatera saat itu, Batak Pesisir, menggunakan bahasa Melayu sebagai Lingua Franca.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada 1350, kelompok Marga Siregar bermigrasi ke Sipirok di Tanah Batak Selatan. Sementara itu antara tahun 1416 - 1513 M, pasukan Cina dibawah komando Laksamana Haji Sam Po Bo, Ceng Ho, dalam armada kapal induk mendarat di Muara Labuh di muara  Sungai Batang Gadis. Salah satu misi mereka yakni mengejar para bandit Hokkian tercapai. Sebelum berangkat kembali menuju tujuan mereka, pasukan Cengho yang berjumlah ribuah itu mendirikan industri pengolahan kayu dan sekaligus membuka pelabuhan Sing Kwang (Singkuang=Tanah Baru).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tahun 1416-1513 M, orang-orang Tionghoa yang beragama Islam mulai berdatangan ke Sing Kwang dan berasimilasi dengan penduduk khususnya kelompok marga Nasution. Para Tionghoa tersebut membeli Kayu Meranti dari pengusaha setempat dan mengirimkannya ke Cina daratan untuk bahan baku tiang istana, kuil dan tempat ibadah lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di pedalaman Batak pada tahun 1450-1500 M, Islam menjadi agama resmi orang-orang Batak Toba, khususnya dari kelompok marga Marpaung yang bermukim di aliran sungai Asahan. Demikian juga halnya dengan Batak Simalungun yang bermukim di Kisaran, Tinjauan, Perdagangan, Bandar, Tanjung Kasau, Bedagai, Bangun Purba dan Sungai Karang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Antara tahun 1450-1818 M, kelompok marga Marpaung menjadi supplaier utama komoditas garam ke Tanah Batak di pantai timur. Mesjid pribumi pertama didirikan oleh penduduk setempat di pedalaman Tanah Batak; Porsea, lebih kurang 400 tahun sebelum mesjid pertama berdiri di Mandailing. Menyusul setelah itu didirikan juga mesjid di sepanjang sungai Asahan antara Porsea dan Tanjung Balai. Setiap beberapa kilometer sebagai tempat persinggahan bagi musafir-musafir Batak yang ingin menunaikan sholat. Mesjid-mesjid itu berkembang, selain sebagai termpat ibadah, juga menjadi tempat transaksi komoditas perdagangan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Lain pihak, sejak orang-orang Sriwijaya datang, Barus telah mempunyai hubungan politik dan dagang yang lebih kuat dengan beberapa kerajaan Hindu di Jawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun kedatangan orang-orang tersebut juga mengundang niat-niat yang tidak baik. Abad 13, 14, dan 15 merupakan abad peperangan di Barus. &lt;br /&gt;Abad 13, orang-orang Sriwijaya datang menyerang Barus disusul penyerbuan Majapahit pada abad 14 dan invasi orang-orang Minangkabau pada abad 15. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun masuknya gelombang pedagang dan saudagar ke Barus mengakibatkan penduduk lokal Batak di lokasi tersebut; Singkil, Fansur, Barus, Sorkam, Teluk Sibolga, Sing Kwang dan Natal memeluk Islam setelah sebelumnya beberapa elemen sudah menganutnya. Walaupun begitu, mayoritas masyarakat Batak di sentral Batak masih menganut agama asli Batak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok Marga Tanjung di Fansur, marga Pohan di Barus, Batu Bara di Sorkam kiri, Pasaribu di Sorkam Kanan, Hutagalung di Teluk Sibolga, Daulay di Sing Kwang merupakan komunitas Islam pertama yang menjalankan Islam dengan kaffah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dominasi komunitas muslim marga Hutagalung dalam bidang ekonomi di Tanah Batak terjadi antara 1513-1818 M. Komunitas Hutagalung dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae. Pada abad ke-16 ini marga Hutagalung mendirikan mesjid lokal kedua di Silindung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perkembangan Baru&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa perubahan konstalasi politik terjadi di pedalaman Batak. Ompu Tuan Doli, Raja yang memerintah di Luat Sagala Limbong, yang mempunyai dua orang anak, meninggal dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anak pertama bernama Datu Dalung alias Rimbang Saudara atau Maima yang dikenal dengan sebutan Erha Ni Sang Maima sementara anak yang kedua Datu Pulungan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sang Raja mendidik anak-anaknya dengan baik. Segala kesaktian dan kekuatan magisnya diajarkan kepada anak-anaknya secara merata. Semua pangeran-pangeran calon penerus raja diperlakukan dengan adil dan sama rata. Kehidupan mereka berlangsung harmonis dengan bimbingan sang ayah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akan tetapi pertikaian mulai muncul saat wafatnya raja. Anak-anaknya mulai mempermasalahkan siapa yang paling berhak menjadi penerus tahta. Namun sesuai dengan ketentuan konstitusi adat yang mengatur suksesi politik, Sang Maima sebagai anak sulung terpilih menjadi Raja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun kedua bersaudara, beserta keturunanya, beberapa dekade kemudian bersepakat untuk meninggalkan Luat Sagala Limbong, wilayah yang mereka tempati selama ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak disebutkan alasan khusus mengapa migrasi ini dilakukan. Namun dapat dipastikan dalam sejarah Batak, faktor-fator migrasi adalah di antaranya; Pandemi kolera (ini yang sering yang terjadi), peperangan, ekonomi dan perluasan wilayah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Datu Pulungan dengan kerabatnya bermigrasi ke Silindung dan diteruskan sampai wilayah Mandailaing. Di Mandailing mereka bermukim.  Sementara itu Datu Dalu dan para turunannya memilih untuk bermigrasi ke arah barat. Sebagian menuju Lobu Tua mengikuti para leluhur mereka yang terlebih dahulu berdomisili dan menjadi penguasa di sana; Sebagaimana Raja Uti, mereka ini juga berasal daru kubu Tatae Bulan. Di antara mereka yang turut pindah adalah Datu Negara yang dikenal dengan Manande Uhum dan Datu Tenggara alias Parubahaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konstalasi politik berikutnya, di pesisir Barat Sumatera, terjadi persaingan dan pertikaian politik antara Sultan Moghul, Raja Pariaman, di Sumatera Barat, selatan pesisir Barus dengan Sultan Ri'ayatsyah yang dikenal dengan dengan Raja Buyung di Aceh. Keduanya masih bersaudara. Puncaknya Sultan Moghul ingin menaklukkan Aceh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Armada angkatan laut Sultan Moghul berangkat menuju Aceh. Beribu pasukan ‘marinir’ tersebut kemudian berlabuh dan melepas jangkar di Fansur untuk memenuhi kebutuhan logistik mereka. Fansur memang pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan dunia, tokoh yang lahir dari wilayah ini adalah mereka yang mempunyai kinayah Al Fansuri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat itu panglima memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki dan mencari tahu mengenai perkembangan Aceh yang terkini. Mereka meminta nasehat dari dua orang ahli strategi Batak; Datu Tenggaran dan Datu Negara, keduanya dari klan Pasaribu. Mereka juga diajak untuk ambil bagian dalam misi tersebut. Posisi Fansur yang cenderung netral tergoyahkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun perkembangan politik dan melalui pertimbangan-pertimbangan, pasukan Sultan Mogul membatalkan niat penyerbuan tersebut. Datu Tenggaran diminta untuk memimpin pasukan kembali ke Pariaman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Datuk Negara sendiri tidak berkenan untuk mengikuti pasukan tersebut ke Pariaman, dia lebih memilih untuk tetap berada di Fansur. Dalam pesan selamat tinggalnya, Datuk Teggaran bersumpah kelak akan kembali ke negeri Fansur di Barus. Segumpal tanah dan sekendi air Fansur jadi saksinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Negeri Pariaman, Datu Tenggaran menyempatkan diri untuk memperdalam agama Islam. Diapun berganti nama menjadi Muhammad. Kegigihan dan kedisiplinan Muhammad dalam mengemban tugas-tugas negara membuat Sultan Moghul bersimpati. Dia menawarkan adiknya Siti Permaisuri putri raja Indrapura Munawarsyah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah menikah, keduanya membuka wilayah baru dan dinamakan Tarusan untuk mengenang kakeknya Raja Hatorusan II di Negeri Fansur. Sebagai petinggi dan pembuka wilayah Datu Tenggaran dianugerahi gelar Sultan Muhammadsyah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di kota baru ini Muhammadsyah juga membawa serta ribuan pengikutnya. Muhammadsyah sendiri mulai membina keluarganya dengan rukun. Anak-anaknya tumbuh besar dan berkembang dengan didikan disiplin dan kebijaksanaan yang mendalam dari sang ayah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, Salah satu anaknya yang bernama Sultan Ibrahimsyah, menjelang dewasa, sekitar umur 17 tahun, berselisih paham dengannya. Perselisihan tersebut meruncing dan tidak dapat diatasi lagi. Ibrahimsyah pun memilih untuk meninggalkan Negeri Terusan dengan membawa pengikut 1000 orang menuju Fansur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka berlayar ke Utara menyusuri pantai barat Sumatera. Namun karena persiapan yang kurang memadai, di Batu Mundam, kapal mereka mengalami nahas dan tenggelam.  Rombongan tersebut memilih melanjutkan perjalanan melalui rute darat dan mengikuti aliran sungai Batangtoru sampai ke Silindung. Dari kota lembah ini mereka melanjutkan perjalanan menuju Bakkara. Keinginan untuk menuju Fansur pun dihentikan sementara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Bakkara mereka disambut oleh keluarga raja lokal. Setelah mengetahui silsilah masing-masing masyarakat di Bakkara meminta Ibrahimsyah untuk menjadi pemimpin. Hal itu karena mereka mengetahui nenek moyangnya, raja Hatorusan, merupakan Raja Batak yang paling disegani pada zaman itu, namun tawaran ini ditolaknya. Sebagai gantinya dia berjanji dengan berpesan; “Jika anakku ini lahir seorang laki-laki dengan tanda-tanda tertentu yang ibunya adalah anak raja negeri ini, angkatlah menjadi raja!”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan sampai ke negeri Fansur Pasaribu, Sorkam. Disana mereka memperkenalkan diri, menyebutkan asal-usul tarombo dan marganya, Ibrahimsyah pun akhirnya diterima dalam komunitas keluarga Pasaribu tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah menetap setempat dan berpikir mendalam, Ibrahimsyah dan pengikutnya memutuskan untuk meneruskan perjalanan mengikuti matahari tenggelam. Setelah mendapat persetujuan mereka meneruskan perjalanan dan diantar oleh empat petinggi Pasaribu: Matondang, Tarihoran, Bonda dan Habeahan mereka inilah yang disebut sebagai raja-raja Pasaribu Si Opat Pusoran di Negeri Pasaribu itu. Pada masa sekarang berdasarkan rapat Pasaribu Saruksuk mereka yang disebut Opat Pusoran tersebut adalah Habeahan, Bondar, Gorat dan Saruksuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barus Dibangun Kembali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan menempuh perjalanan menembus hutan belantara mereka sampai di wilayah Pagaran Limbong dan diputuskan untuk bermalam di sana. Esoknya mereka meneruskan perjalanan sampai di tepi laut dekat muara sungai. Ibrahimsyah kemudian meneliti daerah itu dan melihat bahwa daerah tersebut sesuai untuk dihuni. Berdasarkan survey, sesuai dengan air dan tanah yang dibawa ayahnya dulu, dia membulatkan tekad dan niat untuk tinggal di sana; Barus.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibrahimsyah dan para pengikutnya berhasil membangun Barus kembali. Wilayah ini, secara politik terlah carut-marut diterjang pertikaian dengan kerajaan-kerajaan tetangga; Aceh, Hindu Minang, Sriwijaya dan Majapahit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sultan Ibrahimsyah berhasil menduduki tampuk pimpinan di Barus. untuk mengenang dan memperkuat kedaulatannya dia mengklaim kerajaannya sebagai penerus Kerajaan Hatorusan dengan ibukota Barus. Kerajaan Hatorusan lama sendiri sudah melemah dan kedaulatannya sudah terpecah-pecah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembangunan Kerajaan Hatorusan dilanjutkan dengan membentuk konfederasi kerajaan dan wilayah kecil. Fansur dan Sorkam tunduk ke Ibrahimsyah. Namun, selang beberapa lama, Ibrahimsyah kemudian menyadari bahwa dibagian hulu sungai telah eksis sebuah kerajaan tersendiri. Selisih paham mengenai batas-batas wilayah pun pecah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun sebelum pertumpahan darah berlangsung, persengkataan itu dapat didamaikan melalui sebuah traktat; Kerajaan Hulu tersebut diakui eksistensinya dan dinamakan Kerajaan Barus Hulu, Rajanya tetap memerintah dan tunduk kepada konfederasi yang dikepalai oleh Sultan Ibrahimsyah, Raja di hilir Barus, pengaruhnya diakui di seluruh Konfederasi Kerajaan Barus (Raya); Kerajaan Hatorusan yang baru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembangunan Barus pun akhirnya dilanjutkan menjadi sebuah bandar yang terkenal pada saatnya. Pembangunan tidak hanya dilakukan dalam infrstruktur kerajaan tetapi juga suprastruktur SDM-nya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sultan memberikan perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Individu-individu yang mempunyai bakat yang brilyan akan mendapat sokongan dan dukungan dana untuk mengembangkan ilmu-ilmu mereka. Ilmu sejarah, hukum, sosial dan politik serta penguasaan teknologi merupakan beberapa cabang ilmu yang berkembang saat itu. Komunitas-komunitas dagang diperbolehkan untuk membuka wilayah dan membangun masyarakatnya sendiri dalam enclave-enclave yang dilindungi keamanannya. Orang-orang China, Arab dan pedaganga India merupakan kaum imigran yang berdomisili di sana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Produk-produk Barus&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sultan Ibrahimsyah menjadi legenda sebagai sultan pribumi yang terkuat di tanah Batak. Akibat dukungan Sultan kepada ilmu pengetahuan, beberapa sarjana pribumi lahir dan menorehkan hasil karyanya. Di antaranya Hamzah Fansuri. Seorang penyair dan ilmuwan pada bidang sosial, politik dam agama. Muridnya bernama Syamsuddin al-Sumatrani. Syamsuddin kemudian merantau ke Aceh dan menjadi penasihat politik dan agama di Pasai bagi Sultan Iskandar Muda dia wafat tahun 1630 M. Namanya kemudian dikenal sebagai Syamsuddin van Pasai. Aceh pada awal abad-17 menginvasi Barus. Intelektual lain adalah Abdul Rauf Fansuri. Tidak diketahui apa marga mereka ini, tapi dipastikan Fansur dan Barus didominasi oleh campuran keturunan Arab, Farsi, Gujarat dengan Marga Pasaribu, Pohan dan Tanjung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengaruh Sultan Ibrahimsyah Pasaribu juga menjadi masyhur sampai ke negeri Aceh, bahkan dalam beberapa ekspansinya di sana, dia berhasil memperkenalkan agama Islam di sebagain besar penduduk Aceh bahagian barat. Kelompok Pasaribu melalui Ibrahimsyah Pasaribu dengan demikian juga dikenal sebagai pembawa agama Islam di Negeri Aceh. Walaupun begitu agama Islam sendiri diyakini sudah dikenal oleh penduduk Aceh khususnya mereka yang tinggal di bagian pesisir timur. Komoditas perdagangan Barus juga meningkat secara kuantitas dan kualitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada permulaan abad-16, Tome Pires-seorang pengembara Portugis- yang terkenal dan mencatat di dalam bukunya "Suma Oriental" bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan kecil yang merdeka, makmur dan ramai didatangi para pedaganga asing. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dia menambahkan bahwa di antara komoditas penting yang dijual dalam jumlah besar di Barus ialah emas, sutera, benzoin, kapur barus, kayu gaharu, madu, kayu manis dan aneka rempah-rempah (Armando Cartesao, The Suma Oriental of Tome Pires and The Book of Rodrigues, Nideln-Liechtenstein: Kraus Reprint Ltd,.1967; hal. 161-162).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang penulis Arab terkenal Sulaiman al-Muhri juga mengunjungi Barus pada awal abad ke-16 dan menulis di dalam bukunya al-Umdat al-Muhriya fi Dabt al-Ulum al-Najamiyah (1511) bahwa Barus merupakan tujuan utama pelayaran orang-orang Arab, Persia dann India. Barus, tulis al-Muhri lagi, adalah sebuah pelabuhan yang sangat terkemuka di pantai Barat Sumatera.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada pertengahan abad ke-16 seorang ahli sejarah Turki bernama Sidi Ali Syalabi juga berkunjung ke Barus, dan melaporkan bahwa Barus merupakan kota pelabuhan yang penting dan ramai di Sumatera. (Lihat. L.F. Brakel, Hamza Pansuri, JMBRAS vol. 52, 1979).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah misi dagang Portugis mengunjungi Barus pada akhir abad ke-16, dan di dalam laporannya menyatakan bahwa di kerajaan Barus, benzoin putih yang bermutu tinggi didapatkan dalam jumlah yang besar. Begitu juga kamfer yang penting bagi orang-orang Islam, kayu cendana dan gaharu, asam kawak, jahe, cassia, kayu manis, timah, pensil hitam, serta sulfur yang dibawa ke Kairo oleh pedagang-pedagang Turki dan Arab. Emas juga didapatkan di situ dan biasanya dibawa ke Mekkah oleh para pedagang dari Minangkabau, Siak, Indragiri, Jambi, Kanpur, Pidie dan Lampung. (Lihat B.N. Teensma, "An Unkown Potugese Text on Sumatera from 1582", BKI, dell 145, 1989.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dapat dipastikan bahwa di kota yang ramai dengan masyarakat kelas menengah seperti Barus telah terdapat lembaga-lembaga pendidikan, khususnya sekolah-sekolah agama. Di situ orang dapat mempelajari ilmu-ulmu agama, termasuk tasawuf dan kesusasteraan. Sehingga bahasa Melayu sebagai lingua franca mendapat penguatan dan modernisasi. Hamzah Fansuri merupakan orang yang memperkenalkan keindahan bahasa Melayu Barus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemajuan dan perkembangan pemikiran di daerah ini, dengan masuknya orang-orang Arab &amp; Yunnan mengakibatkan terjadinya modernisasi pendidikan. Modernisasi pendidikan sudah terjadi di Fansur sejak abad ke-9 dan akhirnya menyebar ke seluruh Barus. Partungkoan dimodernisasi dengan sistematisasi yang terstruktur layaknya halaqah-halaqah serta daurah-daurah ilmiyah. Setelah seorang anak mendapat pendidikan di keluarga mengenai filsafat dasar pendidikan, mereka akan diserahkan orang tuanya kepada seorang raja patik untuk dididik di partungkoannya bersama anak-anak lainnya. Silabus yang dipakai saat ini adalah al-nizhamiyah. Anak-anak akan diajari baca tulis dan penghafalan al-Qur'an.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lulusan sekolah dasar ini akan dianggap lulus setelah menghafal 30 Juz, kemudian sekitar umur 8 tahun anak akan diarahkan ke Partungkoan atau daurah lain yang lebih tinggi. Di sini mereka diajari ilmu bahasa sesuai dengan minat dan latar belakang keluarga si anak. Misalnya, bahasa Batak, Cina, Melayu, Tamil, dan Arab, namun ilmu yang paling digandrungi adalah bahasa Farsi, yang saat itu menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Di Barus sendiri telah lama bermukim komunitas asing; Arab, Tamil, Farsi, Turki, Gujarat, Yunnan, Bugis, Jawa, Siam, Minang, Siak dan lain-lain. Saat kemunduran Barus, mereka eksodus ke kerajaan Aceh, sebagian memilih berasimilasi dengan penduduk setempat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah itu mereka akan dimasukkan ke partungkoan atau majlis yang mengajarkan dasar-dasar ilmu sosial, ilmu ukur, hitung, al-Goritma dasar, fiqih, tauhid serta ilmu-ilmu dasar lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahap selanjutnya, pada umur 15-an mereka akan masuk dalam kelas yang mempelajari beberapa undang-undang dan hukum-hukum yang dianut oleh kerajaan, pengetahuan umum yang up to date, sehingga pengetahuan mereka akan matching dengan perkembangan hubungan inter-personal di masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sampai tahap ini, mereka yang bermukim di pedalaman misalnya seorang anak yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi, akan berusaha mencari bekal hidup di perantauan nanti; Pusat kota Barus. Mahalnya biaya hidup disana mengharuskan mereka bekerja sejak remaja. Dia akan berinisiatif untuk membuka ladang baru, biasanya nilam dan produk lainnya. Hasilnya akan dikumpulkan di gudang penyimpanan. Hal itu terus dilakukan sampai 2-3 tahun. Saat berangkat melanjutkan pendidikan tinggi, 'tabungan' di gudang tersebut baru dijual sekaligus ke Barus. Hasilnya, akan cukup untuk membeli sebuah tempat tinggal, seekor kuda tunggangan ke tempat kuliah dan sekaligus modal awal untuk memulai hidup dengan berusaha. Ada yang membuka toko, rumah pandai besi (panopa) dan bentuk jasa lainnya. Tentu, calon mahasiswa yang bermukim di Barus tidak perlu serumit itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Level pendidikan tinggi disebut level daurah Hadits. Di Partungkoan ini, ribuan mahasiswa akan duduk bersama dalam gedung yang sangat luas mendengarkan pengajaran dari beberapa raja patik alias mu'allim  yang mempunyai kredibilitas perawi sunan dengan bukti syahadah atau ijazah yang menghubungkan mereka dengan para perawi hadits-hadits di masa lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di sini mereka akan mempelajari ilmu-ilmu ketabiban, medis, pengobatan, geografi, ilmu bumi, hukum-hukum menurut berbagai mazhab dan aliran-aliran, teologi dan sejarah para pemikir dan pemimpin dulunya dan bab-bab lain yang terkandug dalam kutubussittah. Saat mengkhatamkan Kutubussittah, yang menjadi 'major' di lembaga ini, para orang tua dan masyarakat akan diundang dan sebuah festival besar akan diadakan untuk menghormati lulusnya sarjana-sarjana baru tersebut. Para lulusan baru tersebut akan mendemonstrasikan kemampuan hafalan mereka dengan melafalkan luar kepala ratusan bahkan ribuan bait matan hadits. Setiap lulusan baru tersebut akan diberi sebuah kertas yang berisi sebuah kesaksian bahwa orang tersebut telah belajar kepada si anu, menyebut nama mu'allimnya, yang mana dia belajar dari si Anu yang belajar dari si Anu dan seterusnya. Dan yang bersangkutan berhak untuk menyebarkan ilmunya. Ini adalah tanda lulus yang kredibel dan syah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka rebana dan marawis pun ditabu, lulusan-lulusan dari Yunnan akan bergembira dengan menyalakan mercon-mercon yang banyak. Orang-orang Farsi, Arab dan Gujarat dengan jenggot yang tebal memilih merayakannya di rumah masing-masing. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang-orang Batak, ditemani kedua orang tuanya akan memilih merayakannya di atas anjungan kapal-kapal mereka sambil berlayar ke pulau-pulau setempat. Orang-orang minang akan kembali ke tokonya sambil membagikan manisan kepada pelanggannya, tanpa kegembiraan atas kelulusan pemiliknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang yang belajar dari mu'allim yang kredibel dan mu'allim tersebut  belajar dari orang yang disegani dan terkenal, maka orang tersebut akan mendapat status yang lebih kuat di masyarakat. Sampai titik ini normalnya seorang akan berumur 20 tahun. Namun patokan umur bukan persyaratan dalam belajar pada waktu itu. Ada yang membutuhkan 3-5 tahun di sebuah majlis, ada yang hanya membutuhkan 2-6 bulan untuk menguasai ilmu yang tersedia. Dalam semua level pendidikan, ada yang menamatkannya saat umurnya masih belasan tahun ada juga yang masih mengulang walau umurnya sudah setengah abad. Para lulusan daurah ini akan menjadi raja-raja patik atau mu'allim (orang Batak menyebutnya parmalim) di komunitas masing-masing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagian dari mereka akan masuk menjadi anggota dewan parbaringin (penasehat) di huta masing-masing yang berfungsi sebagai badan legislasi membantu Raja Huta menata kehidupan masyarakat. Para lulusan yang banyak dari marga Tanjung, Pasaribu, Pohan, Simanjuntak, Sigalingging, Simbolon dan Daulay saat itu sangat disegani karena komitmen mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Para mahasiswa medis akan memilih untuk membuka praktek kedokteran di masyarakat dan menyebut diri sebagai 'tabib'.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagian dari mereka yang menguasai ilmu bumi dan geografi, akan menjadi nakhoda di kapal-kapal pribumi atau asing, yang mengarungi lautan luas demi berdagang dan memperluas pangsa pasar maupun dalam sebuah pelayaran misi antar kerajaan. Para mu'alim yang menjadi nakhoda tersebut sangat disegani karena luasnya pengetahuan yang dimilikinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagian lagi akan meneruskan pelajaran mereka dalam partungkoan atau majlis yang lebih kecil. Studi mereka tidak lagi dilakukan dalam aula besar secara massal tapi di dalam ruangan-ruangan kecil dengan jumlah mahasiswa yang lebih sedikit kepada seorang mu'alim yang menguasai spesialisasi ilmu pengetahuan tertentu. Raja patik yang sudah berpengalaman dalam praktek nyata tersebut akan memanfaatkan muridnya sebagai asisten pribadinya dalam penulisan buku, pengajaran di partungkoan dan lain sebagainya. Proses ini dinamakan takhassus yang bertujuan penguasaan terhadap bidang-bidang tertentu saja, misalnya, ilmu hukum, ilmu tafsir, ilmu jirahat atau tabib atau hadatuan yang modern, astrologi, astronomi, geografi, ilmu hayat, ilmu ukur, ilmu mu'amalah dalam penguasaan ekonomi dan perdagangan, ilmu al-hasib al-aly dalam bidang penguasaan ilmu tenun dan ilmu applikasi lainnya dan ijtima'iyah serta ilmu-ilmu lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahap terakhir adalah takhsis, dimana seorang mahasiwa diarahkan untuk melakukan pengembangan terhadap kemampuan mereka. Seorang raja patik atau mu'allim agung yang paling disegani akan membimbing mereka yang takhsis untuk melakukan beberapa eksperimen dalam ruang lingkup pengetahuan yang mereka kuasai. Setiap orang yang terlibat akan menuangkan hasilnya dalam beberapa catatan untuk diserahkan agar dinilai dan di-tarjih. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan-catatan tersebut pada akhirnya akan menjadi 'trade mark' sarjana tersebut. Catatan atau disertasi tersebut, bisa berupa syarah buku-buku yang sudah ada maupun subjek yang baru, akan diperebutkan oleh maktab-maktab (perpustakaan-perpustakaan swadaya) untuk disimpan dengan mereka. Beberapa disimpan sendiri oleh pemiliknya. Para mahasiswa mendatang yang ingin mengambil sebagian isinya akan disyaratkan untuk membayar dengan beberapa keping mata uang,  mengganti ongkos penulisan kembali (salinan) buku tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Profesi katib pun menjadi marak di berbagai perpusatakaan. Si pembaca buku, bila ingin mendapatkan kopi atau salinan dari buku yang dia iginkan dapat memesankan salinan kepada katib-katib yang bersedia menuliskan seluruh atau sebagai isi buku. Dalam dua atau tiga hari sebuah kopi dan salinan buku tersebut sudah siap untuk diambil, tentu setelah memberikan upah jasanya. Ada juga para sarjana tersebut menyimpan sendiri bukunya, sehingga dia akan menjadi katibnya dan mendapatkan margin yang lebih besar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka yang mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi, akan berusaha menggenapkan pengetahuannya dengan berkelana, menumpang kapal-kapal asing, ke Mekkah sambil menunaikan ibadah haji. Sebagian mengikuti kapal-kapal asing lainnya dengan tujuan yang berbeda dan tidak pernah kembali. Di Mekkah mereka akan tinggal satu sampai tiga tahun, untuk selanjutnya kembali lagi, demi standarisasi pengetahuan mereka dengan ribuan orang dan sarjana lain yang datang dari segala penjuru dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seseorang yang melalui berbagai tahap ini, akan kembali ke negerinya untuk mengabdikan ilmunya baik dengan membuka halaqah-halaqah baru atau bergabung dengan yang sudah ada, menjadi pegawai kerajaan maupun dengan menjadi pemuka, cendikiawan dan pembicara pada pertemuan-pertemuan penduduk. Posisi mereka akan semakin disegani dengan panggilan Syeikh, yang berarti yang dituakan (ilmunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan untuk perempuan mendapatkan perlakuan yang sama. Bedanya paska sekolah tahfiz, seorang siswi akan menghadiri partungkoan yang terpisah dengan siswa, sampai pada level terakhir pendidikannya. Seorang cucu, misalnya akan sangat bangga kepada teman-temannya bila ternyata neneknya adalah seorang hafidzah. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendapat ilmu sebanyak-banyaknya karena hal tersebut dapat menaikkan kehormatan keluarga di tengah masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pendidikan ala masa dahulu ini menonjolkan institusi pribadi dan personal sang mu'allim dari pada institusinya. Sehingga sebuah majlis tidak dilihat dari bangunan dan papan namanya, tapi kepada pribadi yang menjadi pusat ilmu. Sehingga, apabila seorang maha guru mangkat, majlis tersebut akan ditinggalkan mahasiswanya dan berguru kepada pribadi lain yang sejajar dengannya, kecuali bila asisten maha guru tersebut juga mempunyai kredibilitas yang sama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Partungkoan atau halaqah-halaqah ini tidak memungut bayaran kepada mahasiswanya karena pendaftaran mahasiswa menggunakan administrasi yang sederhana. Walaupun begitu mereka yang ingin memberikan hibah akan dihormati. Mahasiswa baru yang akan bergabung biasanya akan silaturrahmi dengan sang mu'allim di rumahnya. Setelah niat dan maksud diutarakan namanya akan dicatat oleh asistennya dan diberitahukan persiapan apa saja yang harus disediakannya. Asisten tersebut, biasanya berasal dari kalangan mahasiswa senior, akan memeriksa latar belakangnya dimana dia belajar sebelumnya dan subjek apa saja yang pernah dipelajari. Mahasiswa tersebut akan diuji secara lisan dan tulisan. Bila tidak lulus dia akan disarankan untuk mengikuti terlebih dahulu majlis-majlis mini yang dipimpin oleh para asisten atau khadim mu'allim tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penghasilan mu'allim didapat dari sumbangan kerajaan, jasa terhadap perannya di pertemuan-pertemuan petinggi kerajaan maupun penduduk. Sumber lain adalah dari hadiah, waqaf dan infaq orang-orang yang kaya. Bila dia seorang penulis, upah atas jasanya akan diberikan oleh perpustakaan dan katib-katib, dari setiap orang yang meminjam bukunya. Untuk mahasiswa atau penuntut ilmu, mereka akan mendapat kemudahan berupa beasiswa dari kerajaan maupun lembaga-lembaga mesjid yang menyediakan dana ibn sabil. Mereka yang masuk ashnaf delapan akan mendapatkan zakat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalangan orang kaya akan dengan senang hati menampung para penuntut ilmu di rumahnya, sebab mereka akan bersikap jujur dan ikut membersihkan kuda-kuda, bekerja di toko-toko serta membantu dalam penghitungan pemasukan dan urusan lainnya. Mereka yang tidak kebagian akan membangun pondok-pondok kecil di sekitar tempat kuliah. Biasanya di tanah kerajaan maupun di tanah milik mu'allim tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sehabis kuliah sebagian mahasiswa akan menjadi pekerja paroh waktu di onan atau pusat perdagangan, pertanian dan perkebunan sayuran, kamper dan nilam, rumah-rumah pengolahan logam, galangan kapal, pertukangan kayu, pertukangan besi atau 'panopa' dimana semua peralalatan mulai dari yang sederhana sampai yang paling rumit didesain dan dibuat, pembuatan sepatu, penenunan kain (konveksi), pemerahan susu kerbau, pembuatan roti, kue-kue dan cendera mata, penggilingan kopi, cabai, rempah-rempah, meracik obat-obatan dan usaha-usaha lainnya di Barus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada yang menjadi katib di perpustakaan, toko maupun kerajaan, nazir mesjid, mu'adzin, ta'mir majlis, pengantar susu ke rumah-rumah setiap pagi, pekerja di lapo (cafe), penarik kuda sewaan, juru mudi karavan atau pedati, penjaja lemang dan tapai bagi penumpang kapal-kapal dan lain-lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka yang berasal dari keluarga pedangang akan menggunakan waktu luangnya beraktifitas di onan. Sesekali orang tuanya akan datang dari kampung halaman menjenguk dan melihat perkembangan modal usaha yang diberikan. Tentu, mereka yang mendapat sokongan dana dari rumahnya atau orang tuanya akan memilih berkonsentrasi belajar di biliknya atau di gedung baca alias dar al-muthala'ah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa akan duduk dengan khidmat, dengan sebotol tinta yang terbuat dari bambu, membuat catatan pinggir. Sebagian lagi ada yang menunduk-nundukkan kepala tanda sedang menghafal keras bait-bait syair, rumus dan matan-matan, beberapa mengulang-ulang hafalan qur'an, hadits dan geografi. Perjaja teh akan berkeliling menawarkan minuman kepada mereka yang sedang serius. Di ruangan lain, mereka yang spesialisasi 'tabib' dan jirahat akan berkonsentrasi dengan materinya; katak, ikan bahkan mayat yang telah diawetkan. Mereka yang sudah merasa mampu akan bergabung menjadi asisten di dar al-shifa, tempat praktek tabib profesional.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di aula-aula yang lebih luas, setiap saat diadakan forum-forum debat dan diskusi. Berbagai delegasi mazhab dan aliran agama akan berkumpul, saling mengemukakan dalil-dalilnya, memberikan informasi yang terbaru tentang hukum-hukum yang berkembang di berbagai negeri. Beberapa audiens sibuk mencatat hujjah-hujjah tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesekali pembicara berasal dari pengelana dan pengembara dari pulau-pulau terpencil, menceritakan keunikan masyarakat dan habitat alam di sana, menerangkan jalur peta baru pelayaran. Kalangan mu'allim yang menjadi nakhoda kapal akan berusaha meminta salinannya, tentu dengan mengganti dengan beberapa dirham mata uang. Terkadang panglima yang baru kembali dari medan peperangan, menerangkan garis batas baru dan pergeseran peta politik. Pengumuman mengenai peraturan, kenaikan pajak dermaga dan peraturan-peraturan baru kerajaan akan dilakukan di onan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang-orang Batak yang hobbi bermain musik akan bergabung dengan rekan-rekan mereka dari India, Arab dan mahasiswa asing lainnya di cafe-cafe yang menyediakan teh, syahi, qahwah dan minuman-minuman khas. Alunan kecapi, gitar tradisional dan beberapa alat musik akan menyatu seakan menghibur orang-orang yang lalu lalang. Beberapa lagu multi-bahasa dimainkan dengan beragam jenis musik. Terkadang mereka saling sindir dengan syair, pantun, umpasa dan puisi-pusi satirik. Saat itu, pengaruh ajaran tasawuf dan filsafat sedang tren.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Syair-syair Hamzah Fansuri menggambarkan keindahan kota Barus saat itu. Keramaian dan kesibukan kota pelabuhan dengan pasar-pasar dan pandai emasnya yang cekatan mengubah emas menjadi "ashrafi", kapal-kapal dagang besar yang datang dan pergi dari dan ke negeri-negeri jauh, para penjual lemang tapai di pasar-pasar, proses pembuatan kamfer dari kayu barus dan keramaian pembelinya, lelaki-lelaki yang memakai sarung dan membawa obor yang telah dihiasi dalam kotak-kotak tempurung bila berjalan malam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gadis-gadis dengan baju kurung yang anggun dan di leher mereka bergantung kalung emas penuh untaian permata, yang bila usia nikah hampir tiba akan dipingit di rumah-rumah anjung yang pintu-pintunya dihiasi berbagai ukiran yang indah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada bagian lain syair-syairnya juga memperlihatkan kekecewaanya terhadap perilaku politik sultan Aceh, para bangsawan dan orang-orang kaya yang tamak dan zalim. (Mengenai kesusateraan Hamzah Fansuri lihat S.N. al-Attas, The Origin of Malays Sha'ir, Kulala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1968. Juga baca V.I. Braginsky, Tasawuf dan Sastra Melayu, Jakarta: RUL,. 1993, khususnya esai "Sekali Lagi Tentang Asal-usul Sya'ir"; hal 63-76.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana para sarjana Kerajaan Hatorusan lama, Hamzah Fansuri yang hidup di masa berdirinya Kerajaan Hatorusan baru pimpinan Ibrahimsyah juga mendapat pengaruh besar di Aceh. Van Nieuwenhuijze (1945) dan Voerhoeve (1952) berpendapat bahwa Hamzah Fansuri memainkan peran penting di dalam kehidupan kerohanian di Aceh sampai akhir pemerintahan Sultan Ala'uddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammil (1590-1604). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu muridnya Syamsuddin al-Sumatrani naik peranannya baru pada zaman Sultan Iskandar Muda saat dia bermigrasi ke Aceh. Diyakini dalam mundurnya pamor Barus, banyak sarjana-sarjana Batak yang pindah ke Aceh, Kutaraja, karena kehadiran mereka disana sangat disegani. Mengenai Syamsuddin sebaiknya baca C.A.O. Niewenhujze, Syamsu'l Din van Pasai, Bijdrage tot de Kennis der Sumatranche Mystiek, disertasi Universitas Leiden, 1945.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun pemikiran filsafat Wujudiyah Hamzah Fansuri mendapat tantangan dari ulama Aceh. Ahmad Daudy di dalam bukunya Allah dan Manusia dalam konsepsi Syeikh Nuruddin Ar-Raniry, Jakarta; CV Rajawaki Press, 1983; hal. 41, antara lain menulis, "Selain sebagai mufti, Syeikh Nuruddin juga seorang penulis yang menyanggah Wujudiyah. Seringkali ia mengadakan perdebatan dengan penganut ajaran ini, dan kadang-kadang majelis diskusi diakadakan di istana dimana sultan sendiri menyaksikannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam perdebatan itu Syeikh Nuruddin berkali-kali memperlihatkan adanya kelemahan dan penyimpangan dalam ajaran Wujudiyah...., serta meminta agar mereka ini bertobat... tetapi himbauannya tidak dihiraukan mereka, dan akhirnya mereka dihukum kafir yang boleh dibunuh, sedangkan kitab-kitab karangan Hamzah dan Syamsuddin dikumpulkan dan kemudian dibakar di halaman mesjid raya Baiturrahman."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentang peristiwa pembakaran kitab karangan penulis Wujudiyah, dan hukum bunuh terhadap pengikut-pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin, Lihat buku Nuruddin al-Raniry, Bustan al-Salatin edisi T. Iskandar, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1966: hal. 46.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perlakuan itu diterima Hamzah Fansuri, karena kritik-kritik tajamnya terhadap pemerintahan monolitik Sultan Aceh, perilaku buruk orang-orang kaya dan praktik yoga (dari Hindu India) yang diamalkan ahli-ahli tarekat di Aceh pada awal abad ke-17, baca S.N. al-Attas The Mysticism of Hamzah Fansuri, Kuala Lumpur: Universiti malaya Press, 1970; hal. 16-17. juga baca L.F. Brakel, 'Hamzah Pansuri'; V.I. Braginsky "Puisi Sufi Perintis Jalan" (Analisis Syair-syair Hamzah Fansuri tentang Kekasih, Anggur dan Laut") ceramah di Sudut Penulis, Dewan Bahasa dan Pusataka, Kuala Lumpur, 27-28 Oktober 1992; juga Abdul Hadi W.M. 'Syeikh Hamzah Fansuri 'Ulumul Qur'an, No. 2, Vol. V, 1994.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kembali ke Kerajaan Hatorusan yang lama, Dinasti Raja Uti. Dalam beberapa abad kepemimpinan mereka, beberapa generasi raja telah memerintah kerajaan melewai berbagai serangan dan gempuran asing. Ada beberapa pemimpin dinasti ini yang sempat diketahui di antaranya pangeran Datu Pejel. Sepeninggalan Raja Uti, Datu Pejelpun meneruskan tahta kerajaan Hatorusan yang meliputi kekuasaanya sampai ke pedalaman Batak dengan gelar Raja Uti II. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun Raja Uti II ternyata tidak berumur panjang. Dia meninggal sebelum putra mahkotanya menginjak usia dewasa. Tahta kerajaanpun diserahterimakan oleh dewan Kerajaan kepada permaisuri yang kemudian bergelar Ratu Pejel III.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Literatur mengenai nama-nama generasi dinasti ini tidak jelas. Hanya beberapa tokoh dari keturunanya yang dikenal tanpa bisa disambung sesuai dengan penahunan yang kredibel. Diperkirakan jumlah generasinya mulai dari berdiri kerajaan sampai abad ke-16 mencapai 90 generasi. Disebutkan juga kehadiran Raja Hatorusan II yang memerintah kota Fansur di Barus, namun tahunnya tidak jelas. Raja Hatorusan II bukanlah Ibrahimsyah karena keberadaan Raja Hatorusan II jauh beberapa abad sebelum Ibrahimsyah memerintah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hipotesa yang berlaku adalah mungkin saja kerajaan Hatorusan pernah putus dan kedaulatannya lenyap. Namun beberapa waktu kemudian keturunannya membangun kembali. Keturunan Raja Uti yang terkenal berikutnya adalah Borsak Maruhum. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain itu dikenal pula Raja Uti V bergelar Datu Alung Aji. Raja Uti VI kemudian dikenal bergelar Longgam Parmunsaki. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Raja Uti VII bernama Datu Mambang Di Atas. Selama pemerintahan Raja Uti VII yang berkedudukan di Aceh, berbagai pemberontakan dari dalam negeri meningkat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gerakan oposisi tersebut bermaksud untuk mengkudeta Raja. Kekuatan pemberontak terdapat di pedalaman Batak disebutkan dari marga Manullang. Kerajaan memang sudah mengalami kegoncangan setelah sebelumnya beberapa kerajaan kecil yang menjadi subordinat telah memilih memisahkan diri, khususnya mereka yang di wilayah timur kerajaan (Sumatera Timur). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sang Raja Uti VII mempunyai beberapa panglima diantaranya seorang panglima yang sangat tangguh yang juga kebetulan adalah kemenakannya sendiri. Putra dari seorang saudari perempuannya, Boru Pasaribu. Dia bernama Mahkuta alias Mahkota yang dikenal di kalangan Batak dengan sebutan Manghuntal putra seorang ayah bermarga Sinambela dari pusat Batak. Dia dididik di istana kerajaan dan menjadi Panglima yang menguasai matra Angkatan Darat dan Laut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika Portugis pertama sekali menyerang daerah tersebut, Panglima Mahkuta memimpin bala tentaranya dan memenangkan peperangan tersebut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mahkuta kemudian diperintahkan untuk menumpas pemberontakan di sentral Batak. Dalam usahanya menumpas pemberontak, di ibukota kerajaan terjadi kudeta dan perebutan kekuaraan. Praktis Dinasti Uti pun berakhir dan lenyap. Pusat Kerajaan Hatorusan di Aceh diperkirakan berakuisisi dengan Kesultanan Aceh. Di Singkil sampai sekarang masih terdapat kelompok-kelompok keturunan Batak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ditransfer ke Mahkuta Alias Manghuntal&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mahkuta yang kemudian mendengar berita tersebut tidak senang dengan perubahan politik ini. Apalagi dia mendapat berita bahwa tahta kerajaan Batak telah diberikan kepadanya. Setelah berhasil menumpas pemberontakan di tanah Batak, dia memilih untuk mendirikan kerajaan baru di wilayah tersebut dengan ibukota Bakkara, tempat muasal leluhurnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mahkuta menjadi raja pertama dengan gelar Sisingamangaraja I (SM Raja) pada tahun 1540 Masehi. Sebagai seorang bermarga Sinambela dari Toga Sumba, berbeda dengan Raja Uti yang Pasaribu dari Kubu Tatea Bulan, Mahkuta sebenarnya telah memulai sebuah dinasti baru yakni dinasti SM Raja yang memerintah Batak sampai SM Raja XII. Walaupun begitu, sebagai pendiri spiritual Batak, Raja Uti dan keturunanya, sampai abad ke-20, masih dimuliakan dan mendapat tempat terhormat dalam doa-doa. Bila Dinasti SM Raja mendapat kesulitan dalam urusan dalam negerinya, perwakilan dari Raja-raja Uti kerap dihadirkan untuk menjadi penengah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Raja SM Raja XII, sebagai pernghargaan terhadap usahanya mengusir si Bottar Mata, penjajah Belanda, dianugerahi Pahlawan Nasional Indonesia dengan keputusan Presiden RI No. 590 Tanggal 9 November 1961.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peta politik di masyarakat terpecah dua. Kompetisi dan persaingan antara dua kubu Batak; Kubu Sumba dan Tatea Bulan. Kubu Tatea Bulan sebagai tertua dan banyak keturunannya menjadi raja-raja di luar pedalaman Batak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Raja Manghuntal atau Raja Mahkota bergelar Sisingamangaraja I memerintah sentral Tanah Batak selama 10 tahun menurut stempel (cap kerajaan) yang bertahun 947 H dan berakhir dalam tahun 957 Hijriyah atau dalam tahun 1540 s.d 1550 M. (Diambil dari informasi L. van Vuuren, Samosir en de Pakpaklanden, Nota 1907).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Manghuntal mulai menata kembali kehidupan masyarakat. Untuk mengakomodasi berbagai kepentingan dan pertikaian antar kelompk masyarakat, dia berkoalisi dengan dengan tetua di Bakkara. Mereka, yang menjadi perwakilan tersebut diangkat sebagai anggota kabinet di pemerintahan, adalah raja-raja dari si Onom Ompu; Kelompok Bakkara, Sihite, Simanullang, Sinambela, Simamora dan Marbun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masing-masing keluarga ini didelegasikan beberapa wewenang. Setiap mereka diberi simbol kerajaan berupa barang pusaka yang didapat Manghuntal dari Kerajaan Hatorusan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di samping itu, di juga melakukan distribusi kerja yang jelas kepada para pembantunya; di antaranya lembaga Pande Na Bolon yang bertugas sebagai penasehat dan juga sebagai fasilitator antar daerah di dalam kerajaan. Jabatan bendahara kerajaan diberikan kepada marga Sihite. Untuk mengikat semua daerah kekuasaan dalam satu kesatuan yang utuh, dia melakukan berbagai pendekatan antara lain secara spiritual dengan membawa air dan tanah dari Bakkara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Target pertamanya adalah dengan merangkul Humbang. Humbang merupakan daerah paling Barat kerajaan yang berpopulasi keturunan raja Sumba, sama dengan Manghuntal. Mereka itu berasal dari marga Sihombing dan Simamora. Di sana dia mengangkat dua perwakilannya; dalam institusi Raja Parbaringin, yaitu dari marga Simamora dan Hutasoit (Putra sulung Sihombing).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari Humbang dia pergi ke Silindung. Dia mengangkat raja na opat untuk daerah ini. Perbedaan institusi perwakilannya tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangn geografis dan politik saat itu. Hal yang sama dia melakukannya untuk daerah-daerah yang lain. Satu institusi lainnya adalah panglima wilayah. Sebuah daerah yang damai atau homogen akan berbeda dengan huta yang plural. Begitu juga daerah yang berbatasan langsung dengan luar kerajaan dengan yang berada di pusat kerajaan mendapat perwakilan yang berbeda. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Insting kepemimpinan yang dia warisi selama masih dididik di istama Raja-raja Uti membuatnya memahami betul langkah-langkh politik yang sesuai dengan karakter sebuah huta. Sikap ini dengan cepat dapat menyatukan masyarakat Batak yang berbeda-beda marga dan kepentingan hutanya. Egoisme, primordialisme huta dan fanatisme marga serta kebiasaan bertengkar orang-orang Batak ditundukkan dengan harmoni dan kebersamaan. Manghuntal memerintah tidak dalam waktu lama. Sebelum putra mahkotanya, Manjolong, berumur dewasa, masih 12 tahun, Manghuntal dikabarkan menghilang dan tidak pernah kembali lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SM Raja I adalah turunan dari Oloan dari marga Sinambela. Dinasti SM Raja adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1.  Raja Sisingamangaraja I dengan nama asli Raja Mahkota atau Raja Manghuntal memerintah tahun 1540 s.d. 1550&lt;br /&gt;2.  SM Raja II, Raja Manjolong gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan memerintah 1550 s.d 1595&lt;br /&gt;3.  SM Raja III, Raja Itubungna, 1595-1627&lt;br /&gt;4.  SM Raja IV, Tuan Sorimangaraja 1627-1667&lt;br /&gt;5.  SM Raja V, Raja Pallongos, 1667-1730&lt;br /&gt;6.  SM Raja VI, Raja Pangolbuk, 1730-1751&lt;br /&gt;7.  SM Raja VII, Ompu Tuan Lumbut, 1751-1771&lt;br /&gt;8.  SM Raja VIII, Ompu Sotaronggal, gelar Raja Bukit 1771-1788&lt;br /&gt;9.  SM Raja IX, Ompu Sohalompoan, Gelar Datu Muara Labu, 1788-1819&lt;br /&gt;10. SM Raja X, Aman Julangga, Gelar Ompu Tuan Na Bolon, 1819-1841&lt;br /&gt;11. SM Raja XI, Ompu Sohahuaon, 1841-1871&lt;br /&gt;12. SM Raja XII, Patuan Bosar, gelar Ompu Pulo Batu, 1871-1907    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang unik adalah, hegemoni Batak Tatae Bulan di kerajaan Batak kemudian berpindah ke kubu Toba Isumbaon di sentral Batak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sultan Ibrahimsyah Pasaribu Tewas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sementara itu, di Barus, terjadi perubahan yang menyedihkan. Pada permulaan abad ke-17, pamor kota ini merosot dengan maraknya perkembangan kerajaan Aceh Darussalam yang ingin memonopoli seluruh pesisir Sumatera, setelah sebelumnya telah menganeksasi sisa-sisa Kerajaan Hatorusan lama di Singkil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) Aceh berhasil menaklukkan kerajaan Barus dan memasukkannya ke dalam wilayah kesultanan Aceh. Iskandar Muda memperkecil peranan Barus baik sebagai pusat perniagaan maupun kebudayaan. (Lihat Denys Lombard, Kerajaan Aceh: Jaman Sultan Iskandar muda (1607-1636), terjemahan Hasan Muarif Ambary, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1986; Hal. 110-111).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejarah menceritakan bahwa pada tahun 1610 M, Sultan Ibrahimsyah Pasaribu tewas terbunuh oleh ekspansi militer Aceh ke wilayah tersebut. Setelah pasukan Barus berhasil mengusir militer Aceh, kerajaan kemudian diwalikan kepada Sultan Marah Sifat; raja yang memerintah di Kerajaan Barus Hulu. Setelah berdamai, kedua kerajaan ini telah mengikat tali persaudaraan dimana Sultan Marah Sifat menjadi adik ipar Sultan Ibrahimsyah. Ibrahimsyah menikah dengan kakak perempuan Sultan Marah Sifat. Perwalian ini dimaksudkan sambil menunggu putra kerajaan Sultan Yusuf Pasaribu bin Ibrahimsyah tumbuh dewasa untuk menduduki tahta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibat peperangan yang terus menerus dilancarkan Aceh, kemegahan Baruspun selama berabad-abad telah musnah dan yang tinggal hanya puing-puing. Valentijn, seorang sarjana Belanda yang mengunjungi Barus pada tahun 1706, menulis dalam sebuah bukunya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"... seorang penyair Melayu, Hamzah Pansur... yakni seorang yang sangat terkemuka di lingkungan orang-orang Melayu oleh karena syair-syair dan puisis-puisinya yang menakjubkan, membuat kita karib kembali dengan kota tempat lahir sang penyair bilamana di dalam pui-puisinya yang agung dia mengangkat naik dari timbunan debu kebesaran dan kemegahan masa lampau kota itu dan menciptakan kembali masa-masa gemilang dari kebesarannya..." (lihat A. Teeuw, "The Malay Sya'ir-Problem of Origin and Tradition", BKI, 122, 1966, hal. 429-447 (h. 439)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melalui cacatan Valentijn, dan tentunya syair-syari Hamzah Fansuri, diperoleh kesan bahwa pada zaman Hamzah Fansuri, dia masih mengalami dan menikmati zaman terakhir kegemilangan kota Barus dan menyaksikan pula maraknya perkembangan Aceh Darussalam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah dewasa, Sultan Yusuf diangkat menjadi raja Barus Hilir dengan Gelar Raja Uti, meniru gelar nenek moyangnya. Sultan Yusuf Pasaribu membangun kembali negaranya dengan kemampuan yang dia warisi dari kakeknya. Hubungan antara Raja Uti baru ini dengan kerajaan Batak Sisingamangaraja sangat intens. Kegembiraannya memuncak setelah lahirnya putranya yang diberi nama Sultan Hidayat Pasaribu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai Raja diapun berusaha untuk membina kembali hubungan diplomasi dengan Raja Aceh. Simpati Raja Aceh pun bersambut dan menawarkan putrinya untuk dinikahi Sultan Yusuf.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tawaran tersebut diterima oleh Yusuf, dan diapun berangkat untuk menikah dengan Putri Raja Aceh dan untuk beberapa saat menetap di Banda(r) Aceh. Namun, perasaan dendam dengan tebunuhnya ayahandanya dalam peperangan mempertahankan Barus tidak dapat dilupakan oleh Yusuf. Dia lalu membuat strategi untuk membunuh Raja Aceh tersebut. Gagal, Yusuf hanya mampu membunuh permaisuri raja. Dia ditangkap dan tewas dihukum oleh hulubalang Aceh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sepeninggalan Sultan Yusuf, kerajaan Barus sementara dipegang oleh Sultan Marah Sifat kembali. Setelah menerima kabar tewasnya Sultan, tahta kerajaan diserahterimakan kepada Sultan Hidayat. Sultan Hidayat memegang tampuk kekuasaan di Barus Hilir dengan gelar Sultan Adil. Sementara itu, di Barus Hulu telah terjadi suksesi kepada Maharaja Bongsu anak Sultan Marah Sifat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Barus Hulu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Antara abad 10-13 M, ketika Kerajaan Hatorusan diserang oleh balatentara Sriwijaya. Hatorusanpun kehilangan kontrol terhadap kerajaan-kerajaan kecilnya. Diperkirakan seluruh Barus (Hilir dan Hulu) takluk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barus Hulu sekarang ini, secara administratif pemerintahan, terletak persis diujung barat Kab. Humbang Hasundutan. Di bagian selatan berbatasan langsung dengan Tapanuli Tengah menyenggol perbatasan Aceh Selatan dan di timur laut dengan Kabupaten Dairi/Pakpak Barat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wilayah ini, dalam administrasi kolonial Belanda bernama Onderafdeling Boven Barus, Kecamatan Barus Hulu, dengan asisten Demang berkedudukan di Pakkat. (Drs Gens G Malau, Buku Lopian Boru Sinambela hal 206-217, Yayasan Taotoba Nusabudaya, Jakarta 1997)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Barus Hulu, dengan otoritas Sultan Marah Sifat meliputi tujuh provinsi; Negeri Rambe, Negeri Simanullang, Negeri Pusuk, Negeri Marbun, Negeri Tukka Dolok, Negeri Siambaton, Negeri Tukka Holbung Sijungkang dan Negeri Sionomhudon (Parlilitan &amp; Tarabintang). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah Sriwijaya berhasil diusir, kerajaan-kerajaan Barus Hulu dan Hilir kemudian membangun daerahnya. Kontrol Hatorusan melemah. Begitu juga di Singkil dan beberapa kerajaan di pesisir barat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abad 14, gelombang pasukan Majapahit pimpinan perdana menteri Gajah Mada melakukan ekspansi melalui timur Sumatera. Beberapa wilayah wilayah Batak pernah dikuasai sampai Sionomhudon. Pergerakan mereka ke barat terhenti karena mereka berhasil dihalau keluar tanah Batak. Namun begitu kerajaan Majapahit tetap melakukan hubungan dagang dengan Barus. Elemen Majapahit, yang tidak sempat kembali ke Jawa, mendirikan komunitas di Dairi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumber-sumber sejarah dinasti Ming di Cina menyatakan bahwa pada tahun 1418 sebuah rombongan utusan Kerajaan Majapahit menemui raja Barus disertai orang-orang Cina yang telah tinggal lama di situ (Krom 144).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Pagarruyung pernah berkeinginan menaklukkan Barus pada abad 15. Namun pada abad 16, Sultan Ibrahimsyah Pasaribu yang baru memerintah berhasil membangun kekuatan Barus yang lebih kuat dan disegani. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada zaman inilah, abad-16, diketahui bahwa di Barus Hulu telah berdiri lama kerajaan tersendiri dengan raja Sultan Marah Sifat. Diperkirakan kerajaan ini sudah lama berdiri dan pecahan dari Hatorusan. Sultan Pasaribu, penguasa Hatorusan versi baru, mengultimatum Barus Hulu. Kerajaan Barus Hulu kemudian tunduk ke kerajaan Barus Raya, Kerajaan Hatorusan, pimpinan Sultan Ibrahimsyah Pasaribu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemajuan ilmu pengetahuan dan ekonomi juga sampai ke Kerajaan Barus Hulu. Para pedagang dan sudagar dari Negeri Rambe, Sionomhudon dan lain sebagainya aktif terlibat dalam perputaran ekonomi di kawasan ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akibatnya, pada abad ke-17, komunitas-komunitas kecil muslim terbentuk di pedalaman Batak di kerajaan Barus Hulu. Mereka ini adalah para pedagang dan saudagar antar huta yang tertarik untuk masuk Islam di Barus; pusat ekonomi saat itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Komunitas muslim pedagang dari marga Sihotang misalnya banyak dijumpai di huta Siranggason, Tolping, Siantar Dairi dan lain sebagainya. Begitu juga dengan Hasugian, Malau, Nahampun dan Naipospos di Napa Horsik dan Napa Singkam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Marga Simbolon, banyak bermukim di Tarabintang, Laetoras dan beberapa di Hutambasang. Di Hutambasang sendiri kebanyakan muslimnya adalah dari marga Manalu.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkur, Meha dan Sitohang merupakan marga-marga yang mendirikan mesjid pertama di Parlilitan. Sementara itu di Negeri Rambe, komunitas muslim berasal dari pedagang marga Simamora, Marbun, Pasaribu, Sigalingging, Purba dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam setiap persta dan festival, posisi komunitas Muslim tersebut sangat dihormati. Mereka akan disediakan tempat khusus dan koki dari komunitasnya sendiri dalam perjamuan pesta. Mereka akan disebut komunitas Parsulam atau Parsolam dalam pesta tersebut. Orang Batak menyebut Islam dengan kata Silom atau Sulam. Tapi secara umum, dalam kegiatan sehari-hari mereka tidak berbeda dengan mayoritas masyarakat di situ yang Parmalim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerajaan Hatorusan baru ini, merupakan aliansi SM Raja XII dalam menghadapi kekuatan penjajah Belanda. Beberapakali surat-menyurat serta negosiasi dilakukan untuk mengatur strategi pertahanan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika SM Raja XII terpojok dari wilayah Toba, dia mengambil suaka politik di Negeri Sionomhudon, provinsi Barus Hulu, turut bersamanya sekitar 800 orang yang sebagian besar terdiri dari pasukan khusus pengawal raja bantuan dari kerajaan Aceh. Pearaja menjadi basis pemerintahan in exile Kerajaan Batak selama 17 tahun sebelum akhirnya takluk juga.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah tewasnya SM Raja XII pada tahun 1907, rakyat  Barus Hulu dan Hilir masih terus melakukan perlawanan kepada Belanda walau dalam jumlah kecil sampai tahun 1920-an.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Barus Hulu, sepeninggalan Sultan Marah Sifat digantikan oleh anaknya Sultan Maharaja Bongsu dan beberapa keturunannya, akhirnya takluk ke Belanda dan menjadi Onderafdeling Boven Barus berpusat di Pakkat. Hanya saja beberapa provinsinya belum seluruhnya takluk. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Negeri Sionomhudon di Barus Hulu sejak dahulu merupakan negeri yang kaya raya terkenal dengan tambang emasnya. Diperkirakan masih terdapat bahan galian lain yang belum diteliti. Hutannya menghasilkan kapur barus, damar, terpentin dan lain sebagainya. Perkebunan di sana juga menghasikan kulit manis, raru, komponen ramuan medis dan minyak nilam sebagai bahan utama pembuatan parfum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sionomhudon dikuasai oleh keturunan parna dengan enam kelompok marga; Tinambunan, Tumangger, Maharaja, Turuten dan Pinayung serta Nahampun. Namun secara umum orang-orang Dairi, Pakpak dan Simsim ini tidak ingin disebut orang Batak dan tidak mengaku sebagai Batak. Karena mereka mempunyai nenek moyang sendiri, bukan Raja Batak tetapi Mpu Bada orang Majapahit. (Mpu terkadang disebut Empu atau Ompu).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai bagian dari Kerajaan Hatorusan, negeri Sionomhudon masuk dalam wilayah Dairi; Tano Dairi. Penduduknya menyebut diri suku Pakpak. Mereka dan warga Barus Hulu yang lain kebanyakan menjadi pedagang trans Tano Batak. menghubungkan Lobu Tua dan Fansur, pusat perdagangan komoditas laut, dengan wilayah pusat kerajaan Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115166331898529639?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115166331898529639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115166331898529639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/06/uti-sejarah-kerajaan-hatorusan.html' title='Uti: Sejarah Kerajaan Hatorusan'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115158162297510709</id><published>2006-06-29T04:46:00.000-07:00</published><updated>2006-06-29T04:47:10.630-07:00</updated><title type='text'>Dalihan Na Tolu</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; ANALISIS DARI SUDUT PRINSIP SERTA URGENSINYA DALAM MERAJUT INTEGRASI DAN IDENTITAS BANGSA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :Anwar saleh daulay *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstrak: Suku Batak memiliki adat budaya yang baku yang disebut Dalihan Na Tolu yang dapat menembus sekat-sekat agama/kepercayaan mereka yang dapat berbeda-beda. Adat budaya Batak ini memiliki tujuh nilai inti yaitu kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Nilai hamoraan (kehormatan) terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Nilai uhum (law) mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya dalam menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari keta’atan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat. Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata kunci: Adat budaya daerah, Hubungan kekeluargaan, Identitas dan integrasi bangsa, Mekanisme budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Ketua Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Medan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia selain memiliki wilayah yang luas, juga mempunyai puluhan bahkan ratusan adat budaya. Salah satu diantaranya adalah adat budaya Batak Sumatera Utara, sesungguhnya setiap adat budaya merupakan potensi yang bernilai guna bilamana dijaga dan dilaksanakan dengan baik. Rahmani Astuti (1992:145) mengatakan bahwa nilai adat budaya sangat berguna untuk mengaktualkan nilai-nilai estetika dalam kehidupan kita, dan sekaligus ia dapat dijadikan sebagai intrumen penjaga identitas dan perekat kesatuan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini bangsa kita menghadapi berbagai tantangan, diantaranya adalah terusiknya aspek integritas dan identitas bangsa yang sangat majemuk. Indikasi terhadap terjadinya disintegrasi telah muncul di beberapa tempat seperti Aceh, Riau, Irian Jaya, dll. Mereka menuntut keseimbangan keuangan pusat dan daerah bahkan menuntut kemerdekaan. Berkenaan dengan masalah bangsa tersebut, pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah cara memelihara integritas dan identitas masyarakat kita yang terancam luntur itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui problema yang melatarbelakanginya. Di antara problema yang ada mengungkapkan bahwa latar belakang timbulnya diintegrasi dan erosi identitas adalah berkaitan dengan gaya (style) kebijakan pembangunan masa lalu (baca: masa orde baru) yang antara lain (1) penerapan sentralisme dalam segala hal, (2) uniformisme terhadap banyak pranata sosial budaya, (3) derasnya intervensi budaya asing. Akibat dari kebijakan itu adalah terganggunya potensi budaya lokal sebagai alat pembina jiwa integritas dan identitas bangsa yang terkenal dengan semboyan bhineka tunggal ika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. D. Harahap (1986:24) mengatakan bahwa beberapa daerah ternyata memiliki sejumlah mekanisme kepemimpinan dan kearifan sebagai bagian dari nilai adat budaya. Dalam konsep adat budaya daerah terdapat beberapa kearifan lokal dan sejumlah kepemimpinan lokal yang kesemuanya potensial dalam menata masyarakat damai dengan identitas dan integritas bangsa yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari kebijakan masa lalu yang cenderung melemahkan potensi daerah, dan dikaitkan dengan realitas terganggunya kerukunan khidupan bangsa, maka sudah selayaknya nilai-nilai adat budaya dihidupkan kembali untuk memperkuat jiwa integritas dan identitas bangsa. Dengan cara mengenalkan dan mensosialisasikannya kembali adat budaya di tengah-tengah masyarakat diharapkan masyarakat Indonesia memiliki landasan adat budaya sehingga mampu menangkal pengaruh-pengaruh yang merusak sistim nilai-nilai sosial budaya. Dalam usaha mengenalkan adat budaya daerah itulah maka adat budaya Batak Dalihan Na Tolu disajikan. Untuk melakukan pengkajian, penilaian, dan pengenalan kembali adat budaya batak dewasa ini dicoba disoroti dengan cara menjawab pertanyaan: dimana, apa, mengapa, dan bagaimana adat budaya Batak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Dimana Wilayah Adat Budaya Batak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku batak mempunyai lima sub suku dan masing-masing mampunyai wilayah utama, sekalipun sebenarnya wilayah itu tidak sedominan batas-batas pada zaman yang lalu. Sub suku dimaksud yaitu: (1) Batak Karo yang mendiami wilayah dataran tinggi Karo, Deli Hulu, Langkat Hulu, dan sebagian tanah Dairi; (2) Batak Simalungun yang mendiami wilayah induk Simalungun; (3) Batak Pak Pak yang mendiami wilayah induk Dairi, sebagian Tanah Alas, dan Gayo; (4) Batak Toba yang mendiami wilayah meliputi daerah tepi danau Toba, Pulau Samosir, Dataran Tinggi Toba, dan Silindung, daerah pegunungan Pahae, Sibolga, dan Habincaran; dan (5) Batak Angkola Mandailing yang mendiami wilayah induk Angkola dan Sipirok, Batang Toru, Sibolga, Padang Lawas, Barumun, Mandailing, Pakantan, dan Batang Natal. (Nalom Siahaan: 1982:X).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut tarombo (silsilah) orang Batak, semua sub-sub batak itu mempunyai nenek moyang yang satu yaitu si Raja Batak (W. W. Hutagalung, 1990:7). Dari si Raja Batak inilah bekembang sub-sub suku Batak yang mengembara ke wilayah-wilayah teritorial di atas sejalan dengan perkembangan pemukiman baru atau perkotaan yang semakin meluas. Setiap pembukaan kampung baru biasanya diringi dengan penabalan marga baru terhadap orang yang membuka perkampungan tersebut. Cara ini terutama dilaksanakan dilingkungan sub-sub suku Batak Toba, sehingga dengan demikian jumlah marga dilingkungan suku Batak Toba adalah relatif lebih banyak jumlahnya, berbeda dengan jumlah marga pada sub suku Batak Mandailing Angkola yang relatif lebih sedikit jumlahnya karena tidak menerapkan cara penebalan marga baru. Marga dilingkungan suku Mandailing Angkola adalah hanya belasan jumlahnya, yaitu Nasution, Lubis, Siregar, Harahap, Hasibuan, Batu Bara, Dasopang, Daulay, Dalimunthe, Dongoran, Hutasuhut, Pane, Parinduri, Pohan, Pulungan, Siagian, Rambe, Rangkuti, Ritongga, dan Tanjung (St. Tinggibarani, 1977 : iii). Sedang marga pada subsuku Batak Toba adalah puluhan jumlahnya. Semua sub suku Batak yang disebut di atas telah meluas dan tersebar di Sumatera Utara, berintegrasi dengan suku-suku bangsa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di berbagai tempat di luar Sumatera Utara suku Batak banyak dijumpai sebagai perantau dan di daerah rantau suku batak biasanya tetap terikat dengan adat budaya sukunya. Misalnya di Sumatera Barat antara lain banyak terdapat di Rao, Lembah Malintang, dan Lubuk Sikaping (Kabupaten Pasaman); Lima Kaum (Kabupaten Tanah Datar); dan Lubuk Bagalung (Kabupaten Padang Pariaman). Di Propinsi Riau banyak terdapat di Tambusai, Rambah, Rokan, Tandun, dan Kota Darusalam Kabupaten Kampar. Kebanyakan perantau suku Batak di kedua propinsi ini adalah suku Batak Angkola Mandailing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalom Siahaan (1982:48) mengatakan bahwa sekalipun di rantau suku Batak selalu peduli dengan identitas sukunya, seperti berusaha mendirikan perhimpunan semarga atau sekampung dengan tujuan untuk menghidupkan ide-ide adat budayanya. Mereka mengadakan pertemuan secara berkala dalam bentuk adat ataupun silaturahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobilitas orang Batak yang cukup tinggi mengantarkan mereka ke berbagai penjuru tanah air di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri, seperti ke Malaysia. Di negeri jiran ini, yakni negara bagian Perak, terdapat nama kampung yang sama dengan kampung asal para migran Mandailing Angkola seperti kampung "Sihepeng". Di negeri jiran itu juga mereka mendirikan paguyuban kedaerahan yang bernama "Ikatan Kebajikan Mandailing Malaysia" (Harahap. E.St, 1960:27). Adat budaya Batak sebenarnya sudah dikenal sebagai bagian budaya Nusantara sejak zaman Majapahit. Hal ini dengan jelas diungkapkan oleh sejarawan Majapahit Mpu Prapanca dalam karya monumentalnya Negarakertagama yang bertarikh 1365 M, yang menyebutkan ada tiga daerah budaya Batak Mandailing, yaitu Angkola, Mandailing, dan Padanglawas. (Harahap B. Hamidi, 1979:8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari catatan sejarah diketahui bahwa berbagai pengaruh luar sudah lama memasuki wilayah daerah Batak. Pada Batak Angkola Mandailing pengaruh yang kuat adalah dari dunia Islam. Sedang di daerah Batak Toba pengaruh yang kuat adalah dari misi Kristen pada permulaan abad 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat disangkal bahwa berbagai pengaruh yang berlangsung berabad-abad telah menjadikan akulturasi dalam suku Batak dengan berbagai variasi dalam adat budaya Batak seperti langgam bahasa, dialek, pakaian adat, dan lain-lain. Namun demikian ada nilai inti (core values) yang tetap baku dan berlaku bagi seluruh sub suku Batak di wilayah dimanapun ia berada, yaitu adat Dalihan Na Tolu, dimana adat ini dapat menembus sekat-sekat agama/kepecayan kedalam suatu kesatuan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Apa Nilai Inti Budaya Batak Itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai inti budaya (core values of culture) suatu bangsa atau suku bangsa biasanya mencerminkan jati diri suku atau bangsa yang bersangkutan. Sedangkan jati diri itu maksudnya merupakan gambaran atau keadaan khusus seseorang yang meliputi jiwa atau semangat daya gerak spiritual dari dalam. Dari pengertian itu dapat dipahami bahwa nilai inti budaya Batak cukup luas. Dari berbagai kajian terhadap sejumlah ungkapan kata-kata, aksara orang Batak yang diikuti dengan pengalaman adat budaya tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka dapat dilihat adanya tujuh macam nilai inti budaya suku Batak. Ketujuh nilai inti budaya Batak dimaksud ialah kekerabatan, agama, hagabeon, hamoraan, uhum dan ugari, pangayoman, dan marsisarian. Secara ringkas nilai tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Kekerabatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai kekerabatan atau keakraban berada di tempat paling utama dari tujuh nilai inti budaya utama masyarakat batak. Hal ini terlihat baik pada Toba maupun Batak Angkola Mandailing dan sub suku Batak lainnya. Semuanya sama-sama menempatkan nilai kekerabatan pada urutan yang paling pokok. Nilai inti kekerabatan masyarakat batak utamanya terwujud dalam pelaksanaan adat Dalihan Na Tolu. Hubungan kekerabatan dalam hal ini terlihat pada tutur sapa baik karena pertautan darah ataupun pertalian perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Agama &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai agama/kepercayaan pada orang Batak tergolong sangat kuat. Sedang agama yang dianut oleh suku batak amat bervariasi. Menurut data (Departemen Agama Sumatera Utara, 1999) ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam seperti Angkola Mandiling, ada wilayah Batak yang mayoritas penduduknya menganut agama Kristen seperti Batak Toba, dan ada wilayah Batak yang prosentase penganut agamanya berimbang seperti wilayah Batak Simalungun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara intensif ajaran agama telah disosialisasikan kepada anak-anak orang Batak sejak masa kecilnya dengan penuh pengawasan. Diantara pengajaran agama (khususnya Islam) yang diberikan ialah belajar membaca/mengaji al-Qur’an sejak kecil. Belajar ibadah dilaksanakan di rumah ibadah. Dalam pengaturan upacara perkawinan nuansa keagamaan cukup menonjol, demikian juga dalam suasana kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena keagamaan kadang-kadanng menjadi lebih kuat dari fenomena adat, khususnya di lingkungan suku masyarakat Mandailing Angkola. Tampilnya nuansa agama lebih dominan di lingkungan masyarakat Mandailing Angkola karena didukung oleh sarana pendidikan agama yakni pondok pesantren yang banyak jumlahnya didaerah itu. Diketahui bahwa 32 dari 70 pondok pesantren di Sumatera Utara terdapat di wilayah Mandailing Angkola, Padanglawas, dan Sipirok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti pengaruh agama Islam yang dominan dalam kehidupan masyarakat Batak Mandailing Angkola terlihat dalam perjodohan/perkawianan semarga dapat diterima di sana (meskipun jarang terjadi). Padahal perkawinan semarga secara jelas dilarang dalam adat Batak, karena dinilai sumbang atau inces. Diterima kawin semarga oleh mereka jelas merupakan kuatnya keyakinan agama yang membolehkan itu. Siapa yang dapat dijodohkan dan siapa yang tidak dapat dijodohkan jelas disebutkan dalam Islam, misalnya dalam al-Qur’an surat an-Nisa 23-24 dengan jelas disebut siapa yang boleh dinikahi, tidak ada dalam ayat itu larangan kawin semarga, kecuali muhrimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Hagabeon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak, bercucu yang banyak, dan baik-baik. Dengan lanjut usia diharapkan ia dapat mengawinkan anak-anaknya serta memeperoleh cucu. Kebahagiaan bagi orang Batak belum lengkap, jika belum mempunyai anak. Terlebih lebih anak laki-laki yang berfungsi untuk melanjutkan cita-cita orang tua dan marganya. Hagabeon bagi orang Batak Islam termasuk keinginannya untuk dapat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun mengenai jumlah anak yang banyak (secara adat diharapkan memiliki 17 laki-laki dan 16 perempuan = 33 anak) yang telah berakar lama, telah mengalami pergeseran dari bersifat kuantitas pada anak yang berkualitas, mempunyai ilmu dan keterampilan hidup sekalipun jumlahnya tidak banyak. Peranan program KB (Keluarga Berencana) yang dilancarkan pemerintah cukup dominan dalam merubah pandangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang makin bertambah kebahagiaannya bila ia mampu menempatkan diri pada posisi adat di dalam kehidupan sehari-hari. Jelasnya perjuangan yang berdiri sendiri tetapi ditopang oleh keteladanan dan pandangan yang maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Hamoraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nilai (kehormatan) menurut adat Batak adalah terletak pada keseimbangan aspek spiritual dan material yang ada pada diri seseorang. Kekayaan harta dan kedudukan/jabatan yang ada pada seseorang tidak ada artinya bila tidak didukung oleh keutamaanspiritualnya. Orang yang mempunyai banyak harta serta memiliki jabatan dan posisi tinggi diiringi dengan sifat suka menolong/memajukan sesama, mempunyai anak keturunan serta diiringi dengan jiwa keagamaan maka dia dipandang mora (terhormat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Uhum dan Ugari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai uhum (law) bagi orang Batak mutlak untuk ditegakan dan pengakuaanya tercermin pada kesungguhan dalam penerapannya menegakan keadilan. Nilai suatu keadilan itu ditentukan dari keta’atan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Setiap orang Batak yang menghormati uhum, ugari, dan janjinya dipandang sebagai orang batak yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteguhan pendirian pada orang Batak sarat bermuatan nilai-nilai uhum. Perbuatan khianat terhadap kesepakatan adat amat tercela dan mendapat sangsi hukum secara adat. Oleh karena itu, orang Batak selalu berterus terang dan apa adanya tidak banyak basa-basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Pengayoman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat, tugas tersebut diemban oleh tiga unsur Dalihan Na Tolu. Tugas pengayom ini utamanya berada di pihak mora dan yang diayomi pihak anak boru. Sesungguhnya sesama unsur Dalihan Na Tolu dipandang memiliki daya magis untuk saling melindungi. Hubungan saling melindungi itu adalah laksana siklus jaring laba-laba yang mengikat semua pihak yang terkait dengan adat Batak. Prinsipnya semua orang menjadi pengayom dan mendapat pengayoman dari sesamanya adalah pendirian yang kokoh dalam pandangan adat Batak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa memiliki pengayom secara adat maka orang Batak tidak terbiasa mencari pengayom baru. Sejalan dengan itu, biasanya orang Batak tidak mengenal kebiasaan meminta-minta pengayom/belas kasihan atau cari muka untuk diayomi. Karena sesungguhnya orang yang diayomi adalah juga pengayom bagi pihak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Marsisarian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu. Secara bersama-sama masing-masing unsur harus marsisarian atau saling menghargai. Di dalam kehidupan ini harus diakui masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sehingga saling membutuhkan pengertian, bukan saling menyalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila terjadi konflik diantara kehidupan sesama masyarakat maka yang perlu dikedepankan adalah prinsip marsisarian. Prinsip marsisarian merupakan antisipasi dalam mengatasi konflik/pertikaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengapa Adat Budaya Dalihan Na Tolu Dilestarikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu suku bangsa akan lenyap bilamana mereka tidak memiliki pegangan dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Pegangan dimaksud adalah adat budaya yang terdapat pada suatu masyarakat . Oleh karena itu, nilai adat budaya perlu dikenalkan agar masyarakat sekarang dan yang akan datang mampu berprilaku sesuai tuntutan adat budaya yang dijunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengajarkan adat budaya kepada generasi muda selain sebagai sumbangan nyata, juga sebagai upaya membantu tegaknya tertib sosial kepada angkatan muda. Pengalaman pahit atau manis yang dialami oleh satu suku bangsa/etnis memang dapat mengembangkan nilai adat yang dilakukannya dan sejauhmana dia konsisten dengan nilai adatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan itulah mengapa adat Dalihan Na Tolu (DNT) diajarkan dilingkungan suku Batak. Ia merupakan adat istiadat yang bertalian erat dengan sistem kekerabatan suku batak. Adat DNT secara harfiah berarti tiga tungku. Hal ini bisa dianalogikan dengan tiga tungku-masak di dapur tempat menjarangkan periuk. Maka adat Batakpun mempunyai tiga tiang penopang dalam kehidupan, yaitu (1) pihak semarga (in group), (2) pihak yang menerima istri (wife receving party), (3) pihak yang memberi istri (giving party). (Nalom Siahaan, 1982:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkawianan terjadilah ikatan dan integrasi diantara tiga pihak yang disebut tadi, seolah-olah mereka bagai tiga tungku di dapur yang besar gunanya dalam menjawab persoalan hidup sehari-hari. Cukup banyak fungsi adat ini bagi masyarakat pendukungnya, diantaranya pati dohan holong yang artinya menunjukan kasih sayang diantara sesama yang penuh sopan santun/etik. Dari fungsinya yang penuh kehidmatan maka adat DNT dapat diterima oleh setiap etnis Batak sekalipun mereka berbeda-beda agama. Mereka yang menganut agama Islam, Kristen, Katolik, dan Budha kadang-kadang begitu erat ikatannya karena konsep adat telah terbentuk sejak mulai lahirnya kelompok masyarakat yang identitas utamanya adalah adanya marga. Dengan marga itu orang Batak akan setia tehadap ketentuan adatnya di manapun mereka berada (Nalom Siahaan 1982:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marga bagi orang Batak biasanya adalah identitas yang menunjukan silsilah dari nenek moyang asalnya. Sebagaimana diketahui marga bagi orang Batak diturunkan secara patrinial artinya menurut garis ayah. Sebutan berdasarkan satu kakek dalam marga yang sama markahanggi (semarga). Orang batak yang semarga merasa bersaudara kandung sekalipun mereka tidak seibu-sebapak. Mereka saling menjaga, saling melindungi, dan saling tolong-menolong (St. Tinggi Barani P. Alam 1977:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi lainnya dari adat DNT adalah pengenalan garis keturunan hingga jauh ke atas yang disebut tarombo (silsilah). Kekuatan kekerabatan terwujud dalam pemakaian tutur atau sapa. Tutur itu berisi aturan hubungan antar perorangan atau antar unsur dalam DNT. Tutur menjadi perekat bagi hubungan kekerabatan. Tidak kurang dari limapuluh macam tutur dalam kekerabatan Batak. Dengan menyebut tutur terhadap seseorang diketahuilah jalur hubungan kekerabatan diantara mereka yang menggunakannya. Tutur kekerabatan itu sekaligus menentukan prilaku apa yang pantas dan tidak pantas diantara mereka yang bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang memanggil tutur tulang yaitu mertua atau saudara laki-laki dari ibu kepada seseorang, maka sipemanggil adalah bere (anak) dari tulang tersebut. Konsekwensinya akan ada hak dan kewajiban diantara mereka secara timbal balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegaknya hak kewajiban diantara mereka sekaligus menentukan etika yang harus mereka jaga. Mereka harus menjaga etika dalam bersenda gurau. Demikian juga, tutur antara parumaen (istri anak atau menantu) terhadap amang boru (mertua laki-laki) ada etika adatnya yang masing-masing harus menjaganya, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. De Jong (1970:7) mengatakan bahwa di bawah payung yang sama yaitu adat, manusia menjaga hak dan kewajiban tutur. Pada orang yang berbeda agama kadang terdapat sikap hidup yang sama. Alasannya cukup sederhana, yakni karena mereka semua pertama-tama merupakan orang Jawa atau Batak yang berpegang pada adat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambaran adat DNT di atas, dapat dimengerti bahwa adat DNT dapat dibentuk dalam mengatur mekanisme integritas dan identitas antar marga (clan) di suatu kampung. Akan tetapi meskipun telah berkembang melintas batas daerah Batak namun konsep dasar adat DNT berlaku sama di setiap wilayah dan tempat. Hal ini bisa terwujud karena tutur dalam DNT amat menjaga adanya etika. Dari luasnya hubungan kekerabatan dalam adat Batak maka dapat dilihat tumbuhnya harosuan (keakraban) dan nilai ini sangat mendasar dalam segala pergaulan. Nilai keakraban itu tidak sekedar teori, tapi diaplikasikan dalam bentuk mekanisme sosial adat DNT sampai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, yang senantiasa efektif penggunaanya dalam adat Batak adalah mengenai urusan siriaon dan sikukuton. Siriaon adalah kegiatan yang berkenaan dengan upacara adat bercorak kegembiraan seperti pesta perkawinan, mendirikan dan memasuki rumah baru, sedangkan siluluton adalah kegiatan adat yang bersifat duka cita seperti kematian. Dua macam peristiwa tersebut dipandang tidak dapat terlaksanan dengan baik tanpa partisipasi seluruh komponen adat DNT. (M.D. Harahap 1986:93). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap warga Batak yang sudah berumah tangga otomatis menjadi anggota pemangku adat DNT. Tidak ada alasan bagi mereka yang telah berumah tangga untuk tidak ikut tampil dalam menyelesaikan urusan siriaon dan siluluton di tengah-tengah masyarakat secara adat DNT. Karena bila salah satu unsur dari adat DNT tidak hadir maka suatu pekerjaan adat di pandang tidak sah dan tidak kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bagaimana cara Melestarikan Adat DNT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melestarikan suatu adat budaya dapat mempergunakan berbagai langkah seperti pemberian contoh/keteladanan, demontrasi, pemberian tugas, umpan balik, dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut dapat dipergunakan dalam melestarikan adat DNT. Caranya tidak harus berurutan tetapi dapat digunakan cara yang berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Dengan langkah seperti memberi contoh maka adat yang semula hanya sebagai pengetahuan, dapat digiring menjadi sikap dan kemudian berubah wujud menjadi diamalkan dan dipraktikkan atau didemonstrasikan dalam kehidupan nyata. Tayar Yusuf (1997:49) mengatakan dengan metode demonstrasi, yakni memperlihatkan bagaimana untuk melakukan jalannya suatu proses akan semakin lancarlah jalannya suatu adat. Disebut juga to show artinya mempertunjukkan suatu hal. Dengan latihan pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi miliknya dan betul-betul dikuasai (Tayar Yusuf, 1997:64). Metode latihan/pembiasaan juga banyak membantu pemahaman adat yang dilatih tentunya adalah hal-hal yang bersifat praktis, operasional seumpama melatih Markobar (berbicara adat) di tengah-tengah suatu acara baik adat siriaon ataupun siluluton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan umpan balik ialah dengan mengadakan suatu acara adat terhadap seseorang yang kurang begitu menjiwai adat, dengan harapan setelah ia mengikutinya maka dengan sendirinya ia menjadi pelaksana dan pendukung yang aktif. Secara gradual pengenalan adat akan dapat berjalan terus-menerus. Sedangkan sebagai tindak lanjut ialah dengan menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk acara adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaiannya adalah apakah suku-suku pemangku adat Batak sudah mewariskan adat budaya daerah disertai dengan contoh teladan terhadap masyarakat pendukungnya. Kelemahannya selama ini adalah kurangnya keteladanan dan latihan, umpan balik dalam adat batak. Apakah karena derasnya pengaruh arus budaya luar yang cenderung materialistis dan kurang peduli dengan nilai-nilai kemanusiaan turut mempengaruhi tidak berjalannya penanaman nilai-nilai adat budaya daerah, termasuk adat budaya batak? Jawabannya diserahkan pada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Simpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat budaya daerah, termasuk adat budaya Batak Dalihan Na Tolu dapat digunakan sebagai sarana dalam mempertahankan integrasi dan identitas bangsa, terutama di kalangan suku-suku yang ada di daerah secara luas. Di sana-sini pelaksanaan adat DNT semakin mengalami pendangkalan. Pendangkalan dimaksud ditandai dengan semakin berkurangnya perhatian masyarakat generasi muda mengenal dan melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam memberi pengenalan dan pengamalan adat budaya daerah sebagai khasanah budaya nasional pembinaan adat budaya daerah/lokal dalam situasi bangsa menghadapi tantangan globalisasi menjadi penting guna menumbuhkan dan menguatkan kembali dalam berbangsa/bernegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka Acuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astuti Rahmani. 1992. Asal Usul Manusia: Menurut Bibel Al-Quran dan Saint, Bandung : Mizan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Departemen Agama Sumatera Utara. 1999. Peta Keagamaan Propinsi Sumatera Utara, Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harahap M.D. 1986. Adat Istiadat Tapanuli Selatan. Grafindo Utama, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harahap B. Hamidi. 1979. Jalur Migrasi Orang Purba di Tapanuli Selatan. Majalah Selecta no. 917.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harahap. E St. 1960. Perihal Bangsa Batak: Bagian Bahasa. Jawatan Kebudayaan, Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutagalung, W.M. 1990. Pustaka Batak: Tarombo Dohot Turi-Turian Ni Bangso Batak, Tulus Jaya, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalom Siahaan. 1882. Adat Dalihan Na Tolu: Prinsip dan Pelaksanaannya, Grafindo, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;St. Tinggibarani P. Alam 1977. Burangir Nahombar: Adat Tapanuli Selatan, Balai adat Padangsidempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S. De Jong. 1970. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yayasan Kanisius, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayar Yusuf. 1970. Metodologi Pengajaran Agama. Raja Grafindo Pustaka, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115158162297510709?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115158162297510709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115158162297510709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/06/dalihan-na-tolu.html' title='Dalihan Na Tolu'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115158037337739829</id><published>2006-06-29T04:23:00.000-07:00</published><updated>2006-06-29T04:26:13.836-07:00</updated><title type='text'>Guru Patimpus dan Medan</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; Sejarah Medan, Sejarah Multikebudayaan &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Badan Warisan Sumatera  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Kompas/arbain rambey  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;MENENGOK Medan tempo dulu, kita harus melihat cerita awal Kesultanan Deli dan tentu saja Kota Medan itu sendiri.Dalam buku The History of Medan tulisan Tengku Luckman Sinar (1991), dituliskan bahwa menurut "Hikayat Aceh", Medan sebagai pelabuhan telah ada pada tahun 1590, dan sempat dihancurkan selama serangan Sultan Aceh Alauddin Saidi Mukammil kepada Raja Haru yang berkuasa di situ. Serangan serupa dilakukan Sultan Iskandar Muda tahun 1613, terhadap Kesultanan Deli. &lt;br /&gt;Sejak akhir abad ke-16, nama Haru berubah menjadi Ghuri, dan akhirnya pada awal abad ke-17 menjadi Deli. Pertempuran terus-menerus antara Haru dengan Aceh mengakibatkan penduduk Haru jauh berkurang. Sebagai daerah taklukan, banyak warganya yang dipindahkan ke Aceh untuk dijadikan pekerja kasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dengan Aceh, Kerajaan Haru yang makmur ini juga tercatat sering terlibat pertempuran dengan Kerajaan Melayu di Semenanjung Malaka. Juga dengan kerajaan dari Jawa. Serangan dari Pulau Jawa ini antara lain tercatat dalam kitab Pararaton yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Negarakertagama, Mpu Prapanca juga menuliskan bahwa selain Pane (Panai), Majapahit juga menaklukkan Kampe (Kampai) dan Harw (Haru). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkurangnya penduduk daerah pantai timur Sumatera akibat berbagai perang ini, lalu diikuti dengan mulai mengalirnya suku-suku dari dataran tinggi pedalaman Sumatera. Suku Karo yang bermigrasi ke daerah pantai Langkat, Serdang, dan Deli. Suku Simalungun ke daerah pantai Batubara dan Asahan, serta suku Mandailing ke daerah pantai Kualuh, Kota Pinang, Panai, dan Bilah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah versi pertama sejarah Medan. Artinya, tahun 1590 dianggap sebagai salah satu tonggak kelahiran kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;DALAM Riwayat Hamparan Perak yang dokumen aslinya ditulis dalam huruf Karo pada rangkaian bilah bambu, tercatat Guru Patimpus, tokoh masyarakat Karo, sebagai yang pertama kali membuka "desa" yang diberi nama Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, naskah asli Riwayat Hamparan Perak yang tersimpan di rumah Datuk Hamparan Perak terakhir telah hangus terbakar ketika terjadi "kerusuhan" sosial, tepatnya tanggal 4 Maret 1946. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patimpus adalah anak Tuan Si Raja Hita, pemimpin Karo yang tinggal di Kampung Pekan (Pakan). Ia menolak menggantikan ayahnya dan lebih tertarik pada ilmu pengetahuan dan mistik, sehingga akhirnya dikenal sebagai Guru Patimpus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1614-1630 Masehi, ia belajar agama Islam dan diislamkan oleh Datuk Kota Bangun, setelah kalah dalam adu kesaktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Guru Patimpus menikah dengan adik Tarigan, pemimpin daerah yang sekarang bernama Pulau Brayan dan membuka Desa Medan yang terletak di antara Sungai Babura dan Sungai Deli. Dia pun lalu memimpin desa tersebut. Oleh karena itu, nama Guru Patimpus saat ini diabadikan sebagai nama salah satu jalan utama di Kota Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi lain sejarah Kota Medan ini hanya melahirkan ketokohan Guru Patimpus dalam berdirinya Kota Medan. Versi ini tidak menghasilkan sebuah tanggal atau tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;MENURUT Hikayat Deli, seorang anak raja satu kerajaan di India yang bernama Muhammad Dalik, perahunya tenggelam di dekat Kuala Pasai sehingga ia terdampar di Pasai, daerah Aceh sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama sesudah ia datang di Aceh, Sultan Aceh mengalami kesulitan untuk menaklukkan tujuh laki-laki dari Kekaisaran Romawi Timur yang membikin kekacauan. Dalik berhasil membunuh para pengacau tersebut satu persatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penghargaan atas keberhasilannya membunuh para pengacau tersebut, Sultan memberinya gelar Laksamana Kud Bintan dan menunjuknya sebagai Laksamana Aceh. Atas berbagai keberhasilannya dalam pertempuran akhirnya ia diangkat sebagai Gocah Pahlawan, pemimpin para pemuka Aceh dan raja-raja taklukan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, Dalik meninggalkan Aceh dan membuka negeri baru di Sungai Lalang-Percut. Posisinya di daerah baru adalah sebagai wakil Sultan Aceh di wilayah bekas Kerajaan Haru (dari batas Tamiang sampai Sungai Rokan Pasir Ayam Denak) dengan misi, menghancurkan sisa-sisa pemberontak Haru yang didukung Portugis, menyebarkan Islam hingga ke dataran tinggi, serta mengorganisir administrasi sebagai bagian dari Kesultanan Aceh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperkuat posisinya ia menikahi adik Raja Sunggal (Datuk Itam Surbakti) yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti, sekitar 1632 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengganti Gocah, anaknya yang bernama Tuanku Panglima Perunggit pada tahun 1669 M, memproklamasikan berdirinya Kesultanan Deli yang terpisah dari Aceh, serta mulai membangun relasi dengan Belanda di Malaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya Kesultanan Deli ini juga salah satu cikal berdirinya Kota Medan. Nama Deli sesungguhnya muncul dalam "Daghregister" VOC di Malaka sejak April 1641, yang dituliskan sebagai Dilley, Dilly, Delli, atau Delhi. Mengingat asal Gocah Pahlawan dari India, ada kemungkinan nama Deli itu berasal dari Delhi, nama kota di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;BELANDA tercatat pertama kali masuk di Deli tahun 1641, ketika sebuah kapal yang dipimpin Arent Patter merapat untuk mengambil budak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, hubungan Deli dengan Belanda semakin mulus. Tahun 1863 Kapal Josephine yang membawa orang perkebunan tembakau dari Jawa Timur, salah satunya Jacobus Nienhuijs, dari Firma Van Den Arend Surabaya mendarat di Kesultanan Deli. Oleh Sultan Deli, ia diberi tanah 4.000 bau untuk kebun tembakau, dan mendapat konsesi 20 tahun. Begitulah awal cerita, yang berlanjut dengan masuknya ribuan tenaga kerja Cina, India, dan akhirnya Jawa untuk menggarap perkebunan-perkebunan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut bahasa Melayu, Medan berarti tempat berkumpul, karena sejak zaman kuno di situ sudah merupakan tempat bertemunya masyarakat dari hamparan Perak, Sukapiring, dan lainnya untuk berdagang, berjudi, dan sebagainya. Desa Medan dikelilingi berbagai desa lain seperti Kesawan, Binuang, Tebing Tinggi, dan Merbau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan sebagai embrio sebuah kota secara kronologis berawal dari peristiwa penting tahun 1918, yaitu saat Medan menjadi Gemeente (Kota Administratif), tetapi tanpa memiliki wali kota sehingga wilayah tersebut tetap di bawah kewenangan penguasa Hindia Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Administratif Medan dibentuk melalui lembaga bernama "Komisi Pengelola Dana Kotamadya", yang dikenal dengan sebutan Negorijraad. Berdasarkan "Decentralisatie Wet Stbl 1903 No 329", lembaga lain dibentuk yaitu "Afdeelingsraad Van Deli" (Deli Division Council) yang berjalan bersama Negorijraad sampai dihapuskan tanggal 1 April 1909, ketika "Cultuuraad" (Cultivation Council) dibentuk untuk daerah di luar kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tanggal 1 April 1909 ini sempat dijadikan tanggal lahir Kota Medan sampai dengan tahun 1975.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Medan Municipal Board saat didirikan tanggal 1 April 1909 (Stblt 1909 No 180) adalah Mr EP Th Maier, yang menjabat sebagai pembantu Residen Deli Serdang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sejak 26 Maret 1975, lewat Keputusan DPRD No 4/ DPRD/1975 yang didasari banyak pertimbangan, ditetapkan bahwa hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli 1590.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;MELIHAT sekilas sejarah Kota Medan, tampak bahwa sejak zaman kuno, zaman Kerajaan Haru, Medan sudah menjadi tempat pertemuan berbagai kultur bahkan ras seperti Karo, Melayu (Islam), India, Mandailing, dan Simalungun. Sebagaimana terlihat dalam paparan di atas, proses itu bukannya berkurang, bahkan semakin kompleks sejak dibukanya perkebunan-perkebunan di Sumatera Utara yang menghadirkan kuli kontrak baik dari India, Cina, maupun Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, Medan, yang berarti tempat berkumpul tersebut, masih menjadi tempat berkumpul berbagai ras dan kultur yang berbeda-beda. Mengingat pengalamannya yang panjang sebagai melting pot, tidak heran jika hingga saat ini Medan masih dikenal sebagai daerah yang aman dari berbagai kerusuhan antaretnis. Semua ras dan etnis di sini tidak ada yang ingin menonjol atau saling menjatuhkan. (Ardhian Novianto) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Balik Monumen Guru Patimpus&lt;br /&gt;WASPADA Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh Muhammad TWH &lt;br /&gt;Seorang pelukis akan mengalami kesulitan yang tinggi untuk membuat patung seorang tokoh yang hidup lebih dari empat abad lalu. Mau tidak mau si pelukis harus mencari dan menemui keturunannya untuk melihat garis–garis wajah mereka, dan mempelajari watak dan jalan sejarah yang pernah dilakukan oleh tokoh itu seperti ketekunan belajar dan memandang jauh ke depan. Berdasarkan hal itu pelukis Arry Darma bergerak membuat patung Guru Patimpus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mempelajari dan mengumpulkan bahan–bahan dari keturunan Guru Patimpus marga Sembiring Pelawi, pelukis membuat sket wajah Guru Patimpus di atas kertas. Setelah diperoleh kesepakatan dari pihak keturunan Guru Patimpus dan Lembaga Permusyawaratan Kebudayaan Karo, maka untuk wajah Guru Patimpus diambillah wajah Datok Sjariful Azaz Haberham keturunan ke 13 ayahanda Datuk Adil keturunan ke 14 Guru Patimpus. Kemudian dipindahkan menjadi patung. Dan patung Monumen Guru Patimpus yang berdiri dengan megahnya di Bundaran Petisah, Rabu 23 Maret 2005 telah diserahkan oleh panitia kepada Walikota Medan sekaligus meresmikan Monumen Patung Guru Patimpus Sembiring Pelawi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Sejarah &lt;br /&gt;Kalau kita bicara Guru Patimpus orang pertama yang membuka Kampung Medan di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura, rasanya kurang sempurna kalau kita tidak bicara siapa yang menemukan Guru Patimpus dan 1 Juli 1590 sebagai titik tolak hari jadi kota Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasilnya diketemukan hari bersejarah dan pelakunya Guru Patimpus adalah berkat usaha dan kerja keras Panitia Sejarah Kota Medan. Panitia ini dibentuk berdasarkan keputusan Walikota Medan Drs. Syurkani 25 Mei 1971 No. 342. Panitia itu adalah : Prof. Mahadi, SH (ketua), Syahruddin Siwan, MA (sekretaris), Letkol Nas Sebayang (anggota), Ny. Mariam Darus, SH (anggota), Tengku Luckman Sinar, SH (anggota), M. Abduh, SH (anggota), M. Solly Lubis, SH (anggota), Miharza, SH (anggota), H. Mohd Said (anggota), Dada Meurasa (anggota), Nasir Tim Sutannaga (anggota). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh–tokoh inilah yang mengkaji dan menelaah berbagai bahan sejarah sehingga diketemulah Guru Patimpus sebagai orang pertama membuka Kampung Medan. Pada 12 Agustus 1972 Panitia Penyunan Sejarah Kota Medan berhasil mengambil keputusannya bahwa Guru Patimpuslah yang membuka Kampung Medan. Pada 10 September 1973, DPRD Kota Medan dalam rapat plenonya membicarakan hari jadi Kota Medan dan menerima keputusan yang diambil oleh Panitia Sejarah Kota Medan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan bahan–bahan dari Panitia Sejarah Kota Medan (1972) termasuk Landschap Urung XII Kuta, ini dapat dilihat dari trombo yang disalin dalam tulisan Batak Karo yang ditulis di atas kulit–kulit Alin. Trombo ini mengisahkan Guru Patimpus lahir di Aji Jahei. Dia mendengar kabar ada seorang datang dari Jawi (bahasa Jawi bahasa Pasai Aceh, kemudian dikenal dengan bahasa Melayu tulisan Arab. Orang yang datang dari Jawi itu adalah orang dari Pasai keturunan Said yang berdiam di kota Bangun. Orang itu sangat dihormati penduduk di Kota Bangun kemudian diangkat menjadi Datuk Kota Bangun yang dikenal sangat tinggi ilmunya. Banyak sekali perbuatannya yang dinilai ajaib-ajaib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Patimpus sangat ingin berjumpa dengan Datuk Kota Bangun untuk mengadu kekuatan ilmunya. Guru Patimpus beserta rakyatnya turun melalui Sungai Babura, akhirnya sampailah di Kuala Sungai Sikambing. Di tempat ini Guru Patimpus tinggal selama 3 bulan, kemudian pergi ke Kota Bangun untuk menjumpai Datok Kota Bangun. Konon ceritanya dalam mengadu kekuatan ilmu, siapa yang kalah harus mengikuti yang memang. Dalam adu kekuatan ini, berkat bantuan Allah SWT Guru Patimpus kalah dan dia memeluk agama Islam, sebelumnya beragama Perbegu. Dia belajar agama Islam dari Datuk Kota Bangun. Dia selalu pergi dan kembali ke Kuala Sungai Sikambing pergi ke gunung dan ke Kota Bangun melewati Pulo Berayan yang waktu itu di bawah kekuasaan Raja Marga Tarigan keturunan Panglima Hali. Dalam persinggahan di Pulo Berayan, rupanya Guru Patimpus terpikat hatinya kepada puteri Raja Pulo Berayan yang cantik. Akhirnya kawin dengan puteri Raja Pulau Berayan itu, kemudian mereka pindah dan membuka hutan kemudian menjadi Kampung Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putera Guru Patimpus Hafal Al-Qur'an &lt;br /&gt;Dari perkawinan dengan puteri Raja Pulo Berayan lahirlah dua orang anak lelaki, seorang bernama Kolok dan seorang lagi bernama Kecik. Kedua putera Guru Patimpus ini pergi ke Aceh untuk belajar agama Islam. Kedua putera Guru Patimpus ini hafal AlQur'an, karena itu Raja Aceh memberi nama untuk yang tua Kolok Hafiz, dan adiknya Kecik Hafiz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut trombo yang ditulis dalam bahasa Batak Karo di atas kulit Alin itu, Hafiz Muda kemudian menggantikan orang tuanya Guru Patimpus, menjadi Raja XII Kuta. Putera Guru Patimpus dari ibu yang lain bernama Bagelit turun dari gunung menuntut hak dari ayahandanya yaitu daerah XII Kuta. Setelah puteranya Bagelit memeluk agama Islam daerah XII Kuta yang batasnya dari laut sampai ke gunung dibagi dua. Kepada Bagelit diberi kekuasaan dari Kampung Medan sampai ke gunung. Akhirnya kekuasaan Bagelit dikenal dengan Orung Sukapiring. Sedangkan Hafiz Muda tetap menjadi Raja XII Kuta berkedudukan di Kampung Medan. Waktu itu Medan adalah sekitar Jalan Sungai Deli sampai Sei Sikambing (Petisah Kampung Silalas). Guru Patimpus dan puteranya Hafiz Muda yang menjadikan Kampung Medan sebagai pusat pemerintahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut trombo dan riwayat Hamparan Perak (XII Kuta) Guru Patimpus belajar agama Islam pada Datuk Kota Bangun. Menurut catatan sejarah Datuk Kota Bangun adalah seorang ulama besar, tapi tidak disebut namanya. Apakah Datuk Kota Bangun itu adalah Imam Siddik bin Abdullah yang meninggal 22 Juni 1590? Pertanyaan ini barang kali ahli sejarah dapat menjawabnya. Di masa dulu ulama–ulama besar lebih dikenal dengan menyebut nama tempat ulama itu berdomisili. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Prof. J.P. Moquette dan Tengku Luckman Sinar, SH, makam Imam Siddik bin Abdullah terdapat di Perkebunan Klumpang. Pada batu nisannya tertulis ulama dari Aceh Imam Siddik bin Abdullah meninggal 23 Syakban 998H (22 Juni 1590) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut riwayat Hamparan Perak salah seorang putera dari Sisingamangaraja bernama Tuan Si Raja Hita mempunyai seorang anak bernama Guru Patimpus pergi merantau ke beberapa tempat di Tanah Karo dan merajakan anak-anaknya di kampung–kampung : Kuluhu, Paropa, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu Karang, Purbaji, dan Durian Kerajaan. Kemudian Guru Patimpus turun ke Sungai Sikambing dan bertemu dengan Datuk Kota Bangun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Datuk Bueng yang tinggal di Jl. Kertas Medan dia mempunyai dokumen tua dalam bentuk lempeng–lempeng. Menurut trombo yang ada padanya Raja–raja 12 Kuta (Hamparan Perak) adalah : Sisingamangaraja, Tuan si Raja Hita, Guru Patimpus, Datuk Hafiz Muda, Datuk Muhammad Syah Darat, Datuk Mahmud, Datuk Ali, Banu Hasim, Sultan Seru Ahmad, Datuk Adil, Datuk Gombak, Datuk Hafiz Harberhan, dan Datuk Syariful Azas Haberham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Apa Di Balik Monumen Itu? &lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah siapa Guru Patimpus dan para keturunanya. Orang pertama yang membuka Kota Medan, yang monumen Patung Guru Patimpus Sembiring Meliala telah diresmikan 23 Maret 2005. Mengingat begitu besar jasa Guru Patimpus membuka Kota Medan, maka wajar kalau Gubsu H.T. Rizal Nurdin merasa Monumen Guru Patimpus itu masih kecil seharusnya bisa melewati bangunan–bangunan berlantai III di Petisah itu. Tapi Gubsu maklum karena pembangunan monument itu adalah hasil swadaya terutama masyarakat Karo. Kalau Walikota Medan telah menyatakan Monumen Patung Guru Patimpus akan dimasukkan ke dalam agenda "City Tour", maka perlu dipersiapkan buku kecil dalam bahasa Indonesia dan Inggris mengenai sejarah Guru Patimpus orang pertama membuka Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya Monumen Guru Patimpus perlu dibuat buku kecil, juga monumen–monumen bersejarah lainnya dalam Kota Medan, seperti monumen Perjuangan Kemerdekaan di lapangan Merdeka, Tugu Pahlawan Medan Area di Jalan Bali (Jl. Veteran), Tugu Juang 45 di Jalan Serdang dan lain–lain. Masyarakat dalam dan luar negeri jangan hanya melihat monumennya saja, tetapi mereka juga ingin tahu peristiwa apa yang terjadi sehingga dibangun monumen itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Pemko Medan dan DPRD Kota Medan memberi perhatian ke arah ini dalam rangka melestarikan sejarah. Kami yakin dan percaya Legiun Veteran RI Sumatera Utara/DHD 45 Sumatera serta ahli-ahli sejarah akan memberi kontribusinya ke arah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://humbahas.co.nr"&gt; Selanjutnya &lt;/a&gt; &lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/beezona/aksara1.html"&gt; Mau Belajar Aksara Batak?? Klik Di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23918491-115158037337739829?l=bakkara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115158037337739829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/23918491/posts/default/115158037337739829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bakkara.blogspot.com/2006/06/guru-patimpus-dan-medan.html' title='Guru Patimpus dan Medan'/><author><name>marbun</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://www.geocities.com/indoindia2001/SOP/kunza_khen/kunza-khen.GIF'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-23918491.post-115105353858207113</id><published>2006-06-23T02:02:00.000-07:00</published><updated>2006-06-23T02:05:38.826-07:00</updated><title type='text'>Kapur Dari Barus Hamzah Dari Fansur</title><content type='html'>&lt;img src ="http://www.geocities.com/kievlee77/bak.JPG" align= "left" border=3 width="90" height="130" HSPACE=5 &gt; KAPUR barus seakan tidak bisa dipisahkan dari kota kecil di pantai barat Pulau Sumatera yang menjadi tempat asalnya, yaitu Barus yang memiliki nama lain Fansur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Hamzah al Fansuri adalah sosok ulama sufi dari Barus yang namanya menggegerkan dunia Islam lewat syair-syair sufistiknya. Kapur dari Barus dan Hamzah dari Fansur adalah dua kisah dari zaman yang berbeda yang telah mengangkat nama kota ini dalam peta dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama tempat Fansur atau Barus yang dikaitkan dengan penghasil kayu kamper sebagai penghasil kapur (kamfer atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam banyak sumber asli Arab, Persia, dan China dalam berbagai buku perjalanan, botani, kedokteran, dan pengobatan. Kapur, yang dalam bahasa Latin disebut camphora, merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kindi, salah seorang intelektual Arab, menyebutkan kapur barus sebagai salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. Sekitar abad ke-8, kapur barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan safran. Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang menggunakan pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Avicena, dalam buk
